
Maura menunjukkan album foto tersebut pada Maira di rooftop. Maira mulai membuka dan mencerna gambar itu lembar demi lembar. Sorot matanya terfokus ke sebuah foto sang bunda bersama seorang bayi yang berada dirangkulannya. Gara, yang merupakan sahabat ayah mereka turut berfoto bersama seolah mereka bertiga adalah keluarga.
"Siapa bayi ini? Apa waktu itu, bunda sempat menikah dengan sensei Gara dan memiliki anak?" Tanya Maura sembari menyimpulkan. Maura hanya terdiam melihat kembali foto-foto tersebut.
"Anak sensei Gara itu 'kan kak Chiko sama Alea. Tapi, ini gak mungkin. Sensei Gara dan ayah sahabat sejak SMA, Mai. Dan mereka akrab banget. Gak mungkin kalau bunda mantan istri dari sensei." Maura meraup wajahnya gusar.
"Mungkin aja, ra. Sensei gara dan bunda pernah menikah, dan Chiko adalah buah dari pernikahan mereka berdua. Sewaktu Bunda bercerai dari sensei Gara, Bunda menikah dengan Ayah. Terus, sensei Gara nikah lagi dan lahirlah si Alea." Tebak Maira dengan tatapan lurus kesebuah pohon kelapa yang berada jauh dari tempatnya.
"Jangan ngacok, Mai! Kalau misal perkiraan kamu itu benar, berarti selama ini kak Chiko itu kakak kita?" Tanya Maura tak percaya.
Bagaimana bisa seorang adik mencintai kakaknya sendiri dengan cinta yang berbeda? Seorang kakak yang lahir di rahim yang sama dengan mereka berdua. Seseorang yang memiliki ibu yang sama dengan mereka berdua. Kedua saudari kembar itu justru mencintai seorang pria yang sama dan masih sedarah.
Maura pun mengambil kembali album tersebut dan segera menuruni anak tangga untuk menuju lantai bawah. Ia berniat untuk menemui Chiko dan mengunjungi rumahnya. Ia yakin jika Chiko pasti mengetahui wajah dari ibu kandungnya dan terdapat foto pernikahan dari orang tua mereka.
Sesampainya di rumah Chiko, air mata masih terus mengalir membasahi pipi Maura. Tubuhnya kini terasa lemah. Bahkan untuk mengetuk pintu pun dirinya tak sanggup. Tubuhnya kini meluruh, duduk menyandar pintu rumah kakaknya itu. Maura kini menekuk lututnya sembari memeluk album foto tersebut. Ia masih menangis sesenggukan membayangkan wajah pria yang di cintainya itu merupakan kakaknya.
Tak beberapa lama kemudian, seseorang keluar dari pintu belakang sembari berlari menggantungkan sebuah handuk kecil dileher.
"Maura?"
Sapaan pria itu membelalakkan kedua bola mata Maura untuk terus tertuju pada pria itu. Ia mengusap air matanya kuat dan berjalan menuju sosok di sebelahnya tersebut. "Kak?"
__ADS_1
"Kamu kenapa, ra?" Tanya Chiko yang merupakan sosok itu dengan khawatir. Ia pun merangkul Maura duduk di sebuah kursi terasnya.
Maura mulai memberikan album biru yang nampak usang tersebut pada Chiko, dan ia langsung menerima album tersebut dengan cepat. "Apa ini?"
Chiko yang berencana hendak lari di sekitaran kompleks rumahnya, menunda niatnya untuk menemui seorang wanita yang dicintainya itu. Ia mulai membuka lembaran foto tersebut satu persatu sembari menatap heran.
"Mereka ini orang tuaku, ra. Mengapa foto ini ada di kamu? Dan ini ayahmu, kan?" Chiko memerhatikan gambar tersebut satu persatu dan kini matanya mulai membulat melihat sebuah foto dilembar terakhir. "Loh, ini almarhumah ibuku sama ayah kamu gendong anak siapa? Ada dua, ra. Sepertinya mereka ini kembar."
Mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan Chiko, Maura langsung mengambil kembali album tersebut. Ia takut jika rahasia antara dirinya dan juga maira akan terbongkar hanya karena sebuah kertas bergambar.
"Maksudnya apa ya, ra?" Chiko menatap bingung Maura.
Ia ingin menangis sekencang-kencangnya, namun suaranya kini tak dapat di keluarkan. Ia mengedepankan pandangannya ke arah Chiko yang terlihat bingung atas sikapnya barusan. Maura pun langsung menancapkan gas mobilnya dan kembali pulang ke rumah.
Pikirannya sungguh kacau. Pikiran negatif mulai meracuni. Ia berpendapat jika sang ayah telah merebut istri dari sahabatnya sendiri. Disisi lain, itu terasa tidak mungkin. Keduanya merupakan sahabat yang baik. Lalu, bagaimana keduanya memiliki istri dengan wajah sama seperti bundanya? Sedangkan sang bunda sama sekali tak memiliki saudari kembar seperti dirinya dan juga Maira.
Sesampainya di depan rumah, Maura keluar sembari membanting pintu mobilnya keras. Ia berlari masuk kamar Maira dan segera memeluk saudarinya itu yang terlihat sedang menelfon seseorang dengan raut wajah kacau.
"Enggakkkkkk! Ayah gak mungkin meninggal. Om Heri pasti salah orang!" Ucap Maira di telefon sembari menangis. Maura yang sedari tadi memeluk Maira, langsung melepaskan pelukan tersebut dan merebut ponsel tersebut dari tangan saudarinya itu.
"Hallo, om?"
__ADS_1
Tuut..tuut..tuut.
Telefon dimatikan. Heri merupakan seorang karyawan di kantor ayahnya yang sama-sama akan mengikuti seminar. Mendengar ada yang ganjil dari ucapan Maira di telefon, Maura pun langsung menanyakan apa yang sedang terjadi.
"Mobil yang di naiki ayah masuk ke jurang, ra!" Isak Maira dan tubuhnya mulai melemas.
"Terus, Mai? Ayah gak apa-apa 'kan?" Tanya Maura panik.
"Ayah dan sekretarisnya udah meninggal sebelum dibawa ke rumah sakit, ra." Maira menangis sesenggukan sembari mengusap dada kirinya yang mulai sakit.
"Innalillahi wa innaillaihi rojiun.." Tak hanya Maira, Maura pun seketika kehilangan tenaganya untuk tetap berdiri. Tubuhnya kita jatuh terduduk dilantai mendengar kabar duka yang merenggut nyawa sang ayah, orang tua yang mereka miliki satu-satunya setelah beberapa tahun terakhir.
Maira masih menangis sesenggukan sembari mengusap dada kirinya itu. "Ayo, ra! Kita temuin ayah seka..." Belum saja menyelesaikan ucapannya, tubuh Maira kini jatuh kelantai tak sadarkan diri.
Melihat saudarinya itu, Maura berlari keluar rumah untuk segera meminta pertolongan pada tetangga sebelah rumahnya untuk membantunya membawa Maira ke rumah sakit.
"Pak Sobri, tolong bantu kembaran saya, Maira pingsan. Tolong bantu saya membawanya ke rumah sakit, pak! Saya mohon!" Maura memohon kepada tetangga sebelah kanan rumahnya itu yang merupakan RT di daerahnya.
"Iya, nak. Bapak pasti akan menolong kamu. Dimana Maira?" Tanya pak Sobri panik.
"Ada di dalam,pak." Maura langsung mengantar Sobri masuk untuk menemui saudarinya yang tergeletak tak sadarkan diri untuk segera di bawa ke rumah sakit.
__ADS_1