M? For??

M? For??
15. Hari Patah Hati


__ADS_3

Malam ini, Maura sengaja menghabiskan waktunya dengan membaca novel di sebuah perpustakaan mini sebelah kamar sang ayah. Ayahnya merupakan seorang kutu buku semenjak menginjakkan kakinya di Sekolah Menengah Pertama. Dan kebiasaan itu turun pada salah satu anaknya, yaitu Maura.


Sudah beberapa minggu ini Maura tak lagi mengunjungi ruangan tersebut, karena di sibukkan oleh tugas-tugas kampus yang selalu menumpuk. Karena Maira yang menggantikan dirinya, ia pun tidak mau jika dirinya yang mengerjakan, melainkan harus Mairalah yang mengerjakannya. Karena Maura tidak mempelajari apa yang disampaikan dosen selama Maira menggantikan posisinya.


"Novel Pride and Prejudice aku taruh dimana,ya? Perasaan, kemarin kutaruh di laci ini." Maura sibuk mencari novel tersebut di laci meja baca,namun tak kunjung di temuinya.


"Pasti kebawa sama Maira,nih." Gumam Maura dan pergi menemui saudarinya itu yang sedang berada di dapur.


Saat ini, Maira terlihat sedang memasak mie instant. Ini pertama kalinya Maura melihatnya memasak,selain itu tidak pernah. Ia nampak kesulitan dalam meniriskan mienya ke mangkuk dan justru air tersebut pun tumpah sedikit mengenai salah satu kakinya.


"Aduuuhh!" Maira meletakkan kembali panci kecil tersebut di atas kompor dan mengusap kakinya yang terasa panas.


"Lebay,deh.. Baru segitu,Mai! Hahaha.." Tawa Maura yang sedari tadi memerhatikan dari pintu dapur.


"Iih.. Nyebelin banget sih,loe!" Rengeknya lalu bangun mematikan kompor yang sedari tadi masih menyala.


"Novel Pride and Prejudice ada di kamu gak?" Tanya Maura dan melangkah masuk ke dapur.


"Iya! Gue pinjem bentar." Maira masih fokus mengompres kakinya dengan es batu.

__ADS_1


"Kok gak ngomong?"


"Loe aja yang gak denger. Sebelum berangkat ke kampus, gue dah bilang sama loe. Lagian itu kan novel milik bersama."


"Eh enak aja! Punya Maura selamanya punya Maura, punya Maira selamanya punya Maira!" Oceh Maura. Karena geram terhadap saudarinya itu, ia pun mengambil pecahan es batu dan memasukannya ke dalam kerah belakang Maira. Karena terkejut dingin,ia pun membalas langsung saudarinya itu dengan ikut memasukkan pecahan es batu ke dalam baju.


Mereka tak lagi saling marah, justru candaanlah yang menghiasi malam hari mereka.


"Haha...cukup! Dingin,ra!" Maira masih merinding dan kedinginan setelah melihat baju belakangnya sudah basah akibat es yang sudah mencair. Tiba-tiba saja, ia memegangi dada kirinya dan terduduk lemas di lantai.


Maura yang melihat kejadian itu pun bergegas mendekat ke arah Maira dan menanyakan apa yang terjadi kepadanya.


"Kita ke dokter, ya, Mai?" Lirih Maura yang merasa bersalah.


"Maiiiii.. Kamu jangan mati duluan!" Tangis Maura pecah.


"Heh.. Sembarangan loe kalo ngomong!" Maira tertawa seketika dan memasukkan pecahan es batu yang ada di badannya ke dalam mulut Maura yang sedang menangis.


"Cuih! Ih... Maira tega,deh." Maura segera bangkit dan menuju tempat pencuci piring,lalu mencoba berkumur dengan air keran beberapa kali. "Asin-asin kecut,Mai! Rasanya kayak es balon jeruk nipis gitu. Huaaaa... Cuih!"

__ADS_1


Maura masih berkumur untuk membersihkan mulutnya,sedangkan Maira masih duduk di lantai menertawai adiknya itu. "Makanya,ra.. Jangan usil! Hahaha.."


"Ih.. Bercanda dikit kan gak papa." Maura mengambil tisu yang berada di atas meja makan untuk mengelap wajahnya yang basah.


Saking senangnya bermain,Maira baru teringat jika beberapa menit yang lalu ia telah memasak mie instant. Saat ia melihat panci kecil berisi mie yang di letakannya di atas kompor tadi, ia pun merasa kecewa karena mie tersebut sudah berubah bentuk menjadi lebih besar dan terlihat lembek. "Tuh kan mblotong! Gara-gara loe!"


"Mblotong?? Haha.." Tawa Maura puas dan langsung berlari keluar ruangan karena takut kembali di serang oleh saudarinya. Sedangkan Maira,masih kecewa menatap mie buatannya itu.


"Ya udah deh.. Makan aja." Ucap Maira pasrah dan mulai menyajikannya ke dalam mangkuk.


Puas bersenang-senang dengan Maira, Maura pun merebahkan tubuhnya di atas kasur sembari memainkan gawainya. Sudah lama dirinya tidak membuka Instagram, ia pun membukanya dan melihat foto pertama yang tampil di berandanya.


Akun instagram Chiko yang muncul pertama di berandanya kini. Terlihat Chiko sedang berpose mesra dengan seorang wanita yang tak lain adalah saudarinya sendiri, Maira.


Di foto tersebut, keduanya nampak sangat bahagia. Anehnya, latar belakangnya nampak seperti sedang terjadi sebuah pesta. Terdapat beberap badut dan aksesoris lainnya yang bertemakan pelangi. Rasa penasarannya pun mulai membara melihat Maira menggenggam sebuah buket mawar dan menggandeng tangan Chiko mesra. Seperti telah terjadi hubungan spesial di antara keduanya.


Air mata Maura pun seketika menetes setelah membaca caption di foto tersebut.


"Teruntuk yang pertama dan terakhir." Maura membaca caption singkat tersebut. Air matanya tak sanggup lagi untuk di bendung dan mulai menetes membasahi pipinya itu.

__ADS_1


Maura pun langsung mematikan handphonenya dan menonaktifkannya. Hatinya sangat kacau,mengapa hal sebesar ini Maira belum memberitahunya. Ia berniat untuk menemui saudarinya itu, akan tetapi ia tidak ingin memulai masalah baru lagi.


Padahal, baru saja mereka saling bercanda bersama setelah beberapa lama tak kunjung saling bersama. Ia tidak ingin jika persaudaraan antara keduanya hancur hanya karena masalah cinta. Maura pun memutuskan untuk diam dan berpura-pura tidak tahu dan tidak terjadi sesuatu yang menyakiti hatinya.


__ADS_2