M? For??

M? For??
18. Cemburu


__ADS_3

Detik berganti dengan menit, menit berganti dengan jam, jam berganti dengan hari, dan hari berganti dengan minggu. Seminggu paska kejadian itu, Maura telah kembali menjadi dirinya kembali. Segalanya telah berubah dalam sekejap. Ia dan ketiga sahabatnya kini tak lagi akrab seperti biasanya. Begitupun dengan Chiko, yang setiap hari selalu berada di dekatnya dan membuatnya risih.


Nida dan Alan masih menginap di rumahnya sampai Maira dan sang ayah kembali dari luar negeri. Kehadiran keduanya di rumah, membawa nuansa kebahagiaan tersendiri. Maura tak merasakan kesepian, mereka selalu menghibur Maura di kala sedih merindukan sang ayah dan juga Maira.


Hari ini, Maura dan Alan bersiap untuk pergi ke kampus. Kampus mereka tidak sama. Namun, berada di arah jalan yang sama. Kampus Alan tentu saja lebih jauh dari kampus Maura. Walau begitu, tetap masih dalam satu kota yang sama. Hanya saja kampus Alan lebih dekat dari rumahnya dan berada jauh dari rumah Maura.


"Kak, aku sama Alan pamit ke kampus,ya?"


"Iya. Hati-hati! Bilang ke Alan,kalau bawa mobil jangan ngebut!" Teriak Nida dari atas balkon, sedangkan Maura berada di teras rumah yang berarah sama.


"Assalamualaikum.." Salam Maura dan segera masuk ke dalam mobil yang sudah terdapat Alan di dalamnya.


"Wa'alaikumsallam.." Jawab Nida dan melambaikan tangannya ke arah mobil tersebut.


Mobil pun di lajukan dengan sangat cepat oleh Alan. Maura sengaja duduk di kursi belakang. Jika terjadi kecelakaan, nyawanya kemungkinan masih bisa diselamatkan. Konyol memang, jika Alan yang menyetir, Maura sungguh merasa sedang berada di ambang kematian.


"Kenapa loe gak pernah mau duduk depan bareng gue,sih?" Tanya Alan dengan tetap fokus menyetir.


"Anuuu...eee.." Maura bingung harus memberikan alasan apa.


"Serasa jadi supir." Celetuk Alan.


"Hmm.. Sebenarnya aku takut kalau-kalau terjadi kecelakaan."


Ciiiiit...


Mobil mendadak di hentikan.


"Aduuh!! Kenapa berhenti?" Tanya Maura yang merasakan jantungnya seketika ingin lepas.


"Jadi, maksud loe kalo terjadi kecelakaan, biar gue duluan yang kena?" Tanya Alan dan menghembuskan nafasnya kuat.


Maura hanya mengangguk senyum. Alan pun kembali melajukan mobilnya menuju kampus.


Sesampainya di kampus Maura, Alan sengaja keluar dari mobil untuk sekedar melihat-lihat. Begitu pun dengan Maura yang masih berbincang-bincang dengan Alan di depan mobilnya. Hal itu pun mengundang perhatian teman-temannya.


Naya, Rexa, dan Via yang melihat kejadian itu, hanya tetap diam dan mengamati. Apa benar jika pria tampan dengan wajah baby face tersebut merupakan selingkuhan Maura?


Maura dan Alan masih bercanda di sana. Seketika, Chiko yang melihat kejadian itu pun langsung menghampiri keduanya.


"Dia siapa, ra?" Tanya Chiko curiga.


"Dia sepupuku. Namanya Alan." Jawab Maura santai. "Oh, iya.. Alan, dia kak Chiko." Lanjutnya memperkenalkan.


Chiko menjabat tangan Alan, "Saya pacarnya Maura."


Mendengar pernyataan tersebut, Alan langsung menertawai keduanya. Selama ini, Maura tidak pernah pacaran sekalipun. Memiliki sahabat laki-laki pun ia tidak pernah.

__ADS_1


"Awalnya kami sahabat, tapi gatau kenapa tiba-tiba aku dah jadi pacar dia. Tanpa sepengetahuanku.." Jujur Maura sembari mengedikkan bahu, lalu berjalan menuju kelas.


Chiko masih merasa curiga dengan Alan, "Serius? Kalau kamu memang benar-benar sepupu Maura?"


Alan tak menyangka jika pacar sepupunya itu sungguh pecemburu. Ia pun berniat mengerjai keduanya dengan mengaku sebagai pacar Maura. "Gue pacarnya."


Mendengar ungkapan tersebut, Chiko pun langsung mengepalkan tangannya geram. Alan sudah kembali masuk ke dalam mobilnya meninggalkan kampus. Ia segera berlari menyusul Maura yang sudah berjalan ke kelas lebih dulu.


"Maura!" Teriak Chiko dan berlari menuju ke arah Maura.


Maura pun menghentikan langkahnya dan menengok ke arah belakang menghampiri Chiko. "Kenapa, kak?"


Chiko menghentikan langkahnya, "Tega kamu,ra! Selama ini kamu selingkuh dari saya. Salah saya apa?"


"Hah? Siapa yang selingkuh? Jelas-jelas tadi..."


"Sudahlah! Saya benar-benar kecewa sama kamu!" Bentak Chiko dan berjalan pergi meninggalkan Maura.


"Alan!!" Gumamnya menahan amarah.


Di kelas...


Maura tidak menyimak satu pun materi yang di berikan oleh dosennya. Ia justru masih memikirkan nasib percintaanya itu dengan Chiko. Dulu, ia sempat mencintai pria berkacamata itu. Namun, Maira sudah merebut Chiko darinya dan membuatnya hilang sedikit rasa untuk Chiko, sosok yang pernah di cintainya kala itu.


"Sekarang kita buat contoh kalimat menggunakan kata kerja golongan 2,contohnya.. Ano shatsu wo misete kudasai! Ada yang tahu apa artinya?" Tanya dosen ke arah mahasiswa lain.


"Maura!"


Maura pun terkejut dan menengok ke arah dosen yang sedang menatapnya marah. Dosennya yang satu ini sangat tidak suka jika ada siswanya yang melamun dan tidak fokus saat kelas dimulai.


"Coba kamu artikan kalimat tadi!" Perintah dosen pada Maura.


"Kalimat yang mana,ya?" Bisik Maura kepada Rexa yang duduk di belakangnya.


"Yang tadi, lah!" Jawab Rexa cuek.


"Aku gak nyimak, xa!" Maura masih berbisik ke arah Rexa.


"Maura! Artikan kalimat dari Ano shatsu wo misete kudasai!" Perintah Dosen yang mulai terlihat marah akan sikap Maura akhir-akhir ini. Kegiatan belajarnya menjadi tidak fokus semenjak berpacaran dengan anak salah satu dosen di kampus tersebut.


"Tolong perlihatkan baju itu!" Jawab Maura.


"Lain kali, kamu harus lebih fokus! Saya yakin, kamu merupakan mahasiswi terpintar. Jangan karena masalah cinta, kamu menjadi bodoh!" Tutur sang dosen dan membuat Maura tertunduk malu. Sedangkan mahasiswa lainnya sibuk menertawakan.


Jam kuliah telah usai, Maura berencana mengajak ketiga sahabatnya itu makan di sebuah Cafe.


"Gak usah sok baik sama kami. Mending, kamu jalan lagi aja sama kak Chiko dan tinggalin kami bertiga." Via mendengus kesal.

__ADS_1


"Kalau di traktir, gue mau." Jawab Rexa spontan dan membuat sahabat lainnya menatap tajam ke arahnya. "Eh.. Gak jadi, deh, ra!"


"Kalian cemburu kalau aku jalan sama kak Chiko?" Tanya Maura.


Ketiga sahabatnya mengangguk cepat.


"Kalau gitu, sekarang juga aku bakal putusin kak Chiko. Karena, aku pengen kita semua seperti dulu lagi. Demi persahabatan, aku bakal putusin kak Chiko sekarang." Ucap Maura dan berjalan keluar kelas meninggalkan sahabatnya.


"Maura waras gak, sih?" Tanya Naya kepada dua sahabat yang duduk di sebelahnya.


"Tapi, gue kok malah gak suka kalau mereka putus, ya? Hmm.." Rexa berdehem sembari menepuk-nepuk dagunya dengan telunjuk.


"Iya.. Gue sepemikiran sama loe, xa! Gue gak tega kalau Kak Chiko kehilangan cinta pertamanya. Cinta kak Chiko tulus banget buat Maura." Sambung Via membenarkan.


"Hmm.. Oke-oke! Sekarang kita kejar Maura!" Ajak Naya.


Ketiganya pun langsung berdiri dan bergegas mengejar Maura yang sudah berada di lapangan basket sekolah. Saat ini, ia terlihat sedang menghadap Chiko yang memegang bola hendak bermain basket.


"Kak Chiko, aku mau kita..."


"Tunggu!" Teriak ketiga sahabatnya dan berlari menemui mereka berdua. Maura pun menghentikan sekejap ucapannya saat teriakan itu tertuju ke arahnya.


"Maaf kak Chiko, Mauranya kami pinjam sebentar, ya?" Pinta Rexa dan menarik tangan Maura menjauh dari pandangan Chiko.


"Loe gak perlu repot putusin dia. Kami cuma pengen loe bisa kayak dulu lagi, kumpul-kumpul sama kami. Loe harus bisa bagi waktu antara sahabat dan pacar loe, ra!" Ucap Naya dan menggenggam tangan Maura.


"Oke.. Aku janji bakal terus setia sama kalian. I love you all..." ke empat sahabat itu pun akhirnya saling berpelukan dan bersatu kembali seperti sedia kala.


Rexa



Via



Naya



Kak Nida



Alan


__ADS_1


__ADS_2