
"Siapa bayi kembar itu?" Tanya Chiko dan melepaskan pelukan tersebut.
"Itu aku dan kembaranku, kak. Namanya Maira, Maira Ashara." Jelas Maura singkat.
Mendengar jawaban dari sang adik, Chiko kembali terkejut mengetahui jika Maura memiliki kembaran bernama Maira. "Maira?"
"Iya, kak. Selama ini, yang bersama kak Chiko bukan cuma aku. Tapi ada Maira diantara kita." Maura tertunduk. "Ups! Bukan Maira yang ada diantara kita. Tapi, aku." Lanjutnya dan segera pergi menuju kamar Maira.
"Maura, tunggu!" Chiko segera mengejar Maura yang mulai nampak jauh meninggalkannya.
Sesampainya disana, Maura kembali menangis karena telah mengingkari janjinya pada Maira. Ia menangis sesenggukan sembari melihat saudarinya yang masih terbaring belum sadarkan diri.
Maura berjalan menuju saudarinya lebih dekat. Kini, Maura menggenggam tangan Maira yang dingin dan lemas seraya mengusap pipi Maira lembut.
"Mai sadar, dong! Banyak hal yang mau aku ceritain. Ayo, Mai sadar!" Maura masih menangis dan mencium punggung tangan saudarinya itu. Tanpa disengaja, air matanya kini jatuh dan mengalir dipunggung tangan Maira kala itu.
"Ra?"
Jari-jari tangan Maira seketika bergerak perlahan sembari menyebut nama saudarinya.
"Dokter! Dokter!" Teriak Maura sembari berlari ke pintu kamar mencari pertolongan.
__ADS_1
Seorang dokter dan perawat pun datang mengecek keadaan Maira yang mulai sadar. Terdengar langkah kaki yang berjalan masuk ke kamar tersebut dan membuat Maura menengok seketika.
"Kak Chiko ngapain kesini?" Tanya Maura dengan nada datar.
"Maira juga adikku, kan?" Chiko melangkahkan kakinya sembari melihat keadaan Maira. Ia terkejut melihat wajah keduanya sama persis. Bahkan untuk membedakan kedua adiknya itu pun sangat sulit.
"Saudari Maira keadaannya kini mulai membaik. Namun, dia masih membutuhkan istirahat yang cukup. Jadi, jangan terlalu lama membesuknya, ya? Biarkan dia beristirahat." Tutur sang dokter dan pergi meninggalkan ruangan disusul seorang perawat yang berjalan di belakangnya.
Chiko mengusap kepala Maira terharu atas kondisi adiknya itu saat ini. Air matanya seketika ikut menetes mengingat orang yang dicintainya itu merupakan adik-adiknya sendiri. Chiko menggenggam salah satu tangan Maira dan mengusapnya haru.
"Maira sakit apa?" Tanya Chiko pada Maura yang masih berdiri dibelakang pintu kamar Maira yang tertutup.
"Transplantasi jantung? Biayanya mahal sekali itu, ra. Bahkan hampir mencapai 20 milyar." Ucap Chiko terkejut. "Bagaimana dengan pendonornya? Sudah dapat?" Lanjutnya lagi pada Maura.
Maira memegang kedua tangan Maura dan Chiko. "Kalian gak perlu repot-repot. Gue dah gak kuat lagi jalanin hidup ini. Bunda, ayah, semua dah pergi ninggalin gue. Mungkin ini saatnya gue nyusul mereka di surga sana." Ucap Maira berusaha tenang.
"Apa sih, Mai? Gak lucu! Kamu mau ninggalin aku sendiri? Aku mohon Mai jangan tinggalin aku. Cuma kamu keluarga yang aku punya." Maura kembali menangis.
"Ada kak Nida, Alan, dan kak Chiko juga. Kamu gak akan sendiri, ra."
Maura hanya menggeleng lemas. Ia tak bisa mengatakan sepatah kata lagi untuk Maira. Rasanya seperti bisu yang mendadak datang menyerang pita suaranya.
__ADS_1
"Gue minta maaf ya, ra. Karena gue selalu maksa lo buat tuker peran. Gue pengen ngerasain jadi lo. Di sayang ayah, punya sahabat, dan dicintai sama seseorang sebaik kak Chiko. Semua ini gue lakukan karena gue iri sama lo. Sorry, ra! Gue hilaf." Isaknya yang masih menggenggam tangan Maura. "Dan kini gue sadar, bahwa M, for Maura, bukan gue Maira. Seharusnya gue gak nerima cinta kak Chiko waktu di Cafe itu. Karena cinta kak Chiko seharusnya milik lo doang, ra."
"Aku dah maafin semua kesalahan kamu, Mai. Dan kak Chiko itu gak pantes untuk kita jadikan pacar." Kata Maura sembari tersenyum
"Maksud lo?"
"Kak Chiko itu kakak kita. Dia juga anak bunda. Kita bertiga dilahirkan dalam satu rahim yang sama, Mai. Tapi, ayah kita berbeda." Jelasnya sembari melirik ke arah Chiko.
"Oh, ya? Jadi album itu..."
"Iya, Mai. Tapi, kami belum tau sejarah dari pernikahan orang tua kita seperti apa." Ucap Maura dengan raut kembali datar.
Tak lama kemudian, seseorang dengan mengenakan seragam rapih datang kedepan kamar Maira sembari mengetuk pintu beberapa kali. Maura segera menemui orang tersebut dan mengajaknya bicara di koridor. "Ada apa, pak?"
"Saya selaku petugas bank ingin memberitahu bahwa rumah anda akan segera kami sita untuk melunasi hutang-hutang almarhum ayah anda yang mencapai puluhan miliyar, berikut aset yang dimiliki ayah anda." Tutur orang itu dan membuat kaki Maura meluruh seketika dan langsung terduduk di kursi panjang sebelahnya.
"Disita?" Tanya Maura memastikan.
"Iya, berikut bukti hutang-hutang perusahaan ayah anda. Silahkan di cek!" Kata petugas bank sembari memberikan map merah pada Maura. Maura mulai membuka dan membacanya singkat lembar demi lembar.
"Silahkan, setelah ini anda mengemaskan barang-barang anda dan tinggalkan rumah tersebut." Lanjutnya lagi. Maura hanya mengangguk lemas merasakan masalah yang terus hadir satu persatu ke hidupnya dalam sepekan.
__ADS_1