M? For??

M? For??
06. Mengenalmu Dibawah Hujan


__ADS_3

"Maura, saya tahu kamu siswa paling pintar dikelas. Apa kamu mau membantu saya untuk mengajari teman-temanmu tentang Penggunaan Kata Kochira, Sochira, dan Achira? Ini buku panduannya, saya yakin kamu akan cepat memahaminya." Ucap sang dosen dan memberikan sebuah buku kecil kepada Maura.


"Hai'(iya). Kalau boleh tahu, mengapa sensei tidak mengajar dikelas?" Tanya Maura.


"Karena saya harus mengikuti workshop dikampus kita. Tenang saja,saya hanya ikut selama satu jam. Setelah itu,saya akan kembali ke kelas." Tuturnya. "Tapi,jika kamu tidak siap maka jadwal kuliah terpaksa saya ganti." Lanjutnya.


"Emmm... Saya siap menggantikan posisi sensei jika hanya satu jam." Maura pun menerima tawaran itu daripada ia harus menunggu lebih lama lagi.


Maura pun kini kembali kekelas bersama Naya dan Via. Sesampainya disana, ia pun menyampaikan amanah dari sensei kepada teman-temannya mengajar sementara atas perintah sensei alias dosen. Ia pun langsung mengajarkan teman-temannya melalui buku yang diberikan oleh sensei beberapa saat yang lalu.


Ia terlihat sangat menikmati profesi barunya itu. Dan mengajar seolah-olah ia adalah dosen sungguhan.


"Oke. Yang ketiga adalah 'achira' yang artinya sebelah sana. Menunjukkan sesuatu yang jauh dari subjek maupun objek. Contoh: Achira wa watashi no kaisha desu. Artinya..Sebelah sana adalah perusahaan saya." Jelas Maura dan hampir menyelesaikan materi selama kurang lebih 20 menit.


Salah satu mahasiswi mengangkat salah satu tangannya kearah Maura hendak bertanya. "Jadi,kesimpulannya penggunaan kata kochira itu sebelah sini, sochira itu sebelah situ, dan kalau achira sebelah sana??"


"Sugoi!"(hebat) Maura memberi tepuk tangan untuk Saga yang berhasil menyimpulkan materi yang baru saja diberikan Maura.


"Oke. Sekarang coba kalian buat kalimat yang menggunakan kata 'kochira'! Yang sudah dapat silahkan untuk angkat tangan!" Perintah Maura dan berjalan mengelilingi mahasiswa yang tengah berfikir mencari sebuah jawaban dari pertanyaan Maura.


Naya mengangkat tangannya. "Kochira wa shokudou desu. Yang artinya 'sebelah sini adalah kantin'. Benar?"


"Yups!" Karena dirasa materi yang ia berikan telah usai. Kini ia pun duduk dikursi dosen dan membaca-baca buku yang diberikan sang dosen beberapa saat yang lalu dan membiarkan teman-temannya sibuk dengan gawainya.


Beberapa menit kemudian,dosen pun datang dan melihat Maura masih asik membaca buku ditempatnya sembari menganggukkan kepala mendengarkan musik lewat earphone-nya. Mahasiswa yang lain hanya terdiam dan tidak berani untuk memberitahu Maura. Maura kini justru bangkit dan menari sesuai irama lagu yang ia dengarkan dan tak menyadari sang dosen tengah berdiri disampingnya.


"Ehm..ehm.." si dosen berdehem dan membuat Maura terkejut seketika.


"Maaf,sensei." Maura melepas earphone-nya. "Saya sudah selesai mengajarkan materi yang diperintahkan oleh sensei." Tutur Maura dan kembali ketempat duduknya dan bersikap salah tingkah.


***


Setelah jam kuliah telah usai,Maura tidak segera pulang kerumah karena hujan deras disertai badai. Ia memakirkan mobilnya disebuah Bright Cafe dengan bangunan berdesain minimalis bergaya eropa dan terlihat sangat elite. Ia memesan secangkir cappucino dan mozarella cheese stick kesukaanya. Cafe ini terlihat sangat ramai, hingga mencari sebuah meja kosong pun sulit.


Selang beberapa detik, seorang pria berkacamata duduk dihadapannya dan sibuk menyisir rambutnya yang basah kebelakang dengan tangan. Setelah itu, ia melepas kacamata minusnya dan mengambil selembar tisu dimeja hadapannya untuk mengelap kacamatanya yang nampak buram terkena air hujan.

__ADS_1


"Kak Chiko?" Sapa Maura terkejut dan membuat pria tersebut seketika menatap kearahnya.


"Gak ada meja yang kosong,jadi saya kesini. Kalau kamu keberatan, saya bisa cari cafe yang lain." Jelas Chiko dan berniat bangkit dari tempat duduknya.


"Gapapa kok. Duduk aja kak! Ini 'kan bukan cafe saya, jadi siapapun berhak duduk disini." Ucap Maura datar.


Chiko hanya menggangguk. Kini sorot matanya menyapu sekeliling cafe seperti mencari sesuatu. "Waitress!" Panggilnya kepada seorang pelayan yang baru saja mengantarkan makanan kepada pelanggan yang lain.


Pelayan tersebut pun datang dan menghampiri Chiko dengan membawa buku menu.


"Saya pesan potato chips sama kopi espressonya satu ya!" Pinta Chiko kepada pelayan cafe.


Setelah lima menit menunggu,pesanan mereka pun akhirnya datang. Maura mulai menikmati cappucino kesukaannya.


"Kamu pecinta kopi?" Tanya Chiko singkat.


"Enggak juga. Cuman suka kopi ini aja. Kalau kakak?" Tanyanya balik.


Chiko hanya mengangguk dan meminum kopi pesanannya itu. Suasana hening diantara mereka, hanya suara rintik hujan dan hembusan angin yang turut menemani sore hari mereka. Merasa bosan, Chiko pun mulai mengajak Maura untuk berbincang-bincang.


"Ya..cuman gak boleh ikut pelajarannya aja, sih. Tapi setelah itu, eh..malah disuruh ngajar gantiin dia." Tambah Maura dan tertawa kecil.


"Iya,ayah pernah cerita kalau kamu muridnya yang paling pintar. Dan anehnya,kenapa hari itu kamu bisa dapat SP1? Dilihat-lihat kamu murid yang pendiam tidak seperti yang lainnya." Tanya Chiko bingung.


Maura tak menjawab. Justru ia mengabaikan pertanyaan Chiko dan meminum kembali kopinya yang sebentar lagi habis.


Tanpa disadari, setelah kurang lebih satu jam dari perbincangan mereka, hujan pun berhenti. Kini mereka melakukan pembayaran dan melangkahkan kakinya menuju keluar cafe untuk pulang kerumah masing-masing.


Saat Maura hendak membuka pintu mobilnya, pandangannya tertuju keatas seketika. Ia melihat sebuah pelangi yang cukup indah dengan warna yang masih terang menyala. Begitu pun dengan Chiko yang langsung mengambil kamera dari tasnya untuk mengambil foto pelangi tersebut.


"Kak Chiko suka pelangi?" Tanya Maura dan menghentikan niatnya untuk membuka pintu mobil.


"Apapun yang berkaitan dengan alam,saya pasti menyukainya." Jawabnya dan melihat ke arah Maura yang tersenyum simpul. "Kamu juga suka?" Tanyanya balik.


"Saya lebih suka senja daripada pelangi." Tuturnya dan kembali membuka pintu mobilnya.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Chiko bingung.


Maura tak menjawab,hanya senyum kecil yang mampu ia berikan dan tak mampu diartikan oleh seorang Chiko Ragano. Tanpa sadar,ia pun tersenyum dan menaiki motornya menuju jalan pulang.


***


"Maura! Loe dicariin ayah diruang TV." Teriak Maira dari atas tangga ketika Maura menutup pintu rumah dengan hati-hati.


"Oke." Maura pun melepas sepatunya yang kotor karena basah terkena genangan air saat menyebrang ke Bright Cafe.


Maura berjalan menuju tangga,satu demi satu anak tangga telah ia lewati dan sampailah pada sang ayah yang tengah menunggunya sembari melihat acara televisi.


"Assalamualaikum,yah." Salam Maura dan menyalimi tangan sang ayah.


"Wa'alaikumsallam."


"Ada apa,yah? Kata Maira,ayah nyariin aku,ya?" Tanya Maura dan duduk disebelah ayahnya.


"Apa benar sekitar dua hari yang lalu kamu mendapatkan SP1?" Tanya sang ayah serius.


Maira yang merasa bersalah mulai kebingungan,ntah apa yang akan dikatakan oleh Maura pada sang ayah.


"Emm..eeee..eeee..anu.." Ucap maura terbata-bata. Ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan pada sang ayah kalau yang mendapatkan SP1 bukanlah dirinya tetapi Maira.


"Aduh! Nanti aja ya,yah. Maura kebelet pipis." Ucap Maura dan berlari membawa tasnya keluar ruangan. Sang ayah hanya menggeleng curiga dan berfirasat ada sesuatu yang disembunyikan oleh anak-anaknya. Maira yang menyaksikan percakapan keduanya langsung menghela nafas selamat,karena Maura sudah pintar berbohong berkat ajaran darinya.


Kini Maira pun berjalan menyusul Maura yang terlihat masuk kekamarnya. Karena tidak dikunci,Maira pun masuk dan menutup pintu kamar Maura dengan hati-hati.


"Gue salut sama loe. Akhirnya loe dah pinter bohong. Seandainya gue gak ngajarin loe bohong, loe sama gue pasti dah kena marah sama ayah. Good job, sis!" Salutnya dan bertepuk tangan.


Maura yang mendengarkan ucapan Maira, hanya bisa menggeleng pelan. Ia kini mengambil handuk kecil dan mengelap rambutnya yang masih basah terguyur hujan.


"Loe harus jaga baik-baik rahasia kita ya,ra!" Maira menatap saudarinya penuh harap.


"Tapi sampai kapan? Toh, nanti juga ayah bakalan tau yang sebenarnya." Gerutu Maura dan berjalan menuju kekamar mandi yang ada didalam kamarnya.

__ADS_1


"Ya usahain dulu,lah!" Sahut Maira dan duduk ditepi kasur Maura.


__ADS_2