
Hari ini, setelah pulang dari kampus, Maira menyempatkan waktunya untuk mampir ke rumah Chiko untuk pertama kalinya. Ia sengaja datang tanpa sepengetahuan dari Chiko, hal itu di lakukannya hanya untuk memberi sebuah kejutan padanya.
Ini pertama kalinya Maira berkunjung. Saat di kampus, Maira sempat bertemu dengan seorang pria gemuk berkacamata yang pernah memberikannya sebuah surat pemberian Chiko kemarin. Maira berfikir bahwa itu pasti teman satu angkatan Chiko, oleh karena itu ia menghampiri pria tersebut untuk menanyakan alamat rumah Chiko yang merupakan anak dari seorang dosen dikampus tersebut.
"Assalamualaikum.." Maira membelakangi pintu rumah Chiko.
"Wa'alaikumsallam.." Pintu rumah pun di buka oleh seorang wanita yang pernah ia lihat sebelumnya. "Ada apa,kak?"
"Elo?!" Kata Maira terkejut. "Kenapa loe ada disini?" Tanya Maira sembari menunjuk wajah Alea yang berdiri di depannya.
"Loh, ini 'kan rumahku, kak!" Jawab Alea dan merasa bingung dengan Maira yang di anggapnya adalah Maura.
"Oh! Sorry.." Maira membuang wajahnya ke arah lain, karena ia sempat lupa untuk mengucapkan terimakasih pada Alea yang telah membantunya mencarikan bensin kala itu.
"Kak Chiko belum pulang. Kak Maura mau nunggu di dalem?" Tawarnya.
"Emmm.. Boleh,deh." Maira pun memasuki rumah Chiko yang terlihat mewah walaupun desain dari setiap ruangnya sangat minimalis. Ia kini duduk di kursi tamu sembari menunggu Chiko pulang dan ditemani oleh Alea.
"Kakak mau minum apa?" Tawar Alea yang berdiri hendak menuju ke dapur.
"Emmm.. Jus jeruk ada?" Tanya Maira yang sibuk memainkan gadgetnya.
"Gak ada,kak. Kami satu keluarga,kurang suka sama jeruk. Hehehe.."
"Ya udah deh,kakak mau es teh manisnya aja." Jawab Maira cuek dan tetap sibuk dengan gadgetnya itu.
Alea pun segera pergi menuju dapur dan melihat jika persediaan teh mereka sudah habis. Ia pun memeriksa minuman lain di dalam kulkasnya itu. Namun hasilnya nihil,hanya sebotol air dingin yang dapat ia temukan di sana. Terpaksa, ia pun akhirnya hanya menyajikan segelas air dingin pada Maira yang menjadi tamunya di siang hari yang terik ini.
"Maaf, kak. Di kulkas cuma ada ini." Ucap Alea lembut dan memberikan minuman tersebut pada Maira.
"What?? Es tawar? Ih ogah ah!" Maira memindahkan gelas tersebut jauh dari dirinya.
"Maaf,kak." Alea pun duduk kembali di sofa yang berhadapan dengan Maira. Ia merasa aneh, Maura ialah sosok wanita yang lembut seperti yang dikenalnya. Namun, mengapa saat ini berbeda dan menjadi kasar terhadap dirinya. Alea terus memerhatikan Maira yang tidak terlihat seperti sikap Maura ketika duduk. Di sofa panjang tersebut, Maira menjulurkan kakinya di sepanjang kursi dan meletakkan kepalanya di tangan sofa sembari memutar musik dan memainkan gadgetnya.
"Gak sopan! Berasa rumah sendiri!" Gerutu Alea pelan.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, Chiko pun datang dan terkejut melihat Maura sudah berada di rumahnya. Ups! Maksudnya Maira yang tengah menyamar sebagai Maura.
"Wah.. Kamu disini dah lama?" Tanya Chiko dan duduk di sebelah Maira setelah menyingkirkan kakinya itu.
"Kita jalan-jalan aja gimana? Aku gak betah disini. Apalagi liat sikap adik kak Chiko!" Ucap Maira meninggikan suara di akhir kalimatnya.
Chiko merasa aneh dengan gaya bicara itu. Maura tidak pernah menaikkan suaranya ketika berbicara. Dan Chiko pun mulai merasa, jika akhir-akhir ini yang berada di dekatnya tak sama seperti sosok Maura yang dikenalnya dulu.
"Ya sudah.. Jika itu mau kamu,yuk kita berangkat!" Ajak Chiko dan beranjak dari duduknya.
Alea mencoba untuk menjelaskan semuanya,jika di kulkasnya tak ada lagi minuman lain. Chiko pun terpaksa untuk mengajak Maira pergi jalan-jalan dan mencari makanan di luar supaya tak lagi memarahi adiknya itu. Namun,Chiko mengabaikan penjelasan adiknya dan lebih memilih untuk melayani kekasihnya itu.
Keduanya saat ini berada di perjalanan menuju resto bintang lima sesuai keinginan Maira. Chiko merasa sedikit canggung berada di dekat pasangannya yang seketika berubah. Baginya, Maura yang dulu beda dengan yang ia temui saat ini.
Di sepanjang perjalanan,Maira tak henti-hentinya membicarakan barang-barang mewah yang ia lihat di sosial medianya. Ia selalu berkata ingin ini, itu, ini, dan lain-lain sehingga membuat Chiko semakin merasa pusing. Hubungan mereka yang baru saja berjalan dua hari, Maira justru memanfaatkan Chiko untuk membelikannya barang-barang tersebut.
Sesampainya di Resto Bintang Lima, Maira pun segera mencari tempat duduk yang membuatnya nyaman. Ia menginginkan untuk duduk berdua dengan Chiko di meja tengah yang tertera tulisan meja nomor 4. Namun sayang,di meja tersebut terdapat sepasang suami istri yang sedang bermesraan menikmati hidangan yang dipesannya itu.
"Kenapa,ra? Kenapa berdiri disini?" Tanya Chiko dan merangkul Maira hendak mencari meja kosong. Namun, Maira menahan tangan Chiko dan membuatnya berhenti seketika.
"Are you sure, baby??" Tanya Chiko yang di buatnya pangling. Tentu saja ia tidak ingin mengganggu sepasang suami istri tersebut. Terlebih lagi, suaminya itu memiliki badan yang besar dan berotot. Serta istrinya yang terlihat sedang hamil tua. Jika, Chiko mengusir keduanya supaya pindah dari meja tersebut, tragedi buruk pasti akan menimpanya.
"Ayo!" Ajak Maira dan menarik-narik tangan Chiko ke bawah.
Chiko pun akhirnya menarik kembali tangan Maira dan mencari sebuah meja kosong yang lainnya.
"Iiih.. Tapi, aku maunya duduk disana, kak!" Teriak Maira di sepanjang Chiko menariknya menuju meja kosong.
"Kamu gilak, ya?! Gak liat kalau suami dari wanita hamil itu seperti preman pasar?" Bentak Chiko pelan dan mempersilahkan Maira duduk di tempat pilihan Chiko.
"Loe berani bentak gue?" Ucap Maira dan melupakan cara dari gaya bicara Maura.
"Gak sopan namanya kalau kita asal usir orang tanpa alasan yang jelas." Ucap Chiko menenangkan sembari menggenggam tangan Maira.
"Okeeeeee." Jawab Maira malas.
__ADS_1
Mereka berdua pun akhirnya memesan makanan dan minuman untuk di santap sebagai santapan siang di antara keduanya.
Setelah usai menyantap makan siang dan melakukan pembayaran yang ditanggung oleh Chiko, keduanya kini pergi ke sebuah taman kecil yang berada dekat dengan resto yang baru saja mereka kunjungi.
"Liat geh bunga mawar, ini!" Ucap Chiko yang sedang memegang bunga dan memperlihatkannya pada Maira yang masih merenung.
"Kenapa?" Balas Maira dengan nada malas.
"Kamu suka mawar?" Tanya Chiko.
"Yaaa suka gak suka, sih. Kenapa?"
"Tuhan itu baik yah. Saat aku minta bunga mawar,aku diberi taman yang indah. Saat aku meminta setetes air, aku diberi lautan. Eh, saat aku minta malaikat, aku diberi kamu. Eaaaakk.." Gombalnya dan terkekeh sendiri.
"Dih gombal, aku kamuan!" Ucap Maira tersipu dan terlihat kedua pipinya mulai memerah.
"Eh.. Kamu kenapa? Dah terjebak sama gombalanku, ya?Hahaha.." Chiko memukul-mukul gemas kepala Maira dengan mawar yang dipetiknya tadi.
"Ya aneh aja. Biasanya kak Chiko tuh gaya bicaranya dingin. Saya kamu saya kamu gitu."
"Sekarang dah ganti,dong. Nih dengerin! Kata itu dimulai dengan ABC, sedangkan angka dimulai dengan 123. Lagu pun dimulai dengan do re mi. Dan kalau cinta, dimulai dengan aku dan kamu. Eaaak.." Ucap Chiko lagi dan terkekeh dengan gombalannya sendiri.
"Pacar aku ternyata tukang gombal,ya? Iiih..Gemeeessss!" Senyum Maira mulai muncul dan menarik hidung Chiko yang terlihat mancung. "Dasar Pinokio!"
"Oh.. Sekarang pake nama panggilan sayang, nih? Kalau gitu.. aku bakal panggil kamu Ultramen."
"Ih,apaan sih? Gak nyambung banget, sumpah!" Maira pun terkekeh mendengar apa yang di ucapkan oleh Chiko barusan. Panggilan tersebut tak ada kaitannya sama sekali dengan dirinya.
"Udah,deh! Serah! Haha.. Aneh-aneh aja."
Alea
Chiko
__ADS_1