
Mendengar ada sedikit keributan dari luar, Chiko pun segera berjalan keluar kamar Maira menemui Maura yang tengah menangis seorang diri. Chiko melihat di sekelilingnya, tak ada orang. Hanya beberapa perawat yang berlalu lalang dan Maura yang tengah duduk menangis.
"Kamu kenapa, ra?" Tanya Chiko khawatir.
Maura segera menghapus air matanya itu. "Rumah kami disita untuk melunasi hutang perusahaan ayah. Sekarang, kami gak punya apa-apa lagi, termasuk tempat tinggal. Bahkan uang ditabunganku cuma 8 juta. Apa cukup untuk membiayai rumah sakit Maira?"
Chiko merendahkan tubuhnya supaya sejajar dengan Maura. "Kalian bisa tinggal di rumah kakak, kok. Rumah kakak terbuka lebar untuk kalian. Dosenmu itu pasti senang bisa tinggal bersama siswi terpintarnya." Ucap Chiko tersenyum di akhir kalimatnya.
"Beneran, kak?" Tanya Maura tersenyum.
"Iyaaaaaa." Jawabnya panjang dan segera berdiri. "Yaudah tunggu apalagi? Sekarang kita kerumah kamu dulu kemasin barang, kalau sudah selesai langsung ke rumah kakak."
Maura segera bangkit dari duduknya. "Siap, kak. Makasih ya!"
Keduanya kini langsung menuju rumah Maura yang akan disita oleh Bank. Sesampainya disana dengan kendaraan yang dikemudikan oleh Chiko,Maura segera membuka pintu mobil dan berjalan masuk kedalam, di ikuti oleh Chiko di belakangnya.
Rumah ini nampak begitu sepi, di rumah ini pun Maura merasakan kehadiran ayahnya yang masih hidup. Ia sungguh berat hati meninggalkan rumah yang memiliki banyak kenangan. Rumah pertamanya dulu, telah merenggut nyawa sang bunda disaat kebakaran melalap habis rumah dan seisinya. Dan rumah keduanya kini yang memiliki kenangan bersama sang ayah, terpaksa harus di tinggalkan untuk melunasi hutang-hutang perusahaan ayahnya pada pihak Bank.
Maura segera menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Ia mulai mengemasi beberapa pakaiannya ke dalam koper dan sebuah album foto keluarga tak lupa ia bawa. Chiko masih menunggunya di lantai bawah sembari melihat foto-foto masa kecilnya bersama kedua orangtuanya yang terpampang di setiap dinding rumah.
Setelah usai mengemasi barangnya, Maura segera menuruni anak tangga dan meletakkan kopernya di samping sofa ruang tamu.
"Sudah?" Tanya Chiko setelah Maura meletakkan kopernya.
"Belum, kak. Sekarang tinggal barang-barang Maira yang harus ku kemasi." Jawabnya lelah.
"Kalau gitu biar kakak bantu, ya?" Chiko menawarkan bantuan.
Maura hanya menanggapi dengan anggukan senyum. Keduanya kini segera menuju kamar Maira untuk mengemas barang-barangnya.
Chiko dikejutkan oleh penampakan kamar Maira yang terlihat jorok dan tak tertata rapih.
"Seperti kapal pecah." Batinnya.
Disaat Maura mengemasi pakaian Maira, mata minus Chiko justru tertuju ke sebuah amplop putih yang seperti terselip setengah di bawah bantal Maira. Ia mulai melangkahkan kakinya mendekat ke sebuah amplop tersebut.
__ADS_1
"Amplop apa ini?" Ucap Chiko ketika mengambilnya dan hendak membuka amplop tersebut.
Mendengar ucapan Chiko, Maura segera menghentikan aktivitasnya sejenak mendekat ke arah Chiko yang terlihat bingung.
"Coba kita buka aja, kak!" Maura mulai penasaran mengenai isi dalam amplop tersebut.
"Surat?" Ucap Chiko ketika usai membuka amplop tersebut.
Chiko kini mulai membuka surat tersebut dan mulai membacanya dengan seksama. Chiko dan Maura memutuskan untuk duduk di tepi kasur Maira untuk membaca surat itu.
*By Mai for Mau
Aku, yang membuat hubungan kita seolah fana.
Aku, penghancur asa dan menjadikan binasa.
Aku, berselimut basa dari setiap masa.
Pahit, melihatmu lebih hebat dariku.
Aku sengaja membuat dunia tidak mengetahui siapa kita
Aku sengaja menjadikan kita satu walau kita dua
Egois
Mungkin itu yang ada dibenakmu
Aku melakukan ini semua demi orang yang kusayangi
Supaya mereka tak kehilangan disaat aku pergi untuk meninggalkan
Kita sepasang genap dari satu rahim yang selamanya sulit untuk menjadi saling
Aku lantas bertanya, mengapa aku berbeda?
__ADS_1
Padahal rupa kami sama
Maura, Maira
Dianggapnya satu
Dan akan tetap menjadi satu
Dalam wujud seorang Maura
Maaf jika aku merebut cintamu
Kini aku sadar
Yang sama
Segalanya belum tentu sama
Karena tak segalanya
Akan bisa menjadi milik kita*
Air mata Maura lagi dan lagi mengucur deras. Sudah berapa liter air mata yang telah ia tumpahkan sejak kemarin? Bahkan pipi sembabnya itu belum saja mengecil dan kini kesedihan mulai menghampirinya lagi. Dirinya merasa lemah melihat satu persatu orang yang disayanginya pergi meninggalkan. Ia tak ingin jika harus kehilangan Maira. Karena Mairalah yang ia miliki saat ini di keluarga kecilnya.
Chiko yang ikut membaca surat itu pun terharu atas nasib yang selalu menimpa keluarga Maura. Ia berusaha menenangkan adiknya, walau dirinya sendiri pun tak dapat menenangkan pikirannya sendiri.
"Sudah, ra! Lebih baik kita doakan saja yang terbaik untuk Maira, semoga penyakit Maira segera diangkat oleh tuhan."
Maura belum7 menggubris ucapan Chiko dan masih menangis membaca kembali surat tersebut.
"Lebih baik, sekarang kita siap-siap mengemas barang, supaya lebih cepat kerumah kakak, dan lebih cepat juga kita nemuin Maira di rumah sakit." Bujuk Chiko lagi.
Maura segera menghapus lagi air matanya yang kini mulai hampir habis. Ia segera bangkit dari duduknya dan kembali mengemas pakaian saudarinya itu.
Setelah usai, keduanya kini bergegas ke rumah Chiko yang tak jauh dari rumahnya saat ini.
__ADS_1