M? For??

M? For??
28. Dibalik Peristiwa Kebakaran


__ADS_3

Sesampainya di rumah Chiko, Gara dan Alea yang sedang asik membersihkan kebun dan menyiram beberapa tanaman terfokus ke arah Maura yang baru saja keluar dari mobil Chiko membawa dua buah koper.


"Pah, Maura boleh ya tinggal disini? Bagaimana pun dia juga kan masih adikku, pah." Ucap Chiko yang berdiri di sebelah kanan Maura.


"Adik ka.. adik ka.. kamu?" Tanya Gara gelagapan.


"Maura ini anaknya mamah. Chiko rasa, Chiko gak perlu jelasin lagi ke papah. Karena papah pasti sudah tau semuanya." Tebak Chiko dan dibalas tatapan bingung Alea yang memegang selang air di belakang papahnya.


Alea mulai mematikan air dan berjalan mendekat menuju ketiganya. "Maksudnya apa, ya?"


"Tanya aja sama papah. Papah pasti lebih mengetahui rincinya." Ucap Chiko cuek. "Rumah Maura disita oleh Bank untuk melunasi hutang perusahaan, jadi Chiko mohon sama papah untuk memberikan Maura tempat tinggal sementara. Boleh kan, pah?" Mohonnya.


Gara hanya membalas anggukan. Ekspresinya datar dan terlihat tidak menyukai kedatangan dari Maura yang merupakan anak dari pernikahan mantan istrinya dengan sahabatnya itu.


Melihat balasan anggukan dari sang papah, Chiko langsung menarik tangan Maura halus menuju masuk kedalam rumahnya. Langkah kaki keduanya kini menuju kesebuah kamar tamu yang terletak di lantai bawah disebelah ruang tamunya.


Maura mulai menaruh kopernya diatas kasur dan belum berniat untuk membereskannya. Ia memerhatikan seisi ruangan kamar barunya itu yang nampak asing untuk ia tinggali.


"Kenapa, ra?" Tanya Chiko bingung melihat sikap Maura. "Kamu gak suka kamar ini?"


"Aku suka, kok. Om Gara yang sepertinya tidak menyukai kedatanganku. Apa aku menginap dirumah sepupuku aja, ya?" Lirihnya.


"Ayah memang begitu, dia terkadang terlihat cuek karena sedang sakit gigi." Kata Chiko menenangkan.


"Semoga." Maura menghela nafas lega.


"Sekarang kita ke ruang makan, yuk. Kakak yakin kamu pasti lapar." Ajaknya dan tanpa di sengaja suara perutnya kini terdengar dalam kesunyian.

__ADS_1


"Yang laper itu aku atau kak Chiko?" Tanya Maura sembari tertawa.


"Dua-duanya. Yuk makan!"


Mereka pun bersama-sama melangkahkan kakinya menuju arah ruang makan untuk sarapan tepat pada pukul sembilan pagi. Langkah keduanya terhenti seketika saat melihat Gara berbicara sendiri setelah meneguk segelas air dari tangannya.


"Percuma saja usaha saya selama ini! Saya sudah merebut Ratih dari tangan Adi, sahabat saya sendiri. Dan disaat saya membakar rumahnya dulu untuk mencelakai Adi, justru Ratih yang menjadi korban. Ah! Sial!" Gumamnya. "Kalau begitu, sekalian saja dulu saya bakar disekeliling rumahnya supaya tak ada satu pun yang selamat. Termasuk anak dari Adi dan juga Ratih. Enak sekali, tiba-tiba saja dia mau menginap disini!"


Mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Gara secara tak sengaja didengarnya, justru membuat jiwa amarah dalam diri Maura meluap-luap.


"Jadi, pelaku dari kebakaran itu om Gara?" Teriak Maura dan seketika mengejutkan Gara yang tak mengetahui kehadiran Maura dan juga anaknya.


"Maura? Bukan! Bukan begitu, nak!" Bantahnya.


"Om bener-bener tega! Aku kira, om itu sahabat terbaik papah. Ternyata aku salah, om itu musuh di balik selimut! Om jahat!" Isaknya.


"Gak! Gak ada yang perlu dibicarain lagi, aku akan melaporkan kejahatan om ke kantor polisi." Ancamnya yang masih terisak. Chiko yang mendengar ucapan dari sang adik pun tak tahu lagi harus mendukung siapa dipertikaian ini.


"Chiko gak nyangka kalau papah yang selama ini Chiko banggain, ternyata pembunuh berencana yang salah sasaran. Chiko malu jadi anak papah!" Sesalnya kecewa.


"Chiko?" Gara kecewa atas kata yang baru saja terucap dari anak kesayangannya itu.


"Dua puluh lima tahun yang lalu, saya, Adi, dan Ratih adalah teman dekat. Dan bisa dibilang kami ini sahabat. Sampai pada akhirnya, saya mencintai Ratih yang ternyata sudah menjadi pacar Adi kala saya ingin mengungkapkan perasaan saya. Sampai pada hari pernikahan Ratih dan Adi, saya sengaja menculik Ratih supaya tidak bisa menikah. Dan pada akhirnya, pernikahan itupun dibatalkan." Tutur Gara dan mengambil nafas sebelum melanjutkan kembali ceritanya.


"Di perjalanan saya menculik Ratih, mobil yang saya kendarai menabrak pohon yang ada di tepi jalan. Sampai pada akhirnya, saya terluka sedangkan Ratih mengalami hilang ingatan. Saya mengaku sebagai tunangannya, dan pada akhirnya kami berdua menikah." Gara berjalan membelakangi Maura dan Chiko.


Maura terlihat menangis, sedangkan Chiko terlihat sangat kecewa atas tindakan yang dilakukan sang papah.

__ADS_1


"Setelah kami menikah dan memiliki Chiko, seketika ingatan Ratih mulai kembali sedikit demi sedikit. Dan sekitar dua tahun pernikahan kami, Ratih memutuskan untuk bercerai dari saya dan ingin kembali pada Adi. Saya terpaksa memenuhi permintaannya, Ratih mengancam akan melaporkan saya kepolisi atas tindakan penculikan dan penipuan. Namun, saya memberikan sebuah syarat padanya untuk jangan pernah memberitahu pada Adi bahwa sayalah yang menculik Ratih di hari pernikahannya itu. Ratih mengiyakan, dan tak lama kemudian saya mendengar kabar jika mereka telah kembali melanjutkan pernikahan setelah beberapa tahun tertunda." Jelasnya lagi.


"Lalu, Alea anak siapa?" Maura mulai membuka suara.


"Dia anak dari istri kedua saya, yang sekarang sudah meninggal paska melahirkan Alea." Jawabnya.


Sekujur Maura kini terasa lemah, ia meluruhkan tubuhnya seraya duduk dilantai bersandar dinding yang ada disebelahnya.


"Chiko kecewa sama ayah!" Bentak Chiko.


"Maafkan papah, nak. Papah khilaf! Saat itu papah sangat cemburu buta dengan kebahagiaan mereka. Oleh karena itu papah melampiaskan kekesalan papah dengan membakar rumah itu untuk mencelakai Adi." Sesal Gara yang terlihat raut wajahnya mulai kacau.


"Maaf, om. Mungkin kini saatnya om Gara harus mempertanggung jawabkan semuanya. Om harus dipenjara!" Isak Maura yang terlihat masih sangat marah. Ia langsung berlari keluar rumah dan disusul Chiko dibelakangnya. Maura segera menaiki taksi yang kebetulan lewat di depan rumah tersebut. Chiko pun ikut mengejar Maura dengan motornya supaya lebih cepat sampai. Melihat Maura yang langsung kabur begitu saja, Gara pun takut jika Maura segera melaporkan dirinya ke kantor polisi. Untuk mencegah laporan tersebut, ia pun ikut mengejar Maura dengan mobilnya.


Aksi kejar mengejar hampir memenuhi seisi jalan yang mereka lalui. Taksi yang dinaiki Maura sudah melesat jauh dari tatapan Chiko yang berusaha tak berkedip memfokuskan penglihatannya ke arah mobil tersebut.


Tak hanya Chiko, Gara pun ikut mengejar. Namun, posisi mobilnya tertinggal jauh dibelakang karena ramainya kendaraan yang melintas.


Chiko terlupa dirinya tidak menggunakan helm karena terburu-buru mengejar Maura yang langsung pergi begitu saja. Walau begitu, Chiko justru tetap melajukan motornya dengan cepat, sampai pada akhirnya sebuah truk dengan kecepatan tinggi melaju kearah dan...


"Aaaaaghhhh!!"


BRUUKKKK!!


Tubuh Chiko terhempas begitu saja dan terloncat dari motor yang dikendarainya. Kepalanya terbentur batu besar yang terletak ditepian jalan. Ban motornya pun turut menimpa salah satu kakinya. Pandangannya seketika memudar sembari menahan sakit yang dialaminya itu.


Melihat kejadian tersebut dari jauh, Gara pun menghentikan kendaraannya dan segera berlari menemui Chiko yang mulai dikerumuni banyak orang untuk mengambil fotonya. Tak ada satupun yang langsung menolong anaknya itu, justru mereka sibuk dengan gawainya masing-masing.

__ADS_1


"Cepat! Bantu anak saya!" Perintah Gara di sela kerumunan.


__ADS_2