
Setelah pergi dari rumah Chiko, Maura tak langsung melaporkan Gara ke pihak berwajib. Ia justru berniat untuk mengadukan segalanya pada Maira. Ia berfikir lagi, jika Maira terkejut dan marah, dirinya takut jika nanti saudarinya itu akan drop kembali.
Sesampainya diruang kamar Maira, Alan dan Nida sudah hadir disana untuk menjenguk saudari kembar Maura. Maura mulai melangkahkan kakinya menuju mereka bertiga yang tengah berbincang bersama.
"Kak Nida? Alan? Kalian disini sejak kapan?" Tanya Maura.
"Lima belas menit yang lalu mungkin." Jawab Alan sembari mempertimbangkan dengan melihat jam tangannya.
"Kamu dari mana, ra? Maira kan lagi sakit, kenapa kamu tinggalin dia gitu aja?" Tanya Nida sedikit khawatir.
"Aku tadi habis kemas barang, kak. Rumah kami disita Bank karena hutang-hutang perusahaan." Jawab Maura datar.
"Lah? Terus kalian tinggal dimana?" Tanya Nida lagi dengan khawatir.
"Rumah kak Chiko." Jawab Maura singkat berusaha tidak menceritakan tentang sesuatu yang telah terjadi.
"Ooh.. Chiko yang pernah cemburuin kita waktu itu?" Tanya Alan memastikan. Maura hanya mengangguk mengiyakan.
Untuk mengisi kekosongan, mereka berempat pun mengobrol bersama, sekaligus untuk menghilangkan rasa bosan dari diri Maira.
"Keadaan kamu sudah baikan sekarang?" Tanya Nida pada Maira yang sedang berusaha menggigit apel ditangan kanannya.
"Masih lemas, kak." Jawabnya. "Bahkan gigit apel aja Maira gak kuat." Lanjutnya dan meletakkan kembali apel itu di meja sebelah ranjangnya.
"Ini apel dari kalian, ya?" Tanya Maura tersenyum. "Makasih ya.. maaf dah ngerepotin."
"Sialan yang beli. Tadinya kak Nida mau beli jeruk. Tapi, dia tetep kekeh beli apel aja dan akhirnya si Maira malah gak makan. Malah sialan nih yang dari tadi makanin apel Maira." Jawab Nida sembari mengejek nama sang adik.
"Alan, kak! Alan! Bukan Sialan." Alan menghembuskan nafasnya kasar.
__ADS_1
Walau sedikit candaan, namun suasana diruangan ini mulai hilang dari keheningan dan kerisauan yang terus datang pada Maira.
Dikarenakan belum sempat buang air kecil sejak kemarin sore, Maura segera meninggalkan kamar Maira menuju Toilet yang tak jauh dari kamar tersebut.
Saat Maura mempercepat langkahnya menuju Toilet, sekilas dirinya melihat Gara yang ikut membantu perawat mendorong brankar dengan seorang pasien yang tidur diatasnya menuju ruangan ICU. Namun, karena terburu-buru ingin segera menuju Toilet, Maura tidak memerhatikan dengan jelas orang yang dilihatnya barusan dan tetap melanjutkan niat sebelumnya.
Setelah usai buang air kecil, Maura masih penasaran atas apa yang baru saja dilihatnya itu. Saking penasarannya, ia pun melangkahkan kakinya menuju depan ruangan ICU untuk membuktikan apakah benar jika yang dilihatnya barusan adalah Gara?
Setelah sampai disana, ia tidak melihat siapapun yang menunggu di depan ruangan ICU. Didepan ruangan tersebut tak ada orang lain kecuali perawat yang berlalu lalang dan seorang dokter yang baru saja memasuki ruangan itu dengan terburu-buru.
"Mungkin perasaanku saja." Batin Maura.
Setelah usai dengan urusannya, Maura kembali kekamar Maira untuk mengecek keadaannya lagi.
"Mai, sekarang kamu istirahat, ya! Aku, kak Nida, sama Alan tunggu kamu di depan kamar. Kamu gak usah khawatir!" Perintah Maura sembari menyelimuti Maira.
"Kenapa gak nunggu disini aja? Kalian juga bisa tiduran. Tuh, disana ada sofa!" Tunjuk Maira kearah sofa panjang yang ada di dalam kamarnya.
Mereka bertiga pun segera keluar dari kamar Maira menuju kursi panjang yang ada dikoridor rumah sakit tepat didepan kamar Maira.
"Maura, kamu belum makan, kan?" Tanya Alan.
"Belum, lan."
"Oiyaaa.. Ra, kak Nida masakin rendang buat kamu. Dimakan, ya!" Nida mengeluarkan wadah bekal dari tas kecilnya.
"Makasih, kak. Maaf kalau Maura ngerepotin." Maura menerima wadah bekal tersebut.
"Ah! Apaan sih, kamuuuuu. Lebay, ih. Kakak sama Alan justru lebih ngerepotin kalian sejak orang tua kami meninggal." Ucap Nida gemas sembari mencubit hidung Maura yang mancung.
__ADS_1
"Aduuuuuh!" Jerit Maura.
"Husssssttt!" Bisik Alan berusaha tak membuat keributan.
Siang hari pun tiba, Alan dan Nida masih setia menemani Maura di rumah sakit untuk menjaga Maira. Seorang dokter datang menghampiri mereka disela tidurnya.
"Selamat siang." Sapa dokter.
"Siang, dok." Jawab mereka yang masih terkantuk.
"Saya ingin menyampaikan kabar bahagia, bahwa saudari Maira telah mendapatkan pendonor yang jantungnya cocok dengan saudari Maira. Dan siang ini juga, saudari Maira akan segera melakukan transplantasi jantung." Jelas sang dokter.
"Alhamdulillah.." Ucap mereka bertiga.
"Kira-kira berapa biaya untuk transplantasi jantung, dok?" Tanya Maura khawatir.
"Untuk semua biaya sudah dilunasi oleh keluarga si pendonor. Anda hanya perlu menandatangani beberapa surat pernyataan sebelum kami melakukan tindakan operasi." Ucap dokter dan membuat Maura bernafas lega penuh syukur.
"Alhamdulillah ya Allah.." Nida memeluk Maura dari samping setelah sang dokter pergi menuju kamar Maura bersama beberapa perawat lainnya untuk dipindah ruangan.
"Kira-kira siapa yang mendonorkan jantung dan membiayai rumah sakit untuk pengobatan Maira?" Gumam Maura yang masih tak menyangka.
"Sekarang sudah Dzuhur, lebih baik sekarang kita ke musholah untuk shalat dan mendoakan Maira supaya dilancarkan operasinya." Ajak Nida pada mereka.
Setelah mendengar usul dari Nida, mereka pun segera menuju musholah yang berada disebelah rumah sakit untuk melakukan ibadah shalat dzuhur mereka.
Visual
Gara:
__ADS_1