M? For??

M? For??
07. Dua Wujud Dalam Satu Waktu


__ADS_3

Hari minggu, hari yang paling ditunggu bagi seorang Maura Senjani. Karena ia akan merefresh otaknya dari tugas-tugas kampus yang terus menumpuk. Ditambah lagi urusannya dengan Maira yang disibukkan untuk terus bertukar peran. Hari ini Maura adalah Maura dan Maira adalah Maira.


Maura kini berencana untuk ke taman hiburan bersama tiga orang sahabatnya Via, Rexa dan Naya. Maura bersiap mengenakan dress berwarna kuning selutut dan menggunakan topi bermodel beanie alias kupluk berwarna merah serta membiarkan rambutnya terurai dengan sempurna.


Ia pun melanhkahkan kakinya keluar kamar menuju garasi untuk mengambil mobil pribadi miliknya. Sesampainya diteras, Maira menarik tangan Maura dari arah belakang dan membuat Maura menghentikan langkahnya. "Kenapa,Mai?"


"Hari ini gue mau jadi loe,ya? Please!" Rengek Maira dan memajukan bibir bawahnya cemberut.


"Gak! Udah deh lepasin! Hari ini mau ada party sama Via, Rexa, dan Naya." Maura melepaskan genggaman saudarinya itu dari tangannya.


"Maura!"


Maura tidak menghiraukan permintaan Maira dan tetap kembali dengan niat semulanya. Hari ini, ia sangat tidak ingin bertukar peran. Sekali lagi, Maura adalah Maura dan Maira adalah Maira.


Maura pun mulai menancapkan gas mobilnya dan menuju ke lokasi yang sudah direncanakannya dan para sahabatnya kemarin sepulang dari kampus.


Maira yang merasa tidak terima justru ikut menyusul kembarannya itu dengan moge miliknya. "Gue akan kasih peritungan buat loe, ra!" Maira terus menerus memanaskan motornya dan mengegasnya beberapa kali sebelum melajukannya dengan sangat cepat. Setelah dirasa cukup, ia pun segera mengikuti kemana arah mobil Maura melaju.


"Sial!"


Maira kini menghentikan mogenya disaat kehilangan jejak saudarinya itu. Tak ia sangka jika Maura berani melajukan mobilnya dengan amat cepat. Maira kini terlihat memikirkan sesuatu. Ada sesuatu yang telah ia rubah sebelumnya. Namun apa?


"Oh my god! Nomor handphone Maura 'kan dah diganti jadi nomor handphone gue. Kenapa baru kefikiran ya?" Gumamnya dan langsung merogoh saku celananya mengambil gawai miliknya. Ia kini membuka sebuah grup chat di Whatsapp dan mengabarkan untuk mengajak mereka bertemu disebuah cafe. Mereka pun meresponnya dan membatalkan lokasi yang sebelumnya sudah mereka rencanakan. Maira pun bergegas melajukan moge miliknya kesebuah Cafe tak jauh dari tempatnya berada.


Sesampainya disana,Maira menghela nafas lega karena Via, Rexa, dan Naya sudah berada di Cafe tersebut dan terlihat tengah asik mengobrol. Ketika ia hendak menuju kearah mereka, dirinya terlupa membawa sebuah dompet karena sebelumnya ingin cepat mengejar Maura.


"Ngobrol aja kalik,ya? Tahan laper!" Gumamnya dan mengusap perutnya yang sudah mengecil. Ia pun melanjutkan niatnya untuk menemui mereka.


"Hi guys!" Sapa Maira dan membuat ke tiga sahabat Maura spontan menengok kearahnya.


"Hai,ra?" Sahut Naya dan merasa bingung dengan penampilan sahabatnya yang kerap kali berubah. Terkadang menjadi fan girl,dan terkadang menjadi fu*k girl.


Maira kini duduk disebelah Naya dan mendongakkan kepalanya sekejap dengan tatapan bingung. "Loe kenapa,Nay?"

__ADS_1


"Loe kesambet apaan sih,ra? Kadang pakaian loe kalem, kadang juga tomboy kayak preman gini." Naya berdecak dan langsung meneguk jus alpukatnya.


"Ya..suka-suka gue lah! Emangnya salah ya kalo gue pengen tampil kece kayak gini?" Tanyanya. Dan tanpa berfikir normal,ia mengangkat kedua kakinya serta meluruskannya diatas meja berlagak dirinya sedang berada disebuah warkop tepi jalan.


"Tuh 'kan! Iya, Nay. Jangan-jangan dia bukan Maura tapi kembarannya, iya kan?" Tanya Rexa dan menatap Maira penuh curiga. Maira yang mendengar ucapan Rexa langsung menurunkan kakinya dan bersikap seperti sedang ketakutan. Ia tidak mau dunia luar tahu jika Maira dan Maura ialah saudari kembar.


"Apaan sih loe,xa? Ngaco,deh!" Ucap Naya menoyor kepala Rexa pelan.


"Hahaha.. Ya kalik Maura punya saudara kembar." Ucap Rexa terkekeh.


"Alhamdulillah.." Maira menghela nafasnya lega.


"Kenapa,ra?kok Alhamdulillah?" Tanya Via yang sedari tadi bungkam karena sibuk dengan gawainya.


"Gak papa,kok." Maira menggeleng cepat.


***


Disisi lain kebahagiaan Maira dengan para sahabat Maura, Maura justru terlihat kebingungan mencari sahabatnya yang tak kunjung datang. Ia tidak tahu jika Maira menggantikan posisinya tanpa sepengetahuannya.


"Cari siapa,ra?" Tanya seorang pria berkacamata yang sedari tadi berdiri disebelahnya.


Maura pun menengok ke pria berkacamata itu. Ia tidak bisa mengenalinya,karena pria tersebut mengenakan sebuah masker untuk melindungi debu yang masuk melewati rongga hidungnya. Pria itu pun segera melepaskan maskernya ketika melihat Maura tak henti-hentinya memerhatikan wajahnya itu.


"Gimana? Saya terlalu tampan,ya?" Ucap pria tersebut santai.


"Kak Chiko?" Maura tertawa kecil setelah tahu bahwa pria yang sedari tadi disebelahnya adalah senior dikampusnya sendiri.


Merasa lelah terus menerus berdiri,mereka pun duduk disebuah kursi taman dibawah pohon besar yang ada ditaman hiburan itu. Mereka pun saling berbincang sembari melihat seorang badut yang sedang beratraksi didepannya.


"Ya gitu,kak! Udah satu jam saya nunggu mereka,tapi mereka belum juga datang." Keluh Maura dan melepaskan topi yang sedari tadi menutupi atas kepalanya itu.


"Mungkin kamu lagi di prank. Hahaha.."kekehnya kecil.

__ADS_1


Maura hanya terdiam memikirkan ucapan Chiko beberapa detik yang lalu. Ia tidak yakin jika sahabatnya kini sedang mengerjainya. Ia berniat untuk menghubungi Naya,Via,dan Rexa. Tapi ia sadar bahwa Maira telah menyuruh mereka memblokir nomor handphone milik Maura.


"Eh,ra! Mau naik roller coaster gak?" Tanya Chiko menawarkan.


"Enggak deh,kak." Tolak Maura dan beranjak dari duduknya.


"Kenapa?" Tanyanya lagi.


"Nck! Percuma kak saya disini,tapi sahabat saya yang lain justru gak dateng." Keluh Maura dan hendak melangkah menuju pintu keluar untuk segera kembali kerumahnya.


"Ya sudah... Kalau gitu kita sahabatan aja. Gimana?" Ucapan Chiko seketika menghentikan niat Maura untuk kembali kerumah dan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Chiko.


"Emmm.. yaudah deh." Ucapnya terdengar pasrah. Maura tidak pernah sekalipun bersahabat dengan seorang pria. Karena dirinya mudah sekali untuk merasa canggung berada dekat dengan lawan jenisnya.


Mereka kini menuju ke sebuah tempat untuk membali dua buah tiket roller coaster yang akan dinaiki oleh mereka berdua. Karena taman hiburan ini sangat ramai pengunjung,Maura terlihat kesusahan dalam mengambil langkah demi langkah menuju wahana yang akan dinaikinya itu. Chiko kini sudah berjalan sepuluh langkah lebih jauh dari Maura. Merasa tak ada lagi seseorang yang mengikutinya, Chiko pun membalikkan tubuhnya dan mencari Maura yang tertinggal. Karena geram menunggu Maura yang berjalan cukup lama, Chiko pun akhirnya berjalan menemui Maura dan menarik tangannya supaya cepat keluar dari kerumunan orang-orang itu.


Maura yang menyaksikan tangannya disentuh oleh seorang pria, ia justru berteriak dan memukul berkali-kali tangan Chiko yang masih terus menarik salah satu tangan kecilnya. Setelah jauh dari kerumunan, Chiko pun melepaskan tangannya yang sedari tadi menarik tangan Maura.


"Kak Chiko! Saya gak suka ya kalau dipegang-pegang atau ditarik-tarik gini!" Ketus Maura dan membenarkan tali sepatunya yang sedari tadi lepas.


"Salah siapa lama?" Chiko memutar bola matanya jengah dan segera naik kesebuah roller coaster disusul Maura yang kemudian duduk disebelahnya.


Belum saja wahana tersebut dijalankan,Maura sudah terlihat pucat dan nampak sesekali mual. Namun, ia tetap bersikap normal dan seolah-olah bahwa dirinya adalah wanita yang pemberani.


"Kamu takut? Kalau kamu takut lebih baik kita turun aja,gimana?" Chiko terus memerhatikan wajah Maura yang nampak pucat.


Baru saja Maura akan menjawab bahwa dirinya takut menaiki roller coaster, tiba-tiba wahana yang sedang ia naikinya ini sudah berjalan.


"Ayah!!" Teriak Maura dan memejamkan matanya sembari menarik lengan kemeja Chiko yang panjang.


Chiko hanya terdiam dan masih memerhatikan gadis itu yang nampak unik menurut dirinya. Maura tak henti-hentinya meneriakkan nama ayahnya itu. Dan tanpa disadarinya,ia memeluk lengan kanan Chiko yang tepat berada disebelahnya.


Setelah kurang lebih satu menit wahana itu dijalankan,akhirnya pun berhenti dan membuat Maura merasa pusing dan segera turun dari wahana tersebut.

__ADS_1


Melihat Maura yang terus menerus mual,Chiko pun membawa Maira duduk disebuah kursi panjang yang menghadap ke wahana tersebut.


"Kamu duduk dulu disini!" Kata Chiko memerintahkan Maura sebelum dirinya pergi mencari sesuatu.


__ADS_2