M? For??

M? For??
12. Permohonan Yang Membosankan


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah Chiko, Maura pergi ke kamar saudarinya untuk mengecek apakah ia sudah tertidur ataukah belum. Namun, baru saja ia akan membuka pintu kamar Maira, pintu tersebut pun seketika terbuka dari dalam oleh Maira yang terlihat emosi.


Maira tidak pernah di tinggal sendiri di dalam sebuah rumah besar yang sepi. Ia masih trauma atas kejadian beberapa tahun lalu yang melahap habis rumahnya dan merenggut nyawa sang bunda. Sosok misterius itu masih belum tertangkap, dan membuat Maira masih merasa takutan.


"Dah berapa kali gue bilang? Gue gak suka ditinggal sendirian di rumah,ra! Gue tuh masih trauma,gimana kalau sosok misterius itu dateng dan nyerang gue. Gimana kalau misalnya dia dateng dan langsung bakar rumah ini lagi?!" Bentak Maira dan berjalan menuju tepi kasurnya untuk duduk. Maura pun segera masuk ke kamar Maira setelah menutup pintu kamarnya.


"Tadi pagi, om Gara sama Chiko ngajakin makan malem di rumahnya. Aku gak mungkin dong ngajak kamu buat makan malem juga disana." Ujar Maura dan berusaha bersikap tenang. "Lagi pula, siapa sih sosok misterius itu? Polisi bahkan sampai sekarang belum mengetahui tentang siapa kira-kira orang yang membakar rumah kita. Mungkin, ini salah paham aja, Mai. Lagian.. Kita nemuin bunda di dapur,mungkin waktu bunda lagi masak tiba-tiba ada kebocoran gas,terus rumah terbakar, deh." Tutur Maura yang duduk di atas meja belajar Maira yang nampak kosong.


"Loe tuh gak tau apa-apa, ra. Loe tuh masih tidur sebelum kejadian itu." Bantah Maira.


Maura hanya terdiam sesaat dan tidak ingin membicarakan lagi peristiwa itu. "Emmm... Aku minta maaf ya, Mai! Sebagai permintaan maafku, kamu boleh kok minta sesuatu dariku. Asalkan kamu gak marah lagi sama aku."


Seketika Maira menatap Maura dengan tatapan aneh dan sulit untuk di artikan. Kemudian, Maira mengalihkan pandangannya ke sebuah foto mereka berdua yang tepat berada di hadapannya yang tergantung di sebuah dinding kamar.


"Kita tukaran peran lagi,untuk yang terakhir kalinya." Kata Maira dan kembali menengok ke arah Maura yang berada di sebelah kanannya.


Maura pun turun dari meja dan berjalan mendekati Maira. "Lagi?"


"Iya.. Selama 5 hari aja kok. Setelah itu,gue bakal maafin loe. Gimana?" Tawar Maira dan tersenyum licik.


Maura pun menyetujui tawaran itu. Ia tidak ingin jika Maira masih terus menerus mempermainkan posisinya. Maura tidak ingin menjadi Maira yang harus bergabung dengan geng motornya itu. Lebih baik, Maura berdiam diri di rumah sembari membantu sang ayah menyelesaikan pekerjaan rumah. Maura tidak tega jika melihat sang ayah yang baru saja pulang dari kantor, langsung membereskan rumah yang terlihat berantakan. Maura sangat kagum sengan sang ayah, walaupun dirinya tidak lagi memiliki seorang ibu,akan tetapi ayahnya bisa menjadi kepala rumah tangga dan juga seorang ibu rumah tangga.


Setelah mendengar penyataan dari Maura yang kembali mengizinkannya untuk bertukar peran,ia pun segera mengecup pipi saudarinya itu dan menyuruhnya keluar kamar untuk segera tidur. Maura pun meninggalkan kamar Maira dan pergi menuju kamar miliknya.

__ADS_1


***


"Maura! Sarapannya mana?" Teriak Maira dari dalam kamar.


"Ke ruang makan aja,Mai! Ayah dah ke kantor kok." Sahut Maura dari jauh.


Maira pun berlari menuju ruang makan. Namun, karena terburu-buru menuruni anak tangga, kakinya pun terkilir dan membuatnya menjerit kesakitan.


"Ahhhh!!! Sakiiiiiitt! Aduh-aduh!! Mauraaaaa!!" Teriak Maira yang masih memijat kakinya yang terkilir.


"Apaan sih,Mai? Dah kayak orang mau lahiran aja,deh." Ucap Maura yang terlihat habis terburu-buru menemui Maira. Nafasnya masih belum beraturan karena harus lari menemui panggilan saudarinya itu. Dan kini, dengan seenaknya Maira meminta Maura untuk menggendongnya untuk turun ke bawah.


Maura tentu tak ingin menggendong Maira yang besarnya sama seperti dirinya dengan bobot mencapai 43 KG. Ia justru hanya merangkulnya untuk menuruni anak tangga tersebut menuju lantai dasar.


Setelah mengantar Maira untuk duduk di sofa, Maura pun pergi untuk mengambil balsam untuk memijat kaki Maira yang terkilir.


"Eh! Apaan loe? Ntar kalo kulit gue bau nenek-nenek gimana?" Bawelnya ketika Maura datang dan hendak mengolesi kaki Maira dengan balsam sembari memijatnya.


Maura tidak menghiraukan beragam celotehan yang keluar dari mulut saudarinya itu. Bahkan nama-nama hewan teriring muncul setiap Maura menyentuh bagian kaki Maira yang terasa sakit.


"Aduh sakit, nyet!" Teriaknya.


Maura masih fokus memijat kaki Maira. Ia sungguh ahli dalam bidang pijat memijat,karena sedari kecil ia sering memijat kaki almarhumah ibunya ketika lelah membereskan rumah yang terlihat amat luas.

__ADS_1


Maura menghentikan aktifitasnya itu dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya yang berbau balsam.


"Loh? Makasih ya,ra!" Maira masih merasa heran dengan bakat yang di miliki saudarinya itu. Ia pun beranjak dari tempat duduknya menuju ruang makan untuk menikmati sarapan yang baru saja di buat oleh Maura.


***


Di kampus,Maira merasa senang karena dapat kembali berkumpul dengan para sahabat Maura. Ke empatnya kini sedang berada di sebuah perpustakaan. Bukan untuk membaca buku, tetapi mencari Wi-Fi kampus yang koneksinya cepat jika mereka berada di sebuah ruang perpustakaan.


"Kalian nakal juga,ya?" Kekeh Maira.


"Kayak gak kenal kita aja,ra! Hehehe.." Sahut Via yang menyembunyikan gawainya di balik buku sembari dimainkan.


Maira tidak ikut-ikuttan, suasana hatinya sedang baik. Ia justru lebih memilih membaca buku-buku pengetahuan seperti yang sering di lakukan oleh kembarannya itu.


Sepulang dari kampus,mobil Maura yang dipinjamnya untuk beberapa hari ke depan kehabisan bahan bakar. Tak ada tempat untuk mengisi bahan bakar di daerah sekitar sini. Ia harus berjalan sejauh 400 M untuk mendapatkan bahan bakar. Namun,ia justru lebih memilih mencari bantuan kepada pengemudi yang lewat daripada harus berjalan sejauh itu.


Sebuah mobil sedan berwarna merah berhenti di depannya,terlihat seorang wanita berseragam SMA turun dari mobil dan berjalan menuju ke arahnya. "Kak Maura? Kenapa mobilnya kak?"


"Kehabisan bensin. Kamu siapa,ya?" Tanya Maira yang sama sekali tidak mengenalnya.


"Aku Alea,kak! Kak Maura bercanda,deh!" Ketusnya. "Emm.. Kakak tunggu di sini sebentar,biar Alea yang cari bensin untuk mobil kak Maura." Lanjutnya dan bergegas kembali ke mobil dan melajukannya dengan cepat.


Setelah kurang lebih 10 menit Maira menunggu, Alea pun datang dan sudah membawa sebotol solar yang ia beli di sebuah pom bensin.

__ADS_1


Setelah di isi,mobilnya pun kini sudah berhasil di jalankan. Ia tidak bilang 'terima kasih' atau sepatah kata apapun. Justru langsung pergi meninggalkan Alea sendiri di jalanan,setelah berhasil mendapatkan bahan bakar darinya.


__ADS_2