
Dorr!
"Apa itu polisi?"
"Anjirr! Ada polisi!"
"Bubar!" Katia gangster berteriak pada anak buahnya dan mereka semua pun lari tunggang langgang menghampiri kendaran yang mereka sembunyikan tak jauh dari tempat itu.
Gerombolan gangster bayaran itu melajukan motor balap mereka cepat, meninggalkan Guntur sendirian, kesal.
"Gangster payah! Sama polisi aja takut!" Tak ayal Guntur yang tau mau nasibnya masuk jeruji besi pun diam-diam berlalu dari tempat itu. Ia mengemudikan mobilnya cepat dalam keadaan marah yang masih di puncak. Padahal ia telah membuat Arka tak berdaya. Tapi amarahnya itu masih membakar dadanya. Ia ingin cepat sampai rumah dan membuat perhitungan dengan sang istri.
"Awas aja, Anja! Gua bakal bikin hidup lu menderita. Pacar gelap lu, Arka pasti bakalan mati perlahan-lahan. Lu tunggu pembalasan gua!" Guntur semakin mempercepat laju kendaraannya di malam yang semakin pekat itu. Ia tau pasti istrinya telah tidur. Dalam hati ia bertekad akan membuat malam ini menjadi tak terlupakan bagi Anja. Siapa suruh main-main dengannya. Tidur lu gak bakal tenang seumur hidup!
Di lokasi penganiayaan, raga Arka yang tergolek lemah tak bergerak. Namun, Arka masih berada dalam titik kesadaran, meskipun rendah.
"Hebat juga dia. Masih sadar meskipun sudah terluka parah. Tubuhnya ternyata cukup kuat. Mungkin, kalau orang lain sudah sekarat," ucap salah satu pria berpakaian serba hitam, yang sejak tadi mengejar Arka.
"Apa kita bawa aja dia ke markas?" tanya satu Kawannya.
"Iya, bagaimanapun, Tuan besar harus tau mengenai keadaan pria ini. Lagipula dia masih hidup."
"Bagaimana, kalau di perjalanan nanti dia mati?"
"Buang saja mayatnya ke jurang!" Pria satunya pun mengangguk mendapat jawaban taktis dari kawannya itu. Ia memang belum lama bergabung sehingga ia belum begitu faham bagaimana cara berpikir kelompok ini dalam menyelesaikan masalahnya. Ternyata semudah itu.
Pria itu menyeringai sambil mengangkat tubuh bersimbah darah Arka dan memasukkannya ke dalam mobil.
__ADS_1
"Kau masih bernapas. Hebat juga. Padahal luka di badanmu sangat parah."
Arka yang memang masih dalam keadaan sadar hanya diam. Karena meskipun begitu ia tak lagi mampu menggerakkan anggota tubuhnya bahkan juga lidahnya kelu hingga tak ada sepatah kata mampu keluar dari mulutnya.
*Kenapa aku tidak mati saja sekarang. Aku takkan sanggup jika mengalami penderitaan lebih parah dari ini. Anja ... aku tidak sanggup lagi. Jika ada kesempatan kedua untukku, aku pasti akan merebutmu kembali dari tangannya.
Mbok ... Acil, maafkan aku. Kalian pasti bisa hidup dengan baik tanpaku. Tapi, jika aku memiliki kesempatan hidup kedua, aku akan membuat kalian bahagia. Tak akan ada lagi orang yang akan menghina kalian*.
Arka terus bergumam dalam hatinya. Seluruh tubuhnya sangat sakit. Hingga ingin rasanya ia pingsan atau mati saja sekalian Agar tak lagi merasakan ras yang menyakitkan ini. Karena, kepalanya mungkin retak. Sebab itulah ia terus mengeluarkan darah. Sementara itu, tangan, kaki serta beberapa tulang rusuknya mungkin juga mengalami patah. Penderitaan ini membuat Arka memohon kematian saja.
Apalagi ketika dirinya sadar bahwa, para pria yang membawanya ini adalah sebuah sindikat kelompok dunia hitam. Maka makin kecil saja kemungkinannya hidup. Daripada kembali di siksa lebih baik mati saja. Begitu pikir Arka saat ini.
Dirinya sudah pasrah. Ia sudah melakukan hal yang memang salah. Bermain api dan kini ia terbakar karenanya. Terlalu peduli dan mengurusi istri orang. Meskipun demi kebaikan tetap saja ia salah.
Namun, hati nurani serta rasa cintanya yang mendalam pada Anja, membuat hati kecilnya terluka ketika melihat wanita itu si sia-siakan. Niatnya melindungi wanita itu di atas segalanya hingga ia tak lagi memikirkan konsekuensi terhadap dirinya setelah itu semua.
Pria tersebut, meletakkan dua jari di leher untuk memeriksa denyut nadi. "Sangat lemah. Tapi, dia masih hidup."
Pria di depan kemudi pun semakin kesetanan ketika melajukan kendaraannya. Pria di kursi penumpang belakang harus segera mendapat pertolongan kalau begitu.
Beberapa saat kemudian, mobil hitam metalik itu berhenti di sebuah pekarangan mansion yang mewah. Bangunan tinggi enam lantai ini, berdiri megah dan sangat luas. Terdapat lebih dari dua puluh kamar tidur di dalam mansion.
Mereka berdua, pria berpakaian serba hitam ini. Memanggil kawannya untuk membawa tandu. Setelah itu mereka membawa Arka keruangan khusus di bawah tanah. Dokter pribadi yang bekerja untuk para penghuni mansion pun langsung menangani Arka beserta para asistennya. Tim dokter dalam mansion ini lengkap begitu juga dengan peralatan medisnya. Sehingga, para penghuni mansion tidak perlu pergi ke rumah sakit.
"Lukanya lumayan parah. Namun, saya sudah memberikannya pil penyembuh. Setelah menjalani serangkaian operasi kemungkinan dirinya akan kembali pulih," jelas sang kepala tim dokter. Membuat kedua pria ini menghela napas lega.
"Bagiamana dengan tuan besar? Apa racunnya telah bersih?"
__ADS_1
"Tuan besar, sudah baik-baik saja. Untung saja beliau cepat di ketemukan. Jika terlambat sedikit saja maka ... rencana dari klan Blogger akan berhasil," jelasnya lagi. Sementara tim-nya tengah menangani Arka.
Dia pria berseragam serba hitam pun meninggalkan ruang bawah tanah. Mereka hendak menghadap tuan besar, ketua mafia dari klan Boggart.
"Tuan Gabriel. Kami telah menemukan pria itu. Kini, dia berada di ruang bawah tanah karena terluka cukup parah," lapor salah satu dari kedua pria ini.
Pria tua yang bernama Gabriel, terlihat menatap kedua anak buahnya ini lekat. "Bawa aku kesana." Gabriel memberi perintah, yang tidak mungkin ada yang berani untuk menolak dan mencegah. Karena, Gabriel memiliki keinginan dan tekad yang kuat jika sudah menetapkan kemauannya.
"Baik Tuan!" Asisten Gabriel pun maju dan mendorong kursi roda pria tua itu. Meskipun sudah berumur ia masih di takuti di dunia bawah tanah. Karenanya ada sekelompok mafia yang ingin merebut tahta kekuasaannya sebagai pemimpin tertinggi.
Mereka bermain curang dengan cara meracuninya dan juga sang pengawal setia. Ketua kelompok klan Blogger yang ternyata masih merupakan adik satu satu ibu, namun beda ayah.
Adik tiri yang sejak puluhan tahun lalu selalu iri dan tak terima akan kesuksesannya memimpin dunia bawah.
Gabriel, dengan tubuh yang sudah sedikit segar karena penawar racun itu tidak terlambat untuk ia minum. Lain dengan pengawal setia. Pria itu meregang nyawa dengan kondisi organ dalam yang hancur.
"Bagaimana keadaan pemuda itu?" Gabriel yang tiba-tiba muncul membuat para tim medis membungkuk hormat. Hingga Gabriel melambaikan tangannya agar mereka segera kembali pada posisinya semula. Arka masih tidak sadarkan diri. Namun seluruh badannya telah bersih dan luka-lukanya telah di tangani. Hingga, beberapa gips terpasang di sekitar tangan, kaki serta leher. Sementara kepalanya di balut dengan perban.
"Luka terparah di bagian kepala. Tapi tidak sampai mengenai otaknya. Pria ini masih bisa sadar dan pulih seperti semula. Anda jangan khawatir, Tuan." Sang ketua tim dokter menjelaskan dengan detil mengenai keadaan Arka.
"Siapa namanya?"
"Arka Sadewa, Tuan," jawab Pollo, Asisten pribadi Gabriel ini ternyata telah mengantungi identitas dari Arka.
Sekilas mata tua Gabriel menangkap sesuatu di balik selimut yang menutupi bagian atas tubuh Arka.
Gabriel mendekat dan menyingkap selimut itu. Hingga, ia melihat sebuah tanda lahir yang membuat kedua mata sayunya terbelalak lebar.
__ADS_1
...Bersambung...