
Mulai hari itu, ketika Arka menerima kenyataan bahwa dirinya adalah bayi yang hilang dari klan keluarga mafia terbesar di negeri tersebut. Maka Arka mulai, mempelajari bagaimana hidup sebagai seorang mafia.
Gabriel telah menetapkan beberapa pelatih padanya. Mereka mendatangani sebuah villa di tengah hutan agar bebas untuk berlatih apapun.
"Apollo, kau dampingi keponakanku itu. Ku serahkan dia padamu. Atur semuanya. Aku percaya kau yang paling mengerti," ucap Gabriel serius kepada kaki tangannya ini.
"Anda tenang saja, Tuan. Serahkan semua pada saya. Anda cukup mengamati dan lihat hasilnya nanti," sambut Apollo dengan percaya diri.
"Kau memang selalu dapat ku andalkan." Gabriel berlalu setelah menepuk bahu pria tinggi besar ini dengan cukup keras.
"Tenaga anda masih cukup besar, Tuan. Jika saja racun itu tidak menggerogoti secara perlahan dan membuat anda tak bisa mengeluarkan keringat. Atau, jantung anda akan segera meledak." Apollo bergumam seraya menatap miris ke arah kemana Gabriel berlalu pergi.
Apollo kembali menatap ke arah Arka berlatih. Pria itu maju beberapa langkah untuk memperhatikan Arka lebih dekat.
"Susah juga, membidik target yang semakin jauh saja. Apa mereka tidak bisa memberikan kelonggaran." Arka terdengar menggerutu. Karena tugas yang di berikan terlalu cepat dan tingkat kesulitannya terus naik. Ia dipaksa menguasai dalam waktu singkat. Walaupun begitu, Arka kembali mengarahkan senjatanya dan kali ini ia membidik dengan fokus.
__ADS_1
Dor!
Selain tembak, lesatan peluru itu menembus tepat di tengah sasaran. Arka tersenyum puas. Akhirnya ia bisa bernapas lega. Karena itu pertanda latihan di sudahi hari ini. Seluruh tubuhnya terasa sakit semua. Rutinitas di kehidupan barunya ini cukup menguras energi dan juga pikiran dari seorang montir kendaraan beroda dua ini.
Sepekan lalu, ia telah berlatih bela diri menggunakan tangan kosong. Pekan ini ia harus menguasai senjata api. Karena pekan depan ia akan berlatih menggunakan senjata tajam dan juga bahan peledak.
"Seperti itu, ketua. Anda tidak boleh patah semangat. Bagaimana pun klan ini adalah tanggung jawab Anda. Darah mafia yang kuat mengalir dengan jelas. Anda hanya perlu yakin dan percaya diri." Apollo tau-tau sudah berada di samping Arka.
"Sejak kapan kau ada di samping ku. Mengagetkan saja," tukas Arka. Baginya pria ini bagaikan algojo. Wajahnya yang tanpa ekspresi menandakan bahwa dirinya berdarah dingin. Apollo menoleh perlahan dan memiringkan sedikit kepalanya untuk menatap Arka. Dengan sebuah seringai menakutkan yang akan beranggapan bahwa pria ini adalah manusia haus darah.
"Setelah anda mampu, menguasai tiga ilmu dasar itu. Kami, akan membantu anda untuk membalas dendam. Bagaimana?" Tiba-tiba Apollo memberikan penawaran yang selama ini Arka nantikan.
"Lihat saja nanti." Setelah mengatakan kalimat terakhir Apollo berlalu meninggalkan Arka.
"Hei, apa tidak bisa bicara yang jelas!" Arka berteriak karena Apollo tidak berkata iya. Karena hanya kata itu yang Arka butuhkan. Pria ini belum sadar akan kekuasaannya. Padahal Arka tak butuh janji dari siapapun. Sebab dialah yang mampu membuat keputusan dan perintah pada klan ini. Karena itulah, pertama kalinya Apollo menarik kedua sudut bibirnya hingga tercipta sebuah senyuman.
__ADS_1
"Mungkin, akan sedikit menguras emosi karena ketua kita yang baru sangatlah polos." Tiba-tiba saja ada sosok yang menampakkan dirinya dari balik pepohonan besar. Dia seorang wanita dengan pakaian kasual layaknya laki-laki. Hanya saja, rambutnya panjang di kuncir kuda serta bibirnya menggunakan gincu berwarna merah bata.
"Jangan mengganggunya. Ia hanya membutuhkan keyakinan dan kesadaran. Beri anak itu waktu untuk beradaptasi." Apollo menahan bahu wanita itu, agar dia mengehentikan apapun niatnya. Apollo tidak mau ada kesalahan kecil ketika ia mendidik calon ketua baru bagi klan mafia yang hampir musnah ini.
"Seharusnya aku bisa. Bukankah aku penerus dari klan Louis. Aku calon ketua yang baru. Tunggu Anja. Aku akan memberi pelajaran pada suamimu yang berengsek itu!" Arka tanpa sadar melepaskan tembakan beruntun ke arah sasaran di tengah lapangan. Hingga, model tersebut hancur tak berbentuk.
Tentu saja hal itu membuat Apollo dan wanita yang bernama Gina menoleh bersamaan.
"Apa dia harus di pancing oleh rasa kesal dan marah dulu. Baru kekuatannya keluar?" heran Guna. Tapi, bibirnya mengulas senyum kepuasan.
"Motif dan semangat setiap petarung itu berbeda. Dia hanya perlu menemukan titik kekuatannya." Menurut Apollo.
"Sepertinya ia memiliki masalah percintaan yang cukup berat." celetuk Gina.
Hos ... Hos.
__ADS_1
Arka tengah mengontrol napasnya. Ia sendiri kaget dengan kekuatan yang ia keluarkan barusan. "Bagaimana bisa, aku melakukan tembakan secepat itu! Sampai role modelnya hancur tak berbentuk lagi.." Arka melihat tak percaya kearah tangannya yang masih menggenggam erat senjata api.
...Bersambung ...