
Arka segera menghubungi Apollo yang mengawasinya di bawah sana. Mengabarkan bahwa keadaan Anjali butuh pertolongan medis secepatnya. Akan tetapi ia tak mau membangunkan orang rumah. Arka akan membawa Anjali dari sana.
"An ... bertahanlah. Aku ingin kau dan juga bayimu tetap hidup. Ku mohon tetaplah sadar. Ada aku di sini, sekarang. Kamu jangan takut lagi," bisik Arka di telinga Anjali. Karena dia kini mendekap tubuh wanita hamil yang bersimbah cairan berbau anyir. Arka memeriksa denyut nadi dan menemukan bahwa napas Anjali yang sangat lemah.
Arka tak dapat lagi menahan gejolak emosi, hingga ia mengeluarkan derai air mata itu sambil menahan Isak. Dadanya sesak, kepalanya mau pecah karena terlalu bingung. Hingga tak lama, Apollo naik ke balkon dan membawa keduanya turun.
Arka mengikat raga penuh darah Anjali ke tubuhnya. Tak peduli jika cairan itu mengotori diri. Mereka turun menggunakan tali tambang. Melalui aksi dramatis, karena tak mudah membawa wanita di punggungnya sambil berpegangan pada tali dan menuruni lantai tingkat tiga.
Bagaimana pun, Arka belum terlatih melakukan ini. Akan tetapi ia tetap bersikeras melakukan sendiri. Meskipun Apollo ingin mengambil alih tugas ini. Arka bersikeras dapat melakukannya sendiri.
Di sinilah, Apollo dapat melihat bagaimana perasaan cinta Arka yang begitu besar terhadap wanita yang kini ia gendong di belakang tubuhnya.
Setelah melalui perjuangan, mereka sampai di bawah. Apollo segera melepaskan tali yang melingkari raga Anjali dengan Arka. Mereka harus memastikan agar Anjali tetap dalam keadaan sadar.
Kemudian membawa langsung menggunakan kendaraan yang di bawa oleh Apollo. Di belakang kursi penumpang, Arka terlihat beberapa kali berteriak agar Apollo bergerak cepat. Mereka tidak akan keburu jika membawa Anjali ke markas. Karena itulah Arka memutuskan membawa Anjali ke rumah sakit terdekat.
Roni dan Bimo menjadi saksi, bagaimana kilatan amarah itu nampak memancar dikedua mata sahabat mereka ini. Mereka juga saksi bagaimana jalinan percintaan keduanya kala itu. Sebelum, akhirnya Anjali di paksa menikah dengan Guntur Angkasa. Pengusaha muda yang sedang berada di atas angin.
Bimo yang berada di sebelah Arka, memberi remasan pada bahu Arka yang bergetar. Ia pun turut sesak melihat keadaan dari Anjali. Siapa yang tega melakukan hal kejam pada wanita hamil ini. Padahal Anjali memiliki paras yang Bimo akui sangat cantik. Meskipun, tanpa riasan full sekalipun. Kenapa Guntur tidak bisa menyukainya? Kenapa tega bertindak sejahat ini?
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit. Anja sudah tak sadarkan diri. Tanpa menunggu brangkar pasien. Arka berlari masuk keruang unit gawat darurat dengan menggendong Anja di depan tubuhnya. Tak peduli pandangan orang. Dimana sekujur tubuhnya telah merah terkena darah Anjali.
"Tolong siapapun selamatkan dia! Dokter! Dokter!" Arka berteriak di dari koridor hingga petugas medis yang bertugas jaga malam menghampirinya. Mengambil alih Anja dan membawa ke dalam.
"Maaf, Pak. Anda silakan tunggu di luar." Seorang petugas medis menahan Arka yang hendak masuk.
__ADS_1
"Tapi, Mbak. Saya mau lihat keadaan dia. Mbak tau gak dia itu ketakutan. Saya cuma mau--"
"Maaf, Pak! Tolong patuhi prosedur rumah sakit!" ujar perawat itu bernada tegas. Karena Arka tetap bersikeras dan terus memaksa masuk. Sampai penjaga keamanan ikut menyingkirkan Arka. Sebab, perawat wanita itu terlihat kewalahan.
"Saya harus memastikan apakah kalian akan menyelamatkannya! Karena kalau tidak--"
"Hentikan Tuan! Jangan begini. Karena Anda akan memperlambat kerja mereka. Apalagi ini tengah malam, biasanya jumlah petugas medis lebih sedikit. Saya mohon, kuasai emosi anda," ucap Apollo, berusaha menyadarkan Arka yang terbakar emosi serta ketakutan. Dimana ia melihat keadaan wanita yang di cintainya dalam kondisi menyedihkan sekaligus mengerikan.
"Tapi, aku hanya --" Arka tidak meneruskan ucapannya, ia terduduk kemudian menggunakan kedua tangannya untuk memberi remasan pada rambut. Keadaan Arka saat ini terlihat macam orang yang frustrasi berat.
"Mari saya antar anda untuk membersihkan diri." Apollo berkata dengan nada tegas. Arka mendongak. Tatapannya masih dengan sorot amarah.
"Aku akan tetap di sini. Aku tidak akan meninggalkannya!" Arka berdiri dan berteriak di depan wajah pengawalnya itu.
Anda menuruti apa kata Apollo, ia memindai keadaan dirinya sendiri. Mulai dari ujung kaki hingga rambut. Hampir semua tubuhnya terkena bekas darah Anjali.
"Entah Anjali menderita luka dimana? Kau lihatlah! Bahkan darahnya menempel di tubuhku. Hampir seluruh tubuhku!" pekik Arka tertahan. Ia kembali terlihat mengeratkan rahang dan juga mengepalkan tangannya.
Ingin rasanya ia menghampiri Guntur sekarang juga untuk memberi pelajaran pada pria itu.
"Aku akan membunuhnya!" Arka menggeram. Sorot matanya penuh kebencian dan dendam.
Ia mengabaikan perintah Apollo. Ia tak peduli keadaan tubuhnya. Meski kini badannya berbau anyir. Arka hanya ingin menunggu kabar tentang Anjali. Ia tak kan bergeser dari tempat ini satu senti pun.
Apollo pun menyerah. Ia tak bisa memaksa. Apalagi, posisinya hanyalah sebagai bawahan. Ia hanya dapat memberikan tissue basah agar Arka dapat membersihkan diri.
__ADS_1
Tak lama kemudian. Tim medis keluar dari ruangan bersamaan dengan brankar pasien. Dimana terdapat sosok Anjali disana. Wanita hamil itu terlihat masih tak sadarkan diri. Berbagai alat mengitari tubuhnya yang lemah tak bergerak. Tentu saja hal itu membuat Arka seketika berlari mendekat.
"Kesadaran pasien semakin menurun. Kami harus secepatnya melakukan tindakan untuk membuat bayi di dalam kandungannya tidak kekurangan oksigen. Tolong, temui dokter." Petugas medis itu lebih dulu memberi penjelasan sebelum Arka mengeluarkan tanya dari mulutnya yang sudah separuh membuka.
Arka hanya mampu mengeratkan rahangnya menahan amarah, ketika dokter mengatakan penjelasan medis tentang keadaan Anjali. Dimana wanita itu mengalami kekerasaan yang mengakibatkan luka pada kepala juga pendarahan karena rahimnya mengalami benturan kencang. Beruntung keadaan kantung ketuban sangat kuat sehingga bayi sedikit kaget. Namun, keadaan Anjali menurun bukan hanya kerena derita fisik tapi juga psikis.
"Kami hanya ingin menyampaikan kemungkinan terburuk. Karena usia kandungannya masih rentan." Dokter sangsi karena usia kandungan Anja baru menginjak dua puluh dua minggu. Dia tidak dapat memastikan jika sang jabang bayi, akan bertahan. Karena keadaannya selalu mendapat tekanan.
"Lakukan yang terbaik! Berapapun biayanya akan saya bayar! Datangkan tim medis yang hebat kalau perlu. Saya ingin kedua orang tadi selamat. Tanpa harus di kalahkan salah satunya!" Arka berkata dengan menahan emosi. Namun, ia justru mengeluarkan sisi tegas dan arogan. Membuat Apollo tersenyum tipis di pojok sana.
"Kami pasti akan berusaha semaksimal mungkin. Teruslah berharap. Karena wanita itu membutuhkan keajaiban untuk melewati masa kritisnya ini."
Penjelasan dokter yang telah berlalu itu, menyisakan sebuah pukulan baru bagi Arka.
Pria ini hampir saja limbung jika tak ada dinding di belakang tubuhnya.
"Tuan."
"Cari tau dimana laki-laki berengsek itu sekarang!" titah Arka dengan sorot mata tajamnya yang mengarah pada Apollo.
Pengawalnya itu lantas mengangguk pelan.
Jangan salahkan jika aku menjadi kejam. Aku akan membuat kau merasakan apa yang juga Anjali rasakan saat ini.
...Bersambung ...
__ADS_1