
Ketika Arka sampai di depan bengkel. Para pekerja dan juga Roni sebagai salah satu sahabatnya tercengang. Kebetulan, Bimo juga sedang mangkal di sana. Mereka pun segera menghampiri Arka yang baru saja turun dari kendaraan roda duanya yang mentereng itu.
"Wo wo wo ...! I–ini elu Arka? Arka temen kite?" tebak Roni dengan terbata karena ia begitu terpukau. Begitupun dengan Bimo, kawannya yang satu ini bahkan memutari tubuh Arka sambil menelisik dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Weh, ape iye elu beneran si Arka? Bukannya artis nyasar kan?" cecar Bimo. Kawannya yang berjualan cilok kuah itu bahkan beberapa kali menusuk-nusuk bagian tubuhnya. Membuat Arka gemas dan berakhir dengan menempeleng kepala Bimo.
"Anying, sakit peak! Eh, berarti elu beneran Arka temen kite!" Bimo pun tersadar dan yakin ketika Arka melakukan hal yang biasa ia perbuat padanya. Hal yang sama pun diyakini oleh Roni. Pemuda yang bekerja sebagai montir juga seperti Arka, berdecak berkali-kali melihat penampilan kawannya yang begitu berbeda saat ini.
"Gila Bro! Lu abis menang togel apa gimana nih? Kok bisa kuerrenn banget!" puji Roni kagum. Hingga aksi mereka terhenti karena panggilan dari bos pemilik bengkel.
"Alka! Sini lu!"
"Tar gua jelasin." Arka menepuk bahu Roni. Ia pun berjalan menghampiri di mana sang Bos sedang menunggu kedatangannya. Sang bos sedang berdiri dengan angkuh bersiap untuk memarahi Arka seperti biasa. Bahkan kali ini kemarahannya seperti bom yang akan meledak. Arka tentu saja sudah siap Karena itulah Ia memutuskan untuk datang ke tempat ini.
"Heh, Alka! Lu olang punya otak tak! Pelgi gitu aja kagak bilang-bilang owe! Lu pikil ini bengkel lu olang punya bapak hah! Gila lu ya!" Sang bos yang berdarah Tionghoa itu mencak-mencak sambil menuding ke depan wajah Arka, menggunakan telunjuknya.
Pemilik bengkel tersebut benar-benar marah karena Arka sudah tidak bekerja sejak beberapa pekan lalu. Ijin Kerja sehari saja pemilik bengkel ini pasti akan marah apalagi ini Arka tanpa berita. Sebenarnya, Arka adalah salah satu montir yang sangat diandalkan. Hanya saja pria Tionghoa itu tidak pernah menghargai kerja kerasnya. Pemilik bengkel tersebut membayar upah tidak sesuai dengan kemampuan dan skill yang Arka miliki.
"Sorry, Bos. Saya kecelakaan. Saya dikeroyok oleh beberapa anggota gangster, hingga koma selama beberapa hari. Bagaimana saya bisa melapor ke sini?" jelas Arka. Tentu saja hal itu menciptakan guratan pada sang pemilik bengkel. Termasuk pada beberapa pekerja dan kedua kawannya yang tak lain adalah Roni dan juga Bimo.
__ADS_1
Namun, Arka segera memberi kode menggunakan telapak tangannya untuk menjeda pertanyaan yang hendak keluar dari bibir kedua kawannya itu. Ia pasti akan menjelaskan kepada kedua kawannya tapi nanti. Karena Arka ingin menyelesaikan urusannya dengan pemilik bengkel ini lebih dahulu.
"Lu olang mau bohong sama Owe hah! Lu pikil gua ini tolol! Elu segel bugel gini ngaku koma kalena dikeloyok. Gua tadak tolol! Elu kalo mau belenti bilang aja! Montil jago bukan elu doang!" Sang pemilik bengkel rupanya sangat marah kepada Arka. Pria Tionghoa itu seakan tidak menerima sama sekali keterangannya akan berikan padanya. Ia sama sekali tidak percaya sedikitpun.
Bahkan wajahnya yang putih pucat menjadi merah padam. Seakan ia yang mengalami kerugian besar semenjak Arka tidak masuk bekerja. Karena itulah raut wajahnya seakan ingin menelan Arka bulat-bulat saat ini juga.
Arka hanya terkekeh. Ia tidak marah ketika pria di hadapannya ini memaki-maki dirinya dengan ucapan yang kasar. Ia sudah terbiasa diteriaki seperti itu oleh pemilik bengkel.
"Terserah, Bos mau percaya atau tidak. Saya sama sekali tidak sedang berbohong," ucap Arka tenang.
"Halah! Lu olang pelgi aja dali sini! Jangan halap bisa kelja lagi di sini!" usir pria bermata sipit itu.
Arka selama ini sama sekali tidak pernah menuntut kenaikan gaji meskipun pekerjaannya bertambah berat. Waktu bekerjanya semakin panjang. Semua itu karena Arka membutuhkan pekerjaan ini, dan sang pemilik bengkel tahu itu. Seperti hari ini pria itu hanya berniat mengancam dan menggertak apa saja. Lihatlah, wajahnya yang putih pucat semakin pasi karena Arka melenggang pergi dari bengkelnya dengan santai.
Pria itu pasti berharap Arka memohon padanya. Sehingga dengan begitu ia dapat menurunkan bayaran terhadap Arka. Tentu pria ini akan untung semakin besar bukan. Dasar licik!
Arka kembali hendak menaiki motornya, hingga ia kembali teringat pada dua kawannya.
"Bos! Gua pinjam Roni sebentar ya ada perlu!" teriak Arka dari atas motornya.
__ADS_1
"Weyy enak aja lu! Dia lagi kelja! Gua nanti lugi!" teriak sang pemilik bengkel menolak permintaan Arka dengan keras. Dia masih kaget dengan gaya Arka yang menurutnya angkuh itu. Kini dengan seenaknya Arka ingin mengajak satu-satunya montir untuk pergi dari bengkelnya. Tentu saya bermata sipit itu kalang kabut. Apalagi banyak motor yang belum selesai untuk ditangani.
"Emangnya, kalau Roni bertahan di sini Bos mau bayar gaji dia berapa?" tantang Arka tetap stand by berada di atas motornya.
"Heh, lu olang jangan makin kulang ajal! Sialan!" Pria Tionghoa itu semakin marah dan berjalan mendekat ke arah Roni.
"Gini aja Ron. Gua berani bayar gaji lu 5 kali lebih banyak daripada di sini. Lu tentu bisa nyekolahin adik-adik lu sampai tinggi nanti. Kalo terus di sini lu nggak akan berkembang Ron. Meskipun skill lu udah tahap Dewa sekalipun. Orang licik kayak dia nggak bakalan bisa ngehargain kemampuan orang!" kali ini giliran Arka yang menuding ke depan wajah pria Tionghoa itu.
"Udah pasti gua bakal ikut elu Ar!" Roni pun segera membuka seragam bengkel penuh oli yang ia kenakan. Lalu ia melemparnya kebawah kaki sang Bos.
"Sorry, Bos. Gua mau kehidupan yang lebih baik. Jadi, gua mau ikut Arka." Roni pun dengan santai dan penuh percaya diri naik di boncengan motor Arka.
"Lu!" Pria pemilik bengkel tak bisa berkata apapun. Pria bermata sipit ini sebenarnya ingin tetap mempertahankan Roni namun tidak ingin mengeluarkan uang lebih banyak. Harga dirinya merasa diinjak-injak jika ia kalah dengan pribumi macam mereka. Karenanya pria itu hanya menahan geram dengan mengepalkan kedua telapak tangannya.
"Yok, Bim! Lu ikutin dari belakang yak!" seru Roni seraya tertawa.
"Sialan lu! Gua kan juga mau di bonceng!" Bimo pun menggerutu sambil mendorong gerobak ciloknya mengikuti ke mana arah kendaraan roda dua Arka melaju dengan pelan itu.
...Bersambung...
__ADS_1