
"Tidak! Operasi apa? Apa kalian dapat menjamin hidup keduanya dengan operasi?" cecar Arka dengan tatapannya yang berkilat.
"Kita harus menyelamatkan sang ibu, karena keadaan janin masih terlalu muda untuk dilahirkan. Maka tak ada jalan lain lagi, kami memutuskan untuk-"
"Jangan bicara sembarangan! Dimana dokternya!" Arka yang emosi merangsek masuk kedalam ruang operasi. Hingga, beberapa petugas medis menahan tubuhnya.
"Rumah sakit macam apa ini! Bisa-bisanya kalian ingin membunuh bayi yang masih ingin hidup! Apa kalian tidak memikirkan bagaimana perasaan dari sang ibu nanti! Selamatkan keduanya! Tak ada pilihan untuk itu!" Arka benar-benar tak terkendali. Ia terus menarik kerah pakaian khusus yang dikenakan oleh para perawat. Mendorong siapa saja yang berniat menenangkannya.
Apollo hanya mendiamkan tingkah laku Arka. Ia terlihat menghubungi markas. Tak lama kemudian pria bertubuh tinggi itu mengangguk.
"Jika kalian tidak bisa menyelamatkan keduanya. Maka kami akan membawa pasien mencari rumah sakit lain. Tolong buat surat jalannya!" titah Apollo pada petugas medis yang nampak meringis ketakutan.
__ADS_1
Namun, dokter yang menangani Anjali maju ke depan dengan wajah memerah. "Kalian jangan seenaknya membawa pasien emergency. Dia tidak akan bertahan dengan keadaan seperti itu. Operasi pengangkatan janin adalah jalan satu-satunya! Kalian yang tidak lebih berpengalaman dari kami Jangan sembarangan bicara dan bertindak! Kami melakukan segala sesuatunya sesuai prosedur!" sarkas sang dokter.
Arka maju dan mencekik leher dokter itu. Kemudian Roni dan Bimo maju demi melerai amarah sahabat mereka. "Jangan memperkeruh suasana Bro. Dengerin apa kata, asisten lu aja," bisik Roni. Seketika, Arka melepaskan cengkeramannya. Ia menatap tajam ke arah dokter tersebut.
"Jika kalian bersikeras membawa pasien pergi. Maka jangan salahkan rumah sakit ini jika ada apa-apa yang terjadi setelahnya," ucap dokter pria tersebut ketus.
"Jangan banyak bicara! Buatkan saja suratnya!" hardik Arka.
Mereka pun membawa Anjali dengan tetap memperhatikan kesediaan alat untuk membantu mempertahankan kondisi Anjali agar tidak semakin buruk.
"An, bertahanlah. Kau harus hidup bahagia bersama bayi yang selama ini kau rawat penuh kasih sayang. Aku berjanji, kalian berdua akan selamat," lirih Ghazali berucap di depan telinga. Anjali. Ia terus membisikkan kalimat apapun. Sambil sesekali mengecup dalam pelipis dan rambut wanita yang sedang tak sadarkan diri itu.
__ADS_1
"Sabar ya, Bro. Gue yakin Anja pasti baik-baik aja," ucap Bimo sambil sesekali menyusut air matanya. Hatinya ikut tersayat perih atas apa yang menimpa Anjali. Selama mereka mengenal Arka, selama itu pula mereka mengenal kepribadian Anjali. Wanita itu yang selalu mengirimkan makanan ke kosan di saat mereka bertiga kelaparan. Anjali bagaikan seorang Dewi bagi Roni dan juga Bimo.
Karena kecantikan paras dan juga hatinya itulah yang mampu membuat Arka mencintainya begitu dalam.
"Iya, Bro. Gue yakin Anjali kuat. Bayinya juga kuat. Dia harus bahagia. Dan lu yang bisa ngasih kebahagian itu," ucap Roni menimpali.
Arka tak menggubris ucapan simpati kedua sahabatnya. Bukannya ia tak ingin membenarkan kalimat yang dilontarkan oleh Roni dan Bimo. Akan tetapi saat ini ia sedang menahan tangisnya. Karena itulah Arka memilih untuk mengunci mulutnya. Menelan semua sesak dalam dadanya.
Ini adalah hari paling mengerikan di mana ia melihat sosok wanita yang sangat ia cintai terbujur lemah seperti ini. Tak pernah ya bayangkan sebelumnya jika nasib Anjali akan seburuk ini. Jika ia tau, bahwa keluarga angkasa akan memperlakukannya dengan kejam. Mungkin sejak awal Arka akan lebih memilih resiko di penjara dan menjadi buronan demi mengeluarkan Anjali dari sarang neraka itu.
"Apo, apakah dokter di markas telah menyiapkan semuanya? Apa kau yakin jika profesor Nagara dapat menyelamatkan Anjali dan bayinya?"
__ADS_1
"Yakinlah, Tuan. Karena terkadang keyakinan kitalah yang akan mewujudkan setiap harapan."
...Bersambung ...