
"Kapan saya akan pulih, Dok? Kapan saya bisa melepaskan gips pada sebagian anggota tubuh saya?" cecar Arka pada dokter yang sedang memeriksanya malam ini. Dokter tersebut hanya tersenyum. Ia melirik ke arah asisten wanita di sebelahnya. Kemudian, asistennya itu terlihat menyuntikkan cairan melalui selang infus.
"Anda tenang saja, Tuan. Kami akan melakukan yang terbaik demi kesembuhan anda. Bahkan, anda akan lebih sehat dan kuat dari sebelum setalah ini," terang sang dokter yang mengenakan kacamata. Namun, terlihat di balik cermin itu kilat serius dari kedua matanya kala mengucapkan kalimat barusan.
"Argh! Apa yang kalian masukkan kedalam tubuhku!" Arka mengeram manahan sensasi panas yang mengalir dari lengan menuju ulu hatinya.
"Tentu saja obat, Tuan muda. Apalagi? Bukankah anda ingin segera sembuh lalu balas dendam? Jadi, tahan sedikit ya. Prosesnya memang akan lumayan mengganggu kenyamanan anda. Tapi, percayalah ini semua demi kesembuhan ekstra cepat," jelas dokter itu lagi.
"Kau tetap jaga dia. Awasi dan jangan tidur malam ini!" titah sang dokter pada asistennya yang bernama Terry.
"Baik, Dokter Darwin. Percayakan pada saya." Terry menjawab dengan sigap.
"Mungkin dia akan mengalami sedikit kejang dan menggigil."
"Saya mengerti, Dok!" sahut Terry sebelum akhirnya dokter yang bernama Darwin itu berlalu keluar. Karena ia akan kembali berkonsultasi dengan profesor Nagara demi menyempurnakan obat yang akan di berikan kepada Arka selanjutnya.
Benar saja, tak lama kemudian Arka kejang. Tapi tidak separah yang di perkirakan. Terry mencatat semua hal yang terjadi. Mencatat semua hal yang ia periksa dan dia ukur.
"Ternyata tubuh pria ini kuat juga. Sepertinya masa pemulihan akan lebih cepat. Dia juga tampan," gumam Terry berbicara sendiri sambil menyelimuti Arka yang sesaat lagi menurut perkiraannya akan menggigil kedinginan.
__ADS_1
Gerahan Arka terdengar bergemeletak. Seluruh raganya bergetar hebat. Kulitnya pucat dengan bola mata yang bergerak tak tentu arah. Dia menggigil hebat. Pertanda serum yang disuntikkan kedalam tubuhnya mulai bekerja. Bahkan terdengar beberapa kali suara detak dari tulang yang seakan bergesekan.
Pengobatan Arka berjalan dengan cepat. Hanya dalam waktu beberapa jam, kondisinya sudah naik beberapa tingkat.
"Kau hebat juga. Ternyata dalam darahmu memang benar-benar mengalir darah mafia. Aku harus segera melapor pada, dokter Darwin.
Sepeninggal Terry, Arka yang tak sadarkan diri kembali terlihat setengah sadar. Terlihat dari kelopak matanya yang bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri.
Keringat sebesar jagung mulai membasahi kening dan pelipisnya. Bibirnya terlihat bergerak meracau.
"An ... Anja–li ...," gumamnya lirih.
"Bagus sekali! Sungguh di luar dugaan. Besok pagi-pagi sekali. Kita cek kembali keadaan tulangnya. Biarkan malam ini dia beristirahatlah. Jiwanya juga sedang tak baik-baik saja." Pria berkaca mata yang memiliki tanggung jawab untuk mengobati seluruh anggota yang terluka atau sakit ini, nampak takjub terhadap kemajuan dari kepulihan Arka yang begitu cepat. Di luar dugaannya.
Ia dan sang asisten kembali meninggalkan Arka yang sudah di beri obat penenang. Agar dirinya tertidur lelap malam ini. Darwin menyingkirkan sebentar rasa gundah yang ia tau tengah di rasakan oleh pemuda ini.
Sementara Arka telah pulas terlelap di sepertiga malam ini. Di sebuah lokasi yang jauh darinya. Nampak sebujur raga wanita cantik tanpa busana tergolek lemah.
Ia terlihat mengusap perutnya dalam rintihan pelan. Darah, mengalir dari sela kakinya. Begitu juga dengan air mata. Namun, mulutnya sudah tak mampu bergerak. Ia tak mampu mengeluarkan suaranya. Pria yang baru saja menyetubuhi dirinya selama dua jam telah pergi begitu saja meninggalkannya di dalam bath up.
__ADS_1
"Bang, kenapa kau begitu kejam. Setidaknya pedulikan anakmu ini." Anja mulai mengeluarkan suaranya pelan. Ia masih mengumpulkan tenaganya sebelum benar-benar bangun. Seluruh persendian ya masih lemas. Namun, ia nampak sangat khawatir ketika sadar bahwa ada sesuatu yang keluar diantara kedua kakinya.
Tak biasanya, malam ini suaminya itu bagaikan serigala yang lapar. Guntur menghujam intinya tanpa ampun dengan berbagai posisi. Bahkan mereka sampai berganti tempat beberapa kali. Tanpa peduli keadaan dirinya yang tengah mengandung janin. Guntur hanya peduli bagaimana pelampiasan terhadap hasratnya saja.
Eugh!
Anjali bergerak perlahan. Ia membekap mulutnya kala melihat darah menggenang di dalam bathup. Perlahan, ia bangun dan turun untuk membersihkan dirinya. Dengan berpegangan pada apapun yang bisa ia raih di sana. Anjali meraba perutnya mencari tanda kehidupan di sana. Ia bernapas lega ketika masih merasa kedutan di bagian perut sebelah kanannya.
"Sayang, apakah kau baik-baik saja. Mama harap tidak ada sesuatu hal yang buruk menimpamu ya. Maafkan papa, jika ia menyakitimu tadi," lirih Anjali seakan berbicara pada buah hatinya.
Ia pun membersihkan dirinya perlahan. Kemudian keluar kamar mandi dengan membelit handuk pada tubuhnya. "Nanti, kalau sudah pagi, mama akan membawamu periksa ke dokter ya. Bertahanlah sekarang. Kita harus kuat," ucap Anjali lagi ketika ia telah mengenakan pakaian dan ia merebahkan raganya di atas kasur perlahan.
Takut, jika pergerakannya dapat menambah penderitaan bayinya di dalam. Padahal, Anjali sendiri masih sedikit merasakan nyeri. Apalagi, di bagian daerah pribadinya. Sebab, milik guntur tidak seperti biasanya. Entah, apa yang sudah pria itu makan. Apakah dia sengaja hanya ingin menyiksanya? Atau membunuh bayi yang ia kandung? Begitu pikir Anjali tadi.
Karena ia tau jika Guntur sangat membenci bayi yang sedang dikandungnya saat ini. Akan tetapi janjinya, bayi dalam kandungannya ini begitu kuat seperti biasa. Semoga dia juga masih mampu bertahan setelah apa yang Guntur lakukan malam ini padanya.
"Bertahanlah demi kebenaran, sayang."
...Bersambung ...
__ADS_1