
Hari Ini Guntur mengajak kekasihnya untuk menemaninya menghadiri anniversary persatuan antar pengusaha.
Ia bergabung dengan beberapa pengusaha besar.
"Guntur Angkasa, pengusaha muda yang memiliki potensi luar biasa. Sahabatku!" Seorang pria paruh baya dengan rambut ikal dan brewok lebat di sekitar rahangnya menyambut kedatangan Guntur dengan antusias.
"Halo, Tuan Samba Asmoro. Senang berjumpa dan menjalin bisnis dengan anda!" Guntur pun menyambut dan mereka berjabat tangan mesra.
"Hai, siapa wanita cantik ini?" Samba nampak terpukau pada wanita yang berdiri anggun di sebelah Guntur. Dialah Marisa Blemier.
Guntur sengaja menyembunyikan pernikahan dengan Anjali. Ia juga tak mengungkap status sebenarnya ke area publik. Hal itu membuat Marissa berada di atas angin tentu saja. Ia masih berpikir memiliki potensi besar menduduki singgasana utama sebagai nyonya Angkasa.
"Boleh, saya menjabat tangan Nona?" tanya pria itu dengan senyum yang wajahnya sedikit mirip dengan owner stasiun televisi. Dimana ia juga merambah menjadi ketua umum sebuah partai.
"Tentu saja boleh, perkenalkan saya Marisa Blemier." Wanita yang mengenakan gaun berleher rendah ini mengulurkan tangannya.
Marisa tersenyum penuh arti yang mana hal itu membuat Samba memasang ekspresi mengerti.
Guntur menganggap hal itu biasa saja. Justru ia merasa bangga karena banyak partner serta kawan bisnisnya yang memuji kehebatannya memiliki wanita cantik seperti Marisa. Kare itu ia biasa saja jika para pria ini menatap penuh kagum dan memuji Marisa. Sungguh pikiran yang naif.
Guntur saat ini sedang berkumpul dengan beberapa pengusaha lainnya, ia bahkan tidak menyadari jika Marisa telah di bawa mojok oleh Samba.
"Hei, Nona. Aku seperti pernah melihatmu. Apakah kau artis atau model?" tanya Samba sambil memutari bibir gelas dengan jarinya. Saat ini mereka berada di sebuah ruangan khusus tamu VVIP.
Marisa mengeluarkan cigarret dari dalam tasnya. Ia menolak ketika Samba menawarkan cerutu.
'Gilak aje lu Sam! Masa cewek di suruh ngisep lisong!' Marissa mengumpat dalam hati.
__ADS_1
"Jadi kau tidak menghisap cerutu, ku pikir?" Samba tidak meneruskan kata-katanya. Matanya telah bermain genit pada Marisa.
"Ah, ya. Aku lebih suka yang lebih besar dari itu, karena lebih asik dan kenyal," sambung Marisa yang faham arti kode dari si Casanova tua.
'Aku sudah sering menghadapi kadal macam dirimu, pak tua. Tapi, kau boleh juga. Aku pasti bisa mereguk banyak untung darimu.' batin Marisa.
"Kau wanita yang pintar, mengerti maksudku!" tawa Samba pun membahana di ruangan itu.
"Aku suka wanita sepertimu, yang faham apa mau pria kesepian ini." Samba kembali mengerling nakal.
"Tapi, Sam. Aku ini milik partner bisnismu asal kau tau," jelas Marisa membuat ekspresi pria itu berubah seketika.
"Ck. Ku pikir, wanita seperti mu tidak akan setia pada satu pria saja." sarkas Samba.
"Tentu saja itu tidak mungkin, Sam. Kau ingin bersenang-senang? Tapi kau tau jika bayaranku tidak murah. Aku bukan PSK!" sarkas Marisa.
"Itu hal mudah. Kau butuh berapa? Sebut saja Aku ini tau menghargai barang mahal." Samba menantang Marisa. Ia tak tau jika dihadapannya saat ini adalah iblis wanita penghisap harta.
"Ku rasa Ferarri di parkiran yang berwarna tosca itu, boleh juga," pancing Marisa. Membuat Samba hampir tersedak ludahnya sendiri. Kendaraan itu baru di milikinya satu bulan. Harganya tidak main-main. Bagaimana wanita ini bisa tau?
Samba mulai berdiri dan berkacak pinggang. "Kau ini memang tau barang ekslusif. Baiklah, aku bersedia menjadi cerutu mu." Samba pun sontak menarik ikat pinggangnya. Membiarkan Marisa melakukan aksinya.
Melihat dengan seringai buasnya ketika sang wanita cantik nan seksi ini menunduk di bawah perutnya.
Marisa mendongak dan tersenyum menggoda dengan menggigit ujung bibirnya. Hingga akhirnya ia melakukan apa yang diinginkan oleh Samba. "Aku akan memberikannya untukmu. Lakukan lebih dahsyat lagi dari ini!" Samba memekik tertahan sambil menahan Marisa tetap pada posisinya hingga ia meledak dan menggelepar.
'Pria tua ini ternyata tidaklah buruk, bahkan aku tidak mual sedikit pun.' Marisa membatin seraya mengusap mulutnya.
__ADS_1
"You're so hot," Samba, mencengkeram dagu Marisa lalu merampas bibir merah merona itu. Kemudian, Marisa menanggalkan pakaiannya hingga ia kini dalam keadaan yang Samba inginkan. Tak peduli meski Guntur mencarinya. Karena Marisa tau jika kekasihnya itu pasti akan sibuk membicarakan projek dengan para relasinya yang lain.
Hal itu membuat Samba menikmati hidangan dihadapannya ini dengan leluasa dan rakus. Seperti belum pernah menikmati menu yang serupa sebelumnya. Baginya, penampakan Marisa begitu menggoda dan membuatnya berselera besar. Gairahnya memuncak hingga larva dari magma miliknya menyembur kemana-mana.
Beberapa saat kemudian.
Mereka berdua, kini telah kembali merapikan tampilan seperti semula.
" Bisakah, aku menghubungimu lagi?" tanya, Samba sambil merogoh ponselnya.
"Tentu." Marisa pun mengetik nomer ponselnya.
"Sekalian nomer rekening mu," tambah Samba.
Tentu saja Marisa mengabulkan.
Tring!
"Waw! Sam! Banyak sekali!" pekik Marisa ketika melihat nomer pada M-Banking miliknya.
" Aku selalu royal, pada wanita yang mampu memuaskan ku." Samba merangkul bahu Marisa mengecup kembali bibirnya.
"Aku menyesal baru mengenalmu sekarang, Sam." ucap Marisa, menatap wajah yang di penuhi oleh bulu lebat di sekitar rahang serta dagunya itu.
Sam hanya tergelak.
"Ambil Ferrari ku, ini!" Sam menyelipkan kunci mobil diantara celah buah kembar besar milik Marisa yang menantang di balik gaunnya itu.
__ADS_1
...Bersambung ...