Mafia Perebut Istri Orang

Mafia Perebut Istri Orang
Bab 9. Kemarahan Guntur.


__ADS_3

Gluntang!


Gelas berbahan dasar melamin itu terpental dengan isinya yang sudah berceceran di atas lantai. Bahkan cairan susu itu juga telah membasahi piyama tidur yang Anja kenakan.


"Bagus ya! Kamu mencuri uang siapa, untuk membeli susu mahal, hah!" Guntur menghentak raga Anja hingga wanita hamil itu melayang dan berakhir tersungkur.


Anja memekik tertahan, seraya melindungi harta paling berharganya. Ia terlihat memeluk perutnya yang nampak semakin buncit. Wanita berhidung mancung itu mendongak, kemudian mengarahkan tatapan nanar ke arah Guntur.


"Bagaimana bisa Abang menuduhku sekeji itu. Aku kan bekerja pada, Kak Puspita. Aku mengumpulkan uang itu sedikit demi sedikit, kemudian membeli susu hamil," tutur Anja memberi penjelasan, tak peduli Guntur mau mendengarkannya ataupun tidak.


"Cih! Kau pikir aku ini laki-laki bodoh! Berapa gajimu dan berapa harga susu itu!" Guntur tak mau terima begitu saja, hingga ia melakukan apa yang Anja takutkan selama ini.


"Apa yang Abang, lakukan? Jangan acak-acak lemari, bang. Aku lelah merapikannya. Bukankah kau jijik terhadap barang-barang milikku?" Anja berusaha menahan tangan Guntur yang merangsek masuk menjelajahi lemari pakaiannya.


Akan tetapi pria itu kembali mendorongnya hingga terjerembab ke atas kasur. Untung saja, itu lebih baik setidaknya. Daripada, ia kembali jatuh ke atas lantai. Anja mengusap perutnya seraya berdoa penuh harap, agar Guntur tidak menemukan apa yang ia sembunyikan.


Akan tetapi, harapan hanya tinggal harapan. Hanya di lemari itulah, satu-satunya tempat bagi Anja menyimpan apapun rahasianya. Termasuk uang pemberian dari Arka.


"Apa ini? Uang sebanyak ini kau dapat darimana hah! Dasar pelacuur!" Guntur menampar wajah istrinya itu dengan lembaran yang berwarna merah yang cukup banyak. Bahkan, lebih dari sepuluh lembar. Ya, Anja menyimpan uang itu untuk biaya melahirkan nanti. Setiap, Arka membagi sebagian gaji pria itu padanya maka akan langsung Anja simpan dalam sebuah kaleng bekas kornet yang ia bersihkan terlebih dulu.


"Berikan padaku, Bang. Itu simpananku untuk melahirkan nanti. Aku mendapatkannya dari orang baik. Bukan dengan cara menjual diri," lirih Anja yang rasanya sudah sangat lemas. Keadaanya yang berbadan dua, sungguh membuatnya bingung harus melakukan apa. Melawan? Tapi dirinya kembali memikirkan bagaimana nasib dari janin yang ada dalam kandungannya ini.

__ADS_1


Jika ia tidak membawa bayi, mungkin dia sudah melawan dan kabur. Anja memikirkan nasib bayi yang berada dalam kandungannya. Sebab itulah ia menahan setiap sakit yang mendera raga dan batinnya ini.


Sebab, semakin ia melawan maka perlakuan Guntur akan semakin beringas. Pria itu sama sekali tidak memiliki hati dan juga perasaan padanya. Meskipun, pada saat ini ia telah memohon dengan berlinang air mata. Hati pria berwajah kekar itu tetap saja dingin dan beku.


"Orang baik katamu. Paling juga om-om tua, pelanggan di kedai yang suka menggoda, iya kan! Mengaku saja! Kau memang perempuan hina. Kau bahkan lebih buruk dari pelacuur! Sudah hamil masih saja mencari perhatian dari laki-laki lain. Sampah!" Guntur benar-benar terlihat murka. Ia sangat marah dengan isi didalam kepalanya sendiri. Dadanya terlihat turun naik dengan napas memburu.


Kedua mata elangnya berkilat penuh emosi. Seakan kulit Anja terbakar hanya dari tatapannya saja.


Anja memegangi dadanya yang sesak. Ia bahkan tak mampu lagi mengeluarkan suara saking sakit yang menekan jantungnya kuat. Seorang wanita hamil yang mana hormonnya gak stabil, akan tetapi setiap hari selalu didera tekanan batin. Sesak hingga susah untuk bernapas apalagi harus berkata-kata. Anja tidak sanggup lagi. Wajahnya sudah kian pucat.


"Kau tidak bisa jawab, kan. Semua itu membuktikan kebenaran, dasar jalaang! Sial sekali aku menikah denganmu! Istri tak tau diri!"


Brakk!


Guntur membanting pintu kamar dengan keras. Kemudian menguncinya dari luar. Ia benar-benar tak memikirkan bagaimana nanti keadaan Anja di dalam kamar sepeninggal dirinya. Sebab, laki-laki itu sama sekali tidak menoleh sedikit pun setelah melempar uang-uang itu.


Anja beringsut ke lantai yang beralaskan karpet tebal. Memunguti uang yang di lempar barusan oleh Guntur suaminya. Tubuhnya bergetar mengeluarkan tangis yang menyayat hati bagi siapapun yang mungkin mendengarnya. Siapapun yang punya hati, pasti akan turut merasakan apa yang Anja rasakan saat ini.


"Ibu ... semua ini karena mu. Kenapa kau berhutang pada keluarga ini Bu. Kenapa tak meminta tolong pada ku saja, aku pasti akan bekerja lebih giat lagi. Kenapa harus membayarnya menggunakan diriku. Hidupku. Anjali tidak sanggup lagi. Abang selalu menghina dan menganggap ku sebagai wanita yang kotor. Hati Anjali, sakit Bu! Sakit!" Saking lemas dan lapar yang ia rasakan pada perutnya, Anja pun tersungkur ke atas lantai dengan uang yang masih berserakan di sekitarnya.


Hari telah berganti, kegelapan telah kembali berubah menjadi pendar terang yang mana cahaya itu berasal dari sang sumber kehidupan. Matahari atau biasa di sebut juga sang Surya.

__ADS_1


Guntur telah berangkat kekantor beberapa menit yang lalu. Sengaja menyerahkan kunci kamar pada sang mama. Meminta, orang tuanya itu mengecek keadaan Anja. Entah atas dasar khawatir atau apa.


"Pastikan dia tak keluar kemanapun hari ini, Ma. Sekalipun itu periksa kehamilannya. Biarkan dia di kamar sampai aku kembali dari kantor." Guntur yang hendak berlalu dari meja makan seketika menghentikan langkahnya ketika sang kakak bersuara.


"Enak aja, dia itu kan harus kerja sama gue!" bantah Puspita.


"Sehari ini saja, aku tengah menghukumnya. Ada yang harus ku selidiki terlebih dahulu. Apa kau tidak bisa bekerja saja sendirian atau cari yang lain!" Guntur mulai jengah atas keegoisan sang kakak.


"Heh, tenaga yang lain itu mahal. Sementara tenaga Anja itu murah. Gue kan jadi bisa nyisihin uang buat beli skin care. Lagian lu kan bisa hukum dia pake cara yang lain. Emangnya dia buat salah apa sih? Jangan bawa-bawa gur dong? Rugi!" cecar Puspita membuat Guntur seketika naik pitam. Dan ia pun menggebrak meja makan yang ada di hadapannya.


Bruakk!


Mendapat gebrakan keras dari tangan kekar milik, Guntur, membuat beberapa alat makan termasuk gelas bergesekan sehingga menimbulkan suara bising mengagetkan. Bahkan, mereka yang berada di ruangan tersebut terkejut sambil memegang dada mereka masing-masing.


"Aku bilang tidak ya tidak! Jangan melawan aturan yang ku buat." Guntur terlihat mengeratkan rahangnya pada Puspita, sang kakak tiri.


Karena mereka beda ayah. Suami pertama Mega telah mati tenggelam kala melaut. Ketika, Puspita berusia delapan tahun. Pada saat itu, Goro meninggalkan emas banyak. Sedangkan suami kedua yang bernama Jagad, meninggalkan perusahaan yang sekarang ini dikelola oleh anak kandungnya. Sedangkan dengan Santoso, Mega belum mempunyai anak. Ia tidak mau, karena Santoso tidak punya warisan.


Diantara kedua suami yang telah mati, Santoso-lah yang paling tampan. Namun, kere.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2