Mafia Perebut Istri Orang

Mafia Perebut Istri Orang
Bab. 33. Kebiasaan Keluarga Angkasa.


__ADS_3

"Akh! Hentikan!" Marissa berkali-kali berteriak dan menjerit memohon ampunan. Berharap Guntur menghentikan siksaan padanya. Namun, semua itu seakan sia-sia saja. Teriakannya tidak didengar sama sekali oleh Guntur justru pria semakin bernapsu.


"Maafkan aku! Hentikan!" Marissa terus berteriak dan menggulingkan tubuhnya ke sana dan kemari. Sekujur tubuh indah itu kini penuh luka. Hingga, Marissa mundur perlahan beringsut hingga menggulung tubuhnya. Raga itu gemetaran.


Tak sampai di situ. Guntur yang kalap, memuaskan juga hasratnya dengan cara yang tidak semestinya. Dalam keadaan seperti itu tentu Marissa tidak siap. Hingga, wanita itu pingsan tak bergerak.


Dengan masih membawa amarah yang belum mereda, Guntur pergi dari kamar hotel tersebut. Menuju bagian bar yang berada di lantai bawah. Pria itu menenggak hingga berbotol-botol minuman keras. Hingga ia mabuk mengamuk kepada siapa saja yang menyinggungnya.


"Cari mati kau!" Guntur memecahkan botol bir yang kosong. Kemudian ia mengarahkan pada sekelompok pria yang ia pikir mengganggunya. Sekelompok pria itu, tak tinggal diam.


"Hajar dia!" Mendengar komando. Beberapa pria berwajah sangar pun maju menyerang. Mereka merarik Guntur hingga tersungkur. Kemudian memukul dan menendang. Menanggapi orang mabuk bagi mereka adalah urusan yang mudah.


Guntur kini tergeletak di lantai dengan keadaan yang sudah tidak berdaya sama sekali. Terdengar suara karangan dan latihan kecil keluar dari mulutnya yang sudah sobek. Cairan merah berbau anyir itu telah merembes dari kepala, hidung dan juga bibirnya.

__ADS_1


Sekelompok nah itu pun segera berlalu untuk meninggalkan bar tersebut. Mereka semua gak peduli akan keadaan dari Guntur. Hingga nasib pria itu berakhir tak sadarkan diri sampai pagi.


Pemilik bar mendiamkan saja. Mereka tak peduli dan hanya bergerak untuk membersihkan kekacauan yang terserak di tempat itu. Akibat perkelahian dari pelanggan mereka yang mabuk. Mungkin mereka akan melayangkan nota permintaan ganti rugi kepada pihak hotel.


___________


"Anda puas ketua?"


Sontak Arka menoleh dan menyeringai, ketika Apollo bersuara. Sejak tadi mereka hanya diam menyaksikan drama yang berputar di sebuah layar pipih tersebut.


"Aku sangat bersyukur karena kalian telah menemukanku. Jika tidak mungkin aku sudah megang nyawa di jalanan pada malam itu dan Anjali --" Arka tak dapat meneruskan kalimatnya karena tiba-tiba tenggorokan tercekat. Ia tak sungguh membayangkan hal buruk itu terjadi.


Karena itulah, dendamnya kepada Guntur sangatlah besar. Baginya, apa yang saat ini diterima oleh pria beringas itu belumlah seberapa. Bukan hanya Guntur yang harus menerima akibat dari perbuatan yang mencelakai Anjali akan tetapi juga keluarganya dan juga ibu tiri dari Anjali.

__ADS_1


Benar saja, kebangkrutan yang dialami guntur membuat Mega histeris. Apalagi ketika, putranya itu pulang kerumah dalam keadaan tubuh penuh luka. Namun, Guntur tak terima begitu saja. Ia kembali ke kantor dan menyelidikinya.


Sepeninggal Guntur, rumah makan milik Puspita malam itu di serang oleh sekawanan gangster. Apollo, membuat ketua dari gangster itu mendekam di penjara. Ia sengaja merekayasa kejadian itu seakan Guntur yang menjadi penyebabnya. Karena itulah para anggota gangster tersebut mengamuk.


Bukan hanya warung makan yang si serang tapi juga rumah besar dan mewah keluarga Angkasa tersebut. Tentu saya Mega dan Puspita tidak luput dari serangan para gangster. Keduanya di sekap, diperkosa dengan brutal lalu ditinggal begitu saja dalam keadaan penuh luka.


Santoso, yang selama beberapa hari pulang kampung tidak tau apa yang terjadi. Hingga ia menemukan keadaan rumahnya berantakan. Namun, ia langsung berlari menuju brangkas Mega. Menggunakan sidik jari dari wanita yang sedang meregang nyawa itu. Hingga pada akhirnya seolah senyum pun tercetak di wajah Santoso.


"Ternyata, aku tidak perlu turun tangan. Sudah ada orang lain yang membalas perbuatan kalian. Aku, hanya mengambil kembali apa yang pernah kau rebut. Selamat jalan Mega. Semoga kau diterima!" Santoso berbicara di depan raga istri kejam yang bergetar meregang nyawa, lalu ia mengusap kedua mata Mega yang melotot hingga menutup.


Dorr!


Suara letusan peluru seketika memenuhi ruangan.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2