Mafia Perebut Istri Orang

Mafia Perebut Istri Orang
Bab. 35. Menghawatirkan Mu.


__ADS_3

"Maaf, Tuan Muda. Ini adalah profesor Nagara," jelas Darwin. Memang selama ini profesor tidak pernah menampakkan dirinya. Ia selalu berada di belakang layar. Sejak belasan tahun lalu, membantu organisasi ini dengan berbagai ramuan hasil temuannya.


Mendapat penjelasan seperti itu dari dokter Darwin, Arka langsung menatap tak percaya. Bahkan ia memindai dari ujung kaki hingga ujung rambut. Sungguh, ini di luar bayangannya.


"Ku pikir, profesor adalah seorang laki-laki. Tapi ternyata --" Arka menatap dengan sorot mata meminta kejelasan.


"Salam hormat ketua. Maaf saya baru bisa menampakan diri." Profesor Nagara membungkukkan tubuhnya. Hingga, rambutnya yang panjang terurai ke depan.


"Sudah. Tak apa. Tapi, apakah bisa dijelaskan, kenapa kau dipanggil Nagara. Nama itu--"


"Itu, nama ayah saya, Tuan," jelas Nagara masih menundukkan pandangannya. Baru kali ini ia melihat langsung ketua mereka yang baru. Namun, ia tak sanggup menatap lama.


Ayah, kenapa dia mirip sekali dengan paman Armando? Pria ini, benar-benar titisan Armando Vargoba. Bolehkah aku--


Nagara, sibuk berbicara dengan hatinya. Ia tak mendengar, Arka yang beberapa kali memanggil namanya.

__ADS_1


"Profesor!" panggil Darwin.


"A? Apa?" Nagara nampak memiringkan wajahnya dengan sorot mata bertanya.


"Tuan muda, bertanya pada anda," jawab Darwin Seraya menahan geram. Bisa-bisanya seorang profesor melamun. Apalagi, saat ini mereka sedang berhadapan dengan ketua mafia Klan Louis.


Klan yang beberapa puluh tahun silam berada di puncak kekuasaan pada dunia gelap. Kelompok yang memiliki pengikut setia terbanyak serta di percaya beberapa kalangan teratas untuk memuluskan rencana serta menutup identitas mereka.


"Maaf, ketua. Saya hanya sedang memikirkan rencana selanjutnya pada wanita hamil yang anda bawa ke markas," kilah Nagara.


Aku tidak percaya jika dirinya sudah puluhan tahun mengabdi pada klan Louis. Usianya kurasa pasti masih muda saat ini. Mungkin sekitar sepantaran dengan Anjali. Usia yang terlampau sangat mudah untuk menjadi seorang profesor yang hebat? Siapa dia? Apa yang mereka sembunyikan dariku?


Menurut Gabriel, lambat laun Arka juga pasti akan tahu apa saja yang terdapat di markas ini. Juga siapa saja identitas anggota yang bergabung dengan mereka.


"Baiklah. Aku akan bertanya tentangmu lain kali. Sekarang, jelaskan apa rencanamu? Ku harap hal apapun itu harus minum resiko. Faham!" tegas Arka.

__ADS_1


Nagara pun mengangguk dalam. Pertanda ia faham akan maksud dari ketuanya itu.


Maka malam itu juga, Arka meminta kesiapan pada Anjali. Ia berkata, bahwa wanita itu akan kembali mendapatkan pemeriksaan. Untuk mengetahui keadaan bayinya.


"Kau tenang saja. Semua dokter di sini lebih hebat dari rumah sakit kota. Mereka semua ahli, karena itulah aku membawamu kesini," tutur Arka pada Anjali. Wanita yang tengah berbadan dua hanya tersenyum. Keadaannya masih cukup lemah. Meskipun, ia sudah tidak lagi menerima transfusi darah.


"Setelah ini, aku akan mengajakmu jalan-jalan. Kau pasti bosan kan. Berada di ruangan ini selama berhari-hari?" tanya Arka penuh perhatian. Dia memang selalu mengerti perasaan Anjali saat ini.


"Mas, bagiamana memangnya aku berada di mana? Apakah, Guntur tidak mencariku?" Sontak pertanyaan dari Anjali membuat tatapan mata yang memancangkan sinar hangat penuh cinta, seketika berubah menjadi tatapan benci. Namun, Arka segera mengalihkan tatapannya. Ia tak mau jika Anjali melihat kemarahan di matanya.


Tapi, Arka terlambat. Anjali ternyata sudah menyadari hal semacam itu. Ia tau, betapa Arka sangat membenci suaminya di mana Guntur adalah Ayah dari calon bayi yang ia kandung.


"Mas? Tolong simpan masalah ini baik-baik. Aku tidak mau kamu terseret ke dalam masalah rumah tanggaku. Tidak perlu melaporkan Guntur ke polisi. Ku mohon," lirih Anjali berucap.


"Sebegitu besar kekhawatiran mu padanya, An. Keadaanmu itu sudah sangat parah." Arka masih berusaha menahan emosinya. Meskipun sebenarnya ia sangat kesal sekali. Namun, ya tak ingin menampakan raut ekspresi seperti itu di hadapan Anjali.

__ADS_1


"Aku tidak mengkhawatirkan dia. Aku hanya mengkhawatirkanmu."


...Bersambung ...


__ADS_2