
Arka teramat senang karena mulai hari ini keadaan Anjali semakin membaik. Begitu juga dengan janin yang berada di dalam kandungannya. Walaupun, Anjali masih belum bisa turun dari pembaringan. Karena keadaan fisik yang masih lemah dan butuh perawatan intensif.
Bagaimanapun, wanita hamil ini sudah beberapa kali mengalami kekerasan dan itu berefek pada kandungannya. Untuk menjaga kestabilan, dokter Darwin menyarankan agar Anjali bed rest selama tiga bulan.
Arka setuju, karena ia akan melakukan apapun demi kebaikan aja lidah juga bayi yang ia kandung saat ini. Meskipun, Arka tahu jika bayi itu adalah keturunan dari Guntur Angkasa. Namun ia tak peduli, karena bayi tersebut adalah sumber kebahagiaan dari Anjali.
Dan, Arka akan melakukan apapun untuk membuat Anjali tetap bahagia. Sekali pun ia harus menahan sesak ketika mengusap perut buncitnya Anjali. Karena yang berada di dalam sana bukanlah datang dagingnya.
"Dokter, kapan keadaan janin itu stabil? Sehingga kita bisa mengambil sampel darinya untuk tes DNA?" tanya Arka pada senja berkabut hari itu.
"Kita tunggu di awal bulan berikutnya. Semoga, bisa lebih cepat dari ini. Karena bukan hanya kestabilan keadaan tapi juga usia janin tersebut," jelas Darwin serius. Karena ia tak mau mengambil resiko besar.
"Maaf Tuan, pengambilan sampel CVS atau Chorionic Villus dilakukan pada kehamilan usia minimal dua belas minggu. Sementara usia kehamilan nona Anjali sudah mencukupi. Tapi, karena kejadian lalu membuat kita juga harus memikirkan bagaimana keadaan psikis serta kesiapan mental dari pasien. Walaupun, kita memang berniat mengambil sampel kecil jaringan dari plasenta melalui leher rahim secara diam-diam. Namun begitu, tes ini berisiko menyebabkan, nona mengalami keguguran," terang Darwin. Ia berusaha menggunakan kalimat yang mudah agar dapat di mengerti oleh Arka.
__ADS_1
"Apa ada cara yang lain lagi? Bukankah tekhnologi kalian sangat hebat dan lebih canggih dari rumah sakit ternama sekalipun," sanggah Arka. Ia tetap menekan agar Darwin menemukan solusi yang tidak menyakiti keduanya.
Dokter yang mengenakan kacamata ini, terlihat menggosok hidungnya perlahan. Dia nampak sedang mencari atau merangkai kalimat yang bisa atau mudah dimengerti oleh pemimpin baru organisasi mereka ini.
"Ada, namanya. Amniosentesis. Cara ini dilakukan dengan cara mengambil sampel cairan ketuban melalui jarum yang dimasukkan ke dalam perut nona Anjali. Namun, tetap saja. Kedua cara ini memiliki resiko yang sama besar. Kita, harus memikirkannya secara baik-baik ," jelas Darwin kemudian.
"Itu sama saja menunggu hingga waktunya Anjali melahirkan. Itu adalah waktu yang sangat lama. Guntur Angkasa tidak boleh hidup selama itu!" Arka terlihat menggebrak meja hingga terbelah menjadi dua.
Darwin yang sempat terkejut kini mulai mengerti. Ternyata serum penyempurnaan sel yang ia masukkan ke dalam tubuh Arka sudah mulai bekerja dan menyatu dengan sempurna dengan sel-sel Arka yang lainnya. Profesor Nagara memang sangat hebat. Hampir semua serum ciptaannya hanya memiliki sedikit efek samping. Mungkin, dengan perubahan sel genetik di dalam tubuh Arka maka, pria ini akan mengalami sedikit kenaikan emosi yang mungkin sulit dikendalikan.
"Hei! Bagiamana bisa--" Arka masih tak percaya. Ia menoleh ke arah sang dokter yang hanya tersenyum melihat kejadian ini.
"Dokter. Ku harap kau segera menjelaskan tentang hal ini padaku!" titah Arka.
__ADS_1
"Semua ini adalah berkat serum yang diberikan oleh profesor negara ke dalam tulang sumsum anda. Sehingga, Anda bukan saja mengalami kesembuhan yang lebih cepat atau regenerasi sel. Akan tetapi ada juga memiliki kekuatan yang berasal dari massa otot lebih besar dari sebelumnya. Lihatlah, dan perhatikan keadaan fisik anda sekarang. Apa Tuan tidak menyadari jika, keadaan tubuh anda semakin memukau?" ucap Darwin.
Mendengar penjelasan dan penuturan darinya. Arka langsung membuka pakaiannya dan berlari menuju cermin. Kembali, kedua bola matanya itu membesar. Arka tak percaya, dengan apa yang ia saksikan pada seluruh bagian otot tubuhnya.
"Bagian itu, apa dia juga membesar?" gumam Arka. Namun, ia segera memukul sendiri kepalanya.
"Pantas saja, Bimo dan Roni mengatakan bahwa tubuhku semakin atletis," gumamnya lagi.
"Saya sudah menemukan cara. Tunggu, dua pekan lagi. Maka kita dapat mengambil sampel dari janin tersebut." Tiba-tiba sebuah suara yang tegas namun lembut terdengar di belakang tubuh Arka.
"Siapa kau?"
...Bersambung...
__ADS_1