
"Yo ndak gitu. Pikirkan jga masa depanmu. Usiamu wis mateng." Warti menyayangkan sikap Arka yang terlalu memanjakannya dan juga putra bungsunya. Sampai, Arka tidak memikirkan kebutuhannya.
Menanggapi nasihat si mbok, Arka hanya bisa tersenyum. Merekalah yang membuat ia bertahan di kota besar ini. Jika mampu, Arka sudah memboyong ibu dan adiknya itu ke kota.
"Mbok, Arka sudah kirim uang. Sudah aku lebihin tiga kali lipat dari beberapa bulan yang lalu. Jadi, si Mbok gak boleh lagi ke sawah ya. Kalo si Mbok bosen, bisa berkebun saja di halaman belakang rumah. Pokoknya, aku gak mau denger si Mbok kecapean apalagi sakit, Yo." Arka berpesan penuh penekanan, yang mana hal itu lantas membuat wanita tua berkebaya usang tengah tersenyum sambil mengusap pipinya yang tirus. Sementara suami Warto telah tiada semenjak Arka berusia sepuluh tahun. Karena itulah Arka tidak lulus sekolah. Ia sudah bekerja keras dan kasar bagai kuli sejak remaja.
"Iyo, Le. Si Mbok paham. Tadi pagi, Acil sudah membeli beberapa bibit kangkung dan cabai. Si Mbok juga mau pelihara ikan, biar nanti adikmu yang urus. Oh iya, uang yang nanti kau kirim boleh kan si mbok pakai untuk membetulkan dinding dapur. Jebol e, curut karo codot iso mlebu." Lagi-lagi, Arka tertawa kecil menanggapi ocehan dari wanita yang sudah hampir setahun tidak ia temui ini. Karena, Arka akan pulang satu tahun sekali.
"Ya, sudah nanti Arka tambah lagi kalau dapat komisi nanti. Pokoknya, Si Mbok gak usah bilang sama Mbak Sari. Biar Arka saja yang menanggung semuanya."
Sari Adriyani, adakah kakak angkat Arka yang ikut suaminya ke luar pulau. Dimana sang kakak ipar memiliki beberapa tambak udang serta ikan tenggiri. Akan tetapi, sang kakak tidak pernah sekalipun mengirim untuk membiayai orang tua mereka yang tinggal bersama adik beda ayah di desa kecil. Sementara suami kedua si mbok meninggal sejak Acil masih di dalam kandungan. Sementara, Arka, sampai detik ini tidak pernah tau siapa orang tua kandungnya.
Mbok Warti menemukannya ketika dirinya tengah mengantar bekal makan siang bagi suaminya, Karto kala itu. Di balik, tumpukan padi kering, sosok bayi mungil menggeliat karena dikerubungi semut.
Setelah puas menelepon, Arka bersiap untuk membersihkan dirinya. Kemudian pria bertubuh tinggi tegap itu membaringkan tubuh lelahnya ke kasur busa yang ia letakkan di atas lantai tanpa dipan.
"Seandainya, Anjali punya ponsel? Kita pasti bisa mengobrol lewat chat. Apa, aku belikan saja ya? Tapi, gaji tinggal berapa? Mbok juga minta tambahan." Arka menggaruk kepalanya.
"Tapi, apa Guntur tidak akan mengamuk kalau tau, Anja punya ponsel ya." Arka asik bergumam sendirian hingga tanpa ia sadari jika kedua matanya telah terpejam sempurna. Arka telah tertidur dalam lelap dan menyambut mimpinya yang sempat pupus di dunia nyata.
Sementara, nasib wanita yang sedang ia mimpikan dalam tidur ini tengah mengalami pelecehan dari suaminya sendiri.
__ADS_1
"Jangan di sini, Mas. Ini bukanlah tempatnya ...," lirih Anja yang berusaha menolak permainan menyimpang dari suaminya sendiri.
"Heh! Perempuan sampah! Sebaiknya kau menurut saja. Pacar ku saja tidak menolak!" Kau bilang aku ini suamimu kan. Kenapa kau tidak mau?" Guntur tak peduli penolakan dari Anja. Ia menarik rambut belakang Anja hingga kepala istrinya itu mendongak dan ia bebas melakukan apa yang ia inginkan.
Hingga, benihnya meledak pada tempat yang tidak seharusnya, dan Anja tersedak hingga berakhir muntah.
"Good, girl." Guntur meninggalkan Anja yang tanpa busana dengan keadaan lemas lantaran ia telah mengeluarkan isi dalam perutnya.
Semua lantaran perbuatan Guntur yang memaksanya menelan cairan yang tidak seharusnya ia telan.
Menjijikkan.
Kenapa, suaminya itu senang sekali menyiksanya. Guntur suka berfantasi seksual aneh-aneh. Tapi, malam ini adalah pengalaman yang paling menjijikkan dalam hidup Anjali. Ia tak habis pikir, bagaimana wanita yang Guntur sebut pacar rela dan mau melakukan hal itu demi suaminya. Bahkan, dirinya yang notabene istri saja merasa geli dan mual.
"Kau keterlaluan, Mas. Kau benar-tidaknya tidak punya perasaan. Kau sama sekali tidak memikirkan keadaan ku. Susah payah aku makan demi memberi gizi untuk calon bayi kita. Tapi, akibat perbuatanmu telah menjadikan semua itu seakan sia-sia saja. Perutku lapar lagi, tapi apa yang harus ku makan saat ini." Anja meringis di atas tempat tidurnya. Untung saja, Guntur jika sudah tidur pulas maka tidak akan terbangun karena apapun. Baru malam ini pria itu tertidur dikamar Anja.
Guntur sama sekali tak peduli. Meskipun, itu tangisan menyayat yang keluar dari bibir seksi milik Anja.
Diam-diam, Anja kembali mengeluarkan susu dalam kotak yang ia simpan di lemari bajunya. Baru saja ingin menuang air, Anja melihat bayangan tinggi besar berdiri di belakang tubuhnya.
"Mas Gun–tur." Anja merasa seolah tercekik udara. Ia bahkan tak berani berbalik dan mendiamkan ujung gelas itu, berhenti di depan bibirnya.
__ADS_1
Guntur melayangkan tangannya dengan begitu cepat ke depan wajah Anja. Dan ...
Prakk!
"Astaga, Anja!" Arka seketika bangun dan terduduk dari tidurnya. Ia mengusap wajahnya yang berkeringat dengan kasar. Lalu menghembuskan napas berulang-ulang.
"Kenapa aku terus memikirkan penyiksaan pria berengsek itu. Kenapa aku harus tersiksa dengan bayang-bayang ini! Ku pikir setelah aku merelakan mu. Maka semua akan menjadi mudah. Tapi nyatanya tidak, kesakitan dan kesusahanmu terus menari membayangi langkahku. Apa yang harus aku lakukan? Jika saya aku memiliki uang yang banyak dan juga kekuasaan, sudah pasti aku akan membebaskan mu dari neraka itu." Arka memijat pelipisnya. Kepalanya seketika berat.
Air mata Anja, yang ia lihat sore tadi terus mengusik hatinya. Namun, ia merasa lemah dan tak berdaya. Arka tak memiliki kuasa untuk sekedar menghapus air mata itu. Kesedihan itu. Tak ada lagi keceriaan dan tawa dari Anja yang ia lihat dari keseharian mereka dahulu. Kini, hanya ada raut muram dan durja yang menghias wajah cantik Anja.
Wanita yang hampir ia nikahi dengan modal uang lima belas juta. Dimana uang itu berhasil ia kumpulkan selama empat tahun. Tapi, takdir berkata lain. Anja di nikahkan dengan pria yang berasal dari keluarga kaya. Dulu, ia sempat berpikir jika Anja meninggalkannya demi pria kaya. Setelah Anja menjelaskan semuanya. Arka merasa bersalah. Ia sempat membenci Anjali selama beberapa bulan.
"Aku ingin melihat senyum itu lagi sekali saja. Kenapa sekarang lebih sering kulihat tangis di wajah itu. Anja, aku sangat tersiksa. Apa aku bunuh saja di Guntur sialan itu!" Arka berteriak keras di dalam kamarnya. Hingga beberapa penghuni kos mengetuk pintu dengan kencang.
"Lu gilak ya! Teriak malam-malam!" omel salah satu penghuni kos.
"Maaf, Mbak. Saya lagi nonton Drakor," elak Arka.
"Pantes Gilak!" tetangga penghuni kos itu pun berlalu setelah mengatainya.
...Bersambung ...
__ADS_1