
Keadaan, Anjali telah membaik. Bahkan profesor dan dokter darwin bersorak ketika mereka berhasil menstabilkan keadaan Anjali serta janin yang berada di dalam kandungan nya.
Belum ada yang mengabarkan hal ini pada Arka atau mereka semua memanggilnya dengan nama Roberto.
Karena Arka kini sedang melakukan video call di sela-sela latihannya bersama Roni dan juga Bimo.
"Nih, Mbok. Aku lagi sama Roni dan Bimo juga. Mereka juga baru aja transfer uang ke orang tua mereka,"ucap Arka tersenyum bahagia ketika ia dapat melihat wajah cerah dan senyum gembira dari wanita yang telah memberikan nyawa dan kesempatan hidup padanya.
Jika saat itu, saat ini keluarga sederhana ini tidak mau mengambil resiko dengan dirinya yang saat itu masih bayi di tengah kesulitan yang mereka hadapi. Arka sangat sadar telah begitu banyak pengorbanan dan perjuangan dari wanita ini untuk dirinya.
Tentu ya tidak mungkin merupakan keluarganya di kampung begitu saja. Ia akan memberikan apapun untuk membuat senyum selalu tercetak di wajah keriput si mbok.
Tak lama kemudian Apollo terlihat menghampiri dengan tergesa. Hingga Arka terpaksa memutuskan hubungan telepon itu.
"Ada apa? Jangan katakan kalau--"
"Pengobatannya berhasil. Nona Anjali dan juga bayinya selamat. Meskipun, keadaannya masih sangat le--"
Arka ternyata tak mendengarkan penjelasan Apollo sampai selesai karena, Arka telah berlari dengan cepat menuju ruangan pengobatan Anjali.
"Haihh, pria bucin selanjutnya. Aku pasti akan di buat pusing oleh kelakuannya yang pasti tak jauh dari tuan Armando." Apokaoy nampak terkekeh kecil.
Roni dan Bimo yang sempat melongok melihat kelakuan Arka, seketika dikagetkan oleh satu suara bariton yang dikeluarkan oleh Apollo.
"Kalian berdua! Kembali latihan!"
__ADS_1
Roni dan Bimo pun serentak berbalik, dan kembali masuk ke dalam arena.
"Buset! Tu orang kayak singa!"
Plak!
Tanpa aba-aba sebuah pukulan mendarat di belakang kepala Bimo.
"Ngapa lua anying! Maen geplak pala orang aja!" Bima pun merayakan protesnya tidak terima. dia memandang Roni dengan kedua mata yang melotot.
"Sengaja gue biar lu sadar. Kalo ngomong jangan sembarangan lu, tembok aja ada kupingnya di sini. Lu mau di tendang keluar dalam keadaan gak bernyawa?" geram Roni. Menurutnya mereka berdua memang harus latihan dengan keras, agar dapat diterima di tempat ini dengan baik. Serta tidak dipandang hanya sebagai benalu saja.
"Oh iya dah, sorry. Apalagi kita bagi aja dapat duit gede ya dari Arka." Bimo terlihat menggaruk rambutnya tanda menyesal.
"Yok latihan lagi! Kita tunjukin sama mereka semua kalau kita itu pantas direkrut sebagai anggota mafia." Bimo dan mengangguk dengan yakin atas kalimat yang diutarakan oleh Roni barusan.
Saat ini, ia hanya meluapkan perasaan bahagia yang teramat sangat. Karena beberapa saat yang lalu ia merasa begitu ketakutan kehilangan wanita yang sangat ia cintai ini.
Anjali yang masih dalam keadaan lemah diam saja diperlakukan seperti itu. Mungkin dia juga merasa senang dan bahagia karena dapat melihat Arka, satu-satunya pria yang ia cintai. Meskipun yang telah berjanji pada dirinya akan mengabdi sepenuhnya kepada Guntur. Namun, suaminya sama sekali tidak ada perubahan dalam sikapnya.
"Bayiku ... apa dia--"
"Baik-baik saja. Kau tenanglah. Aku akan menjaga kalian mulai saat ini." Arka kembali melabuhkan kecupannya pada kening. Tapi, ia belum berani mencium bibir yang pucat itu. Ia harus meminta ijin pada Anjali untuk hal yang satu itu.
Kau sangat baik Mas. Sayangnya, aku takkan pernah bisa membalas kebaikan mu itu.
__ADS_1
__________
"Apa-apaan ini!" Terlihat Guntur membanting laptop hingga membentur dinding hotel.
Bruakk!
Prakkk!
Bunyi nyaring pun terdengar ketika beda dengan harga yang tidak murah itu hancur berantakan hingga berserak di atas lantai berkarpet bulu.
"Mana mungkin! Mana mungkin semua ini terjadi!" Guntur berteriak sembari melempar apapun yang berserak di atas meja.
"Kau ini kenapa, Hon. Apa yang terjadi?" tanya Marissa yang heran melihat Guntur begitu frustrasi.
Jangan bilang kalau kau bangkrut. Karena aku akan langsung meninggalkan mu.
Marissa berkata dalam hati. Merencanakan sesuatu yang tak di sangka sama sekali oleh pria yang baru saja menikmati panasnya peraduan dengannya.
Belum sempat Guntur menjawab pertanyaan dari Marissa, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring.
Seketika kedua bola mata Guntur membola ketika ia melihat video yang dikirim oleh orang yang tidak dikenal. Napasnya memburu. Otaknya yang baru saja mendapat hantaman berita buruk dari perusahaannya. Kini ia kembali menerima berita buruk mengenai kekasihnya.
Wanita yang telah Ia berikan segalanya. Harta, tahta serta cinta. Wanita yang selalu ia percaya kata-katanya. Termasuk ketika Marisa mengatakan bahwa Anjali dan Arka sering bermalam di sebuah motel.
"Marissa! Kau!"
__ADS_1
"Honey! Sakit!"
...Bersambung...