
Arka sontak menoleh dan menatap wajah yang sudah tak lagi pucat itu lekat. Apa ia tidak salah dengar?
"Kau--"
"Hemm. Aku tak ingin. Mas, terbawa dengan masalahku lagi. Melihatmu, masih hidup saja aku sudah senang. Karena, Guntur bilang kalau Mas--" Anjali tidak meneruskan kalimat yang ia ucapkan karena, sesak itu kembali menelan dadanya. Setidaknya, Arka tidak benar-benar mati karenanya.
"Tidak semudah itu. Karena, pria sepertinya tidak akan hidup tenang setelah ini. Dan, jika aku mati maka tidak akan ada lagi yang membelamu. Bukankah aku telah berjanji padaku. Akan selamanya menjadi penjaga untukmu. Kalo ini, dia sudah keterlaluan. Jangan salahkan aku jika kali ini berniat merebutmu darinya." Arka bicara dengan raut wajah keras bak beton.
Tekadnya sudah bulat. Ia takkan sudi lagi kali ini, membiarkan Anjali kembali pada Guntur. Pria itu, hampir saja menghilangkan nyawa wanita yang ia cintai sekaligus calon bayi yang tak bersalah.
"Mas. Kali ini, aku pasti akan merepotkanmu lagi. Tapi, aku janji ini adalah yang terakhir. Bawa aku jauh darinya." Anjali menatap Arka dengan kedua bola mata yang sudah berkaca-kaca. Nampak sekali terlihat dari raut wajah jelita ini. Jika dirinya tengah memendam trauma yang sangat berat. Mungkin, tindak kan bisa hilang atau pupus dalam waktu dekat.
Karena trauma itu tidak bisa di prediksi akan sembuh kapan. Guntur telah memberi luka pada Anjali bukan hanya di fisik saja. Akan tetapi juga di dalam batin serta jiwanya.
"Kau tidak perlu memintanya. Aku juga tidak pernah merasa direpotkan. Sekarang tenanglah. Pria berengsek itu tidak mampu menyentuhmu lagi. Meskipun, hanya seujung kuku." Arka mengelus kepala Anjali dengan sayang. Bahkan tatapannya begitu hangat.
Mas, kenapa aku begitu beruntung. Mendapatkan cinta dan pengertian sebesar ini darimu. Kau bahkan tidak pernah membenciku sama sekali. Terbuat dari apa hatimu itu?
__ADS_1
Anjali mengulurkan tangan ke atas hendak mengusap air mata yang luruh ke pipinya. Namun, Arka telah lebih dahulu mengusap lembut menggunakan bibirnya.
Seketika, Anjali merasa desiran kuat masuk menjalar lewat pembuluh darahnya. Hatinya merasa tenang dan nyaman. Ia seketika merasakan kehangatan itu menelusup kedalam dada. Kasih sayang Arka begitu tulus. Hingga perlakuan pria itu sama sekali tidak mendapatkan penolakan dari Anjali. Sebab, wanita itu tau jika perasaan Arka tulus padanya.
"Tenanglah, jalani proses pengobatan mu dengan rileks. Saat Ini kau tak perlu memikirkan apapun lagi. Bukan hanya aku yang akan melindungimu. Tapi, organisasi ini. Secara tak langsung, kau dan juga anakmu adalah anggota klan Louis yang perkasa dan di segani," tutur Arka membuat Anjali pertama kalinya mengulas senyum penuh kelegaan. Sehingga, pria itu meneteskan kristal bening, karena hatinya saat ini penuh haru.
Buru-buru, Arka mengusapnya. Ia tak ingin Anjali atau siapapun menyadarinya. Betapa, cintanya pada wanita itu bahkan melebihi apapun.
____________
"Sampai kapan aku harus bersembunyi di tempat ini!" Seorang pria dengan brewok di sekitar rahangnya berteriak marah.
"Sial! Aku benar-benar sial!"
"Bagaimana bisa hal ini terjadi padaku!" Guntur memberi remasan keras dan kuat pada kepalanya. Penampilannya macam gembel. Perusahaannya hancur dan telah di lelang sebagai ganti rugi terhadap hutangnya ke lebih dari seratus ribu karyawan.
Keluarganya juga telah habis. Karena Arka menggunakan perantara orang lain untuk menghabisi keluarga Angkasa. Mereka pantas dimusnahkan setelah perlakuannya selama ini terhadap Anjali.
__ADS_1
Hingga, wanita itu sempat tak ingin berbicara selama beberapa hari. Psikolog hebat yang segera di datangkan oleh Darwin dari luar negeri segera menangani. Jika tidak mungkin aja ya sudah menghabisi dirinya sendiri.
Guntur meluruhkan raganya yang mabuk ke atas sofa lusuh. Pria itu terus meracau tak henti. Mengucapkan apa saja, termasuk umpatan maupun makian.
Tak lama, masuk beberapa orang tak di kenal. Mereka menyeretnya ke sebuah tempat. Menyiramnya dengan air sungai hingga kesadaran itu perlahan menghampiri Guntur.
"Kau sangat menyedihkan!" Kedua mata Guntur terbelalak ketika ia melihat siapa sosok yang berdiri dengan tegak di hadapannya.
"Lepaskan ikatannya. Aku ingin melihatnya mengamuk setelah tahu kenyataan yang selalu ia sangkal." Arka pun memberi titah kepada beberapa anak buahnya.
"Kau!" Guntur yang telah terbebas dari ikatan segera menerjang tubuh Arka dan berniat mencengkram lehernya.
Akan tetapi dengan cepat serta kuat Arga mendorong tubuh lemah Guntur hingga pria itu terjengkang ke atas tanah.
"Jangan menyentuhku dengan tangan kotormu itu! Lihat ini sebelum kau pergi ke alam baka!" Arka melempar bukti tes DNA.
Kedua mata Guntur sontak membola dan bahkan hampir keluar dari cangkangnya. Keningnya berkerut tak habis pikir, bahkan kemungkinan besar sulit untuk mempercayai kenyataan yang berserak dihadapannya saat ini.
__ADS_1
...Bersambung...