
Nampaklah, sosok yang selama ini membuat seluruh tubuh Anja gemetar dan bergetar. Bergetar karena rasa takut dan juga sedikit rasa rindu. Rindu ingin diperlakukan dengan baik, dengan lembut dan penuh kasih sayang. Rindu ingin kehadirannya dianggap dan diperhatikan bagaimana keadaannya hari ini.
Hanya itu yang Anja inginkan di masa kehamilannya ini. Di beri sedikit cinta agar ia dapat menjalani kehamilannya dengan sedikit kebahagiaan dan rasa tenang.
"Siapkan air hangat untukku!" Guntur memberi perintah seraya melempar jas dan juga pakaian kotornya ke depan muka Anja. Kekesalan terhadap Arka ia tumpahkan pada istrinya. Entah kenapa, setiap melihat Anja maka ia akan mengingat Arka dan segala kebenciannya terhadap pria itu ia tumpahkan pada Anja.
Namun, Anja mulai terbiasa dengan segala sikap Guntur padanya. Ia berharap jika suatu saat pria yang menjadi suaminya ini bisa berubah.
Wanita berhidung mancung itu pun segera turun. Tak ingat jika dirinya tengah hamil. Anja bergerak begitu cepat dan lincah. Mempersiapkan air hangat untuk mandi suaminya serta memasukkan pakaian kotor Guntur ke dalam keranjang jerami. Membuka sepatu di kedua kaki, Guntur yang tengah meluruskan leher di atas ranjaang. Hal seperti ini, selalu Anja lakukan setiap Guntur pulang.
Melayani pria garang bin kasar itu sebagaimana seharusnya. Seluruh perhatian dan bakti ia curahkan tetap saja tanggapan dari pria bertubuh tinggi kekar ini tak sedikitpun berubah padanya. Anja hanyalah pelayan pribadi dan pemuas napsu saja bagi Guntur saat ini.
"Tumben pulangnya masih sore, Bang. Aku juga baru aja naik dari lantai bawah. Mama minta di masakan banyak menu," ucapnya memulai pembicaraan dengan Guntur agar suasana tidak terlalu sepi.
"Itukan sudah tugasmu, tak perlu kau melapor padaku. Aku tidak akan pernah peduli. Ingat! Kau itu hanya pelayan di rumah ini, juga di kamarku!" Sontak kata-kata, Guntur barusan membuka status sebenarnya Anja di rumah ini. Sekuat apapun wanita cantik nan polos itu berusaha, posisinya di rumah ini tidak akan pernah berubah.
Entah sampai kapan ia akan dianggap hanya seonggok benda yang tak berharga. Bahkan, Anja merasa jika nasibnya ini lebih hina daripada sampah. Anja buru-buru bangun untuk meletakkan sepatu Guntur pada tempatnya. Seraya, mengangkat punggung tangannya, demi menyeka air mata yang seketika mengalir deras di kedua pipinya.
Keinginannya sungguh tidaklah muluk-muluk. Anja hanya ingin keluarga ini, terutama Guntur menerima kehadiran dirinya sebagai manusia. Bukan, benda tak berharga yang seakan tak memiliki perasaan.
Anja menahan sesak itu sekali lagi. Sebab, ini bukan pertama kalinya Guntur mengatakan hal itu padanya. Pria itu, yang tertulis jelas di buku nikah adalah suaminya. Namun, tak pernah sekalipun bertindak sebagaimana seharusnya sikap seorang suami kepada istrinya.
Terlepas dari pernikahan paksa ini yang terjadi di atas perjanjian pelunasan hutang. Anja, ingin sedikit saja mendapat perlakuan yang semestinya. Setidaknya, ia ingin dimanusiakan sekali saja.
__ADS_1
Anja memikirkan nasib yang berada di dalam kandungannya ini. Semenjak ia diketahui hamil tak pernah sekalipun ia merasakan kebahagiaan. Pernah sekali, ketika Arka membuatnya tertawa kala itu. "Kalau begini terus, bagaimana nanti mental bayiku. Aku ingin hamil dalam keadaan serta perasaan yang bahagia dan tenang. Apakah itu permintaan yang sulit," gumam Anja seraya menekan dadanya kuat-kuat.
Brakk!
Guntur mereka pintu kamar mandi sampai membentur dinding. Hingga, Anja terlonjak kaget.
"Lelet banget sih kerjaan kamu! Aku itu udah lelah seharian bekerja. Bisa tidak melayani suami dengan baik, hah!" Guntur seketika menepis tubuh Anja yang berada dekat bath up. Padahal, ia tengah menuang sabun cair ke dalamnya.
Bugh!
Bahu, Anja membentur kran shower. Hingga, wanita hamil itu terlihat mengaduh kecil. Bukan bahu yang ia usap melainkan perut. Anja tau jika ia kaget maka calon bayinya pun akan merasakan hal yang sama.
"Mau kemana! Kau harus menggosok punggungku!"
Anja kembali terkesiap. Ia tak mau kejadian pekan lalu terulang lagi. Dimana dirinya harus memandikan, Guntur dengan keadaan yang juga tanpa pakaian.
___________________________
Arka, pria bermata teduh ini tengah melihat kearah kalender yang terpaku di dinding.
"Hemm, besok ternyata jadwal Anjali periksa ke puskesmas. Ku harap, keadaan mereka baik-baik saja." Arka terlihat mengangkat teleponnya setelah jemari lentik pria itu bermain di pencarian kontak.
"Halo, Cil ...!"
__ADS_1
[ Mbok, Mas Arka telepon! ]
Terdengar teriakan kecil di seberang sana, suara anak remaja yang memanggil ibunya lantaran ada telepon dari sang kakak.
"Sebentar, Yo, Mas. Si Mbok lagi di dapur."
Arka tersenyum, mendengar penjelasan dari adik bungsunya itu. Karena sang ibu benar-benar mendengarkan larangannya. Setidaknya ini lebih normal ketimbang ia mengetahui pada jam segini, orangtuanya itu sedang berada di tengah sawah milik tetangga.
Arka membayangkan tangan dan kaki wanita tua yang telah keriput itu tenggelam di lumpur yang kotor. Terbakar di bawah sinar terik matahari hingga kulit sang ibu kering dan busik.
Hati anak mana yang tega membayangkan jika perempuan yang sudah setua itu tapi masih saja bekerja keras. Sementara sang anak di kota memiliki pekerjaan dengan upah yang mampu menanggung biaya hidup sang ibu dan adik selama sebulan. Meskipun, orang tua itu bukanlah ibu kandungnya. Tapi Arka tatap banyak berhutang budi dan harus berbakti padanya.
"Piye kabare, to, Cah Bagus?" tanya Bu Warti yang merupakan ibu angkatnya. Warti jujur ketika Arka menanyakan identitas sebenarnya. Sebab, ia berkulit putih tidak sama dengan Acil, adiknya.
"Sehat. Mbok gimana?" Arka yang telah lama berada di kota melupakan sedikit bahasa daerahnya. Walaupun begitu ia masih memahami ketika wanita yang telah membesarkannya itu berbicara.
Arka sudah terbawa bahasa pergaulan kawan-kawannya di kota besar. Lagipula, wajah arka jika di perhatikan memang tak pantas jika berasal dari desa kecil terpencil. Jika di poles dan berdandan sedikit rapi, maka Arka dapat dengan mudah berbaur dengan para eksekutif muda yang suka berkumpul di klab tak jauh dari komplek pertokoan yang dekat dengan showroom kendaraan beroda dua tempat ia bekerja sekarang.
"Syukurlah, Mbok lagi masak buat Acil. Adikmu minta urap telo," ucap Si Mbok yang membuat Arka mendadak terkekeh. Adiknya itu, ia sudah mengirimkan Frozen food dari sini. Tapi, yang suka dimakan tetap saja ketela rambat itu.
"Lidahmu, Cil. Ora iso jadi wong kota!" ledek Arka menertawakan kebiasaan Acil yang hanya suka pada makanan kampung. Meskipun, ia telah mengirimkan beberapa camilan kemasan.
"Kamu jangan ngirim makanan terus kesini, Le. Pikirkan juga untuk dirimu. Kamu harus menabung."
__ADS_1
"Arka kerja kan untuk mencukupi kalian, Mbok. Bukan buat nabung."
...Bersambung ...