
"Kemana dia." Guntur berdecak dan menggerutu Karena sejak tadi ia kehilangan jejak kekasihnya itu. Sementara dirinya mulai sedikit mabuk. Kepalanya pusing dan langkahnya mulai terhuyung.
Ia memang payah kalau di ajak minum. Bahkan, saat itu kawannya juga memasukkan obat kuat ke dalam minumannya. Tentu saja saat ini keadaannya hampir berantakan. Guntur ingin segera melampiaskan apa yang seakan membakar tubuhnya saat ini.
Ada sesuatu yang bergejolak dan harus ia tuntaskan. Seketika ia memikirkan istrinya. Anjali. Namun, sekejap itu juga ia kesal. Wanita itu sedang hamil membuatnya tak terlalu bebas memainkannya sesuka hati. Padahal ia belum cukup luas. Nampaknya ia takkan pernah puas jika bercinta dengan Anjali. Karena itulah, Guntur selalu mencari pelampiasan lain.
Beruntung, Marisa masih tetap si sampingnya meskipun ia telah menikah.
"Mana dia. Ah ... aku sudah tidak kuat lagi. Celanaku bahkan sudah sangat sesak!" Guntur terlihat membekap bagian bawah tubuhnya. Terlihat sekali ia tersiksa sambil berjalan terhuyung mencari jalan keluar dari ballroom hotel.
"Guntur. Pasti dia mencariku. Ah, aku pasti bisa menjinakkannya seperti biasa." Marisa bergumam kala ia melihat penampakan kekasihnya itu berjalan di koridor dengan keadaan mabuk.
"Honey ...!" panggil Marisa seraya menghampiri dan kemudian memeluk Guntur dari samping. "Apa kau mabuk?"
"Hei, kau kemana saja!" Guntur hendak marah. Tapi melihat penampilan dari Marisa yang menggoda, bahkan wajahnya yang polos membuat amarah Guntur berubah menjadi birahi.
Apalagi, bagian atas tubuh Marisa seperti hampir loncat keluar. Besar, padat dan berkilau. Guntur sampai menelan air liurnya susah. Ia ingin langsung segera menenggelamkan wajahnya di sana. Bagus saja, Marisa telah menutupi stempel yang di buat oleh Samba dengan foundation.
"Aku antar kau ke apartemen. Keadaanmu sangat payah," ucap Marisa berdecak. Kenapa kekasihnya ini sangat bodoh. Sudah tak bisa minum masih saja sok mabuk-mabukan. Sehingga dirinya lah yang selalu direpotkan.
Ketika keduanya baru sampai di parkiran. Guntur menarik wajah Marisa dan melahapnya dengan rakus. Bahkan tanpa aba-aba ia langsung menurunkan gaun bagian atas Marisa.
"Honey, kau tak sabaran sekali sih!" Marisa mendorong kepala Guntur dan kembali menaikkan gaunnya. Hampir saja ia setengah telanjang di jalanan karena ulah kekasihnya yang hyper ini.
"Sayang, aku tak tahan lagi. Mereka memberiku obat kuat. Aku ingin meledak! Cepat bantu aku!" pinta Guntur tanpa mau ditolak.
__ADS_1
"Ya sudah, tahan sampai kita menemukan hotel di sekitar sini. " Marisa pun hendak masuk ke dalam mobil. Namun, Guntur justru membuka pintu kursi belakang dan mendorong agar Marisa masuk kedalam. Hingga kekasihnya itu terjengkang di atas sofa mobil.
"Kau ini apa-apaan, Honey!" Marisa terlihat marah dan kesal. Karena perlakuan kasar Guntur padanya. Semalam ini pria itu tak pernah sekalipun kasar. Padahal Guntur sering melakukan hal di luar batas pada Anjali. Tapi dirinya selalu lembut pada Marisa.
"Maafkan aku, sayang. Kau harus memuaskan ku sekarang juga. Atau aku akan memaksamu melakukan itu." Guntur berkata sambil membuka pakaian bawahnya satu persatu. Ia tak peduli mereka ada dimana saat ini.
Meskipun lampu didalam mobil menyala, tapi nampak dari luar mobil ini gelap. Sehingga tak akan ada yang dapat melihat apa yang sedang terjadi di dalam kendaraan mewah ini.
Guntur kaget karena, Marisa tidak menggunakan penutup segitiga. Ia pun memicing penuh tanya, padahal dirinya telah siap untuk memasuki Marisa.
"Ah, tadi basah saat aku pipis di toilet. Jadi aku buka saja. Dan aku buang di tempat sampah. Kau tau kan, Honey ... aku tak mungkin menggunakan yang sudah kotor." Marisa berusaha berkilah, padahal tadi Samba telah merobeknya.
'Sial! Semoga Guntur yang bodoh ini percaya alasanku.' batin Marisa was-was.
"Oh, Honey!" Marisa berteriak karena Guntur melakukannya dengan kasar. Bahkan ukurannya semakin besar karena obat yang ia minum.
"Gila mereka, obat itu kuat sekali!" Guntur belum juga selesai menumpahkan hasratnya.
Terlihat mobil BMW berwarna hitam metalik itu bergoyang halus. Karena di dalamnya ada sepasang mahluk tak bermoral yang bercinta tak tau tempat.
"Pelan sedikit! Kau menyakitiku, Honey!"
"Akhh ...!" pekik Marisa kencang hingga Guntur membekap mulutnya. Ia tak mau perbuatan mereka di ketahui orang lain. Guntur terus menghentak begitu ganas.
Posisi mereka sungguh ekstrim, karena kini Guntur telah membalik Marisa, ia tak ingin berhadapan. Agar bebas membayangkan wajah wanita yang baru saja berkelebat dalam kepalanya.
__ADS_1
'Sial! Aku menginginkan Anjali. Milik Marisa kurang nikmat.' gerutu Guntur dalam hati. Karena sejak tadi ia belum juga keluar. Entah kenapa malam ini kekasihnya tak mampu membuatnya puas.
"Diam lah!"
"Aku belum selesai!" Guntur terus menghujam dan melakukan apa yang ia mau sesukanya.
"Kita bisa melanjutkannya di hotel, Honey. Di sini sempit, ughh ...!" keluh Marisa. Ia masih berusaha membujuk Guntur. Akan tetapi pria itu seakan tuli. Marisa lupa bila kekasihnya itu sedang ingin, maka tak boleh di tolak di mana pun jadilah.
"Ehhmmm!"
"Arrghh. Anjali ...!" Guntur memekik tertahan, meneriakkan nama istrinya. Ketika ia memuntahkan lahar panasnya kedalam rahim wanita lain. Dasar gila!
Dengan kasar ia mencabut pusaka nya, membersihkannya dengan tissue, lalu kembali mengenakan celana panjangnya.
"Rapikan diri mu," ucap Guntur datar. Bahkan ia hanya melihat sekilas kearah Marisa yang sudah sangat berantakan.
Guntur segera beralih kembali ke depan kemudi kemudian menyalakan mesin mobil.
'Sialan! Apa-apaan dia! Memperlakukanku dengan kasar dan seenaknya, menyebut nama wanita sialan itu pulak! Bahkan beraninya kau tidak menatap ketika berbicara denganku!' Marisa teramat kesal. Namun ia hanya bisa menahan geram dalam hatinya. Jari-jari lentik itu mencengkeram ujung gaun mahalnya.
Ekor matanya melirik Seno yang tengah mengetik sesuatu pada ponselnya, padahal mesin mobil sudah menyala sejak tadi.
'Bisa-bisanya dia mengingat wanita sialan itu. Perempuan kampungan yang katanya dia benci. Berengsek! Kau tidak bisa menyamakan ku dengan dia, Guntur! Awas saja! Awas kalian berdua!'
...Bersambung ...
__ADS_1