
Hari itu. Roni meninggalkan pekerjaannya di bengkel. Sementara Bimo juga pamit pada bos ciloknya. Mereka berdua sepakat untuk merubah nasib dengan mengikuti Arka. Apalagi mereka berdua penasaran, siapa yang telah membuat kawan mereka menjadi seperti sekarang. Arka seperti seorang sultan. Bahkan, memiliki pengawal yabg keren.
Entah apa yang akan terjadi jika keduanya tau kenyataan. Bahwa, sahabat kental mereka ini adalah keturunan dari mafia. Dan, pada saat ini tampil kepemimpinan akan segera berpindah ke tangannya.
Penampakan Arka yang sekarang saja sudah mampu membuat mereka terbelalak. Apalagi jika mengetahui yang sebenarnya. Mungkin, bola mata kedua pemuda ini akan loncat dari sarangnya.
"Lu berdua. Udah sepakat masuk kedalam dunia gue. Jadi, apapun yang nanti bakal lu liat, simpan sendiri. Gue harap kalian udah bulet. Karena, kalo udah masuk nanti, lu berdua bak bakal bisa keluar lagi. Bisa sih, tapi sebagai mayat!" jelas Arka tegas. Membuat Roni dan Bimo menelan ludah mereka kasar. Bahkan, Bimo terlihat buru-buru menenggak minumannya.
"Ngapa lu, Bim? Takut?" tebak Roni. Arka hanya menyimak. Ia tak ingin menjerumuskan kedua kawannya. Justru ingin mengajak mereka pada kehidupan yang lebih baik. Selama ini mereka bertiga sudah kenyang di hina dan dipandang rendah oleh orang lain.
"Eng–gak! Siapa yang takut! Jadi pembunuh bayaran juga gue Mao! Apalagi ini, palingan juga Mafia. Iya kan, Ar?" tebak Bimo asal.
"Cakep tebakan lu! Belom gua ceritain aja lu udah tau," ucap Arka, seraya menyeringai puas lada kawannya ini.
Mereka kini berada di tempat tongkrongan biasa. Alias base camp. Sebuah bangunan tua yang pernah terbakar. Mereka menggunakan lampu elektrik sebagai penerang. Sementara, Apollo hanya memantau dari luar bangunan.
"Anjirr! Lu serius Bro!" kaget keduanya serempak.
"Hemm ... kenapa? Lu berdua mau mundur? Mau balik lagi kerja rendahan kayak gitu?" cecar Arka menekan sisi keraguan mereka berdua. Namun, sesuai dugaan. Roni dan Bimo tak gentar.
"Siapa bilang mau mundur. Kesempatan keren kayak gini, kagak bakalan dateng dua kali!" seru Roni. Ia berdiri dan memukul dadanya pelan. Membuat Bimo terkekeh geli melihat ulahnya.
"Kita pokoknya ikutan aja kemana elu pergi, Ar. Lu pasti kagak bakal ninggalin kita. Lu emang sobat terbaik!" seru Bimo. Mereka pun melakukan tos persahabatan.
"Sebagai tugas pertama, lu berdua harus bantuin gue buat balas segala perlakuan Guntur dan keluarganya sama Anja!" ucap Arka penuh penekanan.
__ADS_1
"Kita setuju, Bro. Lu emang harus ngeluarin Anja dari rumah neraka itu."
"Betul, Bro. Gua malah takut lama-lama, Anja kena masalah kejiwaan. Karena bukan cuma fisiknya aja yang di siksa melainkan batinnya juga. Emang, gila aja tuh emak tiri! Sekarang dia enak-enakan main sama berondong!" tukas Bimo. Mengutarakan satu kenyataan yang baru Arka tau.
"Apa lu bilang? Ibu tiri Anja, main sama berondong? Duit darimana dia? Bukannya mereka terlihat hutang sampe Anja yang jadi jaminannya." Arka terus mencecar Bimo hingga ia mengetahui sebuah kenyataan baru yang membuat kedua rahangnya bergemeletak menahan emosi.
"Manusia sampah! Dia gak berhak dapet cinta dan kasih sayang segitu besar dari Anja! Anjirr, Anja gue ... dia Anja gue! Harusnya kita udah bahagia sekarang. Tapi, nenek sihir itu udah ngancurin semuanya. Dia– "
"Arrghh!"
Arka menendang meja kayu yang sudah reyot hingga hancur berantakan. Ia juga memukuli dinding rapuh itu hingga berlubang dan runtuh. Bimo dan Roni berusaha menegakkan Arka yang terbakar emosi. Hingga, Apollo ikut masuk dan mencekal pergelangan Arka.
Buku-buku jarinya telah mengeluarkan cairan merah berbau anyir. Dada Arka terlihat turun naik menahan amarah yang masih mendidih. Sorot matanya tajam bagaikan ujung mata pedang yang menghunus.
Barulah, Arka terlihat mengendurkan urat lehernya yang barusan tegang. Ucapan Apollo memang benar. Ia tidak boleh terbakar emosi yang justru akan merugikan dirinya sendiri.
"Kau benar Apollo. Saat Ini diriku memiliki kekuatan dan juga kekuasaan. Tidak seharusnya aku lemah begini." Arka menatap Apollo lekat. Ia bersyukur pengawalnya ini cekatan memberi peringatan padanya. Ah, dirinya bodoh. Karena belum menyadari kekuatannya saat ini.
"Aku akan menghabisi mereka. Semua yang telah menyakiti Anjali-ku!" seru Arka dengan suara lantang.
Apollo tersenyum tipis, ia yakin cepat atau lambat jiwa petarung yang kuat itu akan keluar dengan sendirinya. Terbukti, selama ini Arka memiliki mental yang kuat. Hingga ia bisa menghidupi dirinya di kota besar. Padahal ia tak memiliki basic ilmu akademik tinggi. Sebab, orang tua yang merawatnya hanyalah petani miskin di desa terpencil.
"Apa yang akan anda lakukan sekarang?" tanya Apollo sekaligus menantang nyali dari penerus klan Louis ini. Dimana ia telah mengabdi selama belasan tahun. Semenjak remaja, Apollo telah digembleng kelompok ini. Kakek Louis adalah orang yang paling berjasa padanya. Keturunan ketiga dari klan Louis itu, telah mengangkatnya dari gelandangan menjadi seorang manusia memiliki martabat serta kekuatannya.
Sebab itulah, tak ada alasan baginya untuk berhenti mengabdi pada keluarga ini.
__ADS_1
"Membebaskan Anjali. Aku akan menemuinya terlebih dulu. Sebelum mengambilnya dari keluarga itu."Arka bicara sambil menahan geram. Terbukti dari rahangnya yang rapat dengan kedua telapak tangan yang mengepal di samping tubuhnya.
"Wanita itu tidak akan bisa keluar. Kecuali anda yang masuk kedalam," terang Apollo membuat Arka menyeringai. Kemudian ia menoleh ke arah dua kawannya.
"Lu berdua, ikut gue!" ajakan Arka langsung diangguki penuh keyakinan oleh keduanya.
Kini, ketika jarum jam menunjukkan angka tiga dini hari, Arka yang mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan penutup wajah berwarna gelap. Tengah memanjat dinding yang langsung berhubungan dengan kamar Anja.
Ia lebih dulu memastikan jika Guntur tidak ada di rumah itu malam ini. Karena mereka menyaksikan langsung jika pria itu keluar dari rumah beberapa menit yang lalu. Sehingga Arka yakin jika ajari saat ini belum lagi tidur. Justru bayangan jelek terus berkelebat di kepalanya. Bayangan akan siksaan yang kau berikan kepada wanita yang sangat ia cintai itu.
Baginya, tidak ada satu orang pun yang pantas dan berhak melepaskan pukulan hingga menyentuh kulit lembut Anjali. Membayangkan siksaan demi siksaan yang diterima oleh wanita itu hampir membuat Arka gila setiap malam.
Namun, itu ia hanya bisa menangisi nasibnya. Terpekur tanpa bisa melakukan apapun. Kini, tidak lagi! Jangan harap, orang yang telah menyakiti Anjali bisa bernafas besok pagi.
Arka berhasil membuka jendela kaca. Melihat kamar Anjali gelap, Arka pun menggunakan kacamata khusus. Sehingga yakin dapat melihat di dalam kegelapan. Pada saat itulah tatapannya menangkap, sebuah gerakan lambat. Arka pun mencari tombol yang bisa menyalakan lampu.
Ketemu. Arka langsung menekan tombol itu, kemudian ...
"Astaga! Anjali!"
"Ar–ka ...,"
"Apa dia yang melakukannya? Oh Anjali ... aku tidak akan membiarkannya hidup tenang!" Arka merengkuh raga lemah Anjali sambil bergetar menahan tangis. Tangannya sampai bergetar melihat darah berkubang.
...Bersambung...
__ADS_1