Mafia Perebut Istri Orang

Mafia Perebut Istri Orang
Bab. 25. Merekrut Dua Kawan Sejati.


__ADS_3

Arka menyeringai kala ia di tatap sebegitu serius oleh kedua temannya ini. Arka tau pasti mereka berdua saat ini sedang merasa sangat sangat penasaran padanya. Bagaimana tidak, harga yang setahu mereka selama ini adalah pria biasa saja. Bahkan bisa dibilang cowok pas-pasan yang jarang berpenampilan keren.


Karena mereka bertiga sudah bersahabat sejak lama. Sehingga Roni dan Bimo tau bagaimana susahnya keadaan Arka. Unyuk membeli pakaian saja pasti mereka bertiga akan mencari toko yang menjual pakaian bekas impor. Karena dengan begitu mereka akan mendapatkan beberapa potong pakaian berikut harga yang murah.


"Nungguin ya!"


"Sialan!"


Arka pun tergelak melihat aura kesal dari kedua kawannya itu. Setidaknya ia mendapat hiburan dari keadaan ini. Arka kemudahan menjelaskan apa yang terjadi malam itu setelah ia menghabiskan gelak tawanya. Sontak, Roni dan Bimo pun membulatkan kedua mata dan juga membuka mulut mereka lebar. Saking kagetnya.


"Harusnya lu udah mati. Tapi ini--" Roni bingung. Ia bahkan tidak melihat bekas luka di tubuh Arka.


"Mana ada bekas lu di gebukin, Bro? Badannya lu aja seger gini, muka lu malah jadi glowing. Baju lu bagus. Apalagi nih motor. Buseeeettt!" Bimo berkali-kali menggelengkan kepalanya sambil berdecak. Begitupun dengan Roni.


Pria itu sejak tadi sudah asik mengelus dan mengusap body motor ninja milik Arka. Motor yang biasa dibuat balapan oleh anak-anak orang kaya.


"Lu udah kayak pemain sinetron Boy anak jalanan, Bro! Keren!" Roni menepuk keras bahu Arka membuat kawannya itu mendorong kepalanya. Karena memang begitu kebiasaan mereka. Tak ada satupun yang marah atau kesal.


"Sekarang lu bilang sama kita kita, dari mana lu dapetin ini barang keren? Jangan bilang kalo lu abis menang slot?" cecar Roni dengan tatapan menyorot tajam. Arka pun terkekeh di buatnya.


"Eh, Bro! Jadi bener, lu main begituan di belakang kita?" Kini giliran Bimo yang mendesak Arka agar menjawab kerisauan mereka. Karena selama ini mereka bertiga sepakat untuk tidak ada yang ikut-ikutan tren judi slot. Ternyata hari ini mereka menemukan keadaan Arka yang berubah tiga ratus enam puluh derajat.


"Gue mana main gituan. Kan kita udah sepakat!" kilah Arka. Namun, Roni dan Bimo masih menatapnya tak percaya.

__ADS_1


"Kalo bukan karena gituan, terus elu kemaren pergi kemana? Tau-tau nongol udah jadi kayak anak konglomerat gini. Cepetan lu cerita!" desak Roni yang kesal campur gedek karena Arka terus saja menampilkan senyum miring. Rasanya ingin ia pukul menggunakan kunci Inggris.


"Lu berdua bakalan lebih nggak percaya lagi kalau gue ceritain yang sebenarnya. Gue itu beneran dikeroyok sama gangster bayaran dari suaminya Anjali. Lu ingat kan Ron, pas gue pulang malam karena lembur ngerjain motor gede. Waktu itu gua sempat nolongin seorang laki-laki paruh baya yang mengalami kecelakaan, sopirnya sih meninggal. Tapi pria tua itu selamat. Gak lama ada yang menjemput setelah menghubungi telepon yang ada di kendaraan. Gue sempet kaget karena dari pakaian dan gerak-geriknya gue tahu mereka bukan orang biasa. karena gua nggak mau terlibat masalah mereka akhirnya gue kabur. Nah, di tengah jalan gue dihadang sama Si Guntur dan gangster bayarannya dia. Gue pikir, malam itu adalah akhir dari hidup gue. Ternyata keesokan harinya gue terbangun suatu tempat," jelas Arka seraya menahan emosi yang bergejolak di dalam dadanya.


Sebenarnya, Arka ingin segera dapat mengetahui bagaimana keadaan Anjali sekarang. Ia juga tak sabar untuk membalas dendam kepada Guntur. Tapi, dia sadar bahwa tidak boleh ke gabah dalam melakukan sebuah tindakan. Arka harus memperhitungkan eksekusi dari pembalasan dendamnya, agar Guntur dapat menikmati dengan rasa sakit 3 kali lipat lebih besar dari apa yang ia rasakan. Juga atas apa yang telah kita lakukan terhadap mantan kekasihnya.


"Terus elu kebangun dimana? Jelasin dong jangan nanggung. Jangan bikin orang penasaran!" cecar Roni. Memang dialah yang paling cerewet diantara mereka bertiga. Arka pun sudah terbiasa. Apalagi, maksud kawannya ini karena menghawatirkan dirinya.


"Elu berdua, pasti kagak bakalan percaya. Kalo gue bangun--" Arka tidak menyelesaikannya ucapannya saat ia mendapati Apollo tau-tau berada di hadapannya saat ini. Pria bertubuh tinggi macam tiang listrik ini berjalan mendekatinya dengan tatapan penuh arti.


"Maaf, Tuan. Ada yang harus saya laporkan," ucap Apollo seraya melirik tajam ke arah kedua kawan dari Arka.


Mendengar ada seorang pria misterius yang datang dan memanggil kawan mereka dengan sebutan seperti itu, membuat Roni dan Bimo saling pandang dan menerka. Siapa orang yang baru datang ini? Lalu siapa Arka sebenarnya?


"Jika mereka bisa dipercaya dan tutup mulut, bawa saja ke markas, Tuan. Biar mereka berlatih bersama anda. Bukankah, anda akan banyak membutuhkan anak buah yang setia. Alangkah baiknya, merekrut mereka yang tidak berdaya dan membutuhkan perlindungan," jelas Apollo.


Roni dan Bimo semakin terheran-heran karena melihat Arka dan pria misterius itu saling berbisik di hadapan mereka.


"Dia pada ngapain sih, Ron?" tanya Bimo bingung. Roni pun menggaruk kepalanya dengan bahu yang dinaikkan ke atas.


"Lu berdua mau akan ikut kemana gue pergi?" tanya Arka memastikan.


"Asal lu janji, cerita sama kita berdua. Siapa elu sebenernya!" seru Roni.

__ADS_1


"Kita kan sobat. Kita bakalan terus ada di sisi lu." Kali ini Bimo yang mengucapkan kalimat dimana mampu membuat Arka semakin yakin. Bahwa, ia akan menerima jatidirinya yang sekarang.


Satu persatu, mereka yang pernah merendahkannya selama ini akan ia balas. Termasuk bengkel tempat ia bekerja tempo hari lalu. Bengkel itu telah kehilangan dua montir terbaiknya. Arka yakin, sebentar lagi bengkel tersebut akan kalah saing.


Lalu, sasaran selanjutnya adalah warung makan di seberang bengkelnya.


"Sore nanti, kita eksekusi warung itu!" tunjuk Arka pada Apollo.


"Apa rencana anda?" Pertanyaan dari Apollo hanya di jawab dengan seringai tipis nan bengis, oleh Arka.


Roni dan Bimo langsung bergidik kala melihat aura tak biasa yang memancar dari wajah kawan mereka yang biasanya sederhana dan tak pernah berbuat gaduh dengan siapapun. Arka lebih banyak mengalah karena keadaan selama ini. Tapi, kali ini pria itu menaikkan dagunya.


"Ron, Bim. Kalian berdua ikut gue, dan tunjukkin kesetiaan kalian pada gue!" ujar Arka.


Roni hanya mengangguk seraya menelan ludahnya kasar.


"Lu yakin Ron?" bisik Bimo.


"Gue yakin. Arka yang sekarang, pasti bukan orang sembarangan. Siapapun dia, gua mau ikut berada di belakangnya. Karena, menurut gue ini pasti keren," jawab Roni membuat Bimo mengangguk-angguk dengan cepat.


"Lu ikut gak!"


"Ya ikutlah!" seru Bimo yakin.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2