Mafia Perebut Istri Orang

Mafia Perebut Istri Orang
Bab. 30. Pesan Paman Gabriel


__ADS_3

Markas seketika geger dengan kedatangan Arka dan Apollo yang membawa sesosok wanita. Namun, dokter Darwin telah mempersiapkan semuanya. Ia dan tim langsung memindahkan Anjali ke ruangan khusus yang telah mereka sediakan.


Sebuah tantangan bagi Darwin dan juga Nagara. Karena keduanya belum pernah menyelamatkan wanita hamil sebelumnya.


"Mana profesor? Cepat berikan obat yang dapat menyelamatkan keduanya!" titah Arka. Semakin membuat orang di dalam ruangan panik.


Hingga, Apollo terpaksa menarik raganya untuk keluar dari ruangan itu. Tak lama, Gabriel datang menghampiri dengan kursi rodanya.


"Paman, kenapa duduk di sini lagi? Bukankah kemarin Paman sudah baikan?" tanya Arka heran. Ia menelisik, wajah Gabriel. Mantap mata pria perih baya itu.


"Racun itu masih tersisa. Kata Darwin sedikit menggerogoti sebagian organ. Mungkin, usia Paman tidak akan lama lagi. Kau harus siap memimpin organisasi ini, Roberto," ucap Gabriel seraya mencengkeram lembut bahu keponakannya itu.

__ADS_1


"Tidak Paman. Aku belum siap. Masih banyak yang harus ku pelajari. Kau pasti akan sembuh. Profesor Nagara pasti akan menemukan serum untuk mengeluarkan keseluruhan racun itu dari tubuhmu," sahut Arka dengan kedua mata yang sudah berembun.


Bagaimana tidak. Dia baru saja bahagia karena telah menemukan anggota keluarga kandungnya. Menemukan jati diri yang sesungguhnya. Ia tak mungkin siap dan sanggup menerima kenyataan bahwa pertemuan ini berakhir dengan perpisahan secepat ini.


"Kau tidak bisa menentang takdir. Aku akan dapat pergi dengan tenang. Karena organisasi ini telah menemukan sang penerus yang hilang. Sudah jangan pikirkan itu dulu. Kau harus jelaskan pada ku. Siapa gadis itu?" Gabriel berusaha santai meskipun dadanya juga sesak. Ia berharap dalam hati kecilnya agar Tuhan masih memberikan kesempatan padanya untuk hidup lebih lama lagi.


Meskipun, ia rasa tak pantas meminta permohonan ini. Dimana ia sering mendahulukan takdir Tuhan dengan mencabut nyawa para musuhnya.


"Wanita yang malang. Paman akan mendukung apapun yang akan kau lakukan. Tenanglah, Nagara pasti menemukan solusi untuk menyelamatkan keduanya. Pastikan, pria itu mati setelah ia mengetahui status dari bayi tersebut. Jangan biarkan dia mati dalam keadaan tenang."


Sontak ucapan dari Gabriel membuat semangat untuk balas dendam di dalam dada Arka semakin mendidih.

__ADS_1


Mereka berdua saling menatap dalam. Meksipun baru bertemu, akan tetapi Arka dapat merasakan kasih sayang yang hendak disalurkan oleh Gabriel kepadanya.


"Setelah keadaan wanita itu stabil. Datanglah ke kamar Paman oke!" Arka mengangguk dan Gabriel pun berlalu bersama pengawal sekaligus asistennya. Namun, ia memberi kode agar Apollo mengikutinya.


"Hubungi, Klan Verge. Katakan bahwa salah satu perusahan di bawah naungannya mencari masalah dengan pemimpin baru kita. Beri sanksi yang besar. Hancurkan hingga akar." Gabriel, yang sudah sampai di dalam ruang kerjanya, nampak berusaha mengambil sesuatu di balik lukisan.


"Anda pasti akan kembali sembuh, Tuan." Apollo memandang punggung Gabriel nanar. Ia juga belum sanggup kehilangan sosok pemberani semacam sosoknya.


"Jangan pikirkan keadaanku. Kau harus mengawal Roberto agar anak itu semakin percaya diri. Aku yakin, darah mafia telah mengalir dalam nadinya. Hanya saja, kehidupan lamanya masih membekas dalam. Untuk kedua kawannya. Masukkan mereka ke barisan Delta. Latih mereka hingga benar-benar menjadi kuat dan terlatih. Selanjutnya, kau tau apa yang harus dilakukan. Apollo ... aku mengandalkanmu!"


Apollo mengangguk dalam kemudian meninggalkan Gabriel sendirian di dalam ruangan itu.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2