Mafia Perebut Istri Orang

Mafia Perebut Istri Orang
Bab. 18. Lain Di mulut Lain Di hati.


__ADS_3

Guntur mengirim chat pada Anjali agar istrinya itu bersiap menunggu kepulangannya. Pertama dalam pernikahan mereka, Guntur memberi perintah ini pada Anjali. Setidaknya ia ingin agar istrinya itu berpenampilan menggoda seperti Marisa.


Tapi, Guntur lupa. Bahkan ia tak pernah sekalipun membelikan pakaian untuk istrinya itu.


"Ya ampun. Apa yang harus aku lakukan. Abang sebentar lagi pulang dan dia menginginkanku. Sementara, sejak tadi perutku keram." Anja terlihat gusar Dan ia beberapa kali mengusap perutnya yang menonjol dari balik daster.


"Sayang, mama mohon. Mengerti ya. Papa sebentar lagi pulang. Mama harap kamu tenang ya. Jangan seperti ini. Mama takut jika nanti papa marah lagi." Anjali seperti anak kecil yang sedang mengadu. Ia tak tau lagi harus apa dan bagaimana. Sudah sejak beberapa jam yang lalu perutnya ini tak enak.


Tak lama kemudian ia merasa baikan. Perutnya tak lagi sekencang tadi. Ternyata bayi yang ia kandung benar-benar mengerti keadaannya. Ia sangat bersyukur. Di dalam perut saja, bayinya sudah pengertian. Selalu menuruti apa katanya.


Anjali pun langsung bersiap membersihkan diri, terutama bagian pribadinya. Ia juga menggunakan pakaian yang bersih dan memakai wewangian sedikit. Ujung saja ia sempat membeli parfum beberapa hari lalu.


"Semoga Abang suka. Aku kan tidak punya pakaian yang bagus. Apalagi seksi. Hanya ada beberapa daster rumahan yang sederhana." Anja bergumam sambil berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Ia beberapa kali menoleh kearah jendela. Melongok ke bawah, yang terhubung langsung menuju gerbang.


Anjali terus mengawasi sambil sesekali mengusap perutnya. Sekilas senyum menghias wajahnya yang terlihat menahan kantuk. Karena sesekali Anjali akan menutup mulutnya ketika ia menguap. Tentu saja. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.


Tak berapa lama sebuah mobil sedan memasuki pekarangan. Pada saat itulah Anjali merasakan degup jantungnya tak beraturan. Bukan karena perasaan lain di hatinya. Ia hanya merasa khawatir, serta ketakutan. "Bagaimana jika abang gak suka penampilan aku malam ini. Pasti Abang lagi butuh pelampiasan hasratnya. Memang, tak biasanya dia menghubungiku dahulu. Mungkinkah, ia sudah mulai sadar akan keberadaanku? Ataukah, aku memang sudah mulai mengisi hatinya?" Anjali ingin tersenyum senang tapi ragu.

__ADS_1


Ia tak mau terlalu percaya diri terlebih dulu. Karena, takut jika akhirnya kecewa nanti. Tapi, sesungguhnya dari ruang hati terdalam. Anjali berharap sekali jika suaminya itu berubah. Sedikit saja, memberi ruang dan kesempatan untuknya. Setidaknya, mengakui buah hati mereka yang kini bersemayam didalam rahimnya.


Anjali berjalan tak karuan bolak-balik. Antara pintu dan tempat tidur. Ia nampak gusar. Trauma akan penyiksaan dan kekerasan Guntur terus berkelebat di dalam hati dan juga pikirannya. Rsa takut dan khawatir lebih mendominasi. Itulah yang membuat kerja jantungnya menjadi tak karuan.


Suara gagang pintu yang di putar dari luar. Membuat Anjali menahan napasnya sesaat. Hingga pintu itu terbuka dan menampilkan sosok tinggi nan gagah yang dibalut oleh kemeja kusut. Serta keadaan rambut dan wajah yang agak berantakan.


Meskipun begitu, tak mengurangi kadar ketampanan dari Guntur angkasa. Sayang, sifatnya kasar dan tak pernah ada sekalipun senyum di wajahnya untuk Anjali.


"Abang, sudah pulang?" tegur Anjali yang justru membuat kedua mata Guntur mendelik. Pria itu memperhatikan penampilan istrinya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dan ia menyeringai dengan tatapan remeh mengejek.


"A–abang mendadak ngasih taunya. Jadi hanya ini pakaian yang ada," jawab Anjali tergagap.


"Alasan apa itu!"


"Kau kan ingin aku mengakuimu. Malam ini ku beri kesempatan itu tapi mana! Kau bahkan tidak bisa menggunakannya dengan baik. Berpenampilan menarik saja kau tak bisa. Tapi masih menuntut ku untuk bersikap baik padamu!" teriak Guntur di depan wajah Anjali sambil menuding istrinya itu dengan menggunakan telunjuknya yang panjang dan besar.


Anjali terkesiap. Bayangan kemarahan dari Guntur serta perlakuan kasar pria itu pun berkelebat dalam otaknya. Membuat sekujur tubuhnya seketika bermandikan keringat dingin. Anjali gemetar. Setiap kali mendapat bentakan dari suaminya. Ia akan merasa ketakutan yang teramat sangat. Bahkan, kedua lututnya terasa lemas.

__ADS_1


Bukan tak ingin melawan atau sekedar mempertahankan diri. Tapi rasa trauma yang dialami oleh korban tindak kekerasan dalam rumah tangga memang mentalnya akan lemah meskipun baru mendengar bentakan saja.


Bahkan kala melihat ekspresi marah suaminya, hati Anjali seakan mencelos lebih dulu.


Anjali terhuyung kebelakang dan ia segera bertumpu pada nakas agar raganya tetap berdiri.


Anjali ingin menjawab jika memang semenjak menikah, suaminya ini tak pernah mengajaknya belanja pakaian. Jangankan baju baru untuknya. Uang pun tak pernah ia terima sepeserpun dari Guntur. Anjali menghidupi dirinya sendiri dengan hasil ia bekerja pada Puspita. Bahkan selama lima bulan tinggal di rumah ini, belum pernah Anjali makan sekalipun dari apa yang ada di rumah ini.


Guntur menelisik penampilan istrinya ketika ia telah berjarak dekat dengan Anjali. Hati kecilnya berdecak mengakui kecantikan alami dari wanita yang mengenakan daster rumahan tapi tetap mampu membuat birahinya bergejolak. Apalagi, keadaan Anjali yang kini semakin berisi karena kehamilannya, bagi Guntur semakin terlihat menggoda.


Hanya saja, apa yang ia rasakan di hatinya akan menjadi berbeda ketika keluar dari mulutnya.


"Sekali kampungan maka akan selamanya kampungan. Buka saja bajumu! Aku tidak berselera kalau melihatmu begini!"


...Bersambung ...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2