
"Tanda ini." Gabriel menyentuh tanda yang berada di dada sebelah kanan, Arka. Sebuah tanda seperti tahi lalat. Namun, membentuk titik seperti gugusan bintang. Gabriel ingat tanda itu hanya di miliki oleh adik perempuannya dan juga keponakanya yang hilang karena di culik dua hari setelah kelahirannya.
Dada Gabriel terlihat turun naik, pria paruh baya ini merasa senang yang teramat sangat. Namun hal itu justru membuat napasnya sesak dan kepalanya berkunang-kunang.
"Tuan! Apa anda baik-baik saja?" tanya Apollo khawatir. Ia memegangi bahu Gabriel agar pria tua itu tetap tegak.
"Di–dia. Pemuda ini, anak dari mendiang adik Perempuanku. Martina Louis." Gabriel membelai rambut Arka yang lurus hingga berakhir pada rahangnya yang tegas. "Kau lihat, aku bahkan baru sadar kalau wajahnya memang mirip dengan Martina," pekik Gabriel seperti anak kecil yang menemukan mainannya yang hilang.
"Anda beruntung sekali Tuan. Ternyata anda memiliki penerus." Apollo ikut merasa senang ketika mendengar penjelasan dari Gabriel. Begitupun anak buahnya yang lain. Termasuk kedua pria yang menemukan Arka dan membawanya kesini.
"Bagus saja kita tak membuangnya ke jurang," bisik pria yang mengemudi mobil tadi kepada kawannya.
"Kau benar. Ternyata dia adalah keturunan Louis.
Sementara itu di kediaman keluarga Angkasa, Guntur terlihat masuk kedalam rumah dalam keadaan marah. Bahkan, jika saja bisa di visualisasi kan maka ubun-ubun pria itu saat ini tengah mengeluarkan asap. Sepasang mata elangnya berkilat bagaikan nyala api.
Tatapan itu seakan dapat membakar apapun yang ia sorot. Pandangannya semakin nyalang ketika berada didepan pintu kamar Anja, istrinya. Dimana mereka menikah lantaran terpaksa.
Guntur hampir mendorong pintu itu keras, tapi ia urungkan karena tidak terkunci. Atau memang sengaja tidak di kunci. Pria dengan rahang berbulu tipis ini pun masuk cepat hingga tatapannya menjurus pada raga yang tengah terlelap di atas tempat tidur. Anja terlihat damai, pulas sambil memeluk guling.
Seandainya malam itu kau masih perawan, mungkin aku tidak akan membencimu sedalam ini. Apalagi ketika kenyataan semakin mengolokku, di saat dokter mengatakan bahwa kau hamil di saat pernikahan kita yang baru berjalan satu bulan. Sungguh, aku merasa menjadi tulang tambal. Sudah berhutang, kini kau ingin memanfaatkan anak itu untuk mengeruk harta warisan. Dasar perempuan licik! Isi hatimu ternyata tak sepolos wajahmu. Anjali
Guntur mengeratkan rahangnya kala melihat wajah polos itu nampak damai. Tanpa mengetahui bahwa karenanya satu nyawa hampir meregang lepas dari badan. Dengan tatapan berkilat Anja meninggalkan sosok yang nampak tak terganggu dengan kehadirannya itu. Guntur beralih masuk kedalam kamar mandi dan keluar membawa setengah ember air. Lalu ...
Byuurr ...
__ADS_1
Guntur menyiramkan air dingin itu ke atas wajah Anjali yang sedang asik terlelap. Hingga, wanita hamil itu kaget dan tersedak. Bahkan, Anjali nampak kesulitan bernapas karena hidungnya kemasukan air.
Sungguh, perlakuan yang kejam bagi wanita hamil muda ini.
"RASAKAN!"
"Kau asik tertidur setelah bertemu dengan mantan kekasihmu itu ya, hah! Kau puas! Karena telah bermain gila di belakangku, Anjali!"Guntur terus berteriak di depan wajah Anjali yang masih berusaha menyesuaikan napas. Ia nampak menderita.
Belum lagi, Anjali sempat menyahut ucapan dari suaminya. Guntur telah menarik rambutnya yang panjang tergerai.
"Akh!"
"Sakit, Mas!" Anja tak tahan lagi dan ia berteriak dengan suara paraunya. Tak tau apa kesalahannya sehingga mendapat amukan lagi dari Guntur, suaminya.
Bagaimana keadaan bayi kita bisa sehat kalau hampir setiap malam kau menyiksa pisik dan juga batinku, Mas.
"Heh, pasti adik gilaku itu sedang menyiksa istrinya. Besok kalau dia bekerja. Giliran aku yang menyiksanya." Puspita menyeringai setelahnya ia kembali tidur.
Anja seketika melotot mendengar ucapan dari Guntur. Ia mengerti arti kilatan amarah yang terpancar dari kedua mata Guntur. "Apa maksudmu, Mas? Apa yang telah kau lakukan padanya!" desak Anja. Tadi ia sempat bermimpi sekilas bahwa Arka berpamitan padanya. Tidak mungkin ini artinya. Bahwa Guntur telah menghabisi mantan kekasihnya itu bukan?
Anja tanpa sadar mencengkeram lengan Guntur menanti jawaban dari pria yang masih menggenggam rambutnya. "Sebaiknya, kau khawatirkan keadaanmu sendiri!"
Guntur menarik rambut Anja dan kemudian mendorong kepala istrinya itu dan membenturkannya ke dinding.
Guntur melakukan itu berkali-kali tanpa memperdulikan teriakan dan permohonan dari Anja.
__ADS_1
"Mas ....," Anja berkata lirih sambil memegangi keningnya yang sudah bercucuran darah segar. Dalam keadaan lemah dan sakit hati, Anja menatap kearah Guntur yang masih berkilat amarah itu dengan linangan air mata. "Kau akan menyesali Mas. Jika aku mati, maka bayi kita juga akan mati."
Mendengar kalimat itu bukannya kasihan, Guntur malam semakin naik pitam. Ia menampar Anja hingga istrinya itu terpelanting ke atas lantai. Anja reflek memeluk perutnya posesif.
Guntur kembali menghampiri Anja yang terisak semakin keras. Wanita itu tak mampu melawan apalagi membalas dengan ucapan. Tenaganya seakan habis.
Pria bertubuh tinggi kekar ini menarik kembali rambut Anja dan mendekat untuk berbisik di telinganya. "Dengar wanita ja–lang. Aku tidak perduli anak itu hidup ataupun mati. Karena, dia bukan anakku! Selamanya tidak akan pernah menjadi anakku!" sarkas Guntur penuh penekanan.
Guntur meninggalkan Anja yang tergolek lemah diatas lantai. Jika ia meneruskan tindakannya, bisa-bisa wanita ini mati ditangannya malam ini. Ia selalu tak dapat menahan emosinya ketika melihat wajah Anja. Selalu terbayang kebersamaan istrinya dengan mantan pacarnya itu.
"Demi Tuhan, Mas. Anak yang ke kandung ini adalah anakmu, darah dagingmu, dia buah hati kita." Anja memeluk perutnya sambil menangis histeris. Berkali-kali ia mengucap kata maaf untuk calon bayinya. Usia kandungannya ini sudah menginjak usia dua belas minggu. Sehingga perut Anja sudah terlihat sedikit menonjol.
Mama mohon, bertahan ya. Tetap tumbuh sehat didalam rahim mama. Suatu saat, papamu pasti akan menerima kita di hatinya.
Anja membatin sebelum akhirnya ia kembali pingsan.
_________
Keesokan harinya, Arka telah siuman. Setelah semalaman tak sadarkan diri. Meskipun keadaannya masih sangat lemah. Namun, dirinya mampu mengingat semua yang telah terjadi. Termasuk senyuman terakhir dari Anjali.
"Beri hormat pada Tuan Gabriel!" teriak Apollo. Ketika pria paruh baya itu memasuki ruangan yang khusus untuk merawat Arka. Semua anak buah memberi hormat dan salam dengan cara membungkukkan badan. Gabriel masih berada di atas kursi roda karena keadaannya yang semakin lemah. Pengaruh racun ternyata tidak menghilang sepenuhnya.
"bagaimana keadaanmu wahai anak muda?Apakah sudah merasa lebih baik sekarang?" Gabriel mengutarakan pertanyaan dengan nada ramah. Ia bahkan terlihat memperhatikan wajah Arka lamat-lamat. Begitupun juga dengan Arka, ia memperhatikan wajah pria tua dihadapannya ini dengan seksama.
"Siapa kalian? Kenapa menolongku?"
__ADS_1
...Bersambung...