Mafia With Luv

Mafia With Luv
fine


__ADS_3

Karena terlalu lelah jaerin akhirnya tetidur dalam pelukan wonwoo. Wonwoo hanya tersenyum kecil ketika melihat wajah tenang jaerin saat tertidur, gadis itu memang sangat cantik mungkin semua orang akan tergila-gila dengan jaerin.


Hanya sayang jaerin sangat sulit terbuka dengan orang yang baru saja dia kenal, jadi selama tinggal di new york ini jaerin tidak memiliki teman selain josline dan juga wonwoo.


"Aku tidak tahu apa yang membuat mu menjadi seperti ini jaerin, tapi aku mohon kembalilah menjadi jaerinku yang ceria."


***


Sehuh berjalan dengan cukup cepat menuju sebuah ruangan dan dengan pikiran yang terpusat pada seorang gadis yang sedari tadi terus mengganggu konsentrasinya.


Sehun berharap-harap dalam hatinya jika gadis yang membuat dia hampir gila ini sudah dalam posisi sadar dan siap memaki sehun dengan umpatan kasar yang biasa gadis itu lontarkan.


Jujur sehun merindukannya, walau kadang ucapan jaerin memang kelewatan sangat pedas dan menusuk hati. Tapi selama itu bisa membuat jaerin bahagia sehun akan terima, cukup dirinya saja yang sudah membuat jaerin terluka, jangan sampai jaerin mengalami hal yang sama.


Sehun mendorong pintu berwarna putih itu sambil terus merapalkan beberapa doa dalam hatinya, dia tahu bahwa dirinya tidaklah dekat dengan tuhan. Tapi, mungkin tuhan bisa mendengar doa sehun yang begitu tulus untuk jaerin.


Setelah pintu itu terbuka seluruhnya hingga menampakan isi ruangan, mata sehun terbelalak kaget dirinya sama sekali tidak mendapati keberadaan jaerin di dalam ruang inap itu.


Yang sehun lihat hanyalah sebuah infus yang berantakan dan juga keadaan ranjang yang sudah tidak rapih. Sehun mencoba berpikir positif dengan mencari keberadaan jaerin di kamar mandi, tapi nihil jaerin tidak berada disana.


Sehun menggeram frustasi dengan segera berlari menuju ruang pusat kontrol, dia tahu ruang inap jaerin memiliki cctv mungkin sehun bisa mengetahui kemana perginya jaerin.


Sebelumnya sehun sudah menyuruh anak buahnya untuk mengumpulkan perawat dan dokter yang di tugaskan untuk menjaga jaerin.


"Bagaimana bisa dia pergi? Apa kalian tidak mengawasi keadaannya?!" Tanya sehun berusaha menahan amarahnya, seluruh dokter dan juga suster itu hanya terdiam sambil menundukan kepalanya takut.


"Siapa yang terakhir kali memeriksa keadaanya?" Tanya sehun mengedarkan pandangannya pada seluruh dokter dan juga suster yang ada di hadapannya.


"Saya pak." Seorang suster mengacungkan tangannya, sehun menatap suster itu memberi kode untuk menjelaskan apa yang terjadi.


"Saat itu pukul sembilan malam, saya datang ke ruangan pasien untuk mengganti infus dan memeriksa keadaannya. Ketika itu pasien belum sadarkan diri, dan setelah selesai saya meninggalkan ruangan pasien." Jelas suster itu, sehun mengangguk paham, lalu membalikan tubuhnya untuk menatap layar besar yang menampilkan setiap sudut ruangan yang ada di rumah sakit ini.


"Putarkan rekaman cctv di ruangan 122 pada pukul sembilan malam." Perintah sehun pada lelaki yang menjadi operator.


Lelaki itu mengangguk paham setelahnya melaksanakan hal yang di perintahkan oleh sehun.


Di laya itu berputar sebuah video dimana suster tengah mengganti infus dan juga seorang gadis yang tidak lain adalah jaerin yang masih tertidur pulas. Tidak ada hal yang aneh disana, sampai suster itu benar-benar keluar dari dalam ruang inap jaerin.


"Putarkan rekaman pada pukul sepuluh malam." interupsi sehun pada petugas, petugas itu kembali melakukan tugasnya sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh sehun.


Di video itu terlihat jaerin yang sudah sadarkan diri dengan keadaan yang cukup berantakan, dengan bagaimana jaerin menarik paksa selang infus yang berada di tangannya, dan bagaimana jaerin berusaha berjalan dengan tubuh yang tidak seimbang.


"Pindahkan pada cctv ruang tunggu sebelum pintu masuk rumah sakit, pada pukul yang sama." Kini sehun semakin yakin bahwa jaerin melarikan diri dari rumah sakit.


Dan benar saja rekaman selanjutnya menunukan jaerin yang berjalan keluar dari rumah sakit.


"Sekarang cari keberadaan jaerin!!" teriak sehun pada anak buahnya yang sudah berdiri di sampingnya.


"Baik!" Dua anak buah sehuh segera berlari untuk mencari informasi tentang jaerin.


"Kalian semua boleh pergi." Ucap sehun pada dokter dan perawat itu.


Sementara sehun langsung mengusap pelipisnya pelan merasa pening dengan sikap jaerin yang selalu keras kepala dan tidak memperdulikan keadaanya sendiri.


Sehun khawatir sesuatu hal buruk terjadi pada jaerin di saat kondisi jaerin yang sangat tidak stabil, dia takut ada orang jahat yang akan melukai jaerin apalagi seorang jaerin yang sangat memiliki aura yang luar biasa, bisa menjadi pemancing hal buruk pada dirinya sendiri.


Sehun mengambil handphone yang berada di dalam sakunya ketika merasakan getaran karena sebuah panggilan. Sehun mengangkat panggilan itu sambil berharap agar kabar baguslah yang dia terima.


"Hallo pak, saya berhasil menemukan keberadaan jaerin, gadis itu pergi ke sebuah apartemen xxx tidak jauh dari sini dengan nomor kamar 106."


Sehun tidak menjawab apa yang di katakan seseorang di seberang sana dan menutup telefonnya. Bergegas belari untuk menuju parkir mobil.


Siapapun yang jaerin datangi di apartemen itu sungguh membuat perasaan sehun tidak tenang. Dan sehun yakin seseorang yang saat ini bersama dengan jaerin adalah orang yang akan sulit menahan diri untuk tidak melakukan hal aneh pada jaerin.


Setidaknya sehun masih berpikir positif dengan tidak mengatakan hal yang jauh lebih buruk, tapi yang jelas sehun tidak ingin itu terjadi.


***


Sehun menatap nanar pada pintu dengan angka 106 yang ada di hadapannya, dia yakin jaerin berada didalam sana. Sehun sudah menyiapkan senjata yang siap untuk di tembakan, berjaga-jaga jika yang berada didalam sana bukanlah orang biasa.

__ADS_1


Sehun sudah mendapatkan akses untuk masuk keadalam apartemen itu, sehingga sehun dengan mudah menbuka pintu apartemen itu dengan menggunakan kunci yang dia pegang.


Hal yang pertama sehun dapatkan dari apartemen itu adalah ruang tamu yang mejanya berantakan di penuhi oleh sampah. Sehun melihat sekeliling apartemen itu sambil mengacungkan pistolnya.


Saat sampai di dapur sehun melihat dua mangkuk sup yang masih beruap menandakan bahwa sup itu belum lama di buat. Semakin yakin jika jaerin berada di sini.


Sehun berjalan menuju kamar tamu yang saat ini di isi oleh jaerin dan wonwoo yang tengah tidur bersama.


Sehun menarik pintu dengan nuansa eropa itu hingga menunjukan dua insan yang tengah berpelukan dalam tidur. Sehun menurukan pistol yang tengah dia acungkan, menatap sedih pada jaerin yang berada dalam pelukan lelaki lain.


Yang sehun takutkan terjadi, dimana dirinya tidak bisa memberikan sebuah kasih sayang yang cukup pada jaerin sehingga gadis itu memilih orang lain untuk memberikannya sebuah kasih sayang.


Mengepalkan tangannya marah sehun dengan segera menarik kerah lelaki yang tengah memeluk jaerin erat yang tidak lain adalah wonwoo.


Sehun sudah kehabisan kesabaran dia marah, dia cemburu dengan apa yang dia lihat sekarang. Bagaimana bisa lelaki lain menggantikan posisinya. Wonwoo terbangun dan terkejut dengan apa yang sekarang dia lihat.


Keadaan wonwoo sekarang tidaklah baik-baik saja, sehun tengah menarik kerah wonwoo hingga membuat tubuhnya tidak menapak di atas lantai.


Wonwoo meringis kesakitan karena ulah sehun, wonwoo juga heran kenapa ada seseorang yang melakukan hal ini padanya.


"Mati saja kau! Kau telah merebut jaerin dari ku! Kau harus mati!!" Ancam sehun dengan suara beratnya yang sangat khas, tetapi sehun juga menatap wonwoo dengan tatapan tajam seakan siap membunuh.


Jaerin yang merasa terganggu dengan teriakan sehun membuka matanya secara perlahan, berharap teriakan sehun tadi hanya mimpi jaerin. Tapi nyatanya jaerin salah, ketika matanya terbuka pemandangan yang dia lihat adalah leher wonwoo yang di cengkram oleh sehun.


"SEHUN!!" Teriak jaerin sudah bersiap untuk menyelamatkan wonwoo.


"Kau diam! Atau ku tembak wonwoo!" Sehun menodongkan pistolnya pada kepala wonwoo.


"Jangan! Jangan!!" Teriak jaerin ketakutan, dia tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi pada wonwoo dia tidak ingin kehilangan orang yang dia sayang termasuk wonwoo.


"Sehun! Aku mohon lepaskan wonwoo, lepaskan dia... " Lirih jaerin yang sudah menangis karena melihat wonwoo yang kesakitan.


"Aku akan melepaskan lelaki ini, asal kau mau ikut bersama ku." Pinta sehun jaerin yang mendengar penawaran sehun langsung mengangguk setuju, walau di lihatnya wonwoo menggelengkan kepalanya tanda tidak ingin jaerin melakukan hal itu.


"Tapi setelah ini kau tidak boleh menganggu kehidupan wonwoo, ataupun mengusiknya." Ucap jaerin, sehun menganggukkan kepalanya setuju dengan syarat yang di berikan oleh jaerin.


Sehun melepaskan cengkraman tangannya dari leher wonwoo, membuat lelaki dengan wajah dingin itu jatuh tersungkur ke lantai.


Jaerin tidak peduli dia turun dari tempat tidur dan mendatangi sehun, berjalan bersama dengan sehun untuk pergi dari kamar wonwoo.


"Jaerin... Jangan... " Wonwoo menggapai tangan jaerin untuk menahan gadis itu pergi.


"Maaf wonwoo, aku tidak bisa. Berikan salamku untuk eomma." Jaerin melepaskan secara paksa tangan wonwoo dari pergelangan tangannya.


Menatap sendu wonwoo yang terkapar lemas di lantai karena ulah sehun. Wonwoo hanya menatap dengan sedih punggung Jaerin yang mulai menajuh dari pandangannya, dia tidak bisa melindungi jaerin dari lelaki itu.


Siapapun lelaki yang bersama jaerin wonwoo yakin lelaki itu bukanlah lelaki yang baik.


Sehun menggapai tangan jaerin untuk dia genggam dengan sangat erat, jaerin tidak membalas maupun menolak perlakuan sehun, jaerin hanya terdiam sibuk dengan pemikirannya.


Sesampainya di tempat parkir, jaerin tanpa di perintah memasuki mobil milik sehun. Tatapan jaerin kosong seakan jiwanya tidak berada dalam diri jaerin.


Sehun yang melihat itu hanya menghela nafas panjang, dia tahu wonwoo adalah orang yang sangat dekat dengan jaerin. Sampai gadis itu mau kembali bersama dengan sehun karena ancaman dari sehun.


Sehun melajukan mobilnya di jalanan kota new york yang masih ramai dengan kendaraan. Sesekali sehun memberikan lirikan pada jaerin yang duduk disampingnya, wajahnya pucat bibirnya kering tetapi tidak menghilangkan kecantikan jaerin. Walau kini jaerin hanya menggunakan piyama bergambar panda, tapi bagi sehun hal itu justru membuat jaerin terlihat semakin imut.


"Kau ini keras kepala, untuk apa kau pergi dari rumah sakit?" Tanya sehun membuka pembicaraan dengan jaerin.


Jaerin tidak berminat untuk menjawab pertanyaan sehun, jadi jaerin hanya diam sambil menatap keluar jendela.


"Jaerin, aku ti-" Ucapan sehun terhenti ketika mendengar suara nafas teratur, sehun melirik jaerin dan benar bahwa jaerin sekarang sudah tertidur. Mungkin ini efek jaerin baru saja kembali dari rumah sakit dengan kondisi yang belum stabil.


"Aku hanya tidak ingin kau terluka, hanya itu." Sehun mengusap pelan surai hitam jaerin yang sangat indah, wajahnya ketika tertidur akan selalu menjadi candu untuk sehun.


***


Sesampainya di mansion sehun, sehun membawa jaerin menuju kamar sehun di gendong menggunakan gaya bridal style.


Malam ini sehun ingin melampiaskan rasa kesalnya pada jaerin karena sudah berani pergi, berpelukan dan bahkan tidur bersama dengan lelaki lain.

__ADS_1


Sehun meletakan tubuh sehun dengan sangat hati-hati diatas kasur, sehun melepaskan jas dan juga dasi yang sedari tadi masih melekat pada tubuhnya.


Membuangnya asal hingga berserakan di atas lantai, menyisakan kemeja dan celana yang masih sehun kenakan. Sehun ikut berbaring di samping jaerin lalu merengkuh tubuh jaerin erat seakaan takut kehilangan jaerin.


Sehun menciumi pucuk rambut jaerin, menahan tangisan dan rasa sakit dalam hatinya. Padahal dia tidak menginginkan jaerin untuk pergi ataupun membuat jaerin down dengan rahasia tentang orang tua jaerin.


Sehun hanya ingin jaerin mengerti alasan kenapa sehun membunuh kedua orang tuanya. Jika tahu akhirnya akan seperti ini sehun tidak akan pernah menunjukan berkas-berkas itu pada jaerin.


"Aku hanya ingin kau mengerti, bahwa aku benar-benar sayang dan takut kehilangan mu. Dan aku tidak rela jika ada seseorang yang menggantikan posisi ku dalam hidupmu. Sekali lagi maafkan aku jaerin."


***


Jaerin terbangun dengan posisi tengah memeluk sehun erat, jaerin bahkan tidak sadar bahwa dirinya tidak ingin melepaskan pelukannya dari sehun.


Jaerin mulai merasa nyaman dengan pelukan sehun padanya, Jaerin juga mencium wangi yang sangat khas dari sehun yaitu citrus, wangi yang sangat membuat jaerin merasa nyaman dengan sehun.


Jaerin juga mengeratkan pelukkannya pada sehun, berharap ini masih terus bisa berlangsung. Sampai tiba-tiba tangan sehun bergerak dan membalas pelukan jaerin membuat jaerin terkesiap.


"Kau bisa mengatakan bahwa kau benci padaku, tapi hati mu tidak jaerin." Bisik sehun pelan pada jaerin, jaerin tersipu malu wajahnya memerah dalam dekapan sehun.


"Bukankah itu pertanda bahwa kau masih menyimpan perasaan padaku bukan?" Tanya sehun sambil terkekeh kecil, sedari sehun memang sudah terbangun hanya dia sengaja melakukan ini.


Jaerin reflek melepaskan pelukannya pada sehun lalu menatap lelaki itu dengan tatapan kesal, jaerin mengembungkan pipinya menatap sehun dengan tajam.


"Kau terlalu pede!" Ucap jaerin, setelah melihat ekspresi wajah jaerin sehun malah tertawa terbahak-bahak.


Wajah itu, wajah gemas yang selama ini sehun rindukan. Apakah ini adalah kode bahwa jaerin sudah memaafkan sehun, atau hanya kebetulan karena sehun telah membuat jaerin kesal.


"Kau lucu sekali." Sehun tersenyum gemas lalu mencubit pipi jaerin dengan cukup keras.


"Sakit... " Rengek jaerin sambil memegangi pipinya yang terasa perih karena ulah sehun.


"Sini, pasti sembuh." Sehun malah memberikan sebuah ciuman pada pipi jaerin membuat gadis itu semakin merasa jengkel.


Tapi setelahnya pipi jaerin kembali memerah, hal itu juga sontak membuat sehun tertawa puas karena berhasil menggoda jaerin.


"Aku memcintaimu, jaerin." Ucapan sehun membuat jaerin menatap kedua mata sehun dengan lekat-lekat meminta penjelasan.


"Aku tahu, jika semua ini tidak terjadi pada kita berdua hubungan kita tidak akan serenggang ini. Kita dulu saling mencintai, tapi karena ambisi ku untuk membalas dendam atas kematian kedua orang tua ku, aku malah menghancurkan hubungan kita." Ucap sehun tangannya bergerak menarik pinggang jaerin agar gadis itu kembali mendekat padanya.


"Aku minta maaf, aku tahu hal yang aku lakukan ini telah membuatmu merasa sakit hati." sehun menaruh dagunya di atas kepala jaerin, terus memeluk jaerin dengan sangat erat.


Jaerin hanya terdiam dia tidak bisa berkata-kata apapun sekarang, dia tahu sehun salah, tapi sehun melakukan semua ini karena balas dendam kedua orang tuanya. Jaerin juga tidak bisa menepis bahwa kedua orang tuanya juga salah di sini, jika orang tua jaerin tidak melakukan pekerjaan itu mungkin aksi balas dendam seperti ini tidak akan terjadi di antara mereka berdua.


Jaerin sadar, sehun butuh kesempatan kedua dia yakin sehun bukanlah orang yang jahat.


"Aku memaafkan mu sehun. Tapi, kau harus memaafkan kedua orang tua ku, biarkan mereka pergi dengan tenang, sehun." Jawab jaerin tidak berani untuk menatap mata sehun.


Sehun tersenyum tipis ketika ucapan jaerin begitu menenangkan hatinya, dia tahu jaerin adalah orang yang sangat mudah memaafkan. "Aku sudah memaafkan kedua orang tua mu jaerin. Jadi kita mulai semua ini dari awal?" Tanya sehun.


Jaerin mengangguk kecil dalam pelukan sehun. Sehun semakin merasa bahagia karena mereka berdua kembali bisa saling mencintai dengan melupakan masalalu yang sangat menyakitkan.


Berharap ini bisa menjadi awal yang baik untuk mereka kedepannya.


***


**Gimana mafly? Kalian suka gak sehun sama jaerin baikkan? Atau mau mereka tetap musuhan? Atau kalian mau jaerin jadian sama wonwoo.


Acungkan tangan yang setuju sama serin (Sehun dan jaerin) atau kalian lebih suka worin (Wonwoo dan jaerin)


Atau? Marin? Hayoo siapa yahh marin? Kepo🌚


Kalau kalian kepo banget tetap stay yah di novel ini, hahaha**.



so sexy


__ADS_1


muka jaerin pas bangun tidur ada sehun di sampingnya


__ADS_2