
Jaerin sesekali melirik ke arah belakang, walaupun dia sudah berada di lobi rumah sakit, dia terlalu takut pada ancaman itu, dan tak ingin kejadian ini kembali terulang, sudah cukup baginya hidup dengan penuh kekacauan dan juga kejutan seram yang selalu membayangi.
Menghela nafas lelah, jaerin memberhentikan langkahnya setelah merasa sedikit tenang, karena setidaknya di tempat ramai dan penuh oleh cctv. Dia sekarang berada di ruang tunggu rumah sakit, masih dengan posisi berdiri dengan wajah yang pucat, kakinya bergetar saking takutnya.
Namun pandangannya menjadi lebih terkejut ketika mendapati beberapa orang menggunakan pakaian tuxedo juga kacamata hitam mendatanginya, sempat cemas bahwa mereka adalah orang jahat, tapi untungnya itu tidak terjadi karena tak lama setelahnya sehun datang dari kumpulan lelaki berseragam itu.
"Sehun." Jaerin langsung berlari memeluk sosok sehun yang masih menggunakan pakaian pasien, berusaha untuk terlihat baik-baik saja walau dengan ancaman itu sudah membuat nyalinnya menciut.
"Jaerin, kau pergi dari mana?" Tanya sehun setelah melepaskan pelukannya pada tubuh mungil jaerin.
Jaerin kelabakan dia sendiri bingung dengan apa yang harus ia lakukan, apakah mengatakan jujur tentang surat ancaman yang ia dapatkan, atau memilih diam sampai keadaan aman, tapi disatu sisi jaerin masih ketakutan, ancaman itu sekiranya bukan hanya sebuah surat iseng, melainkan benar-benar sengaja dikirimkan untuk jaerin.
Untuk saat ini mungkin jaerin akan memilih opsi aman, setidaknya saat bersama dengan sehun keamannya pasti akan terjamin, terbukti seperti sekarang ini, anak buah sehun terus mengelilingi jaerin dan sehun berdua, membentuk sebuah lingkaran, agar tak ada yang melihat kejadian ini, terutama ranah publik yang akan mencurigai sehun. Jadi sehun dan anak buahnya berusaha untuk menghapus segala jejak kejahatan yang pernah sehun perbuat.
"Aku—aku sehabis membeli sarapan untukmu." Jaerin dengan cepat berusaha mencari jawaban, dengan mengatakan alasan sebenarnya dia pergi Pagi-pagi sekali.
"Ini, membeli sarapan untukmu, aku tahu semalam kau tidak makan, jadi aku memutuskan untuk membeli sarapan pagi-pagi sekali." Jelas jaerin dengan sangat lancar, tak lupa dia mengangkat plastik berisi makanan yang ia bawa untuk menyakinkan sehun.
Sehun menghela nafas panjang, rasa khawatirnya tak sebesar tadi. Apakah karena dia terlalu takut jaerin akan pergi meninggalkannya sehingga begitu resah seperti ini. Untuk hal sebodoh ini, sehun bahkan memanggil setengah dari anak buahnya, hanya untuk mencari jaerin.
"Sudah aku katakan, aku tidak akan meninggalkan dirimu, apa itu kurang jelas?" Tanya jaerin sambil terkekeh sebal, dia sendiri merasa sehun terlalu profektif, sebegitu berharganya jaerin bagi sehun?
"Aku hany—"
"Kemari, aku tidak akan pergi kemanapun." Jaerin malah menarik tangan sehun hingga tubuh sehun jatuh pada pelukan jaerin.
"Setidaknya dengan ini kau percaya, bahwa aku akan selalu ada disisi mu."
Hingga mungkin, waktu maupun takdir memisahkan mereka berdua, mungkin? Atau akankah hal yang selama ini jaerin takuti terjadi.
***
"Akhirnya." Jaerin memasuki kamarnya, dengan sebuah helaan nafas yang begitu panjang, hari ini dia begitu lelah, direpotkan oleh sosok bayi besar seperti sehun.
Lelaki itu sangatlah manja, setelah heboh karena pencarian jaerin yang hilang. Sehun bersama dengan jaerin kembali ke ruang rawat dan disana mulailah sebuah acara kemanjaan seorang sehun yang membuat jaerin sangat kelelahan. Hingga akhirnya, siang ini sehun sudah dapat kembali kerumah, karena keadaanya sudah membaik.
Jaerin membuka mantel jaket yang ia pakai, melemparnya asal keatas tempat tidur. Dia masih memikirkan tentang ancaman yang ia dapatkan pagi tadi dan sampai sekarang jaerin belum menceritakan hal ini pada siapapun termasuk sehun. Dia terlalu takut untuk mendapatkan kenyataan pahit lainnya, sudah cukup sehun yang membalas dendam pada kedua orang tuanya, bahkan pada hwan adiknya yang tak bersalah. Jaerin tak ingin nyawanya menjadi taruhan dan incaran seseorang untuk membalaskan dendam lagi.
"Jaerin."
Jaerin tersentak bahkan sempat meloncat pelan, saking terkejutnya dengan panggilan itu. Namun, sadar siapa yang memanggilnya itu membuat jaerin dengan segera menyembunyikan ketakutannya.
"Ah, sehun." Ucap jaerin sambil menunjukan sebuah senyum pada lelaki yang ada di hadapannya kini.
"Ada apa? Kau terlihat begitu ketakutan." Tanya sehun begitu melihat gelagat jaerin yang mencurigakan.
"Tidak ada, aku baik." Jawab jaerin mengalihkan pandangannya dari sehun, kemudian mengambil jaket mantel yang sebelumnya ia lemparkan, mencari alasan agar sehun tak mencurigai dirinya.
"Baiklah, aku hanya ingin mengatakan bahwa makan siang sudah siap, kau belum makan siang, ayo turun." Ucap sehun lalu menarik pelan tangan jaerin.
Jaerin menatap sehun sebentar, kemudian melepasakan tangan sehun perlahan, membuat sehun sendiri kebingungan. "Aku tidak lapar." jawab jaerin.
"Kau kenapa jaerin?" Tanya sehun yang menyadari perubahan raut wajah jaerin.
"Aku—? Aku hanya lelah, ingin beristirahat." Jawab jaerin menunjukan sebuah senyuman manis yang di paksakan.
"Setidaknya makan terlebih dahulu, aku tak ingin kau sakit." Elak sehun yang sekarang menyelipkan daun rambut jaerin.
"Aku akan makan nanti, oke?" Tegas jaerin tak mau kalah, jujur yang dia inginkan hari ini hanya berdiam diri sembari memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya, jika benar ada orang selain sehun yang membalas dendam padanya.
"Jae—"
"Sehun, aku lelah. Kau juga harus istirahat bukan? Aku akan makannanti, jangan khawatir." Ucap jaerin lagi berusaha selembut mungkin.
"Baiklah, tapi aku akan menyuruh bibi membawa makan kemari untukmu. Istirahatlah, aku tahu pasti melelahkan." Perintah sehun lalu mengusap pucuk rambut jaerin dengan sangat lembut.
"Aku mencintaimu." Bisik sehun sededuktif mungkin sebelum pergi meninggalkan kamar jaerin.
"Aku juga." Jawab jaerin pelan setelah sehun pergi dari kamarnya.
"Sangat mencintaimu sehun, sangat."
Setelahnya jaerin membaringkan diri diatas kasur, seperti apa yang dikatakan pada sehun tadi. Dia ingin beristirahat dan menenangkan diri, setidaknya disini banyak penjaga yang akan menjaganya, tak ada yang perlu jaerin khawatiran hanya saja jika dia keluar dari mansion ini, apakah bahaya masih akan mengincarnya.
__ADS_1
Berapa jumlah orang yang telah dibunuh oleh kedua orang tuanya?
Sejak kapan dan apa alasan kedua orang tua jaerin menjadi seorang assassin?
Pertanyaan itu muncul begitu saja dalam benak jaerin, dia tak tahu secara jelas karena kedua orang tuanya benar-benar menutup rapih identitas mereka sebagai assassin.
Jaerin teringat akan sesuatu hal, rumahnya. Rumah yang sebelumnya ia tempati, dan mungkin saja menyimpan banyak hal yang tidak ketahui, mungkin saja kedua orang tuanya menyembunyikan segala rahasia mereka didalam rumah itu.
Mungkin nanti dia akan meminta sehun untuk membawanya pergi ke rumah miliknya.
***
Jaerin membuka matanya, ketika merasakan hawa dingin begitu menusuk tubuhnya. Gorden kamarnya bertebangan karena hembusan angin yang begitu kencang, jaerin membangunkan tubuhnya untuk menutup hordeng kamarnya yang sedikit terbuka, namun baru saja jaerin ingin menarik gordennya, pandangannya tertuju pada sebuah mobil van yang berada di luar pagar mansion, terlihat jelas dari kamar jaerin yang berada di lantai 2, mobil van itu berhenti tepat didepan gerbang mansion sehun, jaerin juga melihat seorang lelaki yang mengintip dari kaca jendela mobil, lelaki dengan masker itu mengarahkan pandangannya pada jendela kamar jaerin, hingga tatapan mereka berdua bertemu.
Jaerin dengan cepat menutup kembali gorden kamarnya, jantungnya berdegup dengan sangat kencang terutama ketika tatapan mereka berdua bertemu. Rasa takut dan khawatir tiba-tiba menghantui jaerin, dia takut bahwa mereka adalah orang jahat yang memberikan ancaman pada jaerin.
Buru-buru jaerin keluar dari kamarnya, sambil berlari dengan nafas yang memburu, wajahnya pucat pasi, saking takutnya dengan apa yang ia lihat tadi. Jaerin berlari acak, tak terarah entah pergi pada bagian mansion Sehun sebelah mana, tapi jaerin tak peduli yang jelas tatapan mata orang itu seakan siap membunuhnya.
'"Aaaww." Jaerin menjerit kesakitan begitu tubuhnya menabrak sesuatu, hingga terhempas sedikit kebelakang.
Jaerin melihat apa yang ia tabrak tadi dan menemukan sosok woonhoo yang menatapnya bingung. "Jaerin? Kau kenapa?" Tanya woonhoo kebingungan.
Jaerin kelabakan sendiri, karena dia sendiri juga bingung dengan keadaannya, terlalu takut sampai tak tahu harus ia ceritakan dari mana awalnya dia bisa berada disini. Jaerin menatap sekeliling dan terkejut begitu mendapati dirinya berada cukup jauh dari ruangan kamarnya, tempat ini bahkan terasa sangat asing untuk jaerin. Jaerin langsung mengusap wajahnya kasar, merasa begitu bodoh karena terlalu panik dengan apa yang ia lihat tadi.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya woonhoo sekali lagi.
Jaerin menggeleng tak menghilangkan wajah ketakutannya, masih terlihat ekspresi wajahnya yang bingung juga pucat pasi seakan tengah dikejar oleh setan.
"Jangan berbohong padaku jaerin, aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu." Ucap woonhoo dengan tatapan mengintimidasi, dia tahu ada sesuatu yang disembunyikan oleh gadis yang ada dihadapannya ini.
"Hei, sedang apa kalian berdua disini?"
Suara berat yang khas itu membuat kedua insan itu terkejut, terutama jaerin yang sedari tengah menahan rasa ketakutan yang teramat.
"Sehun." Jaerin dengan cepat berlari menuju arah sehun yang berada tak jauh dari dirinya, memeluk lelaki itu sambil menangis tersedu, tak lagi tahan dengan rasa takutnya, rasa trauma akibat kejadian malam itu masih jaerin rasakan.
"Kenapa, ada apa?" Tanya sehun khawatir begitu mendengar isakan tangis jaerin.
"Apa kau tahu sesuatu woonhoo?" Tanya sehun pada woonhoo yang masih berdiam pada posisinya semula.
Kemudian sehun melepaskan pelukannya pada jaerin, menatap lekat gadis imut yang terus menitikan air matanya. "Apa kau mimpi buruk? Atau melihat sesuatu?" Ucap sehun dengan senyuman manis, ia tahu disaat jaerin ketakutan seperti ini lebih baik dia menunjukan ekspresi tenang, ketibang khawatir yang berlebihan hal itu justru akan membuat jaerin semakin merasa terancam.
"Aku—aku melihat seseorang di luar gerbang mansion mu." Jawab jaerin sambil terisak.
"Mana mungkin? Itu hanya penjaga." Woonhoo menimpali, lelaki itu merasa aneh jika orang asing bisa datang ke rumah sehun, bahkan untuk gerbang rumahnya saja bisa dijaga oleh 10 orang.
"Aku serius, lelaki itu menggunakan mobil van, dia berada di kursi penumpang, wajahnya ditutup oleh masker dan dia menatap kearah ku." Jelas jaerin.
"Bagaimana kau bisa melihatnya?" Kini sehun yang memulai sebuah pertanyaan.
"Aku terbangun karena gorden kamarku yang beterbangan oleh angin, dan saat aku ingin menutup jendela kamarku, aku melihat lelaki itu." Ucap jaerin.
Sehun menggeram, dia tahu mungkin ini akan segera terjadi, tapi dirinya tak menyangka akan secepat ini.
"Woonhoo! Perketat keamanan! Jangan sampai ada orang asing yang mendekati mansion ku." Perintah sehun dengan nada cukup tinggi, jika mengenai kondisi jaerin tentu saja sehun akan sangat sensitif, lelaki itu rela melakukan apapun agar jaerin baik-baik saja.
"Siap." Jawab woonhoo sambil berlalu pergi dari hadapan sehun dan jaerin.
"Kau tidak perlu takut, ada aku disini." Ucap sehun berusaha menenangkan jaerin yang masih terisak.
"Sehun... Ada yang ingin aku tunjukan padamu." Ucap jaerin.
"Apa?"
Tanpa menjawab pertanyaan sehun, jaerin dengan cepat menarik tangan sehun menuju kamarnya, tentu saja untuk menunjukan apa yang ia katakan tadi pada sehun. Sesampainya dikamar jaerin, gadis berambut panjang itu segera mengambil sesuatu didalam nakas disamping tempat tidurnya.
Secarik kertas berwarna putih itu ia serahkan pada sehun yang tengah berdiri tak jauh dari hadapan jaerin. "Ini."
Sehun menggapai kertas yang diberikan oleh jaerin padanya, walau sedikit bingung kenapa jaerin memberikan kertas ini, namun dengan segera sehun membacanya dan setelahnya tatapan sehun berubah, rahangnya mengeras begitu membaca secarik kertas itu, tatapannya begitu tajam sampai tak sadar bahwa secarik kertas itu sudah ia genggam begitu erat.
"Aku mendapatkan surat itu dari seseorang yang tak sengaja menabrak ku, saat aku membeli sarapan pagi tadi. Ku pikir surat itu hanya ulah orang iseng, tapi setelah kejadian tadi, aku merasa bahwa apa yang di tulis disurat itu akan terjadi padaku." Ucap jaerin dengan nada lirih, surat ancaman itu bisa berarti sebuah peringatan untuk jaerin, bahwa sebentar lagi akan terjadi sesuatu yang besar.
"Tidak akan terjadi apa-apa denganmu, selama kau bersama denganku, aku jamin tidak ada yang bisa menyentuh mu sedikitpun." Ucap sehun menenangkan jaerin.
__ADS_1
"Kau tunggu disini, aku akan menyelesaikan masalah ini." Sehun sudah berjalan meninggalkan jaerin dikamarnya, tapi tangan sehun ditahan oleh jaerin.
Sehun melirik jaerin dan melihat gadis itu tengah menggelengkan kepalanya pelan, dengan wajah suntuk yang polos tanpa sedikitpun make up. "Kau jangan takut, tidak akan ada bahaya yang mengancammu disini." Ucap sehun lagi, berusaha meyakinkan jaerin bahwa semua akan baik-baik saja.
"Tapi aku takut sehun." Lirih jaerin dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau begitu, kau mau bersama dengan josline?" Tawar sehun.
"Josline? Apakah dia ada disini?" Jaerin malah bertanya balik pada sehun.
Lelaki dengan wajah dingin tapi terkadang manis itu langsung memberikan tatapan yakin dan sebuah anggukan pada jaerin, tak lupa dengan senyumnya yang bisa menenangkan hati.
"Ya, dia ada disini." Jawab sehun.
Jaerin menghela nafas panjang, setidaknya dia masih memiliki teman ketika keadaan seperti ini.
"Ayo kita temui josline." Sehun menggapai lembut tangan jaerin, menggandengnya menuju kamar josline yang tak berada jauh dari kamar jaerin.
Sehun sengaja menyuruh josline, woonhoo dan beberapa anak buahnya untuk menginap disini, perasaannya tidak enak dan ternyata ada hal buruk yang ia takutkan. Maka dari itu sehun tengah bersiap untuk menghadapi semuanya, termasuk seseorang yang mengincar jaerin selama ini.
Dan sehun yakin orang itu bukanlah orang biasa.
Sesampainya dikamar josline atau tepatnya kamar tamu yang berada dilantai 1, sehun langsung mengetuk pintu kamar josline, disampingnya ada jaerin yang masih diam menatap pintu kamar josline.
Pintu kamar itu terbuka, menampilkan sesosok wanita berparas cantik dengan balutan kemeja berwarna baby blue juga celana lepis panjang, pakaian tak wajar untuk seseorang yang ingin tidur. "Ya." Ucap josline menatap kedua orang yang berada dihadapannya.
"Ada sedikit masalah didepan, aku akan mengurusnya, jadi kau jaga jaerin disini. Jangan tinggalkan dia." Perintah sehun.
Josline mengangguk paham, mengerti dengan perintah sang tuan padanya. "Baik, saya akan menjaga nona jaerin." Jawab josline.
"Kau disini bersama dengan josline, aku akan segera kembali."
Jaerin tersenyum tipis pada sehun, setidaknya sekarang ada josline yang menjaganya. Sehun berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan mereka berdua, pergi menuju tempat dimana ia bisa menemukan woonhoo.
***
"Bagaimana? Apa yang kau temukan?" Tanya sehun begitu sampai disebuah ruangan penuh layar, yang menampilkan setiap sudut dari ruangan di mansion sehun.
"Ya, apa yang dikatakan jaerin benar, ada sebuah mobil van berhenti didepan gerbang mansion mu. Wajahnya tak tersorot kamera cctv karena dia berada pada titik buta pada kamera, orang ini sangat handal." Jelas woonhoo sambil menunjuk layar yang berada di hadapannya.
"Lalu apa kau melihat plat mobilnya?" Tanya sehun.
"Ya, namun sayangnya plat nomor itu palsu." Jawab woonhoo sambil mengambil ponsel miliknya dari dalam saku bajunya, menunjukan apa yang dia dapatkan pada sehun.
"Ck, siapa mereka? Berani-beraninya datang kemari." Gerutu sehun sambil mengepalkan tangannya.
"Perkuat keamanan, kita mulai rencananya, seperti nya mereka tak tahu sedang berurusan dengan siapa."
Wajah dingin sehun, dengan tatapan matanya yang tajam kembali sehun tunjukan terlalu kesal dengan apa yang terjadi sekarang, walau mereka tak melakukan apapun, tapi sehun harus waspada, dan sehun tahu permainan ini baru saja di mulai.
***
**Akhirnyaaa update lagiii, btw gimana bab yang ini? Tegang gak?🌚 AWOKAWOKAWOKAWOK. Sengaja banget aku tuh, supaya kalian kepo😏🌚
Fyi aja nih gak penting2 juga, aku tuh kalau mau buat scene sehun disini pasti harus liat fotonya dulu, wkwkwkwk, entah gimana tuh awalnya, tapi pas liat muka sehun ada aja pencerahan buat cerita ini, wkwkwkwkwk😂😭
Dahlah, sehun emang ganteng banget gak nahan, mukanya kadang bisa jadi dingin dan manly dalam satu waktu, tapi abis itu jadi kyud dan gemesin jugaa.
Fyi lagi nih, latar ceritanya bukan di korea yah, ini di new york, sehun sama jaerin kan tinggal di new york kalian perhatiin kan? Takutnya salah tangkep dan nyangka kalau ini lagi di korea.
Udh gitu aja, pai pai see you next chapter.
Jangan lupa vomment yahh♥️🌚**
__ADS_1