
Jaerin menatap dirinya di pantulan cermin, pagi ini keadaannya cukup baik. Walau luka di bagian tangannya masih terasa perih. Menghela nafas lelah, jaerin teringat pada wonwoo, apakah lelaki itu baik-baik saja sekarang.
Jaerin hanya bisa berdoa dan berharap semoga sehun benar-benar menepati janjinya, karena dia tidak ingin kehilangan orang yang dia sayang lagi.
Sehun sebelumnya sudah berkata bahwa dirinya menunggu jaerin untuk sarapan bersama. Sekali lagi jaerin menatap dirinya pada pantulan cermin, setelah merasa benar-benar rapih. Jaerin melenggangkan langkahnya menuju ruang makan.
Benar saja pemandangan pertama yang dia lihat adalah sehun dengan pakaian kerjanya yang sangat casual, tengah menanti jaerin.
Jaerin tersenyum kecil, lalu menyapa sehun dengan sebuah tawa. "good morning" Jaerin menarik salah satu kursi yang posisinya langsung berhadapan dengan sehun.
"Kau terlihat sangat cantik pagi ini." Goda sehun saat melihat jaerin begitu cantik dengan rambut sederhana yang dia biarkan terurai.
"Bukankah aku selalu cantik setiap saat?" Bukan jaerin namanya jika langsung merasa bulshing dengan kalimat godaan sehun.
Justru jaerin yang akan membuat sehun kalah telak dengan segala ucapannya yang halus tetapi penuh dengan makna.
"Kau benar." Sehun terkekeh mendengar ucapan jaerin, sehun lupa bahwa jaerin memang selalu cantik apapun kondisinya.
"Selamat makan." Jaerin menepuk kedua tangannya secara bersamaan.
Hal itu biasa jaerin lakukan saat hendak makan, lebih tepatnya keluarga jaerin sering melakukan hal itu.
"Ya. Selamat makan." Sehun mengambil sendok untuk memakan sarapan pada paginya kali ini.
Rasa berbeda, mungkin karena pagi ini sehun sudah mendapatkan sebuah senyuman dan tawa manis dari jaerin. Bahkan rasa canggung jaerin padanya seakan hilang begitu saja, selain memliki aura berbeda yang bisa membuat semua orang suka padanya, jaerin juga seperti moodboster dengan sikapnya yang selalu imut.
Sehun merasakan hal itu, dan itu menjadi kesan tambah kenapa dia bisa mencintai seorang jung jaerin.
"Kau mau bekerja?" Tanya jaerin dengan mulut yang masih penuh dengan roti strawberry.
"Ya, memang kenapa?" Sehun malah berbalik bertanya pada jaerin, pandangannya tidak lepas pada jaerin yang sangat lucu karena pipinya menggembung sebab rotinya yang belum habis dia telan.
"Tidak, hanya bertanya." Jawab jaerin dia kembali mengambil selembar roti kemudian di oleskan dengan selai strawberry kesukaannya.
Setelahnya suara ruang makan kembali sunyi, jaerin sibuk dengan makanannya begitu juga dengan sehun. Dia menikmati setiap rasa sarapannya pagi ini, yang terasa lebih bewarna.
Sehun meletakan garpu dan sendok yang telah selesai ia gunakan untuk makan, mengusap mulutnya dengan tisu yang di sediakan di atas meja.
Sehun membenarkan dasi yang dia gunakan, sehun adalah orang yang sangat perfect. Lelaki itu pandai memakai dasinya sendiri, bahkan sehun juga bisa mencocokan bajunya dengan sangat serasi.
Dia bukan lelaki yang seperti di cerita fiksi romance dimana pemeran lelaki tidak bisa memakai dasi, lalu istrinya yang membantu memasangkan dasi.
Sehun bukan tipe yang seperti itu, jika dia bisa melakukannya sendiri kenapa harus meminta bantuan orang lain.
Berdiri dari kursinya, sehun juga mengambil sebuah tas berbentuk kotak yang isinya adalah iPad juga latpop miliknya.
Jaerin dengan cepat berdiri untuk mengantarkan sehun menuju pintu, tapi dengan cepat sehun menggeleng, sehun mendatangi jaerin sambil mengusap pucuk rambutnya pelan.
"Jika kau merasa bosan, kau bisa pergi ke halaman belakang disana ada kolam renang, ada taman kecil untuk kau bermain. Jika kau ingin mencari tempat tertentu kau bisa bertanya pada kepala pelayan, atau menelfonku." Jelas sehun.
Jaerin hanya menangguk paham, selanjutnya membiarkan sehun mendaratkan sebuah kecupan di keningnya. Walau singkat, perut jaerin rasanya meledak oleh kupu-kupu yang beterbangan.
Jaerin akui dirinya sangat merindukan hal seperti ini, bersama lagi dengan sehun setelah lama berpisah. Dan keduanya tengah berusaha melupakan luka di masalalu agar semua ini bisa selesai dengan segera.
***
Jaerin menatap kosong pada langit pagi yang begitu cerah, banyak sekali hal yang perlu dia ceritakan, hal yang perlu dia pertanyakan.
Tapi, rasanya masih begitu bimbang untuk membagi masalahnya dengan sehun, jika bukan dengan sehun lalu siapa lagi yang bisa jaerin jadikan tempat untuk berkeluh kesah. Dirumah ini tidak ada siapa-siapa kecuali para pembantu dan juga penjaga sehun.
Jaerin mengayunkan kakinya sehingga terdengar cipratan air, karena kini jaerin tengah berada di kolam renang yang sehun katakan. Suasana disini cukup sunyi, hanya ada kolam renang juga dengan air terjun buatan. Serta taman yang tidak jauh dari kolam renang ini.
"Eomma, appa. Apakah aku salah sudah memaafkan sehun?" jaerin bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Hwan, maaf sampai sekarang aku belum bisa meminta maaf pada kekasih mu." Jaerin mendongak menatap langit pagi yang hangat.
__ADS_1
Jaerin tersenyum sarkastik, dia ingat tentang adiknya hwan il yang mempunyai seorang kekasih bernama seulmin. Dia tahu gadis korea itu sangat terpukul karena kehilangan hwan.
Jaerin menarik nafas dalam lalu membuangnya dengan tempo teratur, lagi-lagi keraguan di hatinya muncul sejujurnya dia masih tidak rela ketiga keluarganya mati sia-sia seperti ini.
Tapi di satu sisi dia ingin acara balas dendam ini segera berakhir dan tidak lagi menimbulkan banyak korban.
"Nona jung."
Jaerin terkejut dengan suara lembut yang memanggil marganya reflek jaerin bangun dari tepian kolam menemukan seorang wanita dengan pakaian rapih menatapnya.
"Ah-maaf saya menganggu waktu anda." Perempuan itu yang tidak lain adalah kepala pembantu di rumah sehun, menundukan kepalanya.
"Tidak apa-apa, tidak perlu meminta maaf." Jaerin menjawab dengan sedikit kikuk, karena seharusnya orang yang lebih muda menghormati yang tua bukan sebaliknya.
"Nama saya marie, anda bisa memanggil saya marie." Marie kembali tersenyum pada jaerin.
"Hai, bibi marie namaku jung jaerin." Sapa jaerin dengan ramah juga senyum kecil yang sangat manis.
"Hallo nona jung." marie ikut tersenyum karena melihat keceriaan pada diri jaerin.
"Jangan panggil nona jaerin, itu aneh. Panggil aku jaerin saja bi." Jaerin tertawa canggung sambil mengibaskan tangannya di udara, merasa tidak nyaman dengan panggilan yang diberikan oleh marie.
"Tapi tuan se-"
"Jangan dengarkan sehun, bibi panggil saja saya Jaerin. Jung jaerin." Jaerin memotong ucapan marie yang jelas akan membahas perintah sehun.
"Baik." Marie hanya tersenyum tipis.
"No-jaerin tuan sehun memerintahkan saya mengajak jaerin untuk berkeliling mansion ini."
"Benarkah? Baiklah ayo." Jaerin menarik tangan marie.
"Ada banyak pertanyaan yang akan ku berikan pada bibi." Ucap jaerin masih setia menggenggam tangan marie.
Mereka memasuki kembali mansion sehun, penghubung antara kolam renang dan mansion milik sehun adalah sebuah lorong kaca di hiasi dengan bunga-bunga merambat yang sangat indah.
Walau sehun adalah lelaki yang sangat kejam tapi sehun begitu paham dengan mendesain rumah yang bagus untuk dia tinggali. Sehun juga membuat beberapa desain yang di sukai oleh jaerin, seperti bunga-bunga tadi dan juga taman.
"Ini adalah ruangan pertama. Kamar tamu." Marie membuka sebuah pintu dengan desain modern, yang menampakan sebuah tempat tidur king size beberapa barang-barang juga sebuah lemari cukup besar.
Jaerin hanya mengangguk paham memandang sekilas ruangan kamar yang sangat besar ini. "Tuan sehun memiliki hampir 5 kamar tamu yang memiliki desain yang berbeda di setiap kamarnya." Jelas marie pada jaerin.
Marie kembali menutup pintu kamar tamu itu, lalu kembali berjalan di samping jaerin yang masih menggenggam tangannya.
"Bisakah kita pergi ke tempat yang menyenangkan? Maksud-ku menujukan ruangan yang memiliki kesan saja." Jaerin sedikit terbata saat mengatakan permintaannya pada marie.
Marie hanya tersenyum tipis mengangguk paham dengan permintaan jaerin.
Mereka berdua kembali berjalan, kini marie berhenti di sebuah pintu kupu-kupu besar berwarna cokelat tua. Marie mendorong pintu itu, pandangan pertama yang jaerin temukan adalah rak-rak yang dipenuhi oleh buku-buku berurutan sesuai warnanya.
Jaerin menatap takjub pada deretan buku itu, dia jadi teringat perpustakaan milik ayahnya yang persis sama dengan milik sehun.
Marie berjalan memasuki perpustakaan itu, jaerin mengkuti langkah marie bahkan jaerin tercengang dengan lantai perpustakaan itu yang terbuat dari kayu menambah kesan klasik pada ruangan.
"Ini adalah deretan buku-buku ilmu pengetahuan dan juga sejarah. Tuan sehun tidak memiliki novel, tapi jika jaerin ingin membaca novel nanti saya belikan." Jelas marie.
Jaerin hanya menatap kagum pada deretan buku-buku itu. "Tidak usah bi, saya suka buku pengetahuan." Ucap jaerin.
"Kalau begitu kita cari tempat lain." marie kembali berjalan menuju pintu keluar perpustakaan besar.
Jaerin mengkuti langkah kecil marie yang sangat cantik dengan balutan kemeja berwarna putih juga rok mini.
Beberapa langkah berjalan marie kembali berhenti di sebuah ruangan kaca yang bahkan dalamnya terlihat dari luar, ruangan ini di apit antara ruangan satu dengan ruangan yang lain, sebelumnya jaerin berpikir ruangan ini hanya ruangan biasa.
Marie mendorong pintu kaca yang sangat tebal itu, jaerin yang sudah terlanjur penasaran langsung masuk kedalam ruangan dengan sangat cepat meninggalkan marie di luar. Marie hanya terkekeh melihat rasa penarasan jaerin, karena memang ruangan ini adalah ruangan yang sangat istimewa.
__ADS_1
Jaerin menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Bagiamana sehun bisa memiliki ruangan seindah ini. Ruangannya transparan dengan kaca tebal yang menjadi dinding.
Dari sini jaerin dapat melihat kolam ikan dan juga taman kecil yang berada di halaman belakang mansion sehun. Jaerin semakin tidak percaya ketika menemukan sebuah alat lukis lengkap dengan kanvasnya.
Sehun tahu jaerin sangat suka melukis, jadi sehun membuat ruangan ini untuk jaerin bahkan sebelum jaerin datang kemari, karena sehun memang berjanji akan mengajak jaerin untuk tinggal di mansion ini.
"god!" Jaerin semakin tercengang begitu beberapa potret dirinya di pajang di ruangan itu.
Fotonya ketika sekolah dulu, hingga fotonya ketika menjadi club sepakbola dan basket saat di sekolah dulu.
"Tuan sudah membuat ruangan ini saat mansion ini di bangun, hanya orang khusus yang bisa memasuki ruangan indah ini." Jelas marie yang masih berdiri di ambang pintu, memperhatikan jaerin.
"Ah." Jaerin tertegun mendengar ucapan marie, berarti selama ini sehun benar-benar masih menunggu dirinya.
"Saya sempat tidak menyangka tuan sehun akan seromantis ini pada wanita." jelas marie lagi, jaerin lalu menatap marie dengan sebuah senyuman teduh.
"Sehun adalah lelaki ter-romantis yang pernah saya temui." Ucap jaerin.
"Sepertinya kalian sudah kenal sejak lama." Tebak marie, jaerin hanya menjawab dengan anggukan kecil, lalu beralih pada sebuah gambar pemandangan yang sangat berantakan.
"Bagaimana gambar ini masih ada?" Jaerin terkejut dengan sebuah lukisan jelek yang sepertinya menujukan suasana pantai.
"Lukisan itu sudah ada sejak lama." Marie berjalan mendekat pada jaerin untuk melihat lebih jelas lukisan itu.
Jaerin tertawa kecil sambil memandang lukisan itu. Lukisan pertama yang di buat oleh dirinya, dimana saat itu jaerin sangat ingin melukis sebuah pantai di sore hari.
Tapi sayangnya jaerin tidak pernah bisa menangkap gambaran tentang pantai yang membuat dirinya frustasi sendiri. Sehun yang kala itu bersama dengan jaerin berusaha menenangkan jaerin agar tidak bersedih.
Hingga sehunlah yang menjelaskan gambaran pantai di sore hari, agar jaerin tidak sedih. Pada akhirnya hasilnya jelek dan berantakan, sehun tidak benar-benar tahu pemandangan pantai kala itu.
Jaerin membuang kanvas hasil lukisannya pada sebuah tong sampah yang tidak jauh dari tempat mereka melukis, dan meninggalkan sehun dengan emosi karena berbohong pada jaerin.
Sebuah senyum terpatri pada bibir tipis jaerin, rasa senang, sedih tiba-tiba mendatangi dirinya. Seingatnya lukisan itu telah benar-benar dia buang ke tong sampah.
"Sepertinya lukisan ini penuh dengan kenangan." Ucap marie yang sedari tadi memperhatikan wajah jaerin.
"Ya. Banyak sekali." Jawab jaerin, tangan kanannya yang masih terbalut dengan perban mengusap pelan lukisan itu.
Sebuah rasa aneh kembali hadir dalam hati jaerin, rasa yang sama ketika jaerin begitu mencintai sehun.
"Saya juga merasa sangat aneh dengan tuan sehun beberapa hari ini." kata marie, yang membuat jaerin menatapnya dengan raut bingung.
"Aneh seperti apa bi?" Tanya jaerin menjauhkan dirinya dari lukisan yang di pajang di dinding itu untuk duduk di sebuah kursi kayu dekat jendela.
"Beberapa hari ini tuan sehun lebih sering tersenyum dan sangat lembut pada karyawan."
"Benarkah? Memang sikap sebelumnya bagaimana?" Tanya jaerin penarasan.
Jaerin menatap lekat pada dinding kaca, walau masih penarasan dengan cerita marie.
"Sebelumnya tuan sehun sangat dingin, dia bahkan tidak pernah tersenyum untuk hal selucu apapun." Jelas marie.
Jaerin yang mendengar ucapan marie langsung mengalihkan atensinya dari taman pada marie, ditatapnya marie dengan wajah kebingungan tak paham dengan apa yang di ucapkan oleh marie.
"Tunggu, setahuku sehun adalah orang yang sangat ceria, dia mudah tertawa dan juga memiliki selera humor yang rendah. Dia bahkan tertawa untuk hal aneh yang bahkan menurutku itu tidak lucu." Jaerin semakin menatap marie dengan bingung.
"Tapi tidak dengan tuan sehun yang sekarang jaerin, dia adalah lelaki yang kejam-bukan aku bermaksud untuk menjelekannya, tapi itulah yang ku tahu selama bekerja dengan tuan sehun."
Jaerin tidak menanggapi ucapan marie lalu memilih untuk diam kembali mengalihkan pandangannya pada taman itu. Memikirkan apa yang baru saja marie ucapkan, sehun tidak mungkin kejam.
Tapi, fakta berbanding terbalik dengan apa yang di bayangkan oleh jaerin, dia ingat cara sehun untuk membunuh keluarganya yang begitu kejam. Menandakan bahwa sehun bukan lagi sehun yang jaerin kenal, apakah jaerin harus takut pada sehun sekarang.
Keraguan masih terus di rasakan oleh jaerin. Sehun bukan lagi sehun yang Jaerin kenal dulu.
***
__ADS_1