
Sunyi, gelap, namun tak terlalu hening karena dapat didengar dengan sangat jelas, suara langkah kaki yang saling bersautan, datang dan pergi begitu memekakan, terkadang suara bergetar terdengar, beberapa orang saling berbicara dengan nada yang cukup tinggi, mereka semua sibuk, sibuk dengan perintah dadakan yang diberikan oleh sang pemilik rumah.
Tidak ada percakapan diantara kedua orang itu, sedari tadi saling berkutat dengan pemikiran mereka masing-masing, jaerin dengan kekhawatirannya mengenai seorang oh sehun yang tak kunjung menjemputnya, terkadang jaerin mengintip dibalik tirai kamar tamu yang ditempatinya kini, memandang keadaan sekitar yang begitu ramai di tengah malam yang seharusnya berlangsung tenang, dilihatnya beberapa penjaga mulai menyebar, lebih banyak dari pada sebelumnya, sepertinya sehun benar-benar memanggil seluruh pengawalnya—double guard untuk keselamatan seroang jung jaerin.
"Tidak perlu khawatir, seorang oh sehun tidak akan mati begitu saja."
Jaerin langsung menatap sang pemilik suara, memang benar sehun tidak akan mudah mati, tapi dia khawatir sangat. Sehun bukanlah seorang yang kebal terhadap senjata, wajar jika jaerin mengkhawatirkan lelaki yanh memiliki tempat istimewa didalam hatinya itu.
"Lebih baik sekarang kau tidur, hari esok akan lebih melelahkan daripada sekarang." Tawar josline, menepuk sisi kosong pada tempat tidurnya yang berukuran king size.
Jaerin sempat tergiur dengan tawaran josline, tapi pikiran itu langsung ia tepis, tidak mungkin dirinya dapat tertidur dengan nyenyak sementara semua orang tengah bergelut dengan ketakutan.
"Aku tidak bisa." Tolak jaerin.
Gadis itu masih setia memantau para pengawal dari balik jendela, memperhatikan seorang oh sehun tengah memberikan arahan kepada seluruh pengawalnya, wajahnya terlihat sangat tegas, rahangnya mengeras juga matanya yang menajam, mengatakan banyak sekali keseriusan dalam ucapannya, walau tak dapat jaerin dengar.
"Jaerin, bagaimana kabar wonwoo?" Tanya josline yang berhasil membuat tubuh jaerin menegang, pasalnya dia tak tahu kondisi wonwoo setelah kejadian malam itu. Dirinya tak dapat menghubungi sahabatnya, karena sehun tidak memberinya kesempatan untuk bertanya kabar, beralasan cemburu dengan wonwoo, padahal sudah beberapa kali jaerin jelaskan bahwa dirinya dan wonwoo hanya memiliki hubungan persahabatan.
Jaerin memilih duduk disebuah sofa kecil didalam kamar super besar itu, menatap josline dengan sendu, menunjukan betapa sedihnya jaerin jika bersangkutan dengan wonwoo.
Josline yang merupakan seroang mahasiswa lulusan kedokteran dengan jurusan psikologi langsung mengetahui apa yang terjadi begitu melihat mimik wajah jaerin. Dia tahu ada banyak kesedihan dan penyesalan dalam ekspresi wajah jaerin.
"Apa yang terjadi?"
"Seharusnya aku tak membawa wonwoo dalam masalah ini. Malam itu aku berusaha melarikan diri dari sehun, tak berpikir panjang aku langsung pergi menuju apartemen wonwoo, meminta perlindungan kepadanya, berharap tak dapat lagi bertemu dengan oh sehuh. Tapi, nyatanya aku salah, sehun menemukan ku dan hampir saja membunuh wonwoo."
Sesal, sakit, itu yang dapat menggambarkan perasaan Jaerin ketika mengingat tentang wonwoo, sahabatnya yang ikut terseret dalam masalah ini karena ulahnya.
Josline yang mendengar penjelasan itu, langsung menatap tajam pada Jaerin, bergerak cepat menghampiri dirinya dan ikut duduk disamping jaerin.
"Jika aku terlambat, mungkin saja wonwoo bisa tiada, namun untungnya aku tepat waktu. Aku memohon pada sehun untuk melepaskan wonwoo, menjadikan diriku taruhan dan menyerahkan ku pada sehun. Tapi setelahnya, sehun tak memberi ku akses untuk menghubungi wonwoo, dan aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang."
Mendengar penjelasan jaerin, josline tak dapat berkata-kata lagi, kini dia mengusak kasar rambutnya, bimbang sekaligus merasa bodoh dengan dirinya sendiri. Dia dan wonwoo bukan sekedar memiliki hubungan pertemanan, josline sudah lama menyimpan perasaan pada lelaki berwajah dingin itu, hanya saja wonwoo sering mengatakan bahwa dirinya memiliki ketertarikan pada gadis lain, yang membuat josline harus mundur dan menutup keinginannya untuk mengisi ruang kosong dalam kehidupan wonwoo.
"Kau bisa menelfonnya, josline." Ucap jaerin, mengusap pelan punggung sahabatnya itu, pun selama ini jaerin mengetahui perasaan josline pada wonwoo, hanya bisa menyemangatinya.
"Tidak bisa jaerin, tidak bisa!" Teriak josline frustasi, rambut panjangnya ia remat dengan sangat keras, bahkan seperti menjambak.
"Ke-kenapa?"
"Semua orang hanya tahu, bahwa josline sudah mati karena kecelakaan mobil. Termasuk wonwoo." Lirih josline, yang kini menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menyembunyikan segala rasa sakit yang selama ini dia sembunyikan.
"Ba—bagaimana bisa?" Jaerin melotot kaget, apakah selama ini banyak yang ia lewatkan sampai tak tahu bahwa josline sudah dinyatakan meninggal.
"Sehun tak sebaik apa yang kau lihat Jaerin, dia juga membunuh kedua orang tuaku demi ambisinya, dan jika aku tidak melakukan ini, sehun juga akan membunuhku, aku tidak dapat melakukan apapun lagi, aku menawarkan diri kepada sehun untuk membantunya melakukan keinginannya dan berakhir seperti ini, hidup sebagai cloe, bukan lagi josline." Jelas josline yang berhasil membuat jaerin terkejut bukan main, ia tak dapat mengatakan apa-apa, karena paham dengan posisi josline.
"Jaerin, aku mohon padamu, jauhi sehun sedari sekarang, aku akan membantumu lari dari sehun." Josline menatap lekat pada jaerin, menggengam kedua tangannya dengan sangat erat.
Jaerin menggeleng pelan, tak menginginkan pernyataan itu keluar dari mulut josline. "Sehun hanya memanfaatkan mu jaerin, apakah kau pernah berpikir? Untuk apa sehun mempertahankan mu setelah tahu bahwa kau adalah anak dari pembunuh kedua orang tuanya?"
Skak.
__ADS_1
Jaerin bungkam dengan segala kebingungan yang sangat memusingkan, ia tak menyadari hal itu, tentang apa yang dikatakan oleh josline merupakan sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan. Jaerin melepaskan genggaman tangan josline padanya, membuang muka untuk memikirkan kebodohannya sendiri yang tak menyadari hal itu.
"Jaerin, orang yang mengincar mu sekarang menginginkan sesuatu yang orang tua mu sembunyikan baik-baik. Dan mereka tahu bahwa kau adalah kunci untuk menemukannya. Maka dari itu sehun mempertahankan mu, bukan karena cintanya padamu, tapi karena sehun juga menginginkan hal yang disembunyikan oleh kedua orang tuamu. Jika kau tak percaya denganku, kau bisa mendatangi rumahmu, disana sehun sudah menggeledah segala barang milikmu, tapi nihil dia tak menemukan apapun."
Jaerin mengepalkan tangannya dengan sangat keras, matanya menunjukan raut kemarahan yang teramat besar. Tak menampik bahwa apa yang dikatakan oleh josline merupakan sebuah kebenaran. Tubuh jaerin bergetar hebat, dia tidak dapat menjabarkan betapa terkejutnya dirinya tentang hal itu. Namun yang pasti, ucapan josline telah membuka sesuatu didalam diri jaerin, sebuah kebencian yang berusaha ia pendam, kembali mengusai ketika tahu bahwa dirinya hanya dijadikan sebuah bahan pemanfaatan.
***
Jaerin merasa, dirinya sudah sangat jauh dari sehun, bukan dalam hal jarak melaikan perasaannya, tentang dirinya yang tak mengenal diri sehun yang sekarang. Dahulu, yang jaerin tahu sehun hanya seroang lelaki tampan yang sudah memporak-porandakan, bukan sehun seseorang yang dianggap keji dan kejam.
Baginya sehun hanya lelaki manis, di mabuk cinta yang tergila-gila padanya sewaktu SMA, bukan sehun pemberontak, sadis dan juga suka memerintah, dirinya semakin merasa jauh, dalam hal perasaan pada sosok yang kini tengah ia usak rambutnya pelan.
Hitam legam dengan wangi citrus yang khas itu, setiap pagi akan menyapa jaerin, tak pernah berubah dalam pemilihan hal semacam itu, sehun memang akan menetap jika sudah nyaman terhadap sesuatu, bahkan shampoo yang ia gunakan kini.
Jaerin tak dapat mendeskripsikan perasaannya sekarang, tiba-tiba ada banyak keraguan mengenai cinta yang sehun utarakan, tak yakin dengan pertaruhan yang sehun lakukan hanya untuk sebuah cinta, yang mungkin sudah hilang sedari lama. Jaerin menatap sendu pada sehun yang masih terlelap dalam tidurnya, tak berniat menganggu, karena disini dirinya sedang memikirkan banyak hal dalam sebuah tatapan.
"Kau melamun."
Jaerin sampai tersentak, karena tiba-tiba sekilas ciuman mendarat dibibirnya, lelaki yang terlelap tadi menatap jaerin dalam, wajahnya masih sangat berantakan menandakan bahwa sehun baru terbangun, atau lebih tepatnya membuka mata, karena sedari tadi sehun sudah sadar dan hanya pura-pura tertidur.
Jaerin mengulas sebuah senyum tipis, sudah menjadi rutinitas untuknya jika sebuah ciuman seperti tadi diberikan sehun padanya. Tak menolak, maupun tak membalas karena sekarang jaerin tengah berusaha terlihat kuat. Kembali usapan itu jaerin lakukan pada rambut halus oh sehun, sangat pelan, lembut penuh perasaan. Tak dapat berbohong bahwa semarah dirinya pada sehun, tidak akan pernah bisa menghilangkan perasaan itu, cintanya pada sehun memang masih kuat seperti dulu, tak pernah berkurang sedikitpun.
Pertanyaan konyol itu sukes membuat sehun terkekeh, sepertinya sehun paham kenapa jaerin menanyakan hal itu. Sehun tak menjawab dan malah mengeratkan pelukkannya pada Jaerin, memejamkan matanya bersama lenguhan khas bangun tidur yang keluar dari mulut sehun.
"Apakah aku perlu menjawabnya, ketika dirimu sudah mengetahui kenyataannya?"
"Aku hanya takut, kau tak benar-benar mencintaiku lagi."
"Kau boleh takut, tentu saja. Tapi itu pasti akan terjadi jika suatu saat nanti aku mati. Disanalah bukti, bahwa aku tidak bisa mencintai mu lagi, dan saat itu pula aku merelakan dirimu bahagia bersama orang lain." Jelas sehun, sambil mengusap punggung jaerin yang masih dalam pelukan hangatnya.
Jaerin tersenyum miris, berbanding terbalik dengan segala hal yang kini ia pikirkan, tentang sebuah kenyataan yang di ucapakan josline. Membuat semuanya terlihat abu-abu, bahkan jaerin tak tahu apakah hatinya masih sama atau telah berubah.
"Sehun, aku ingin pergi ke rumahku." Jaerin membalas pelukan sehun, semakin mendekatkan tubuhnya pada sehun.
"Untuk apa?" Tanya sehun sedikit bergumam.
"Aku hanya merindukan rumah, dan juga ingin mengambil beberapa barang miliku yang berada disana." Ucap jaerin, tak sepenuhnya ia bohong, setengahnya hanya alasan, dan setenganya merupakan sebuah realita bahwa dirinya akan mengambil barang-barang miliknya yang tertinggal disana.
"Kalau begitu, aku akan meminta pengawalku untuk mengambilnya." Saran sehun, yang malah semakin menumbuhkan rasa penasaran pada diri jaerin.
"Tidak bisa, aku juga ingin melihat rumahku." Tolak jaerin, dia tak bisa mengalah kalau soal ini—ah ralat, selama ini sehunlah yang selalu mengalah untuk jaerin.
"Tapi jae—"
Jaerin membekap mulut sehun dengan tangannya, menatap tak suka pada lelaki itu karena menolak permintaannya. "Hanya sebentar, lagi pula tidak ada salahnya aku pergi kesana." Tambah jaerin lagi yang kini sudah menatap sebal pada oh sehun.
__ADS_1
Sehun terlihat pasrah, lagi-lagi mengalah untuk jaerin, tak bisa menolak bahkan untuk permintaan yang menurutnya sulit, selama itu masih bisa ia cerna, mau tak mau sehun harus menurutinya, membuat gadisnya sedih merupakan kegagalan bagi seorang oh sehun.
Sehun mengangguk, tak menjawab karena mulutnya masih dibekap oleh telapak tangan jaerin. Setelah mendapatkan jawaban 'iya' dari sehun, jaerin segera menyingkirkan telapak tangannya dari mulut sehun. Sejurus kemudian, seperti apa yang jaerin sering lakukan, gadis itu memberikan sebuah ciuman pada bibir sehun, dan kali ini dia yang bertindak, hanya sekilas karena setelahnya jaerin menatap lembut pada sehun.
"Aku mencintaimu."
***
Seperti apa yang dijanjikan sehun, kini mereka berdua tengah berada dihalaman rumah jaerin, rumah yang penuh dengan kenangan, jaerin tak dapat berkata-kata saat ini, begitu mendampa akan sebuah kerinduan dan kasing sayang yang selalu orang tua mereka berikan. Langkahnya pelan, menatap setiap inci halaman rumahnya yang cukup besar, tak bersuara, maupun menampilkan ekspresi karena yang terlihat hanya sebuah wajah datar yang sedang menyembunyikan banyak kesedihan.
Sekilas memori melintas dalam pikiran jaerin, dia begitu terluka, sangat. Tentang bagaimana keluarganya sering melakukan piknik dadakan dihalaman rumah yang penuh dengan rerumputan berwarna hijau ini. Sekelebat memori tentang bagaimana ayahnya dan hwan memancing bersama dikolam ikan didepan rumah. Dirinya yang sangat suka menyiram bunga bersama bundanya, dan kenangan indah lainnya yang semakin di ingat maka akan membawa jaerin pada luka lama.
Tak ada yang berubah, semua masih terlihat sama, pada tempatnya. Tapi tak menampik apapun yang dikatakan oleh josline semalam, adalah kebenaran, namun mungkin bisa juga kebohongan.
"Jaerin, ayo masuk." Sehun menepuk punggung gadisnya dengan lembut, tak ingin jaerin berlarut dalam kesedihannya.
Jaerin mengangguk pelan, tak mengatakan apapun dan memilih berjalan mendahului sehun segera membuka pintu rumahnya yang besar. Sejenak jaerin terdiam diambang pintu, meraup banyak udara begitu merasa sesak yang teramat pada bagian dadanya.
Bayangan terlintas jelas, kenangan dahulu yang begitu indah terpampang pada indera penglihatannya. Semuanya terlihat nyata, walau pada akhirnya semuanya hanya sebuah delusi dan fatamorgana, tak benar-benar ada karena semua itu hanya ilusi menipu mata, sebuah kerja otak yang menampakan banyak kenangan dimasa lampau.
Kuat, kata itu yang terus jaerin ucapkan dalam hatinya. Mulai melangkahkan kakinya menyusuri setiap inci rumahnya, mencari keanehan seperti apa yang dijabarkan oleh josline, tapi nihil semuanya terlihat sama, tak ada yang berubah.
Dan sampailah Jaerin disini, didepan pintu ruang kerja ayahnya, yang dia yakini menyimpan banyak rahasia, mungkin saja sehun tak menemukannya karena abai, tak teliti, tapi mungkin saja benar tidak ada, setidaknya jaerin berharap dirinya tahu apa yang disembunyikan oleh kedua orang tuanya.
Jaerin mendorong pintu itu, hawa dingin menyapa kulitnya setelah melihat AC diruangan itu menyala, dirinya menguatkan hati, kembali menuju rencana awalnya, menemukan kejanggalan untuk membuktikan bahwa apa yang dikatakan oleh josline adalah benar.
Tepat, jaerin menemukan keanehan diruang kerja ayahnya, ada banyak benda yang berpindah tak lagi ada pada tepatnya, jaerin tahu, sangat detail karena hanya dirinya dan sang ibu yang bisa membersihkan ruangan kerja itu, tak sembarang orang, tapi kini semuanya berubah, bingkai foto keluarganya yang sebelumnya berada diatas meja kerja sang ayah pada bagian kanan, kini berpindah pada bagian kiri, sebuah bingkai lukisan pemandangan padang rapeseed terjatuh dan tak lagi menempel pada dinding.
Juga tak adanya debu di ruangan ini sudah cukup membuktikan bahwa ada yang sengaja, atau sudah menggeledah ruangan kerja ayahnya. Dan jaerin yakin itu adalah seorang oh sehun.
Jaerin berusaha mengendalikan amarahnya, meluapkan sejenak rasa ingin membunuh seorang sehun, dia tak bisa langsung menikam lelaki itu, apalagi sehun merupakan seseorang yang sangat handal. Setelah dirasa dirinya dapat mengontrol emosi, jaerin menyambar bingkai foto itu, memeluknya kemudian berjalan keluar dari ruangan kerja ayahnya.
Kini berlari, menuju kamarnya, membuka tirai kamarnya yang didominasi oleh warna pink glossy yang sangat epic dengan glitter yang terpadu disetiap sudut kamarnya. Hal yang pertama jaerin cari adalah kotak perhiasan miliknya, mengambilnya dari dalam nakas, mengacak-acak segala, perhiasan. Mulai dari cincin, kalung, gelang, anting-anting, namun semua itu bukanlah atensinya, jaerin malah mengambil sebuah kotak kecil berwarna putih, bersyukur karena benda itu masih ia simpan.
Sebuah kalung liontin bunga mawar Pemberian kedua orangtua nya merupakan kenangan yang harus jaerin simpan baik-baik, dan untungnya barang itu tak hilang.
"Kalung yang sangat indah." Suara berat sehun membuyarkan lamunan jaerin, dengan gerakan cepat jaerin menutup kotak kecil berwarna putih itu, tak rela jika sehun melihatnya.
Karena bisa saja, benda kecil dengan liontin tangkai mawar itu merupakan alasan jaerin menjadi incaran para mafia.
***
**Kaget? NGAHAHAH maaf sengaja gak update, lagi sibuk sama alur dear love school.
Gimana udah ngerti? Kalau belum ara sukurin wkwkwk😂😒 konfliknya bakal masuk di bab depan mungkin?
Doain aja moga ara bisa cepet update hehehe😏
Ini gambar kalungnya jaerin, kaya gitu sih perisisnya**
__ADS_1