
**Hallo mafly, apa kabar? Semoga sehat selalu dan dalam lindungan tuhan yang maha esa.
Ara mau tanya nih, apa yang terlintas dipikiran kalian kalau membahas nama oh sehun?
Kalau ara. Ganteng, dingin dan sexy🌚
Wkwkwwkwk
Happy reading guys!♡**
 ***
 Tok tok tok
 "Jaerin ini aku tolong buka pintunya."
 Suara berat khas seorang sehun membuat jaerin yang tengah terduduk dipinggir ranjang tempat tidurnya beranjak dengan segera. Berniat membukakan, pastinya ada yang ingin sehun bicarakan hingga malam-malam seperti ini mengetuk pintu kamarnya.
  "Ada apa?" Tanya jaerin santai, bohong jika ia terlihat baik-baik saja, jaerin hanya bersandiwara agar sehun tak curiga.
  "Kau sudah makan malam?" Tanya sehun berbasa-basi.
 Hanya anggukan yang jaerin lakukan sebagai jawaban. Gadis berambut hitam legam itu memilih berjalan memasuki kamarnya dan kembali duduk dipinggir ranjang, bersama sehun yang ikut masuk kedalam kamarnya.
  "Apa dia melukai mu?" Tanya sehun menatap lekat jung jaerin yang tengah mencoba mengalahkan segala kemarahannya.
  Lagi dan lagi hanya anggukan dan gelengan yang menjadi jawaban. Lidah jaerin terlalu kelu untuk mengatakan sebuah ucapan, takut pula ia kelepasan dan melampiaskan segala kemarahannya. Tentang segala rahasia yang sehun sembunyikan. Walau dibenak nya banyak tersimpan pertanyaan, tapi jaerin memilih menundanya. Entah kapan yang jelas ia tidak akan bisa menerima semua penjelasan sehun, apalagi jika alasan itu adalah sebuah rasa takut kehilangan, cinta dan sebagainya.
  Sehun menghembuskan nafas kasar, gemas dengan tingkah jaerin. Jika gadis yang berada dihadapannya ini adalah musuhnya, maka sehun tak akan segan-segan membentak, ataupun melukai untuk meminta penjelasan. Tapi sayangnya yang berada didepannya kini adalah setengah jiwanya, segalanya untuknya. Membuatnya kecewa sedikit saja sudah membuat sehun merasa gagal menjadi seorang lelaki.
 Begitu buruk.
  "Jaerin, apakah sesulit itu kau berbicara? Apa yang lelaki itu lakukan padamu? Apakah dia mengatakan sesuatu tentang ku?" Tanya sehun bertubi-tubi, kesal karena dirinya diabaikan.
  "Jaerin... Apakah kau tidak mengerti perasaan ku saat ini? Jangan seperti ini." Lirih sehun, mengelus pelan punggung tangan jaerin.
 "Jangan buat aku ketakutan." Tambah sehun dengan wajah memelas. Aneh memang seseorang yang bersifat dingin, bahkan seperti seorang psychopath meminta dengan wajah memelas.
  "Sehun, aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan." Jawab jaerin akhirnya, suara terdengar bergetar, seperti hendak meluapkan sesuatu namun ia tahan.
  "Aku tahu kau—"
  "Sehun, bisa kau tinggalkan aku? Aku lelah sekali. Ingin beristirahat." Pinta jaerin dengan wajah yang sengaja dibuat-buat, kenyataannya dia memang lelah, tapi anehnya dia tak dapat terpejam.
 Sehun hanya bisa mengangguk, akan selalu menuruti permintaan jaerin dan berakhir keluar dari kamar dengan nuansa klasik itu. Meninggalkan jaerin dengan berat hati, walau sebenarnya ia tidak ingin pergi. Masih terlampau khawatir ada yang disembunyikan oleh jaerin.
  Setelah sehun keluar dari kamarnya, jaerin memutuskan untuk berbaring. Berdoa tuhan agar ia bisa terpejam, tetidur hingga lupa dengan masalah yang ia hadapi. Jujur, jaerin lelah dan tak sanggup meneruskan ini semua, jika bukan karena keluarga dan sehun jaerin mungkin akan mengakhiri hidupnya.
 Agar semuanya selesai, karena kunci terakhir dari data itu adalah dirinya.
  ***
 Sehun masih berjalan tak tentu arah, berputar asal dimansion besarnya karena kebingungan. Cara apa yang harus ia lakukan agar jaerin mau mengatakan apa yang terjadi. Dan kenapa. Tapi sehun terlalu bingung, dia tidak pandai membujuk seseorang apalagi untuk tipe seperti jaerin sangat sulit untuk ditaklukkan.
 Sudah setengah jam ia berjalan tak tentu arah, menjadi pusat perhatian seluruh pembantunya. Karena kejadian tak biasa ini, aneh sekali untuk ukuran seorang oh sehun kebingungan, biasanya otak cerdasnya itu bekerja. Tapi sekarang terasa kosong, tidak berisi seakan hilang tiba-tiba.
 "Tuan anda ingin meminum sesuatu?" Tawar seorang pembantu yang kebetulan lewat didepan sehun.
 "Tidak perlu." Jawab sehun, tak acuh sepertinya.
  Setelahnya lelaki tampan itu pergi darisana, masih penasraan dengan apa yang jaerin sembunyikan. Pasti ada sesuatu yang berusaha Jaerin tutup-tutupi. Begitu sampai didepan pintu kamar jaerin, sehun memutar kenopnya perhalan, mendorongnya sedikit, belum seluruhnya. Menyembulkan kepalanya, sehingga terlihat seluruh isi kamar jaerin, dan sang empu yang sedang terlelap tergulung selimut.
 Melihat itu sehun menyunggingkan senyum tipis, tenang sekali rasanya melihat jaerin dapat tetidur seperti itu. Kembali menuju niat awalnya, sehun memasuki kamar itu dengan langkah pelan, seperti pencuri yang tak ingin diketahui. Dia mulai menjelajah isi kamar jaerin, berusaha tak menimbulkan suara.
 Mulai dari membongkar walk in closet milik jaerin, cukup melelahkan karena ruangan itu sangatlah besar. Setelah beberapa lama mencari sehun tidak menemukan apapun didalam sana, hanya ada outfit yanh biasanya marie belikan untuk jaerin. Lalu sehun beralih menuju nakas yang berada disamping tempat tidur jaerin, membuka setiap laci itu satu-persatu. Tidak menemukan ada yang aneh, hanya ada buku-buku didalam sana. Juga sebuah kotak berwarna putih.
 Sehun sempat menyerngit bingung, merasa tak asing dengan kotak ini dan akhirnya ingat bahwa kotak ini berisi kalung pemberian adik jaerin hwan. Diambilnya kotak itu dari dalam nakas, membukanya, menampilkan sebuah kalung dengan liontin bunga mawar yang sangat indah.
__ADS_1
  Sehun sempat mengambil kalung itu, agar dapat melihat dengan jelas pada bagian mana yang terasa begitu aneh. Hingga tersadar, kelopak bunga mawar itu sama persis seperti lambang organisasi BLACK ROSE. Sesuatu mulai menganggu pikiran sehun, dengan cekatan dirinya membongkar habis isi kotak itu dan menemukan sebuah saputangan yang sengaja disembunyikan didalam kotak. Begitu sehun membuka sapu tangan itu betapa terkejut dirinya, mendapati lambang BLACK ROSE terpampang jelas disana.
 Mencengkram sapu tangan itu dengan erat, bahkan teramat erat. Emosi yang memuncah sebab semuanya terasa semakin jelas, sikap jaerin yang berubah, semua ini pasti berasal dari sapu tangan ini.
  "Sehun." Suara lirih itu menyapa netra pendengaran sehun.
 Pun suara itu terdengar sehun tak peduli, ia masih menatap kalung itu dengan mata elangnya. Bergelut dengan emosi yang bergemuruh berusaha menahan agar tak menjadikan jaerin sebagai sasaran. Bukan hal yang mudah tentunya, tapi sehun tetap mencoba.
  "Sehun." Panggil jaerin sekali lagi, hingga lelaki itu menoleh, menatap jaerin yang sudah duduk diatas kasurnya.
 "Apa yang kau lakukan?"
 Pertanyaan itu bukan jaerin yang melontarkan melainkan sosok oh sehun. Menajamkan matanya, pada jaerin yang tampak kebingungan.
 "Apa? Aku tidak melakukan apapun." Elak jaerin dengan wajah tersinggung, tentu saja dia tidak mungkin mengakui kegiatannya mencari tahu tentang kedua orang tuanya.
  "Kau masih ingin mengelak ketika bukti berada ditanganku?" Tanya sehun lagi dengan wajah teramat dingin, benar-benar berbeda dari sehun yang sebelumnya.
  Jaerin yang merasa semakin tersudut akhirnya memutuskan untuk bangkit, mendekati sehun dan berdiri dihadapannya. Memberikan tatapan yang tak kalah tajam dari sehun, menyembunyikan sebaik mungkin, tidak bercelah.
  "Katakan yang jelas, aku tidak mungkin tahu ketika kau hanya menunduh tanpa menjelaskan." Ucap jaerin dengan tatapan tak suka.
 Berikanlah tepuk tangan yang meriah untuk Jaerin, karena gadis lugu yang satu itu mampu memanipulasi seakan ahli menipu dengan wajahnya yang tampak natural. Dia benar-benar menunjukan emosi marah yang sesungguhnya, tak terima jika ia dituduh akan hal itu, padahal memang benar adanya.
  "Lelaki yang menyelamatkan mu di toilet memberikan ini bukan? Lalu kau meminjam telefon salah satu pengawalku untuk mencari tentang BLACK ROSE bukan!?" Jelas sehun, sedikit membentak membuat jaerin memundurkan langkahnya. Sedikit goyah begitu bentakan sehun terdengar.
  "Apa buktinya jika sapu tangan itu adalah pemberian lelaki itu? Bagaimana jika itu adalah milik ayahku?" Ucap jaerin lebih seperti memberi pertanyaan, jangan lupakan jaerin merupakan seorang yang terpandang pintar. Membual mungkin sekarang adalah keahliannya.
  Dan tepat setelah pertanyaan itu, sehun bungkam. Diam seribu bahasa tak dapat berbicara, dari wajahnya tampak seperti tersadar akan sesuatu. Sifatnya yang terlalu mudah menyimpulkan, tak berpikir panjang.
  "Sehun, kau hanya perlu percaya padaku. Kau berjanji akan hal itu. Tapi sekarang?"
  "Aku tidak akan percaya padamu jaerin. Jika kau menyembunyikan semua ini!" Teriak sehun semakin tinggi dari sebelumnya.
 "Apa yang ku sembunyikan sehun. Apa?" Tanya jaerin tak ingin mengalah begitu saja.
 Kini jaerin berteriak tak kalah kencang dengan sehun, kedua tangannya memukul dada sehun dengan sangat erat. Begitu sakit jika mengingat bagaimana ia dipertahankan hanya karena sebuah data sialan yang diincar oleh semua orang.
  "Sehun... Jawab, JAWAB!"
 Nafas jaerin memburu, dia benar-benar kehabisan kesabaran pada sehun. Niatnya untuk membuat ini tampak mudah, tapi harus gagal karena ucapan sehun yang menyakitkan. Tentang kepercayaan yang jelas sehun dustakan.
 Sehun kembali bungkam, dia terpaku tak tahu harus menjawab apa. Dia ingin menepis bahwa itu salah, tapi sejak awal niatnya memang seperti itu. Disatu sisi ia membutuhkan Jaerin untuk mencari data ini, tapi disatu sisi dia juga benar-benar mencintai jaerin, bukan kepalsuan belaka.
  "Kau tidak bisa menjawabnya? Ternyata benar?" Lanjut jaerin dengan sebuah senyuman kecewa yang tengah ia sembunyikan.
  Tersadar sepenuhnya dengan dunia, sehun segera mengerjap kaget. Dia melamun sehingga lupa bahwa ia harus memberikan jawaban pada jaerin. "Dari mana kau tahu tentang data itu?" Tanya sehun, rasanya sehun tidak pernah menceritakan perihal data itu pada siapapun.
  "Jangan mengalihkan pembicaraan. Cepat jawab dan katakan!"
  "Itu tidak benar, a—ku, aku benar-benar mencintaimu jaerin." Jawab sehun walau sedikit terbata.
 "Bohong! Kau berbohongkan?" Jaerin berteriak histeris, memundurkan tubuhnya menjauh dari sehun.
  "Tidak, aku tidak berbohong. Kenyataannya memang seperti itu." sehun langsung berusaha mendekati jaerin, menarik tangan sang gadis agar tak menjauh.
  "Kau berbohong sehun."
 Kini jaerin mengusap wajahnya kasar, mencoba kuat untuk tak menangis. Lelah selalu mendapatkan kenyataan pahit dihidupnya, yang terlalu rumit penuh dengan intrik. Yang bahkan jaerin tak memahaminya.
  Sehun mendekap jaerin dengan pelukan hangatnya, berusaha membuat sang gadis tenang dan yakin bahwa apa yang jaerin pertanyakan tidaklah benar. Sehun hanya tak ingin kehilangan jaerin, hanya itu.
  "Aku memang menginginkan data itu jaerin. Aku ingin melenyapkannya, agar kau tidak menjadi incaran para mafia. Aku hanya takut, tidak bisa melindungi mu dan aku tak ingin kehilanganmu."
 "Hari ini sudah cukup menakutkan bagiku, tentang bagaimana orang itu hampir saja membunuhmu. Aku tak ingin itu sampai benar-benar terjadi jaerin, kehilanganmu adalah hal terburuk dalam hidupku." Jelas sehun, mengelus punggung jaerin dengan lembut.
 Mengecup beberapa kali pucuk rambut jaerin. Berharap gadis yang masih menangis itu percaya akan apa yang dikatakannya, tentu saja tidak mau membuat jaerin pergi menjauh ketika keadaan semakin memburuk seperti ini.
__ADS_1
  "Jaerin, aku mencintaimu. Entah sebagai sehun yang dulu atau yang sekarang. Tidak ada yang berbeda."
Â
 ***
  Ini sudah hari kesekian setelah pernyataan sehun tentang cintanya. Rasanya jaerin masih mencoba percaya, bahwa apa yang dikatakan sehun bukanlah bualan semata. Ia berusaha yakin dengan kembali menerima sehun sebagaimana mestinya.
 Tapi ini sudah menjadi hari kesekian sehun pergi tanpa kejelasan. Benar-benar pergi hilang tanpa kabar. Terakhir mereka bertemu sekitar 5 hari yang lalu dan saat itu mereka sudah berbaikan. Terkadang jaerin penasaran dan menanyakannya pada marie, tapi jawabannya nihil. Marie tak tahu kemana perginya sehun.
 Membuang nafas kasar karena tak fokus dengan apa yang ia kerjakan, menaruh kuas lukis yang ia genggam, diatas meja. Lalu menatap hasil lukisannya yang berantakan, tak jelas dan tidak berbentuk. Abstrak dengan warna yang berantakan saling menimpa.
 Pikiran jaerin tidak fokus karena terus memikiran sehun. Mengalihkannya pun percuma saja, pada akhirnya ia yang akan kalah dan memilih mencari cara lain, yang pada akhirnya gagal juga.
  "Aish, sehun memang sudah membuatku gila." Rancau jaerin, dengan kasar mengacak-acak rambutnya.
 Setelah menggumam gusar, jaerin memutuskan bangkit dari kursi itu. Berjalan menuju jendela besar yang berada disana. Bukan jendela lebih tepatnya, dindingnya terbuat dari kaca yang menampilkan pemandangan taman belakang rumah sehun yang begitu asri dan indah.
 Jaerin berusaha mengalihkan pikirannya agar tidak terus memikirkan sehun, sulit memang tapi mau bagaimana lagi. Tiba-tiba sebuah sentuhan lembut menyentuh pinggang jaerin, memeluk gadis itu dengan sangat erat dari belakang.
 Karena terkejut, jaerin reflek membalikan tubuhnya dan menemukan sesosok lelaki tampan yang beberapa hari ini menjadi pusat pemikirannya.
 Wajah lelaki itu terlihat sangat lelah, rambutnya berantakan dan juga sebuah setelan jas yang berpadu dengan celana jeans. Terlihat begitu tak tertata rapih. Sementara sehun sendiri memilih tak peduli, dengan santainya lelaki itu meletakan dagunya dibahu jaerin yang terekspos karena pakaian yang digunakannya.
  "Aku merindukanmu jung jaerin." Gumamnya pelan, masih dalam posisi yang sama.
  "Hm, aku juga." Jawab jaerin, menarik kedua tangan sehun agar semakin mengeratkan pelukannya.
  "Maaf pergi tidak mengabarimu. Aku pergi ke belanda untuk mengurus pekerjaan. Sangat sibuk, bahkan aku tidak tidur selama 2 hari belakangan." Jelas sehun, memejamkan matanya. Menghirup sebanyak-banyaknya wangi jaerin yang begitu khas.
 Sehun memang tak berbohong, dirinya betulan pergi kebelanda untuk mengurusi penyelundupan senjata dan obat-obatan terlarang milik organisasi mereka. Hampir saja ketahuan, karena kecerobohan beberapa anak buah suho. Menyebabkan sehun harus turun tangan sendiri untuk mengurusi masalah itu.
  "Baiklah, kalau begitu kau harus istirahat. Ayo aku antar menuju kamar." Ajak jaerin, melepaskan kedua tangan sehun yang masih memeluknya.
 "Asal temani sampai tertidur." Pinta sehun dengan wajah lelahnya.
 Tak ingin berdebat, jaerin menganggukan kepalanya tanda setuju. Dia juga merindukan lelaki itu. Setidaknya dengan menghabiskan waktu bersama sehun rasa rindunya dapat terobati.
 Mereka berdua akhirnya berjalan bersama menuju kamar sehun. Jaerin membantu sehun untuk melepaskan sepatunya, jas yang masih ia kenakan dan kaus kakinya. Sehun memang akan manja jika merasa lelah dan Jaerin paham akan hal itu.
  Setelah selesai membantu sehun, jaerin pun ikut menidurkan dirinya disamping sehun. Seperti apa yang ia janjikan, dirinya akan menemani sehun sampai lelaki itu terlelap dalam tidur. Terlihat juga bagian bawah mata sehun yang menghitam, wajahnya begitu pucat. Seperti tidak terurus.
 Kesempatan seperti ini tidak pernah disia-siakan oleh sehun. Dirinya sudah memeluk jaerin dengan sangat erat, berusaha tetidur bersama dekapan hangat yang jaerin berikan.
 Jaerin dengan telaten mengusap-usap surai legam sehun, menatap wajah sang kekasih dengan lembut. Ia sudah tenang saat melihat kedatangan sehun dan juga penjelasannya yang masuk akal. Setidaknya tak sekhawatir tadi.
  Tak lama terdengar suara dengkuran halus yang tentunya dari lelaki yang berada disamping jaerin dan sudah memejamkan mata.
  "Apakah sesulit ini ujiannya, agar kita bisa bersama selamanya?"
 ***
**Gimana? Ara pikir cerita ini bakal tamat pada bab 20 tapi nyatanya di bab 19 pun belum masuk ke konfliknyaðŸ˜ðŸ˜¤
Huhuhu, jadi kayanya cerita ini bakal panjang deh. So jangan bosen-bosen ketemu sehun dan jaerin. Heheheh.
Jangan lupa vomment. Love you♡**
Â
Â
Â
Â
Â
__ADS_1