Mafia With Luv

Mafia With Luv
final of the game (THE END)


__ADS_3

**Akang, teteh. Ini ending lho, serius gak ada prank-prank-an😭


Mohon siapkan hati, jangan hujat ara yah wkwkwk. Apapun endingnya, karena kalian gak minta jadinya ara yang menentukan.


Mohon maaf kalau tidak sesuai🙏😊


Happy reading♡**


***


     Jaerin mencoba menahan jeritannya, berteriak sedari tadi pun tiada berguna. Jantungnya beranomali dengan sangat cepat, berdegup tak karuan bersama getaran hebat yang ia rasakan. Pendengarnya terasa ngilu, begitu nyeri tak kala suara nan kencang menghantam, memekakan telinga dan membuat rasa sakit yang teramat.


   DOOR


  DOOR


  Sekali lagi suara itu membuat jaerin semakin memejamkan matanya, tidak berniat melihat atau menjadi saksi akan apa yang terjadi dihadapannya sekarang. Tentu saja dengan susah payah, jaerin berusaha diam, walau sudah pasrah ia akan mendapatkan tembakan, atau menjadi salah satu korban. Meski kenyataannya ia masih bisa merapal doa dalam hati.


   Jaerin terkesiap, begitu kursi yang ia duduki sengaja ditarik, menjauh dari tempat kejadian. Dibukanya dengan paksa matanya, ingin tahu siapa yang membawanya kemari. Hal pertama yang jaerin dapatkan adalah suasana gelap, dirinya dibawa cukup jauh dari tempat kejadian, beruntunglah, dirinya tidak jadi sasaran tembakan.


   Namun setelahnya matanya membulat terkejut, sebab seseorang dengan pakaian seragam pengawal suho berdiri dihadapannya, wajahnya tampak garang, dengan mata yang menajam. Pupuslah harapannya untuk bisa selamat, nyatanya ia memang harus berakhir disini.


   Lelaki tadi masih terdiam, menatap jaerin lekat setelahnya membantu membuka ikatan tangan jaerin perlahan, lembut, seakan tidak ingin melukai. Jaerin memilih bungkam, penasaran pula akan apa yang lelaki ini lakukan, namun tidak dapat dipungkiri bahwa ia ketakutan, sangat.


   "Jangan takut, aku tidak akan melukai mu." Ucap lelaki itu seakan tahu apa yang dirasakan oleh jaerin.


   "Tidak ada jaminan bahwa kau tidak akan melukaiku, bisa saja kau hanya membual." Jawab jaerin dengan nada lantang, sedikit sarkas karena memang jaerin benci sebuah kebohongan.


   Lelaki itu terkekeh pelan, membuang asal tali yang mengikat tangan jaerin. Kini memberikan tatapan yang super hangat pada jaerin. "Kau benar, tapi apakah kau percaya jika aku mengatakan sesuatu?" Tanya lelaki itu, menahan tubuhnya dengan lutut, menyamakan tingginya dengan jaerin yang masih terduduk diatas kursi.


    "Apa yang ingin kau katakan?"


    "Jangan percaya pada siapapun termasuk orang terdekat mu." Ucapnya.


   Seketika tubuh jaerin menegang, suara ini tidak asing baginya dan ucapan lelaki itu sama persis dengan seseorang yang menyelamatkannya didalam toilet. Jaerin menganga, menutup mulutnya dengan kedua tangan, melotot tak percaya.


  "Ja—ja—di kau adalah orang yang menyelamatku didalam toilet?" Tanya Jaerin.


  Lelaki itu mengangguk meng-iyakan, setelahnya memberikan senyuman tulus pada jaerin. Gadis ini tidak banyak berubah, masih sama, sangat cantik dan mempesona. "Sekarang kau sudah percaya padaku? Aku harap kau mendengarkan aku kali ini, didepan sana akan ada banyak orang yang tengah bertempur, apapun yang terjadi, kau harus tetap bersamaku. Kau harus percaya karena aku sudah 2 kali menyelamatkan nyawamu."


   "Kita tidak memiliki banyak waktu, ayo cepat."


   


  Lelaki itu menarik tangan jaerin, membuka pintu besi yang sebelumnya tertutup. Kini menampilkan pemandangan lorong yang sangat asing pada pemandangan jaerin. Lelaki tadi terus menarik tangan jaerin, hingga mereka berada di ujung lorong. Lelaki itu menghentikan langkahnya, bersama dengan tangannya memberikan isyarat pada jaerin agar ikut berhenti.


  Mengintip dari balik tembok, setelahnya hal yang lelaki itu dapat adalah hamparan mayat yang berjejer rapih, bersama dengan darah yang memenuhi ruangan, bau amis tercium begitu menyengat. Dirasa aman, dengan segera lelaki itu menarik tangan jaerin lagi, memaksa sang gadis agar mau berlari mengimbangi langkah kakinya yang begitu besar.


   Kesusahan karena kencangnya lari lelaki itu  membuat jaerin kewalahan dan lelah sendiri. Benar-benar menguras tenaga. Mereka berdua melewati jajaran mayat itu, jaerin sempat menahan nafas karena bau darah menyeruak, sangat menyeramkan.


   "Jangan dilihat, ayo." Ajak lelaki itu, kembali membawa jaerin menjauh dari ruangan penuh mayat tadi.


  Mereka sampai lagi pada sebuah lorong yang begitu panjang. Tempat ini begitu merumitkan dengan banyaknya lorong, seperti goa, memusingkan. Namun untungnya lelaki yang menggenggam tangan jaerin dengan sangat erat itu sudah sangat tahu setiap seluk beluk tempat ini, menjadikan hal itu tidak terlalu susah untuk ia lewati.


   Suara derap langkah yang mengikuti dari arah belakang membuat jaerin semakin mempercepat laju larinya, sadar ada seseorang yang mengikuti. "Ayo lebih cepat, ada yang mengikuti kita." Pekik jaerin pada lelaki itu.


  Entah bagaimana jaerin juga bisa percaya pada lelaki ini, baginya menyelamatkan nyawanya dua kali itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa lelaki ini tidak memiliki niat buruk pada jaerin. Setidaknya untuk saat ini jaerin percaya.


  "JUNG JAERIN!"


  Suara itu terdengar menggema diseluruh lorong, jaerin menghentikan laju larinya begitu indera pendengarannya menangkap suara yang tidak asing untuknya. Suara itu, hanya dimiliki oleh jang won hoo, teman sekaligus tangan kanan oh sehun.


    "Ada apa jaerin?" Tanya lelaki tadi yang juga memberhentikan larinya.


   "Suara itu milik wonhoo." Ucap jaerin, sudah melangkahkan kakinya untuk mengejar wonhoo, siapa tahu lelaki itu ada disini untuk menyelamatkannya.


  


   "Jaerin." Lelaki itu menahan tangan jaerin, membuat sang gadis tidak dapat berlari.


   "Apa kau percaya padaku? Setelah apa yang kau lihat? Kau harus pergi dari sehun, kau lupa dia bahkan tidak memikirkan keadaan mu dikala kau di culik? Dia bahkan menjual data yang disimpan oleh kedua orang tua mu untuk kekayaannya. Apakah kau masih mau berlari pada lelaki itu?" Tanyanya dengan wajah datar.


  "Tidak ada jaminan sehun akan memperlakukan dirimu sama, seperti ketika data itu belum ditemukan. Bisa jadi dia akan berniat membalas dendam. Bukankah sudah cukup video transaksi sehun dengan lelaki tadi membuktikan bahwa dia hanya memanfaatkanmu." Tambahnya.


   Jaerin terdiam, mencerna seluruh perkataan lelaki asing yang masih menjegal tangannya, menahannya agar tidak pergi. Dirinya memang berpikir akan hal itu, kemungkinan terburuk yang terjadi jika benar ternyata sehun hanya memanfaatkan dirinya, serta ingin membalas dendam.


  Entah josline, suho dan lelaki asing ini mengatakan hal yang sama, sehun belum tentu akan bersikap baik padanya. Bimbang, jaerin sulit sekali untuk memilih, haruskah ia pergi atau bertahan. Semuanya tampak abu-abu, hidupnya juga belum tentu aman bersama lelaki ini, belari tanpa melihat kebelakang, rasanya akan sangat menyakitkan.


   "Aku tidak tahu." Lirih jaerin menyerah, karena ia belum menentukan pilihannya.


   "Jaerin, aku pastikan hidupmu akan aman."


  "Apa yang bisa kau berikan padaku?" Tanya jaerin menatap obsidian berwarna cokelat itu lemat.


   Lelaki tadi membawa tangan jaerin, meletakannya pada bagian dadanya, hingga jaerin merasakan debaran yang begitu kencang. "Aku bisa memberikan nyawaku padamu, karena aku adalah lee minhyung, mark lee." Ucapnya dengan nada penuh keyakinan.


   Jaerin membulatkan matanya, tak percaya dengan apa yang lelaki asing ini ucapkan. "Tidak mungkin, kau tidak mungkin adalah mark." Tepis jaerin dengan senyuman sarkas tak terima, menarik tangannya dari dada lelaki yang mengaku bernama mark.


   "Kau harus percaya jaerin, aku adalah markeu mu, your watermelon boy." Tambah mark dengan mata sayu, begitu mengharap.


   Jaerin tergagap—watermelon boy adalah panggilan yang ia berikan pada minhyung karena lelaki itu sangat menyukai buah semangka, tapi mungkinkah lelaki yang ada dihadapannya ini adalah lee min hyung. Temannya sewaktu kecil.


    "Mark..."


    "Tentukan pilihan mu jaerin." Ucap mark to the point karena memang waktunya tidak banyak, ia harus segera pergi dari gedung ini.


   "Aku ikut denganmu." Final jaerin.


  Mark tersenyum penuh arti, mengulurkan tangannya pada jaerin. Gadis itu menerimanya, kembali berlari menjauh dari sana. Sudah jaerin putuskan, bersama dengan mark itu lebih baik, ia yakin akan hal ini.


   "JUNG JAERIN! TUNGGU!"


  Teriakan itu terdengar semakin dekat, membuat jaerin ketakutan sendiri. Siluet seroang wonhoo terlihat dari kejauhan, berusaha mengejar dengan kencang, larinya berusaha ia stabilkan, tak ingin tertinggal.


  "Mark, ayo." Ucap jaerin pada mark, semakin mempercepat langkah kakinya agar bisa menjauh dari wonhoo.


  Lorong itu bergemuruh, dengan suara derapan langkah yang begitu kencang, decitan juga tak jarang terdengar ketika mereka harus mengalihakn arah lari, menyusuri setiap lorong yang begitu banyak dan panjang seperti maze.


  Setelah berlari cukup lama didalam lorong, akhirnya mark dan Jaerin berhasil keluar dari sana. Kini berdiri disebuah ruangan besar, layaknya ballroom yang berbentuk persegi dengan pintu lorong lain disetiap dindingnya.


   Jaerin terduduk lemas dilantai, tak sanggup lagi berlari karena kelelahan, benar-benar menguras tenaga, berlari seperti tadi. "Jaerin, pintu utama disebelah sana, ayo sebentar lagi." Ucap mark menunjuk sebuah lorong yang paling besar.


     Jaerin berusaha bangkit, tentunya dengan bantuan mark yang juga sudah kelelahan, keringat bercucuran didahi lelaki tampan itu. Setelah jaerin berdiri, mereka kembali berlari, walau tidak sekencang tadi karena wonhoo tampak tidak lagi mengikuti, sepetinya tersesat didalam lorong yang mirip seperti maze itu.


    Begitu sampai didepan pintu menuju lorong yang dimaksudkan mark, mereka berdua terkejut karena dari arah lorong yang hendak mereka tuju, tampaklah seorang lelaki mengacungkan senjata tepat kearah mereka berdua. Disana terlihat juga sesosok lelaki yang baru saja berusaha jaerin benci, oh sehun. Dengan tertatih-tatih memasuki gedung ini.


    Jaerin mencengkram tangan mark erat, dia begitu ngilu melihat kondisi sehun yang tidak baik-baik saja. Bajunya dipenuhi oleh darah, kakinya terbalut robekan kain serta beberapa luka pada wajahnya, begitu buruk.


   "Turunkan senjata mu." Perintah sehun, seseorang itupun menurunkan pistolnya.


   Sedikit rasa kasihan jaerin meronta, ingin sekali berlari memeluk sehun serta mengobati lukanya. Tapi ia tidak bisa.


   "Jaerin..." Lirih sehun dengan senyuman tipis, teramat bahagia karena melihat gadisnya selamat, setelah laporan dari wonhoo mengatakan bahwa markas suho diserang.


    Jaerin membuang muka, tidak berani menatap sehun. Jujur hatinya meronta, ingin rasanya mendekap tubuh sehun dikala seperti ini, tetapi otaknya menolak, menahan segala pergerakan yang hatinya inginkan.

__ADS_1


    Sehun berjalan mendekat, berusaha memeluk jaerin. Tapi yang terjadi adalah mark yang sudah menodongkan pistol pada sehun, menatapnya dingin, tak berperasaan.


   "Jangan pernah menyentuh jaerin." Dingin mark masih menodongkan pistol tepat pada kepala sehun.


  Sebenarnya anak buah sehun juga sudah membidik mark, sama mengacungkan senjatanya, apabila jika mark menarik pelatuknya maka nyawanya juga tidak akan terselamatkan.


   "Kau tidak berhak mengatakan itu." Balas sehun tak mau kalah.


   "Jaerin... Kemari." Perintah sehun dengan nada mendayu, sejujurnya bukan akting belaka karena memang kenyataannya sehun merasa sangat kesakitan.


   Menjawab dengan gelengan kepala membuat sehun membulatkan matanya tak percaya. "Kenapa?" Tanya sehun.


    "Letakan senjata mu mark." Ucap jaerin pada mark yang masih setia menodongkan pistol, membidik sehun dengan sebelah tangannya yang terus menggenggam tangan jaerin.


   Mark mengangguk, menuruti ucapan jaerin, menurunkan senjatanya yang otomtis membuat seorang pengawal sehun juga menurunkan pistolnya.


   "Ini saatnya untuk kita hidup masing-masing sehun." Jawab jaerin.


  Sehun menyerngit bingung, hidup masing-masing bukanlah planing yang ia dan jaerin rencanakan. Tidak ada perpisahan diantara bayangan itu, hanya kebersamaan serta kedamaian setelah peperangan melawan para mafia.


     "Itu tidak ada dalam rencana hidup kita jaerin. Tidak ada perpisahan." Ucap sehun tidak terima.


   "Ada, jika aku menginginkannya sehun. Jangan egois, kau sudah menyiksaku selama ini. Sekarang biarkan aku bahagia bersama dengan pilihanku." Jelas jaerin, berusaha mengakhiri ini semua dengan cara yang baik, meski jujur hatinya merasa sakit jika teringat cara sehun untuk memanfaatkanya, sangatlah manis.


    "Pergi bersama orang asing itu?" Tanya sehun menunjuk mark yang berdiri disamping jaerin.


   "Sedari awal kitalah sepasang orang asing itu sehun. Tidak ada kejelasan dalam hubungan kita, kau datang dan pergi sesuka hatimu, tanpa perduli dengan perasaanku. Bukankah itu sudah cukup untuk menganggapmu sebagai orang asing?"


  Telak. Sehun diam, ia tidak percaya kata itu terucap dari mulut jaerin, pikirnya selama ini jaerin dan dirinya baik-baik saja.


    "Biarkan aku bahagia sehun, biarkan aku pergi." Tambah jaerin.


    "Setelah apa yang kita lewati?" Tanya sehun.


    "Baginya itu hanyalah mimpi buruk dan sebuah siksaan. Kau lupa? Kau hampir membunuh jaerin karena keegoisan mu."


  Kali ini yang berucap adalah mark, dia tahu segalanya. Akan kejadian yang menimpa jaerin selama ini, hanya saja mark memilih menunggu, bersabar akan waktu yang tepat, dan sekarang ia tidak ingin lagi melihat jaerin tersiksa bersama dengan sehun.


   Prok Prok prok.


   Suara tepukan tangan itu membuat seluruh orang yang berada diruangan itu menoleh, menemukan sosok suho dengan keadaaan baik-baik saja, tidak ada cedera maupun luka yang berada ditubuhnya, seakan ada perisai yang melindungi suho, padahal mark yakin anak buahnya yang berada diruangan itu telah membunuh suho. Yakin sekali.


    "Drama yang sangat bagus." Ucap suho dengan senyum menyeramkan.


   "Pertunjukan yang luar biasa." Tambah suho dengan nada santai, tidak lupa dengan kekehan yang terdengar sangat menjengkelkan.


    Kyungsoo yang merupakan pengawal sehun satu-satunya disana dengan sigap menodongkan pistol pada arah suho, juga dengan mark yang tidak mau kalah, sudah membidik suho tepat pada kepalanya.


   "Hei, hei tidak ada gunanya kalian membunuhku, kita akan mati bersama disini." Ucap suho dengan tawa.


   "Omong kosong." Hardik sehun, sama kesalnya pada suho karena lelaki itulah yang selama ini telah membodohinya dengan tingkahnya.


   Suho mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya, seperti remot tetapi lebih kecil, meletakannya diatas lantai lalu menginjaknya, membuat remot itu hancur berkeping-keping tak tersisa.


   "Setelah ini, tidak ada dari kita yang selamat, kita akan menuju neraka bersama-sama. HAHAHAH." Tawa suho, seperti kesetanan.


   "Apa yang akan kau lakukan?" Tanya mark menggeram kesal.


   "Lihatlah, apakah ada jalan keluar." Jawab suho.


   Kyungsoo yang merasakan keanehan dengan segera pergi dari ruangan itu, menuju lorong dimana arah mereka datang tadi. Hal pertama yang kyungsoo lihat adalah pintu baja yang sebelumnya menjadi jalan ia masuk kedalam gedung ini tertutup rapat, memang saat pertama kali masuk kedalam gedung ini, pintu baja itu terbuka, seperti disengaja.


    "Sialan." Umpat kyungsoo, bergegas kembali menuju ruangan tadi untuk memberikan info ini pada bosnya.


   "Bos, pintu utama di tutup." Ucap kyungsoo begitu sampai diruangan tempat berkumpulnya sehun dan yang lain.


  "Ya."


   "Hahahahha, bagaimana? Suka?" Tanya suho tertawa seperti nenek sihir saking menyeramkannya.


    "Apa yang sebenarnya kau rencanakan?!" Pekik sehun kesal sendiri karena suho yang terlalu banyak Basa-basi.


    "TUNGGU!"


  Semua orang yang berada diruangan itu menoleh, menatap seseorang yang baru saja keluar dari dalam lorong lain. Nafasnya begitu menggebu, terengah-engah, kelelahan sebab berlari begitu kencang. Sesosok itu tak lain adalah jang won hoo yang sepertinya berhasil melewati labirin gedung ini.


   "Suho, dia menyimpan bom didalam gedung ini dan 5 menit lagi akan meledak." Ucap wonhoo begitu sampai tepat didepan sehun.


  Semua orang yang berada disana terkejut bukan main, terutama jaerin yang semakin mengeratkan genggamannya pada tangan mark.


   "Kau sudah menemukannya? Keren Bukan? Selamat datang di permainan." Ucap suho dengan nada meledek.


   Sebenarnya suho tahu, dirinya akan kalah jumlah dengan anak buah sehun serta mark, apalagi rencana ini diluar kekuasaannya ketika menjadi pemimpin black shadow, hanya beberapa orang saja yang tahu akan kegilaan suho, termasuk younghoon yang dimanfaatkan sebab memiliki dendam pada sehun.


  Sisa dari anak black shadow tentu saja tidak mau bergabung, sebab separuh dari mereka mengenal sehun dengan sangat baik. Maka dari itu suho memilih rencana ini, setidaknya pengorbananya tidak akan sia-sia, hanya satu saja niatnya, membuat keturunan terakhir keluarga oh mati.


  Mark mendecih mendengar ucapan suho, kemudian menembak lelaki itu tepat pada kakinya. Suho ambruk, setelah mendapatkan tembakan dari mark, tapi yang terdengar bukanlah ringisan melainkan tawa yang menggelegar. Mark menduga suho mengalami gangguan jiwa.


   "Dia gila." Gerutu mark kesal sendiri.


   "Mark, bagaimana?" Tanya jaerin.


Belum sempat mendapatkan balasan dari mark, tangan jaerin ditarik menjauh, sehun membawa jaerin berlari bersama, entah kemana yang jelas jaerin tak tahu, dia mencoba berhenti pun tak bisa, karena tangannya benar-benar ditarik oleh sehun.


  Mark yang melihat itupun tidak tinggal diam, dia dengan segera mengejar sehun, tak terima jika jaerin yang sudah memilih bersama dengannya malah dibawa pergi sesuka hati oleh sehun, tidak akan ia biarkan.


    "Lepaskan, kau tidak berhak atas jaerin." Ucap mark kelewatan pedas, sambil menepis tangan sehun.


    "Aku akan membawa jaerin pergi dari sini, jangan ikut campur, nyawa jaerin lebih penting. Aku tahu dimana jalan terakhir yang berada di gedung ini." Tegas sehun.


   "Cepatlah sehun, bom itu sebentar lagi akan meledak." Teriak wonhoo yang menyusul sambil berlari dari arah belakang, diikuti oleh kyungsoo.


    "Baiklah. Nyawa Jaerin lebih penting." Final mark yang memilih mengalah demi keselamatan jaerin.


   Akhirnya mereka berlima kembali berlari, mengikuti langkah besar wonhoo yang sepertinya tahu mengenai jalan keluar itu, sebab dirinya memang datang secara sembunyi-sembunyi ke gedung ini dan menggunakan jalan alternatif. Perlu kalian tahu, gedung besar ini hanya memiliki satu pintu, dengan ventilasi udara yang sangat kecil aja disetiap ruangannya, benar-benar dikhususkan seperti penjara.


  Sehun sempat kesulitan untuk mengimbangi lari ke empat orang yang lain, karena kakinya yang luka dan sama sekali belum ia obati. Lelaki itu nekat untuk langsung pergi menuju tempat suho, tanpa peduli dengan kondisinya. Sehingga beberapa kali sehun sempat terjatuh, dan berakhir jaerin yang berusaha membantunya.


  Dibelakang jaerin ada mark yang selalu mengekori, serta kyungsoo dibagian belakang.


   "Kalian dimana? Kirimkan helikopter sekarang juga, aku menunggu kalian diatas atap gedung." Ucap mark, berbicara pada seseorang disana menggunakan airpod yang masih terpasang dikedua telinganya.


   Setelah hampir beberapa menit berlari, mengitari lorong serta beberapa anak tangga, juga ruangan akhirnya mereka berdua tiba disebuah pintu kecil, dengan tinggi 1 meter.


   "Disana ada  pintu kecil menuju rooftoop. Aku akan masuk terlebih dulu, karena tidak ada tangga yang menghubungkan dengan atap, aku akan menarik sisanya." Jelas wonhoo menunjuk sebuah pintu yang terbuat dari baja, sama kuatnya seperti pintu utama tadi, hanya saja untuk menbukanya pintu ini menggunakan cara manual.


   Setelah membuka pintu itu, wonhoo masuk kedalamnya bersama dengan sisa yang lain, ikut menyusul mengikuti wonhoo. Dilihat ruangan itu sangat kecil, ada sebuah lubang diatas mereka juga tidak terlalu besar. Wonhoo sudah meloncat, memegang ujung lubang dengan bentuk persegi itu, mengangkat tubuhnya agar dapat keluar dari dalam lubang.


   "Ayo berikutnya jaerin." Teriak wonhoo setelah berhasil keluar.


  Sehun dan mark secara bersamaan mengenggam tangan jaerin berniat membantunya. "Aku saja, kau terlalu lemah. Kakimu semakin berdarah." Jelas mark menarik tangan jaerin menjauh dari sehun.


   Jaerin pun hanya terdiam saja, berdebat pun tidak ada gunanya. Sebab nyawa mereka berlima yang menjadi taruhannya. Mark dengan sigap mengangkat tubuh kurus jaerin, mengarahkan tubunya pada lubang persegi itu. Wonhoo juga membantu jaerin, dengan menarik tangan sang gadis agar bisa masuk dan keluar dari dalam gedung.


   Wonhoo dengan susah payah menarik tangan jaerin, hingga gadis itu bisa keluar.

__ADS_1


   "Ayo siapa yang akan duluan?" Tanya mark.


   "Kau saja, temani jaerin diatas sana." Jawab sehun.


  Mark mengangguk setuju, dengan cepat melompat menggapai sisi luar dari lubang itu. Tanpa bantuan siapapun bisa meloloskan diri karena dirinya memang ahli.


    Jaerin bergerak gelisah, satu menit lagi bom akan meledak, namun sehun dan kyungsoo belum keluar. Yang ia lihat hanya sosok mark, baru saja meloloskan diri berlari menuju jaerin


     "Kalian cepat masuk kedalam helikopter, aku akan membantu sehun." Jelas wonhoo.


   "Tidak aku akan menunggu sehun." Tolak jaerin.


   *DOOR


  DOOR*


  "Cepat bawa jaerin pergi dari sini mark!" Teriak wonhoo.


   Jaerin terkejut begitu suara tembakan terdengar dari dalam sana. Mark mendecih tak suka, dengan kasar membawa tangan jaerin untuk masuk kedalam helikopter yang mulai mendekat, terbang rendah dengan seseorang yang mengulurkan tangan, menggapai jaerin, menariknya membawa masuk kedalam helikopter paksa. Juga dengan mark yang sudah masuk kedalam helikopter.


   Wonhoo dengan sigap melirik kedalam lubang itu, ia cukup terkejut menemukan kyungsoo yang sudah tergeletak dengan luka tembak pada pangkal pahanya. Disana terlihat sosok suho yang tertatih-tatih, dengan wajah berkeringat menodong sehun dengan pistolnya.


   "Kita harus mati bersama-sama oh sehun." Ucap suho.


  Kyungsoo yang masih dalam keadaan tersadar, membidik suho dengan tangan pistol miliknya, menarik pelatuk hingga suho jatuh tersungkur, sebab tembakan kyungsoo tepat mengenai jantung lelaki itu.


   Sedangkan helikopter yang ditumpangi oleh jaerin dan mark mulai terbang menjauh dari gedung. Waktu mereka tinggal beberapa detik lagi, namun dari apa yang jaerin lihat dari sini wonhoo tengah mencoba menggapai tangan sehun namun tidak berhasil.


*3


2


1


  DUUUAAAAAAAAAR*


   Ledakan terdengar begitu kencang membuat mark dan jaerin menutup telinga mereka.  Seketika gedung dengan dua lantai itu hancur berkeping-keping, bersama dengan api dan asap yang menjulang tinggi. Ledakan tadi berhasil menimbulkan getaran yang luar biasa, menyebabkan helikopter sempat oleng tadi.


    "SEHUN!! TIDAK!!"


  Teriak jaerin histeris, begitu melihat sehun, wonhoo dan kyungsoo tidak selamat. Menangis, meraung, karena yakin tidak ada tempat untuk mereka berlindung.


   "Sehun... Hiks, maafkan aku..." Lirih jaerin terus menangis sambil memukuli dadanya sendiri yang terasa sangat sesak.


   Mark berusaha menenangkan jaerin, memeluk gadis yang tengah berteriak histeris itu. Rasanya pasti sangat menyakitkan, melihat kematian seseorang yang tersayang didepan mata sendiri.


   "SEHUN!! SEHUN!! HIKS... SEHUN!"


   Kesekian kalinya, jaerin harus melihat seseorang yang paling ia sayangi, paling ia cintai mati didepan matanya sendiri.


  Sejahat itukah takdir pada jaerin?


  THE END


   ***


**Cerita ini beneran tamat, yah. Mohon pengertiannya🙏😂


Nanti ada epilog sama chapter bonusnya kok, jangan khawatir. Nanti ara kasih.


See you soon♡


Jangan lupa vomment♡**


 


 


 


 


 


   


 


  


  


  


 


  


 


  


  


  


 


   


  


 


  


 


 


  


  


  


  


  


 


  


  

__ADS_1


 


 


__ADS_2