
Setelah mengatakan hal itu, sehun memeluk jaerin erat ikut merebahkan tubuhnya di samping jaerin, mencium harum tubuh jaerin yang sangat menggoda.
Benar, apapun tentang jaerin akan selalu membuat siapapun terpesona.
Sambil terus mengucapkan kata maaf tak henti henti di telinga gadis berkulit putih ini. Dia sangat menyesal atas apa yang terjadi.
Janjinya kali ini adalah membuat jaerin kembali bahagia walau dirinya tak lagi menjadi pahlawannya.
"Aku mencintai mu jung jaerin, akan selalu seperti itu..." Bisik sehun yang ikut terlelap di samping jaerin, sambil merengkuh tubuh kecil jaerin yang lemah.
***
Jaerin terbangun ketika merasakan sebuah hembusan nafas teratur menerpa leher jenjangnya, jaerin sedikit kaget mendapatkan sehun yang sudah tidur di sampingnya, dengan posisi sehun memeluk pinggangnya.
Jaerin merasakan pening yang luar biasa di kepalanya, matanya tak kuat untuk sekedar melihat jelas apa yang terjadi sebenarnya, mungkin ini adalah efek obat yang diberikan oleh dokter tadi.
Jaerin menatap lekat sehun, wajahnya sangat tampan apabila sedang dalam keadaan tenang seperti ini, jaerin tahu sehun sangat baik, sehun perhatian, tapi setelah perpisahan mereka 4 tahun yang lalu, jaerin sama sekali tak mendengar kabar dari sehun.
Terakhir kali ucapan yang sehun katakan padanya adalah, "Aku akan menjemput mu ketika aku sukses"
Kata dari sehun itulah yang membuat jaerin bertahan sampai sekarang, walau pada kenyataannya dia harus kecewa karena dipertemukan didalam rasa benci yang tumbuh secara perlahan hingga kini.
Jaerin menahan diri agar tak menangis, menurutnya itu percuma dia tak akan bisa mengembalikan waktu, dia tak bisa menghilangkan rasa benci dihatinya karena ulah sehun sendiri, tapi dia juga mencintai sehun, walau dia sudah berusaha untuk menutupinya itu percuma karena dihatinya masih tubuh rasa cinta pada lelaki dengan wajah dingin ini.
Pun sekuat apapun jaerin berusaha dia masih sangat bingung dengan perasaannya sendiri, haruskan dia membenci sehun? Atau mencintainya? Melupakan bahwa dia pernah melakukan hal buruk pada kehidupannya termasuk melenyapkan seluruh keluarganya yang tak berdosa.
__ADS_1
Jaerin mengusap rambut sehun yang berwarna hitam legam, entah setan dari mana yang memberikan keberanian untuk jaerin melakukan itu, karena sentuhan jaerin sehun menggeliat tak nyaman, dengan spontan jaerin menarik kembali tangannya, dan pura pura tertidur agar tak di ketahui oleh sehun bahwa dirinya sudah terbangun.
Memang benar, setelahnya sehun membuka mata menatap jaerin yang masih dalam keadaan pura pura tertidur, yang jaerin tahu sehun tengah menatapnya.
"Aku mencintaimu walau kau kini sudah membenciku." Bisik sehun kemudian mengecup kening jaerin sekilas, lalu beranjak pergi dari atas ranjang dan pergi meninggalkan kamar jaerin.
Jaerin terisak dia tak tahan menahan air matanya, ucapan sehun barusan membuat tubuhnya bergetar, entah perasaan apa yang jelas dia merasa sehun mengatakan itu dengan tulus, dan hal itu telah membuat setengah dari sejuta rasa benci jaerin pada sehun memudar, bukan hilang hanya tak bisa di lihat lagi keberadaan lebih tepatnya hilang untuk sementara namun untuk sewaktu waktu perasaan benci itu bisa kembali.
"Aku juga mencintaimu sehun..." Lirih jaerin di sela isakan tangisnya, dia benci hidup dia benci takdir yang tak adil pada dirinya yang tak peduli bahwa dia mencintai sehun, tapi kenapa ini harus terjadi diantara mereka berdua.
Jaerin mengusap kasar air matanya, mendudukkan tubuhnya di atas kasur, Jaerin melihat tangan kirinya sudah di tusuk oleh jarum infus, jaerin menarik jarum infus itu dari punggung tangannya, dan turun dari ranjang.
Keseimbangan jaerin belum kembali sepenuhnya, dirinya juga belum pulih tapi jaerin tak ingin berlama lama berada di sini, karena hal itu bisa membuat rasa cintanya pada sehun semakin bertambah dan membuatnya lupa bahwa dia membenci sehun.
Setelahnya jaerin mengganti baju, dia melihat di kamar ini terdapat walk in closet yang cukup besar didalamnya tersedia banyak pakain yang di sediakan khusus oleh sehun untuk jaerin, hanya untuk jaerin.
Jaerin memilih dress berwarna putih yang cukup sederhana, dia juga melihat lihat di dalam walk in closet ini banyak sekali dress bermotif berbeda, jaerin menyinggungkan senyum mengetahui sehun masih ingat bahwa dirinya sangat suka menggunakan dress.
Jaerin menatap dirinya dipantulan cermin rias yang ada didalam walk in closet itu, ada banyak sekali alat make up dan juga jewelry yang sangat banyak terutama jepitan rambut yang membuat senyum jaerin kembali merekah, pasalnya dia sangat menyukai jepitan rambut dan mungkin sehun masih mengingatnya.
Jadilah Jaerin mengunakan jepitan rambut itu di seluruh rambut nya yang panjang dan berwarna hitam.
Jaerin duduk di atas tempat tidurnya setelah selesai memakai baju dan merapihkan dirinya, dia melihat selang infus mengeluarkan banyak cairan sehingga membasahi bagian bawah tempat tidur, jaerin tidak menanggapinya dia hanya diam sambil menatap kamar yang sangat luas ini tak ada yang istimewa memang kamar ini di desain dengan sangat berbeda dari pada kamar pada umumnya.
Tak berselang lama pintu kamar jaerin terbuka, menampilkan sehun dengan kaos v neck berwarna putih menampilkan otot tubuhnya yang sangat menawan.
__ADS_1
Sehun diam di bibir pintu saat melihat jaerin menatapnya dengan tatapan sendu tatapan mereka saling bertemu tapi tak bisa menghasilkan apa apa.
Tapi satu kata yang bisa sehun ucapakan adalah jaerin sangat cantik, sehun sempat tak menyangka bahwa gadis kecil nan imut nya itu telah berubah menjelma menjadi seorang bidadari yang mempesona.

Sehun terdiam sebentar, lalu tersadar saat melihat cairan bening berceceran di dekat tempat tidur, sehun panik dia ingat bahwa junhyun bilang jaerin di beri infus vitamin c dan sekarang selang infus itu sudah berantakan di atas lantai.
"Kau sangat keras kepala!" Sehun mengambil selang infus itu dan menaruhnya di nakas samping tempat tidur jaerin.
Sehun membuang nafas kasar berusaha agar tak mengeluarkan amarah karena tingkah laku jaerin yang kekanak-kanakan, memang dari dulu sifat jaerin seperti itu manja, lucu dan sangat haus akan perhatian.
"Kau masih sakit, kenapa mandi? Ini masih pagi?" Tanya sehun pada jaerin yang tak mengucapkan sepatah katapun.
"Aku tak butuh peduli mu!" Jaerin menatap sehun tajam, sebenarnya diam Jaerin adalah memikirkan apakah sikap yang harus jaerin tunjukan pada jaerin.
Dan ya, mungkin iblis didalam hati jaerin berkuasa sehingga membuatnya untuk tetap teguh dengan pendiriannya sedari awal, yaitu membenci sehun.
"Aku tak tahu apa yang harus aku perbuat padamu, setelah ini kau harus sarapan setelahnya aku akan mengajakmu untuk mengunjungi pemakaman keluarga mu, syaratnya hanya itu, jika kau tak mau menurutinya, terserah padamu." Sehun berjalan pergi dari tempat jaerin berada.
"Aku tak memberikan kesempatan untuk kedua kalinya, jadi pikirkan baik baik." Sehun menutup pintu kamar jaerin, membuat jaerin tersenyum samar, walau dari cara yang berbeda tetapi sehun masih tetap menyayanginya.
"I stil try for understand your method to love me, but i know it's never make me wounded"
Selamat malam minggu, jangan doain malam ini hujan, karena aku mau jalan jalan sama sehun:) cari martabak, mau nitip?
__ADS_1