
**masa iya ada prolog gak ada epilog hehehe.
ara senang sama respon bagus dari kalian, so ara update chapter bonus sekaligus hope you like it
tinggalkan jejak okey**!
***
"Sehun....sehun... Hiks."
Gadis itu bergerak gelisah, tak menentu. Tampak gusar dengan gerakan acak, kesana-kemari dengan keringat bercucuran dibagian dahinya. Matanya bengkak, sebab terus menangis meski matanya tertutup, terlihat sangat buruk. Karena kesekian kalinya, jung jaerin tidak dapat nyenyak dalam tidurnya, selalu dirundung rasa bersalah, juga penyesalan akan apa yang ia katakan tentang perpisahan. Yang sekarang menjadi kenyataan. Dunia memisahkan dirinya dengan seseorang yang paling ia sayang. Oh sehun.
Hari-harinya tidak pernah bisa tenang, wajah oh sehun selalu terbayang. Bagaimana perjuangan lelaki itu, hingga ringisan kecil yang sehun ucapkan ketika terluka, semuanya masih membekas dalam pikiran jaerin.
"SEHUN!"
Jaerin berteriak histeris, matanya terbuka lebar. Sebelumnya ia bermimpi buruk tentang lelaki itu, benar-benar menyeramkan, bagaimana sehun berusaha mati-matian untuk melindunginya sedangkan jaerin sendiri memilih pergi bersama orang lain, terdengar jahat.
Pintu kamarnya terbuka dengan cukup keras, dentumanpun terdengar. Membuat atensinya teralih.
"Kau baik-baik saja? Mimpi buruk lagi?" Tanya seseorang lelaki yang baru saja mendorong pintu kamar jaerin dengan cukup keras
Jaerin terdiam, memilih mengabaikan pertanyaan itu untuk mengusap dahinya yang dipenuhi oleh peluh. Dirinya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
"Hiks... Sehun." Rengekan terdengar setelahnya, jaerin kembali menangis dengan suara parau.
"Jaerin."
Yang lelaki itu bisa lakukan hanya menenangkan jaerin, menepuk bahunya yang bergetar, terkadang berpindah lalu mengusap pucuk rambut panjangnya yang tergerai. Tangannya juga bergerak untuk menyelipkan helaian anak rambut jaerin, pada daun telingannya.
"Biarkan sehun pergi dengan tenang jaerin."
Lelaki itu, mark lee. Hanya bisa menatap sendu pada gadis yang terduduk diatas ranjang, mark sangat paham akan kesedihan yang dialami oleh jaerin. Sebab melepaskan orang yang tersayang, merupakan hal tersulit yang pernah dilakukan. Apalagi berpisah karena kematian.
"Sehun... " Lirihnya tidak berhenti terisak.
Mark dengan pelan mengusap jejak air mata di pipi jaerin. Selama ini pula ia paham akan keadaan jaerin, maka dari itu mark selalu ada disamping jaerin. Seperti apa janjinya, memberikan hal yang berharga untuk jaerin, termasuk nyawanya sendiri jika Jaerin menginginkannya.
"Kemari, hm? Menangislah yang puas." Perintah mark, melebarkan kedua tangannya.
Jaerin mendongak, menatap tidak berminat pada mark. Tak kunjung mendapatkan respon, akhirnya mark menarik paksa tangan jaerin, memeluk perempuan itu, memberikan sentuhan halus agar jaerin bisa tenang.
Setelahnya jaerin benar-benar melepaskan seluruh beban yang ia tahan. Menangis meraung sekeras-kerasnya dalam pelukan mark, terkadang memberontak, memukul dengan keras dadanya sendiri, ketika rasa sesak melanda.
Satu hal yang ingin jaerin ungkapkan, ia menyesal.
***
"Mom? Dad? Kenapa tiba-tiba?" Tanya lelaki itu setelah membukakan pintu, begitu mendengar bel rumahnya berbunyi dengan sangat keras.
Pertanyaan itu diabaikan, kedua orang yang baru saja datang itu memilih masuk kedalam rumah yang lumayan besar itu, sebenarnya lelah juga karena jalan menuju rumah ini memang menyeramkan, terletak didalam hutan belantara didaerah busan. Butuh waktu berjam-jam untuk sampai kemari dari seoul.
"Ck, malah abaikan." Gerutu mark, yang memilih ikut masuk kedalam rumah.
Tamu yang baru saja datang adalah kedua orang tua mark, lee jihyeok dan lee kylena. Kedua orang tua mark sebenarnya tinggal di canada, namun ada beberapa hal yang harus mereka lakukan hingga untuk sementara ini bertempat di seoul.
"Dimana Jaerin?" Tanya kyle setelah meletakan seluruh barang-barang yang ia bawa diatas meja.
Mark yang baru saja muncul, menatap sang ibu sendu. Ada gurat kesedihan yang terpancar dari wajah mark, terutama ketika membahas jaerin, hatinya terasa sangat sakit, saat tahu jaerin tidak bahagia bersama dengan dirinya.
__ADS_1
"Dia diatas mom, tolong jangan buat dia semakin bersedih. Dia masih tidak rela akan kematian sehun." Jawab mark, dengan nada lirih.
Kyle mengangguk paham, berjalan melewati anak semata wayangnya itu, sebelumnya menepuk pundak sang anak, agar kuat menghadapinya. Setelahnya kyle berlalu pergi, sepertinya ingin melihat keadaan jaerin.
"Apakah dia masih sama?" Tanya jihyeok yang terduduk diatas sofa, beristirahat, karena lelah diperjalanan.
"Ya dad, jaerin masih sering bermimpi buruk tentang sehun. Menangis sendiri, bahkan setiap pagi, aku harus menenangkan jaerin, terutama ketika terbangun dari tidur." Jawab mark, setelahnya mengusap wajahnya dengan kasar.
Mendapatkan penjelasan itu dari sang anak, jihyeok tidak dapat berkomentar apa-apa, dirinya juga tidak ingin melihat jaerin seperti ini.
"Dad, apa yang harus kita lakukan? Aku tidak mau jaerin terus seperti ini." Tanya mark.
Jihyeok menghela nafas panjang, otaknya buntu tidak dapat menemukan jalan keluar. Sebenarnya ada 2 pilihan, tapi keduanya tidak memiliki penyelesaian yang baik, ada resiko di antara 2 pilihan itu.
"Kita lihat keadaan jaerin terlebih dahulu, jika memang sudah parah. Dady akan mengambil keputusan." Jelas jihyeok, kini beranjak dari duduknya untuk pergi menuju kamar jaerin, melihat keadaan gadis itu.
Mark juga membuntuti dari belakang, tentu saja untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh kedua orang tuanya, baik jihyeok ataupun kyle memiliki pemikiran yang berbeda, namun kali ini mark berharap keputusan kedua orang tuanya dapat membuat jaerin bahagia.
Sudah 2 minggu setelah kejadian diatap gedung itu, selama itu pula hanya mark yang terus berada disamping jaerin, menemaninya tanpa ada keluhan, selalu menerima jaerin apa adanya tidak peduli terkadang jaerin memukul dirinya untuk dijadikan pelampiasan, mark terima, asalkan bisa membuat jaerin bahagia.
Sebenarnya jihyeok dan kyle ingin datang lebih awal, tetapi banyak yang harus mereka urus karena pekerjaan mereka yang juga memiliki resiko, tapi selama itu pula mark sering memberitahukan keadaan jaerin pada kedua orang tuanya. Agar mereka tidak perlu khawatir, walau keadaan jaerin tidak baik-baik saja.
Sesampainya dikamar jaerin, jihyeok dan mark menemukan kyle berdiri dibelakang jaerin yang tengah terduduk didepan jendela. Rambut hitam jaerin terurai begitu indah, wajahnya teduh walau terlihat banyak kesedihan. Angin menerpa, menerbangkan setiap helai rambut jaerin, karena jendela yang sengaja dibuka.
Benar-benar pemandangan yang sangat indah, terutama ketika wajah jaerin tersorot senja, begitu sempurna, dengan kulit mulus, putih yang memanjakan mata. Sekarang mark tahu kenapa jaerin selalu menjadi primadona, sebab memang kecantikan jaerin yang alami.
Jihyeok mendekati kyle, berdiri disamping istrinya itu, tak berani mendekat pada jaerin. Hatinya terlalu sakit, karena wajah jaerin yang benar-benar menurun dari ibunya. Jung seoyoung, kyle rindu akan sahabat satu organisasinya itu, begitu rindu.
"Ayo, dekati dia." Perintah jihyeok, walau tahu istrinya tidak sanggup untuk sekedar menatap kedua iris mata jaerin.
Mendengar suara dari arah belakang, membuat jaerin membalikan badan, hingga matanya tertuju pada ketiga orang yang secara terang-terangan menatapnya dalam diam.
Kening jaerin menyerngit, berpikir keras untuk mengingat dua orang asing ini. Pasalnya muka kedua orang itu, yang tak lain adalah jihyeok dan kyle serasa pernah jaerin kenal. Setelah beberapa menit saling bertatap dalam diam, jaerin akhirnya ingat, kedua orang ini.
Kyle yang sedari tadi menahan air mata, akhirnya menumpahkannya, segera berlari untuk memeluk jaerin yang ternyata mengingat dirinya. Sangat memilukan, rasanya menyesal karena tidak dapat menyelamatkan sahabatnya dari pembalasan dendam.
"Jaerin? Kau baik-baik saja? Hm? Ada yang terluka?" Tanya kyle bertubi-tubi, sehabis memeluk jaerin dengan tangisan yang cukup keras, kini tangan kyle bergerak menyusuri wajah jaerin, memperhatikan gadis itu.
"Aku baik-baik saja bi." Jawab jaerin, menggapai kedua tangan kyle yang berada diwajahnya, menggenggamnya, lalu sebuah senyum terpatri dari bibir mungil jaerin.
"Maafkan bibi..." Lirih kyle, mengusap wajahnya kasar, menghapus jejak air mata karena tangisan sedih yang ia rasa.
Jaerin tidak membalas perkataan bibinya, hanya senyum tipis yang ia jadikan jawaban. Tidak berniat membalas, atau mengingat mengenai keluarganya yang berakhir mengenaskan.
Kedua orang lelaki yang berdiri diambang pintu itu hanya diam, melihat betapa mengharukannya pertemuan antara jaerin dan kyle. Karena memang mereka sudah lama berpisah, terakhir bertemu ketika jaerin berumur 10 tahun, itupun hanya beberapa jam.
"Apa mark melukaimu? Apa dia membuatmu bersedih?" Tanya kyle lagi.
Mark yang mendengar pertanyaan dari ibunya itu hanya bisa mengelus dada, kyle memang suka sekali menyalahkan mark, atau menjadikan mark kambing hitam.
"Tidak bi." Jawab jaerin terkekeh kecil, karena kyle memang tidak berubah, sangat suka membuat mark merasa bersalah, tipe ibu aneh tetapi mark sangat menyayangi kyle.
Jihyeok yang melihat situasi membaik, pun segera mendatangi kyle dan jaerin yang masih berdiri didepan jendela. Jihyeok memberikan senyuman manis pada jaerin, karena sedari kecil jaerin selalu bersama dengan kyle dan jihyeok apalagi ketika jiwoo dan seoyoung harus pergi ke luar negeri.
"Apa kabar nak?" Tanya jihyeok layaknya seoranh ayah.
Jaerin menghangat, selama 15 tahun berpisah dari keluarga lee membuat banyak kerinduan yang terpendam. "Aku baik paman." Jawab jaerin.
"Ayo duduk, jangan berdiri disana."
__ADS_1
Kali Ini yang berbicara adalah lee minhyung, lelaki satu itu sudah paham jika jaerin sudah berada diantara tengah-tengah keluarganya, mark pasti dilupakan. Tapi mark tidak pernah protes, sebab dia juga suka akan kehadiran jaerin, semakin membuat keluarganya penuh dengan warna.
"Ah yah, mark benar. Ayo duduk." Ucap jihyeok.
Kyle sekarang melingkarkan tangannya pada bahu jaerin, merangkulnya, lalu mengajak menepi, untuk duduk di sebuah sofa yang berada dikamar itu.
Sekarang ke empat orang itu terduduk diatas sofa, dengan posisi jaerin yang berada disamping kyle, lalu jihyeok yang berada disebelah klye serta mark yang ikut duduk disamping jihyeok. Persis seperti keluarga bahagia.
Kyle yang memang notabenenya sangat sayang pada jaerin, memaksa agar gadis itu menyandarkan kepalanya pada bahu kyle. Jaerin yang tidak mau berbedebat memutuskan untuk menurut saja, mengikuti perintah klye untuk bersandar pada bahunya.
"Dad, ingin seperti itu." Rengek mark dengan wajah manja yang dibuat-buat.
Alhasil jihyeok mendecih jijik, tingkah anaknya memang menyebalkan. "Sudah bisa membunuh orang juga, masa minta diperlakukan seperti anak kecil." Sindir jihyeok yang membuat seluruh orang yang ada disana tertawa.
Sedangkan mark hanya bisa merengut, sebal karena balasan ayahnya yang malah tidak sesuai dengan apa yang mark harapkan. Ayah dan ibunya memang tidak peka.
***
"Jangan membantu mereka jaerin, biarkan kali ini para lelaki yang memasak." Ucap kyle yang menjenggal tangan jaerin ketika wanita yang satu itu hendak berjalan menuju dapur, tentunya untuk membantu jihyeok dan mark yang tengah memasak didapur.
"Kenapa memangnya bi?" Tanya jaerin yang kebingungan, karena dirinya memang baru datang.
"Mereka bibi hukum, sebab semalam bermain PlayStation sampai pagi." Jelas kyle, kini menarik tangan jaerin menjauh dari dapur.
Semalam sekitar pukul 1, kyle memergoki mark dan jihyeok yang tengah memainkan PlayStation diruang tamu, tertawa bersama seakan tidak memiliki beban. Padahal kesehatan jaerin yang tengah menjadi permasalahan, sebab gadis itu masih sering bermimpi tentang sehun, menjerit, meraung dan menangis. Masih tidak rela akan kepergian sehun.
Sudah hampir 3 minggu jaerin tinggal dirumah mark, sebenarnya rumah ini adalah tempat rahasia yang biasa dijadikan keluarga lee sebagao tempat bersembunyi, karena memang letaknya yang agak sulit untuk dijangkau. Selama 1 minggu pula jihyeok dan kyle menemani mark disini. Membantu anak itu untuk mengurus jaerin yang terkadang masih sangat sulit makan, bahkan tubuhnya lebih kurus, jaerin sangatlah keras kepala sehingga susah untuk dirayu.
Dan sampai saat ini juga jihyeok maupun kyle belum berani menceritakan sesuatu yang selama ini mereka sembunyikan.
"Tolong bantu bibi membersihkan nakas ini mau? Sudah lama bibi meninggalkan rumah ini, jadi semuanya tampak kotor." Jelas kyle, langsung menyamakan tingginya dengan sebuah lemari kecil, yang digunakan untuk menyimpan buku-buku dan alat kecil lainnya.
"Tentu saja bi, ayo jaerin bantu." Jawab jaerin, ikut menyamakan tingginya bersama dengan kyle.
Fisiknya memang tampak baik-baik saja, tapi hatinya tidak, masih ada luka yang ia tahan, tertanam dilubuk hatinya yang terdalam. Jaerin tidak pernah lupa, ada beberapa orang yang berkoban hingga meregang nyawa demi kebahagiaannya.
Jaerin membantu kyle mengeluarkan buku-buku yang berdebu dari dalam nakas itu, meletakannya diatas meja ruang keluarga, sebab nakas itu berada disamping sofa tempat berkumpul.
"Tunggu sebentar, bibi akan mengambil kemoceng terlebih dahulu." Ucap kyle, beranjak pergi dari ruangan keluarga.
Jaerin hanya menanggapinya dengan anggukan kecil, kemudian menumpuk buku-buku itu, mengusapnya pelan karena debu yang menutupi sampul dari buku-buku yang sepertinya memiliki halaman lebih dari 600 lebar, sebab tebalnya yang tidak main-main.
Menepikan buku itu pada bagian ujung meja, agar tersisa ruang untuk benda lain. Namun saat hendak menggeserkan buku itu, salah satu buku pada bagian atas terjatuh ke lantai. Relfek jaerin mengambilnya, karena beberapa lembar foto berceceran, keluar dari dalam halaman buku yang terbuka.
Diambil olehnya lembaran foto itu, sempat memilih tidak peduli dengan merapihkannya, tapi batal ia lakukan. Sebab ekor matanya menemukan sesuatu yang mencurigakan. Dengan sigap jaerin mengambil foto itu, menatapnya lemat-lemat, sembari meminta otaknya untuk bekerja lebih ekstra, agar bisa mengingat siapa yang berada difoto usang, dengan warna hitam putih ini.
Deg
Jaerin membekap mulutnya tidak percaya, bagaimana ia bisa lupa. 2 orang wanita cantik dan 2 orang lelaki lain yang masing-masing tengah memamerkan sebuah senjata ini adalah orang yang paling ia kenal, orang yang selama ini ia cintai. Membalikan foto itu, hingga menemukan sebuah tulisan tangan disana.
Seoyoung, kyle, jihyeok dan jiwoo. We are the greatest!
Jaerin dengan segera melempar foto itu, sungguh jantungnya beranomali tak karuan sekarang. Ia tentu saja terkejut setengah mati begitu melihat foto itu, benar-benar kenyataan pahit lainnya yang harus ia terima.
Haruskah jaerin terluka lagi? Kebohongan apa lagi yang tengah semua orang sembunyikan darinya. Dan sampai kapan permainan ini akan terus berjalan, membuat banyak luka lagi didalam hatinya.
Bisakah ini berhenti dari sekarang?
***
__ADS_1
Gimanaaaa? Mereka udah hidup didunia berbeda, gak bisa bersama lagi. Gimana dong? Hiks😭😱
Pisahin aja yah udah😏🌚