Mafia With Luv

Mafia With Luv
riddle


__ADS_3

**Mau tanya, kalian lebih milih jaerin sama sehun musuhan atau baikan?


Kalau kalian liat cogan tuh gimana ekspresinya? Kalau aku be like '🌚'


Wkwkwkwkwk   


Happy reading mafly**


.


.


.


.


     Menyembunyikannya dengan cepat dari sosok lelaki yang ada dibelakangnya. Tak ingin jika benda ini akan dijadikan bahan kecurigaan oleh lelaki yang bernama oh sehun. Jadi lebih baik, jaerin—sapaannya, menyembunyikan benda itu dari sehun.


   "Sebegitu berharganya barang itu? Pasti seseorang yang sangat istimewa memberikannya padamu. Bukan?" Tanya sehun dengan suara yang sedikit melembut, namun itu sangat menakutkan untuk didengar.


   "Ya, kalung ini pemberian hwall, ketika aku berulang tahun yang ke 20 tahun" Jelas jaerin, tak ingin membuat kesalahan pahaman dengan sehun, jelas lelaki itu tengah cemburu perihal kalung ini.


  Posesif sekali memang.


   "Oh, kalau begitu jagalah." Ucap sehun, lega sekaligus tenang ketika tahu bahwa kalung itu pemberian adiknya, setidaknya sehun tidak perlu cemburu atau takut jaerin memiliki tambatan hati selain dirinya.


    "Oke, kalau begitu aku akan mencari barang-barang milikku yang lain." Jelas jaerin sambil membawa kotak kecil itu, bersama sebuah bingkai foto kecil yang berisi potret kebahagiaan keluarga jaerin. Dahulu.


   Keluar dari dalam kamarnya, yang memang tidak ada hal istimewa lainnya. Meninggalkan sehun didalam kamarnya, mungkin saja sehu penasaran dan ingin mencari sesuatu disana, yang jelas jaerin tidak peduli.


  Penjelasan jaerin tentang kalung pemberian hwall itu adalah kebohongan. Kalung ini merupakan pemberian ayahnya, kalung yang sangat berharga, bahkan ketika jatuh ke tangan jaerin, ayahnya tak pernah membolehkannya memakai kalung itu. Kata ayahnya, akan ada saat waktunya.


  Mungkin saja sekarang.


  ***


  Sehun masih sibuk melihat-lihat kamar jaerin yang sangat feminim dengan nuansa pink mendominasi. Kamarnya umum seperti remaja pada umumnya, penuh alat make up di atas meja rias, serta buku-buku belajar. Namun yang menarik perhatian sehun adalah dinding luas yang di penuhi oleh beberapa bingkai foto yang terpajang rapih. Menelisik sedikit, beranjak dari tempatnya semula menuju dinding itu, hingga kini tepat berdiri didepannya.


   Sehun menatap satu persatu foto, beberapa kenangan yang terpotret rapih dalam sebuah kertas berbingkai yang begitu apik. Foto di dinding itu didominasi oleh foto jaerin. Tapi, ada satu foto yang menarik perhatian sehun, foto dengan bingkai paling kecil di antara yang lain.


  Karena penasaran, sehun berniat mengambil bingkai foto itu, namun urung ia lakukan begitu dering ponsel membuyarkan.


  Dengan cepat, sehun mengambil ponsel miliknya yang berada didalam saku celana, menatap layar ponselnya sebentar hingga menemukan nama pengawalnya menelfon. Tak mau berlama-lama, sehun segera mengangkat telefon itu, siapa tahu penting.


   "Boss, mobil van semalam, terlihat melintas didepan rumah kediaman keluarga jung, kami tengah mengejarnya, namun kami kehilangan jejak di tengah persimpangan."


   Kaget, satu kata yang dapat mendeskripsikan keadaan sehun saat ini, tebakannya sungguh melenceng, orang ini memang sengaja mencari masalah dan gencar mengejar jaerin. Sehun tahu apa yang mereka inginkan, tapi sehun juga membutuhkan itu dia tak akan pernah memberikan benda itu pada orang yang salah.


   "Jangan sampai ada yang keluar dari kediaman keluarga jung." Perintah sehun dengan nada tegas.


    "Baik boss."


   Sehun dengan cepat menutup panggilan telefon itu. Sejurus kemudian sehun sudah berlari dengan sangat kencang, mencari keberadaan jaerin yang memang tidak berada disampingnya. Berteriak berkali-kali memanggil nama sang gadis, namun tak ada sautan yang menjawab. Berlari semakin tak menentu arah, menyisir setiap ruangan dengan gerakan cepat, tak pula mendapatkan hasil.


  Semuanya nihil, hingga sampai diruang tengah, pusat rumah keluarga jung. Sehun berteriak sekeras-kerasnya disana, berharap dimanapun jaerin sekarang bisa mendengarnya.


  "JUNG JAERIN!"


  Satu detik.


  Dua detik


  Tiga detik


  Masih tidak ada jawaban, membuat sehun frustasi sendiri. Apakah jaerin melarikan diri, tapi sehun yakin pengawalnya sudah menjaga pintu keluar baik depan maupun belakang dengan sangat ketat.

__ADS_1


  "Jaerin." Terengah-engah, lelah, bernapas berusaha mengais udara sebanyak-banyaknya. Kelelahan sendiri karena terlalu nekat menjamah setiap ruangan rumah jung yang begitu besar.


   "Perintahkan pengawal mu untuk mencari—"


   "Sehun?"


  Suara pelan nan lembut itu membuat sehun yang tengah frustasi menoleh. Hafal betul dengan suara itu sehingga dia memilih untuk melemparkan diri dalam pelukan jaerin. Merengkuh tubuh mungil yang wangi dengan terlampau erat, sampai jaerin sendiri butuh pasokan udara sekarang.


   "Sehun, lepas." Rengek jaerin, terlalu susah untuk bicara, sehun benar-benar ingin menyiksanya.


  Rengekan kecil itu berhasil membuat pelukan sehun melonggar, menyisakan banyak tanya dan juga kekhawatiran yang mengganjal ingin segera di pertanyakan. Hilang beberapa menit saja sudah membuat sehun terlalu frustasi, gila hingga bingung sendiri. Bagaimana jika hilang selamanya? Akankah sehun mati?


  Di tatapnya gadis polos berwajah manis itu hangat, tak terlalu ketakutan seperti tadi. Karena pusat kekhawatirannya telah berdiri di hadapannya. "Kau dari mana?" Tanya sehun mengintimidasi.


   "Aku sehabis dari gudang, mengambil barang-barang kesayanganku." Jawab jaerin memperlihatkan dua buah paper bag penuh diatas lantai.


   Bernafas lega, panjang sekali. Bahkan sempat menyisir rambut panjangnya, sekalian mengusap peluh yang bercucuran, terlalu panas dan kelelahan. "Kau membuatku khawatir. Ayo segera pergi dari sini." Ajak sehun, menarik pergelangan tangan jaerin.


   "Kenapa? Aku masih ingin bermain disini." Protes jaerin tak terima, dia tidak ingin begitu saja pergi.


   "Mobil van yang kau lihat semalam, terlihat lagi tadi di depan rumahmu." Jelas sehun.


  Diam, jaerin menarik tangannya dari genggaman sehun. Menatap kekasih yang ia sayang dengan sendu, teramat menyimpan banyak tanda tanya, sebuah beban tak jelas. Yang bahkan pemikulnya pun tak tahu apa yang ia pikul. Terlalu berat, terkadang ringan. Namun melelahkan.


  Seperti jaerin saat ini, tak tahu apa masalahnya namun dirinya di haruskan menanggung semuanya sendirian. Terlalu kejam dan sangat menyulitkan, bisakah dia hidup sebagai gadis biasa saja? Pergi bekerja, menabung, berkencan lalu setelahnya menikah. Kenapa hidupnya terlalu rumit.


  "Jaerin, ayo." Tarik sehun lagi, tak ingin berlama-lama disini. Dia takut, penyerangan akan dilakukan orang itu dadakan. Tak ingin jika sampai pertumbuhan darah itu disaksikan oleh jaerin, sungguhlah menakutkan.


   Dirinya terancam dan memang tak bisa melakukan perlawanan, jaerin memilih menurut, memungut dua paper bag miliknya, mengekori, ikut berjalan dibelakang sehun.


  Dan setelah ini, jaerin akan benar-benar berdoa pada tuhan. Ingin diberikan keadilan, hidup sebagai gadis biasa yang hanya membandel, sibuk dengan urusan remaja bukan dengan para mafia seperti dirinya.


  ***


    Rambutnya tergerai panjang, hitam legam bak lautan tinta yang begitu dalam. Tak bercelah warna, berpadu dalam sebuah sinar mentari elok disore hari. Wajah seputih salju, dengan guratan pahat indah ciptaan tuhan yang begitu rumit sekaligus indah untuk dipandang. Terkadang sebuah tatapan kosong diberikan, seakan meminta harapan di antara siang dan malam, tak terpisahkan.


  Kesal dan aneh sendiri dengan dirinya, masih mengumpat tentang keadilan di hidupnya yang tak pernah ia rasakan. Ingin rasanya pergi, hilang ataupun berpura-pura tak tahu dengan segala yang terjadi. Menjadi masyarakat biasa yang penuh dengan impian dan cita-cita, sederhana saja.


   Manik yang tak kalah dalam, hitam, yang di pandang penuh ke kelaman. Berpindah pada sebuah bingkai foto yang baru saja terpajang. Sebuah potret abadi dirinya dan seluruh keluarga bahagia. Tersenyum manis menghadap kamera seakan tak pernah terjadi apapun, menyembunyikannya dengan apik, rapih tak bercelah. Namun sangat menyakitkan, jika akhirnya jaerin tahu segalanya.


   Mengambil bingkai foto itu, menatapnya sendu, ingin menangis namun berusaha ia tahan. Diusapnya gambar ketiga orang yang begitu ia cintainya secara bergantian, merasa sakit yang teramat ketika mengingat dirinya memaafkan pembunuh keluarganya. Tak ingin berlarut, jaerin kembali menaruh bingkai kecil itu lagi di atas nakas. Kini pandangnya beralih pada sebuah kotak kecil pemberian ayahnya, mengambilnya membukanya dengan tak sabaran. Hingga menampilkan sebuah kalung liontin bunga mawar yang sangat indah.


   Jaerin mengambil kalung itu, mengangkatnya keudara, memperhatikan secara seksama. Adakah yang perlu ia curigai. Pasalnya sang ayah pernah berpesan untuk memakai kalung ini ketika ayah dan ibunya telah tiada. Seperti sebuah pertanda, dan hal itulah yang membuatnya semakin penasaran.


  Tapi ia tak mendapatkan petunjuk apapun, kalung itu sama seperti kalung lainnya. Hanya kalung biasa tidak ada yang mencurigakan. Pun kecewa, tak membuat jaerin patah semangat. Jaerin bangkit, hendak pergi menuju meja rias untuk memakai kalung itu. Mungkin saja setelah kalung itu ia pakai, akan ada seseorang yang tahu mengenai arti kalung itu.


   Traakk


   Jaerin langsung sigap mencari asal suara itu, seperti benda terjatuh. Dan ia menemukan kotak kalung itu terjatuh dari atas nakas, mungkin tak sengaja tersenggol oleh jaerin. Dipungutnya kotak berwarna putih yang sudah dalam keadaan terbalik itu, menyadari sesuatu yang aneh ketika kotak yang ia pegang, mengeluarkan sesuatu. Lebih tepatnya, alas kalung yang berwarna putih itu tiba-tiba terbuka menampilkan secarik kertas yang di lipat serapih mungkin.


  Menyerngit bingung, tak menunggu lama kembali duduk di pinggir ranjang untuk membaca isi kertas itu setelah ia ambil dari dalam kotak. Membacanya dengan teliti, begitu tampak tulisan sang mendiang ayah diatas kertas itu.


   Hai, jaerin!


    Yah, appa tahu kau pasti yang akan membacanya. Hwan terlalu malas untuk mencampuri urusan orang lain. Saat kau membaca ini, mungkin appa dan eomma sudah tiada bukan? Kalau iya, kau memang anak baik yang menepati janjimu. Apa pernah bilang bukan untuk membuka kotak ini hanya ketika appa dan eomma tiada? Terimakasih telah menepatinya.


  Maafkan appa dan eomma, kau mungkin sudah tahu tentang pekerjaan appa dan eommamu yang merupakan seorang pembunuh bayaran. Appa mohon kau jangan kecewa, kami berdua melakukan ini karena terpaksa, keadaan.


   Mungkin kau berpikir bagaimana appa bisa tahu bahwa hal ini akan terjadi bukan? Appa tahu cepat atau lambat, akan ada seseorang penuh dendam yang meminta tebusan atas apa yang appa dan eomma lakukan dimasa lalu. Jadilah eomma dan appa membuat surat ini untukmu.


  Appa sudah mengalihkan perusahan atas namamu, jaga baik-baik. Kau bisa meminta paman han untuk membantumu. Percayalah padanya.


  Satu lagi, jangan sampai data itu, data yang  di incar oleh para mafia jatuh ketangan yang salah. Lari, jangan sampai mereka menangkapmu. Jaga kalung itu baik-baik. Appa percaya padamu.


  Bahagia selalu untukmu dan hwan.

__ADS_1


  Maafkan appa dan eomma.


  Jung jiwoo & jung seoyoung


  Jaerin menatap nanar selembaran kertas yang telah ia baca, tidak menangis. Tak terkejut pula, mungkin karena terlalu sering mengalami banyak hal yang mengejutkan di hidupnya, terbiasa dengan ini semua. Jaerin meremat selembaran kertas itu, membaliknya, berharap menemukan sesuatu yang dapat ia jadikan petunjuk.


  Benar, jaerin menemukan sesuatu dibalik kertas itu. Sebuah sandi yang membingungkan dan rumit untuk ia cerna dan mengerti.


   S3 TG3 U1 TL3 U1,4-13-2-17-5-17-17-16, HWHY


  Jaerin sampai mengusap pelipisnya, saking bingung dengan tanda-tanda yang di lihatnya. Dirinya tidak terlalu mengerti sandi-sandi seperti ini, sangat membingungkan sekali. Kenapa kedua orang tuanya harus membuat tulisan yang membingungkan ini dirinya bahkan tidak paham.


   Kesal pun tiada guna, jaerin kembali melipat kertas itu lagi, seperti semula. Tidak menaruhnya kedalam kotak tadi, kini dia membuka bingkai foto keluarganya, menaruh kertas itu dibalik foto yang tertutup oleh kayu bingkai. Setidaknya dengan begitu sehun tidak akan mudah menemukannya dan dipastikan jaerin benar-benar harus waspada.


***


  "Bagaimana?" Suara berat tak kalah dingin itu bertanya santai, wajahnya serius terlihat begitu penasaran tentang sebuah jawaban yang akan ia terima.


   "Jaerin memang berada di kediaman oh sehun." Jelas seseorang lelaki berwajah bule yang berdiri dihadapan sang bosnya.


  "Apakah dia melalukan ancaman pada Jaerin?"


  "Kami belum dapat memastikannya. Tapi sepertinya oh sehun mengincar data itu." Jelas lelaki yang sama, seperti seorang informan.


  "Ada penjelasan lain tentang jaerin?" Tanya lelaki yang merupakan bos pria berwajah bule tadi.


  "Dia beberapa kali masuk kerumah sakit, salah satunya dikarenakan percobaan bunuh diri."


  Bossnya itu mengangguk, memejamkan mata guna merasakan sesuatu. Sudah lama ia tak masuk kedunia bawah ini, namun kini dia harus memulainya lagi karena desakan sesuatu hal yang begitu mengancam nyawanya juga.


  "Kau bisa membawa jaerin pergi dari sehun?" Tanyanya, masih dalam keadaan terpejam.


   "Akan ku usahakan. Namun akan sulit karena sehun menyewa banyak pengawal untuk menjaga jaerin." Jelasnya.


   "Bawa jaerin pergi dari sehun. Jangan sampai data itu berhasil sehun, ataupun organisasi BLACK SHADOW dapatkan. Jika mereka berhasil mendapatkannya, tamat sudah riwayat kita."


  Lelaki bule itu mengangguk meng-iyakan, dia memang sudah siap dengan ini. Dilatih sedari kecil untuk melakukan misi, walau ini merupakan misi pertamanya, tapi tak heran dia sangat pandai dalam memanipulasi. Itu sudah keahliannya, dirinya dilatih untuk itu.


   "Apakah aku harus menculik jaerin agar dia mau ikut bersamaku?" Tanyanya.


   "Ya, jika memang mendesak. Kau bisa melakukannya. Lakukan tugas mu dengan benar mark lee, aku percaya padamu."


Lelaki itu membuka mata, menatap tajam pada mark, dingin tanpa perasaan, terlihat kosong tanpa bisa dibaca apa artinya. Namun satu yang dapat dikatakan, kemarahan, kebencian tengaj menyelimuti lelaki yang merupakan boss mark. Entah pada siapa yang jelas sangat menakutkan.


  ***


**Selamat debut mark lee


Ini dia lee minhyung as mark nct127/super m**



**Gimana? Udah tahukan siapa itu marin? Mark dan jaerin tentunya😂


Masih shiperin serin atau berpindah ke marin? Atau berharap ke worin?


Reviewnya bab ini dong. Eh, riddlenya gimana? Ada yang berlapis itu wkwkwk. Yang tahu jawaban riddlenya boleh komen, siapa tahu bener.


Salam dari sehun**.



**Jangan lupa vomment♡


See you next chapter**!!

__ADS_1


 


  


__ADS_2