
Jaerin menutup kedua wajahnya menahan seluruh rasa bersalahnya pada sehun, dia tidak tahu selama ini orang tuanya lah yang bersalah.
Jaerin kembali membuka lembaran yang berada didalam map, walau tangisnya tidak berhenti dan sejujurnya ia tak sanggup melihat kenyataan lain yang pasti akan membuat hatinya teriris.
Banyak sekali foto kedua orang tuanya sedang memegang senapan, bahkan mereka terlihat menyeramkan dengan pakaian serba hitam.
Jika benar kedua orang tuanya adalah assassin kenapa tidak ada yang pernah menangkap kedua orang tuanya, dan dari mana sehun mendapatkan segala bukti ini.
Sambil terisak jaerin kembali membaca beberapa lembar kertas yang ada didalam map itu, membuat dada jaerin terasa semakin sesak, ia membuang seluruh lembaran itu.
Berjalan dengan gontai menuju kamar mandi, kenapa? Kenapa selama ini orang tua jaerin tidak pernah jujur dengan pekerjaan mereka, bahkan jaerin tidak pernah curgia sedikit pun pada kedua orang tuanya.
Yang jaerin tahu ibunya hanyalah seroang pengacara dan ayahnya seorang pemilik perusahaan JUNG COMPANY yang namanya sudah sangat sering didengar oleh banyak orang.
Jaerin semakin tak percaya, ketika beberapa memori tentang masalalunya terlintas dalam pikirannya, dimana orang tuanya selalu memberikan kasih sayang yang sangat besar kepada jaerin dan hwan.
Mereka tidak rela jika jaerin dan hwan terluka, keluarga jaerin seakan seperti keluarga bahagia biasanya, tidak ada keanehan yang membuat jaerin berpikir bahwa mereka berdua adalah seorang assassin.
Jaerin menatap dirinya pada pantulan kaca kamar mandi, terlihat sangat berantakan wajahnya sudah sembab, matanya terlihat memerah karena terlalu banyak menangis, hidungnya juga terlihat sangat merah.
Air mata yang jatuh dari pelupuk mata jaerin tidak bisa dihentikan, dia masih tak sanggup dengan seluruh kenyataan yang menyakitkan ini, dia tidak kuat dan dia tidak tahan.
Apa yang akan terjadi jika ia bertahan semakin lama didunia ini, adakah cerita yang lebih menyakitkan lebih dari ini semua?
"Aku tidak tahan... Aku ingin pergi... Aku ingin pergi!!!" Teriak jaerin dengan nada yang cukup tinggi, dia yakin tidak ada yang mendengar teriakannya.
Jaerin menarik rambutnya sendiri, menggeram frustasi sambil memukul-mukul kepalanya walau rasanya menyakitkan.
"Bawa aku pergi tuhan! Bawa aku!" teriak jaerin, mata indahnya menangkap sebuah benda yang dapat membantunya untuk mengakhiri ini semua.
Sebuah pisau cukur milik sehun yang berada dikamar mandi itu, sudah digenggam erat oleh jaerin, tatapannya kosong tidak peduli dengan apa yang dia lakukan kini.
Dengan cepat pisau cukur itu iya hujamkan ke arah pergelangan tangannya, membiarkan tajamnya pisau itu menembus kulitnya, berharap urat nadinya terputus dan semua ini bisa segera berakhir.
Walau rasanya teramat sakit, jaerin tidak peduli dia meringis kesakitan ketika darah segar mengalir dari pergelangan tangannya.
__ADS_1
Tak lama pandangan jaerin kabur hingga membuatnya tidak sadarkan diri dengan pisau cukur yang dilumuri oleh darah segar, sebelum menutup mata jaerin sempat tersenyum mengharapkan semua ini berakhir.
"Aku lelah..." Ucapan terkahir jaerin sebelum kegelapan benar-benar merenggut kesadarannya.
***
Sehun menggerutu pasalnya ini sudah 30 menit setelah dirinya meninggalkan jaerin didalam kamar, namun sekarang jaerin belum turun kebawah untuk sarapan pagi.
Karena sudah tidak sabar sehun memutuskan untuk mendatangi kamar jaerin, sudah siap memaki jaerin yang telah membuat dirinya menunggu.
Namun, saat sampai dikamar jaerin sehun tidak menemukan keberadaan jaerin, dia hanya melihat lembaran kertas dan beberapa foto berserakan dilantai.
Karena panik sehun berlari menuju balkon kamar jaerin, mungkin saja gadis itu melarikan diri, tapi nihil sehun tidak menemukan keberadaan jaerin.
Perasaannya mulai tidak karuan, dia berlari dengan sangat kencang menuju tempat yang mungkin bisa disinggahi oleh jaerin selain balkon.
Saat sehun membuka pintu kamar mandi, matanya membulat sempurna ketika mendapati seseorang wanita dengan berlumuran darah terkulai lemas dilantai kamar mandi.
Dengan wajah yang pucat sehun berlari menggapai tubuh jaerin yang tidak berdaya, melihat apakah jaerin baik-baik saja yang jelas sehun tidak mau terjadi apapun pada jaerin, dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Sehun memeriksa denyut nadi jaerin, yang nyatanya semakin melemah, sukses membuat sehun ketakutan setengah mati.
***
Sehun tahu dia tidak seharusnya menujukan hal itu pada jaerin, dan jujur dia sangat menyesal kini membiarkan jaerin mengetahui identitas kedua orang tuanya, yang tak lain adalah orang yang telah membunuh kedua orang tua sehun.
Sehun mengerti hal ini sangatlah menjadi tamparan keras bagi jaerin, terutama selama ini orang tua jaerin menyembunyikan rapat-rapat identitas mereka sebagai assassin yang bahkan sehun sendiri kesulitan untuk mendapatkan informasi tersebut.
Tapi, sehun sudah terlanjur kesal dengan ucapan jaerin yang sangat menusuk hati, mengatakan sehun pembunuh walau memang benar sehun sering melakukan hal itu.
Namun yang seharusnya semua orang tahu, sehun tidak sembarangan dalam mengambil job untuk membunuh seseorang, hanya orang tertentu yang masuk kedalam kriteria sehun yang akan dia bunuh.
Kini sehun tengah berada disalah satu ruangan vvip dirumah sakit yang tengah menangani keadaan jaerin, dokter bilang jaerin sedang berada dalam masa kritis karena kekurangan banyak darah, dokter juga mengatakan bahwa psikologi jaerin terganggu sebab banyak mengalami trauma.
Sehun menggeram frustasi, apakah ini kesalahannya hingga membuat jaerin seperti ini? Padahal yang ia inginkan hanya jaerin berhenti menghinanya dengan sebutan pembunuh, hanya itu.
__ADS_1
Sehun memandang nanar bangkar jaerin, yang dimana disana ada Jaerin yang sedang tertidur penuh dengan alat medis yang menancap diseluruh tubuhnya.
Hati sehun meringis, lagi-lagi dia gagal untuk menjaga jaerin janjinya harus ia ingkari dan yang membuat sehun semakin terluka karena sehunlah yang membuat jaerin seperti ini.
"Lain kali jaerin harus berhati-hati"
Gadis dengan pita rambut pink itu tersenyum manis menatap laki-laki yang tengah membersihkan luka yang berada dikakinya.
"Aku tidak perlu berhati-hati, kan ada sehun." Gadis itu hanya tersenyum manis menatap sehun yang sangat telaten membersihkan segala lukanya.
"Sehun janji yah buat jagain jaerin." Ujar gadis itu lagi yang tidak berhenti memakan es krim yang berada ditangannya.
Lelaki itu mendongak menatap jaerin dengan sangat lekat. "Sehun janji akan selalu melindungi jaerin, sampai kapanpun." Mereka berdua tertawa setelahnya, kenangan indah saat kecil itu masih terus sehun ingat hingga sekarang.
"Maaf jaerin aku gagal melindungimu." Tak disangka setetes air mata jatuh dari mata sehun, lelaki yang biasanya tegar dan kuat ini tidak lagi bisa membendung segala kesedihan yang ia rasakan, dirinya tak sanggup melihat keadaan jaerin sekarang.
***
"Bagaimana, apa yang kau temukan?" Tanya lelaki dengan kacamata baca yang bertengger ditulang hidungnya, wajahnya terlihat dingin bak angin malam terutama saat menajamkan mata elangnya.
"saya menemukan, bahwa dia mempunyai seorang gadis yang ia culik, diduga gadis itu adalah anak dari keluarga jung yang sudah meninggal beberapa minggu yang lalu." Jelas seseorang yang berada dihadapan suho, yang jelas suho tahu lelaki yang ada dihadapannya ini adalah seseorang yang ia percaya.
"Kau bisa menjelaskan riwayat gadis itu?" Tanya suho, lelaki yang bernama zuan itu mengangguk lalu membuka lembaran dokumen yang dirinya bawa.
"Namanya jung jaerin, lahir di new york tanggal 14 maret pad tahun 1995, dia pernah pernah bersekolah di sekolah dasar internasional of new york, dan tinggal di new york selama 10 tahun sebelum akhirnya pindah ke korea, dan bersekolah di junior high school of seoul, lalu bersekolah di hanlim multi art school, setelahnya iya kembali ke new york untuk meneruskan kuliah di oxford university, hanya itu." Jelas zuan yang membaca lembaran dokumen yang dia bawa.
"Oke, ada informasi lain dari jaerin?" Tanya suho lagi semakin serius dengan rasa penasarannya pada jaerin.
"Dia sedang mengalami kritis dirumah sakit, karena mengalami depresi ringan yang disebabkan oleh tekanan yang sering dilakukan oleh sehun padanya, dan dia melakukan percobaan bunuh diri." Jelas zuan membuat sebuah senyum licik terpancar dari wajah dingin suho.
"Biarkan sehun terus menyiksa gadis itu, kita lihat seberapa bodoh sehun hingga tidak menyadari apa yang telah ia lakukan."
Setelahnya terdengar suara tawa keras menakutkan yang mewakilkan rasa benci juga senang iya dia rasakan.
Seperti itulah suho.
__ADS_1
***