
**berapa hari ara gak update mafia with luv?
Kangen gak sama sehun dan jaerin?
Btw mau tanya kalian mau sad ending or happy ending?
Kalau ara sendiri lebih suka sad ending yah hahahahha gak tahu kenapa😤 suka banget liat orang nangis🌚
Happy reading mafly♡**
***
"Kalian disini bukan untuk berlibur! Tetap pada tugas awal kalian semua. Susuri semua area dirumah ini, perketat keamanan pada bagian depan dan belakang. Jangan sampai lemah, musuh tahu dimana kita berada!"
Pagi itu suasana vila milik keluarga jung sangatlah ramai, terutama ketika suara berat khas itu menggema diseluruh ruangan, membuat siapapun yang mendengar tidak berani menganggu maupun memotong. Karena yang sekarang tengah berbicara dengan lantang adalah oh sehun.
Dia berkacak pinggang dihadapan para pengawalnya, sengaja dikumpulkan pagi-pagi di ballroom ini karena hendak membagi tugas. Tentu saja ia punya alasan, apalagi sekarang permainan sudah hampir setengah jalan, para musuh pasti sudah mengetahui kepergian sehun dari new york menuju jeju. Yang artinya sehun harus selalu waspada, terutama untuk melindungi jaerin.
"Sekarang kalian semua berpencar, laporkan apa yang mencurigakan." Perintah sehun dengan wibawa dan penuh penegasan.
Semua pengawalnya membubarkan barisan, menghambur keluar dari ballroom untuk mengerjakan apa yang diperintahkan. Mereka profesional, sudah lumrah dengan ini, siap mental dan fisik jika tiba-tiba ada sesuatu terjadi. Mereka terlatih.
Sebenarnya sehun ingin membawa lebih banyak pengawal asuhannya, hanya saja tak cukup. Kemarin sehun dengan jaerin pergi ke jeju menggunakan pesawat pribadi milik sehun, jadilah para pengawalnya bisa ikut walau tak semua. Josline juga, gadis itu ditugaskan agar tetap menjaga mansion sehun saat dirinya tidak ada.
"Berisik sekali." Keluh seorang wanita dengan wajah bantalnya, rambutnya tergerai berantakan dengan sebuah dress tidur yang masih melekat pada tubuhnya.
"Kau terganggu?" Tanya sehun dengan segera berlari menuju tangga agar dapat menggapai tangan jaerin, takut gadisnya terjatuh, apalagi dengan mata jaerin yang masih tertutup.
"Ya, aku baru tidur sebentar." Jelas jaerin, sambil menggapai tangan sehun yang membantunya untuk menuruni undakan tangga.
"Mau beristirahat lagi? Ayo, kau jangan sampai kelelahan, nanti sakit." Ucap sehun yang sudah menggait tubuh kurus Jaerin, lalu menggendongnya dengan gaya bridal style, membawanya menuju kamar jaerin agar gadis kesayangannya itu bisa beristirahat.
Dan tentu saja agar dirinya dapat leluasa mencari data itu.
***
Jaerin mengerang pelan, megusap wajahnya kasar sesekali membenarkan anakan rambutnya yang berantakan. Dirinya mengaduh, badanya terasa sangat remuk, perjalanan dari new york menuju jeju bukanlah singkat, sungguh sendinya terasa sangat ngilu.
Berjalan dengan gontai menuju kamar mandi, membersihkan wajahnya yang berantakan. Sempat menatap dirinya dalam pantulan cermin, sangat cantik. Wajahnya yang memang khas seorang gadis asia dengan rambut hitam lebat, tidak ada yang bisa menampik bahwa jaerin cantik, dirinya memang terlahir dengan kecantikan itu dan jaerin bangga.
"Jangan percaya pada siapapun termasuk orang terdekat mu."
Menghela nafas panjang, jaerin merasa sangat ragu akan sesuatu. Ucapan lelaku yang menolongnya waktu itu masih terngiang dengan jelas. Masih tak paham juga, sebenarnya ada apa dan siapa yang harus ia hindari. Jaerin sendiri bingung, dia takut dirinya salah memberi kepercayaan.
Namun dengan segera jaerin menepis pemikiran itu, jaerin sudah optimis bahwa dirinya akan tetap percaya pada sehun. Mengakhiri ini semua dan hidup bersama dengan sehun, seperti ekspektasinya.
Berjalan keluar dari kamar mandi, lalu memilih mencari keberadaan sehun. Sepanjang perjalanan, jaerin terus menatap dinding yang ia lewati, sangat indah penuh dengan lukisan yang terpajang. Jiwoo memang merupakan seorang pengoleksi lukisan-lukisan, sehingga jaerin sedari kecil terbiasa melihat lukisan abstrak yang dibeli oleh jiwoo. Mungkin karena hobi ayahnya pula jaerin jadi pandai melukis seperti sekarang.
"Kau sudah bangun?"
Jaerin menoleh, membalikan tubuhnya hingga pandangannya bertemu dengan seorang lelaki berwajah tampan dengan hidung simetris yang begitu sempurna. "Ya"
"Sudah merasa lebih baik?" Tanya sehun lagi, kini sudah merangkul bahu sang gadis sambil mengajaknya berhalan kembali.
"Hm, sudah." Jawab jaerin.
"Sepertinya ayahmu adalah pencinta lukisan?" Tanya sehun, sesekali tangannya menyentuh berbagai bingkai lukisan yang tertempel didinding.
"Ya, appa memang sangat menyukai lukisan, terutama yang abstrak. Katanya sangat indah, sebab tidak berbentuk dan susah ditebak." Jelas jaerin, melirik sehun dengan mata berbinar.
"Sama seperti dirimu. Susah untuk ditebak." Tambah jaerin lagi, sengaja mencolek dagu sehun dengan jari telunjuknya.
Sehun terkekeh melihat tingkah jaerin, gemas sendiri karena senyuman jaerin yang manis. Benar-benar menjadi candu melebihi narkoba, sangat berbahaya, tidak bisa mudah lepas begitu saja.
"Mau makan bersama?" Tawar sehun.
"Belum lapar."
Sehun mengangguk menuruti jaerin. Padahal sekarang sudah menunjukan pukul 14.17 KST. seharusnya jaerin merasa lapar, apalagi dirinya sudah tertidur selama tujuh jam.
"Sehun, bagaimana data itu? Apakah kau sudah mendapatkan petunjuk baru?" Tanya jaerin sesaat setelah mereka sampai disebuah ruangan penuh dengan sofa, seperti ruang keluarga dengan nuansa gold yang begitu mendominasi.
"Belum, seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu." Jawab sehun, mendengus kesal, mengacak rambutnya frustasi, kemudian mengisi sebuah sofa kosong yang berada diruangan itu.
Jaerin menghela nafas panjang, ikut mengambil ruang kosong disisi sehun. Merasa bingung juga, sebab dirinya tidak mendapatkan petunjuk apapun lagi setelah surat itu, tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Aku tidak mendapatkan petunjuk apapun lagi selain surat itu." Cicit Jaerin dengan wajah sedih, dia pikir setelah sampai dijeju semuanya akan terasa mudah, namun yang ia dapatkan sungguh diluar bayangan.
"Jangan dipikirkan, kita masih bisa mengulur waktu selama orang-orang itu tak lagi mengejar kita." Jawab sehun, berusaha agar jaerin tidak terbebani dengan ini, banyak pikiran hingga berakhir stress seperti apa yang dokter katakan.
"Sehun, bolehkah aku bertanya?"
"Tanyakan saja, jika pertanyaan mu adalah apakah aku mencintaimu, jawabannya sama." Jawab sehun terkekeh garing, kemudian menarik hidung mancung jaerin, menjepit dengan kedua jarinya.
"Aw." Jaerin meringis kesakitan, sehun memang menyebalkan, sangat suka membuat jaerin merasa kesal.
__ADS_1
"Kenapa dan sejak kapan orang tuaku berhenti menjadi seorang assasin?" Tanya jaerin menatap begitu dalam pada obsidian hitam legam itu, sangat serius tanpa celah ataupun gurauan, benar-benar ingin tahu jawaban yang ia tanyakan.
"Aku tidak tahu jelas, sebab semua rahasia organisasi BLACK ROSE sangat dijaga. Tetapi banyak yang mengatakan bahwa pemimpin organisasi black rose sudah meninggal, sehingga anggotanya memutuskan untuk membubarkan diri. Hidup masing-masing seakan tidak pernah mengenal black rose." Jelas sehun.
Jaerin mengangguk paham, sepertinya alasan itu masuk akal. Orang tuanya tidak mungkin berhenti tiba-tiba ketika masa kejayaan organisasi black rose. "Mm, apakah aku boleh bertanya satu hal lagi?" Tanya jaerin seakan ragu dirinya akan mendapatkan persetujuan, untuk menanyakan hal selanjutnya pada sehun.
Sehun yang mendengar ucapan jaerin hanya bisa terkekeh, gemas melihat tingkah jaerin. Sangat lugu dengan mata berbinar, memohon agar diizinkan, benar-benar sebuah kesenangan sendiri untuk sehun.
"Tentu saja boleh."
"Apa isi data itu? Sehingga para mafia mengincarnya?" Tanya jaerin, sama seriusnya seperti pertanyaan sebelumnya.
"Mm." Sehun bergumam, tampak berpikir dengan pertanyaan jaerin, mempertimbangkan, cukup sulit karena data ini sangat berbahaya, bisa saja dapat membuat nyawa jaerin terancam, walau sebelum jaerin tahu isinya, dirinya pernah menjadi sasaran pembunuhan.
"Baiklah, karena kita sudah sampai disini, aku akan menjelaskan apa isi data itu." Jawab sehun.
Jaerin tampak antusias saat sehun menyetujui pertanyaannya, inilah yang menganggu pikiran jaerin. Hal apa yang membuat para mafia itu berlomba-lomba untuk mendapatkan data yang disembunyikan kedua orang tuanya.
"Data itu berisi nama-nama orang yang telah menggunakan jasa black rose. Termasuk nama target yang ditetapkan, semua tersimpan didalam data yang kedua orang tua mu sembunyikan." Jelas sehun.
"Lalu? Untuk apa mereka menginginkan data itu?" Tanya Jaerin semakin penasaran saja.
"Dunia ini tidak selamanya bersih jaerin, terkadang ada orang iri yang menginginkan musuhnya agar jatuh. Jatuh-menjatuhkan didunia politik, bisnis itu sudah biasa. Dan jika para mafia memiliki data itu, mereka bisa mengancam pemesan jasa black rose. Memerasnya, karena itulah satu-satunya bukti kejahatan mereka." Jelas sehun terlampau jelas membuat jasmine menganga tak percaya.
"Ya, aku mengerti. Ternyata hidup orang tua ku tidak semudah itu." Ucap jaerin, membuang nafas panjang merasa sedikit tenang karena apa yang selama ini menjadi beban telah sedikit berkurang.
"Tapi mereka beruntung memiliki anak sekuat dirimu." Puji sehun, kemudian merangkul bahu jaerin, mengusapnya pelan.
"Ayo kita makan malam, aku tidak mau sampai kau sakit." Ajak sehun yang dibalas anggukan oleh jaerin.
Penjelasan sehun sudah cukup untuk jaerin. Sedikit demi sedikit rasa penasarannya terbalaskan, semua yang merumitkan mulai terpecahkan. Semoga dengan segera ini bisa berakhir, agar hidupnya tidak lagi dibayangi rasa ketakutan.
***
"Aku tidak berhasil menemukan data itu." Keluh wonhoo, merebahkan tubuh besarnya diatas sofa yang berada dikamar sehun, sedari datang kemari ia sudah menyusuri seluruh vila ini, namun hasilnya nihil, tidak ada petunjuk.
"Aku juga." Timpal sehun masih sibuk dengan laptopnya, walau berada dijeju, sehun tidak bisa mengabaikan pekerjaannya yang berada di new york.
"Apa kita harus menyerah? Petunjuk berhenti sampai disini." Lirih wonhoo, lelah pula jika terua mencari tanpa petunjuk, semuanya terasa sangat sia-sia.
"Tidak! Kita sudah sampai disini, kita harus temukan data itu." Tegas sehun, memberikan tatapan tajamnya pada wonhoo.
"Ya, ya terserah." Jawab wonhoo yang sudah yakin sehun tidak akan menyerah begitu saja, jangan lupakan bahwa sehun memiliki tekad yang sangat kuat.
"Bagaimana dengan mereka? Masih Mengincar kita?" Tanya sehun, kini memiringkan kepalanya guna mendapatkan jawaban dari wonhoo.
"Ya, aku baru saja mendapatkan informasi bahwa ada beberapa pesawat pribadi yang terbang menuju jeju selain kita. Di duga kuat pesawat pribadi itu milik sindikat mafia, FLY HIGH." Jelas wonhoo.
Sehun mengangguk-anggukan kepalanya paham, jika fly high saja sudah mulai mengetahui keberadaannya, kemungkinan organisasi yang ia tempati sekarang sudah tahu dimana sehun menginap. BLACK SHADOW tidak bisa diremehkan begitu saja.
"Perintahkan semua pengawal untuk bersiap, kita akan kedatangan tamu." Perintah sehun, kemudian menutup laptopnya.
Wonhoo mengangguk paham, lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan kamar sehun. Tak lupa membungkuk hormat pada atasannya itu, ketahuilah wonhoo adalah seseorang yang profesional, walau terkadang ia berbuat sesuka hati seperti rebahan diatas sofa, tapi sehun tidak pernah protes.
Ia akan melakukan apa yang di perintahkan sehun, dan menjauhi hal yang dilarang oleh sehun. Simple.
***
Jaerin menatap sebuah lukisan yang terpampang jelas dihadapannya, jika sore tadi ia melihat lukisan bersama dengan sehun dilorong menuju ruang keluarga. Maka kali ini berbeda tempat, dirinya sedang berdiri diballrom dengan dinding yang masih penuh dengan lukisan-lukisan yang terpajang di dinding. Bedanya semua lukisan yang berada diballroom berbentuk bunga.
Jaerin sendiri tahu, eommanya adalah seseorang penggemar bunga. Terutama bunga mawar, seoyoung juga menanam beberapa bunga dirumah keluarga jung. Dan vila ini tentunya, yang sekarang diurusi oleh daeyun. Tak heran jika lukisan yang berada diballroom ini didominasi oleh bunga-bunga.
Tetapi ada satu lukisan yang paling menarik perhatian jaerin. Lukisan setangkai bunga mawar yang berada di dinding tepat ketika memasuki vila. Berada sejajar dengan pintu masuk.
"Melihat apa hm?"
Sebuah sentuhan halus pada bahunya membuat jaerin menoleh, menemukan sesosok sehun yang sangat tampan dengan kemeja berwarna hitam, dengan bagian lengannya yang di kelinting sampai siku. "Hanya melihat lukisan-lukisan ini, rasanya sedikit aneh." Jawab jaerin, kini tangannya menyentuh lukisan itu, meraba, merasakan sesuatu yang menurutnya aneh itu.
"Kedua orang tua mu sangat menyukai bunga?" Tanya sehun, masih berdiri disamping jaerin.
"Eomma ku menyukai bunga." Jawab jaerin, walau tangannya sibuk menyusuri dan merasa setiap tekstur dari lukisan bunga mawar berwarna hitam itu.
Sehun tidak mengatakan apapun lagi, dirinya juga sibuk meneliti keanehan yang ia rasakan dari lukisan yang ada hadapannya ini. Seperti ada sebuah kejanggalan, namun sehun sendiri tidak tahu pasti.
"Kau merasa seperti ada keanehan?" Tanya sehun, menarik tangan jaerin dari atas lukisan itu.
Jaerin langsung menatap sehun, dengan raut wajah bingung. Berpikir hanya dirinya yang merasakan kejanggalan pada lukisan dihadapannya ini, ternyata sehun juga.
"Ya, tapi apa?"
Sehun menajamkan matanya, menciptakan sebuah kerutan pada keningnya. Saking bingung dengan rasa aneh yang tiba-tiba menyeruak, begitu menatap lukisan setangkai mawar ini. Ada yang tidak asing pada ingatannya, seakan pernah menjumpai bunga mawar ini.
"Tunggu, bukankah—"
Ucapan sehun menggantung begitu saja dengan gerakan cepat tangannya yang mengambil lukisan itu, dan kini menampilkan sebuah dinding kosong berwarna gold. Sehun mendekatkan wajahnya pada dinding, meneliti lebih rinci, akan apa yang ia lihat. Sebuah bulatan kecil, yang berada di dinding itu.
"Jaerin, berikan kalung pemberian orang tua mu." Pinta sehun pada jaerin yang masih termangu disamping sehun.
__ADS_1
Jaerin yang mendapatkan perintah itu hanya bisa menurut, membuka kalung yang selama dijeju ia pakai. Kalung dengan liontin bunga mawar pemberian kedua orang tuanya. Memberikan kalung itu pada sehun, walau masih tampak sangat bingung.
Sehun dengan segera memasukan liontin bunga mawar itu kedalam lubang yang berada di dinding, dan benar saja lubang membentuk kelopak bunga mawar. Seperti sebuah kunci, namun menggunakan liontin bunga mawar. Sangat kreatif dan susah ditebak. Untungnya saja sehun pintar.
Setelahnya dinding yang semula terlihat biasa saja, kini perlahan terbuka. Menampilkan sebuah brankas kecil yang berada didalam dinding. Sehun dan jaerin saling berpandangan, sesaat setelah dinding itu terbuka bagaikan sebuah lemari kecil dengan daun pintu yang menjuntai.
Dari luar, terlihat sebuah flashdsik yang terbungkus rapih didalam sebuah plastik zipper. Membuat sehun menerka bahwa flashdsik itu merupakan data yang ia cari selama ini. Dengan tanggap sehun mengambil plastik zipper itu, lalu tersenyum penuh dengan kemenangan. Data itu ada di tangannya.
"Sehun, apa itu data yang kau cari?" Tanya jaerin penasaran.
"Ya, memang ini. Terimakasih jaerin." Jawab sehun, mengulas rambut panjang jaerin dengan lembut.
Sehun memasukan plastik zipper itu kedalam saku celananya, bersiap membawa data ini untuk melihat isinya. Karena setelah itu sehun dapat membalas dendam dengan leluasa.
"Ayo jaerin, kita lihat berisi apa data ini." Ajak sehun menarik pergelangan tangan jaerin.
Jjreep
Sehun dan jaerin sama-sama tersentak kaget tak kala suara lampu mati terdengar jelas. Seketika seluruh vila gelap gulita, sebab semua lampu mati secara tiba-tiba. "Sehun..." Lirih jaerin ketakutan, berusaha mencari keberadaan sehun yang sebelumnya ada disamping.
"Ya jaerin aku disini, jangan takut. Sepertinya ada yang bermasalah." Ucap sehun, berhasil menggapai tangan jaerin, menggenggamnya dengan sangar erat.
Sehun meraba saku celananya, mencari-cari keberadaan handphone miliknya. Namun nihil, dirinya lupa bahwa handphone tengah ia carger dikamarnya.
"Jaerin, kau membawa ponsel?" Tanya sehun.
"Tidak, ada didalam kamar." Jawab jaerin dengan suara bergetar, sesungguhnya ia ketakutan, rasanya seperti malam dimana keluarganya terbunuh, gelap gulita seperti ini.
"Sehun... Takut."
DOORR
suara tembakan menggema diseluruh ruangan, jaerin tergelonjak hingga berteriak ketakutan, memeluk dengan erat tubuh sehun. "Sehun..."
"Sst, jangan berisik. Ayo kita berjalan, mencari tempat aman." Ajak sehun, menarik tangan jaerin menjauh dari ruangan ballroom.
Sehun meraba-raba dengan sebelah tangannya, karena keadaan disekitar memang tidak memungkinkan. Gelap gulita tanpa ada pencahayaan sedikitpun.
Sedangkan jaerin hanya bisa menurut, mengikuti setiap langkah sehun, genggaman mereka tidak terlepas, semakin erat terutama karena ketakutan yang jaerin rasakan.
DOORR
sekali lagi suara tembakan terdengar, membuat getaran hebat ditubuh jaerin. Ia masih trauma, takut, panaroid dengan kejadian yang ia alami, kematian kedua orang tuanya dan adiknya terus terbayang dalam benaknya.
"Sehun."
"Sehun."
"Se—Mmmm"
Tubuh jaerin ditarik kebelakang, membuat genggaman tangannya pada sehun terlepas. Lalu pandangannya terasa buram, begitu pening pada bagian kepalanya. Tubuhnya limbung bersama kesadarannya yang mulai menghilang.
***
**GIMANAAA? Udah nebak belum gimana ceritanya.
Pertanyaan diatas sana benar-benar menentukan yah, kalau kalian mau sad ending ara kasih, kalau mau happy ending ara juga bisa kasih. Jadi gimana kemauan kalian aja itu mah hahahaha😂😏
Cerita mafia with luv udah tamat, udah ara tulis sampai the end, bersama dengan epilognya juga ada didraf nanti ara publis secara bertahap. Lagi on the way nulis bonus chap sih.
Tapi kalau ending itu benar-benar tergantung sama kalian. Ara bisa ubah endingnya jadi sad ataupun happy ending sesuai keinginanan kalian.
Soo komen yah🌚
See you next chapter**!
__ADS_1