
Sehun menatap wajah jaerin yang terlihat sangat cantik walaupun sedang tertidur, kulitnya yang seputih es dan sorot matanya yang begitu tajam membuat siapapun pasti akan terpesona dengan kecantikan jaerin.
Termasuk seorang oh sehun yang bahkan rela mengubah hidupnya hanya demi gadis yang dia cintai ini.
Tapi kali ini semuanya berbeda dari apa yang dia rencanakan, semuanya tidak sesuai dengan ekspektasi sehun sebelumnya.
Sehun menghela nafas panjang sambil meletakan sebuah plastik berisikan makanan untuk jaerin, tapi jelas-jelas makanan itu tidak akan jaerin makan karena telah lebih dari seminggu jaerin kritis dan hal ini di sebabkan oleh sehun.
Sehun merogoh saku celananya mendapati suara getaran yang berasal dari handphone yang dia simpan di saku celana bagian belakangnya.
Memandang datar benda pipi itu, menggesernya dengan gerakan ke atas untuk menjawab telepon dari woonhoo.
"Hallo." Ucap sehun membawa benda itu menuju telinganya.
"Hallo pak sehun, saya sudah mendapatkan apa yang anda mau."
"Saya akan segera kesana." Jawab sehun lalu mematikan telepon itu sepihak, sehun beranjak dari duduknya menatap jaerin sebentar sambil mendaratkan sebuah kecupan singkat pada kening jaerin.
"get well soon my honey"
***
Gadis dengan wajah sempurna itu menggeliat kecil ketika merasakan seluruh tubuhnya terasa kaku dan sulit untuk di gerakan.
Mata sipitnya memicing memperhatikan ruangan tempatnya berada sekarang, indra pendengarannya menangkap sebuah suara mesin yang begitu jaerin hafal bunyinya.
Penciuman jaerin semakin menguatkan spekulasi bahwa kini dirinya tengah berada di rumah sakit. Jaerin yang jelas baru tersadar dari masa kritisnya segera mendudukan tubuhnya bersandar pada sandaran bangsal yang ia tiduri.
Jaerin memegang pelipisnya saat merasakan sakit yang sangat parah di bagian kepalanya, mencoba mengabaikan rasa sakit itu dengan memikirkan hal yang masih menjadi pemikirannya, yaitu oh sehun.
Meringis pelan ketika menyadari rencananya bunuh diri untuk meninggal dunia belum mendapatkan persetujuan dari tuhan. Padahal, jaerin sudah sangat lelah menghadapi ini semua, tapi kenapa tuhan seperti memberikan seluruh beban yang di tinggalkan oleh orang tuanya.
Jujur jaerin merasa bersalah pada sehun. Karena nyatanya selama ini sehun juga menderita karena kehilangan kedua orang tuanya bahkan ketika sehun masih kecil.
Dan yang membuat jaerin semakin sedih adalah hal itu terjadi karena perbuatan ayah dan ibunya.
Karena sudah tidak sanggup menahan beban ini, jaerin tanpa berpikir panjang langsung menarik jarum infus yang tertusuk pada punggung tangannya, membiarkan beberapa tetes darah keluar dari sana tanpa memperdulikannya.
Jaerin turun dari bangsal yang sebelumnya ia tiduri, berusaha berjalan pelan walaupun rasa sakit pada bagian kepalanya masih jaerin rasakan. Jaerin tengah berusaha untuk pergi dari dunia sehun, jaerin tidak tahu harus menaruh wajahnya dimana saat sehun melihatnya.
Ia tahu kedua orang tuanya bersalah disini, dan oleh karena itu jaerin tidak ingin membuat sehun kembali merasakan sakit ketika melihat dirinya.
Sambil membuka knop pintu jaerin tersenyum ketika dirinya sudah berhasil membawa tubuhnya untuk berjalan dan pergi dari rumah sakit ini.
Saat melihat jendela jaerin terkejut karena hari sudah gelap, tapi hal itu tidak akan mengurungkan niat jaerin untuk pergi dari kehidupan sehun, mungkin untuk selamanya.
Memasuki lift rumah sakit bersama dengan beberapa orang yang mencoba tidak peduli dengan keadaan jaerin sehingga mereka hanya saling terdiam di dalam lift.
Setelah sampai pada lantai dasar jaerin meminta tolong pada seseorang yang dia temui untuk meminjamkan beberapa uang padanya. Akuilah jaerin tidak tahu malu karena meminta uang pada orang lain.
Ah—ralat meminjam uang pada orang yang ia tidak kenali, yang jelas jaerin sangat membutuhkan uang itu.
"Bolehkah?" Tanya jaerin pada seorang perempuan paruh baya yang sudah menatapnya dengan tatapan sedih.
"Ya tentu saja." Wanita itu memberikan beberapa lembar uang pada jaerin membuat sebuah senyum terpancar pada wajah cantiknya.
"Terimakasih." Jaerin membungkuk hormat pada wanita itu, setelahnya berlari dengan sangat cepat walau dengan tubuh yang belum stabil menuju halaman rumah sakit.
Sebutlah jaerin adalah gadis yang sangat bodoh karena memutuskan untuk pergi di saat dirinya baru tersadar dari kritis, tapi jaerin tidak tahu harus berbicara apa pada sehun nanti.
Tepat ketika jaerin berada di pinggir trotoar untuk memberhentikan taksi, ia teringat akan dirinya yang bahkan tidak memiliki siapapun di new york, jaerin hanya tinggal bersama kedua orang tuanya setelah memutuskan untuk pindah dari korea selatan saat jaerin memasuki bangku kuliah.
Dan bodohnya jaerin lupa bahwa dia hanya pendatang di negara ini, dia tidak mempunyai siapapun keculi keluarga kecilnya yang sudah pergi meninggalkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Jaerin menghela nafas berat menatap nanar pada jalanan kota new york yang sangat ramai, terdiam di pinggir trotoar sebelum akhirnya sebuah ingatan terurai pada otak jaerin.
Dengan cepat jaerin memberhentikan taksi yang lewat untuk mengantarkannya pada sebuah tempat. Yang jaerin dapat menjadi tempat beristirahat untuknya.
Ya semoga saja orang itu masih mau menerima jaerin.
***
Jaerin sambil berdoa dalam hatinya berharap bahwa tempat ini masih di isi oleh orang yang dapat membantu jaerin.
Sambil menekan bel apartemen yang cukup mewah itu jaerin bahkan sudah menyentakan kakinya karena sebal tidak ada yang kunjung membukakan pintu untuknya.
Jaerin berusaha maklum karena yang dia tahu sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, mungkin orang yang ada di dalam sudah tertidur atau apart ini sudah tidak di isi lagi.
Entahlah, jaerin masih mengharapkan sebuah keajaiban. Sampai pintu apart itu terbuka dan menampilkan seorang lelaki dengan wajah bantal yang jelas baru saja bangun tidur.
Jaerin mengulum senyumnya sambil bersyukur dalam hati. "Wonwoo... " Lirih jaerin membuat lelaki yang belum tersadar sepenuhnya pada dunia nyata itu membulatkan matanya.
Menatap terkejut pada jaerin yang tengah menatapnya sayu, lelaki ini dengan segera mengusap wajahnya dan juga matanya cukup kasar.
"Cukup! Jangan buat aku berhalusinasi tentang jaerin, gadis itu sudah tenang di alam sana." Rancau wonwoo frustasi mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Woo... Kau tidak berhalusinasi ini memang aku... " jaerin mengepalkan tangannya lalu menaruhnya di dada jaerin
Wonwoo semakin menggeleng tidak yakin dengan apa yang di katakan oleh jaerin. "Begitu terpukulnya aku dengan kematian jaerin sampai berhalusinasi dia berada di apartemen ku." Kali ini wonwoo malah tekekeh pelan lalu hendak menutup pintu apartnya lagi.
Namun dengan segera jaerin menahannya dan langsung berhambur pada pelukan wonwoo. "Woo ini memang aku, aku." Ucap jaerin membiarkan wonwoo merasakan kehangatan pada tubuhnya, memberitahu pada wonwoo bahwa dirinya nyata.
Dan saat itu pula wonwoo menganga tidak percaya menatap jaerin yang masih berada dalam rengkuhannya.
"Jaerin! Masuk mari masuk." Merasa sudah yakin bahwa ini benar-benar nyata, wonwoo mengajak jaerin untuk masuk kedalam apartnya menyuruh gadis itu untuk duduk di sofa yang tersedia. Sementara dirinya tengah membuat segelas teh hangat untuk jaerin.
Wonwoo sedari tadi hanya menatap jaerin dengan tatapan tajam masih merasa kebingungan. "Rin? Kau pergi dari rumah sakit?" Tanya wonwoo saat melihat pakaian rumah sakit yang jaerin pakai.
Jaerin melirik wonwoo lalu mengangguk mantap membenarkan pertanyaan wonwoo. "Aku pikir kau sudah meninggal... Bagaimana bisa? Jelas pada waktu itu aku melihat kau berada dalam peti saat aku menjenguk mu ke rumah duka." Lirih wonwoo sambil menceritakan apa yang dia lihat pada hari itu.
"Aku tidak meninggal, sepertinya aku mengalami kritis." Jelas jaerin berbohong pada wonwoo, dia tidak mau wonwoo tahu bahwa selama ini dia di sekap oleh seorang oh sehun.
"Aku turut berduka cita atas meninggalnya kedua orang tua mu dan juga hwan." Ucap wonwoo membuat jaerin ikut merasakan kesedihan yang wonwoo alami, karena bagaimana pun kedua orang tua jaerin sudah sangat dekat dengan wonwoo.
"Sudah woo, ini memang sudah takdir." Jawab jaerin sambil meletakan gelas teh yang sudah habis ia minum.
"Maafkan aku karena tidak bisa menolongmu saat itu rin." Lirih wonwoo membuat jaerin menggeleng pelan. "Ini bukan salah mu woo. Sudahlah." Jaerin membuang nafas pelan, sebenarnya dia sudah ikhlas dengan kepergian kedua orang tuanya. Mungkin, inilah karma yang harus di terima kedua orang tuanya dan dirinya.
Wonwoo yang melihat kesedihan di mata jaerin dengan segera memeluk tubuh kecil gadis itu, mencoba menguatkannya bahwa jaerin masih memiliki wonwoo untuk di jadikan tempat bersandar. Wonwoo juga khawatir dengan kondisi jaerin, sebab yang wonwoo lihat tubuh jaerin semakin kurus dan juga wajahnya semakin pucat.
"Kau memiliki ku jaerin, jangan khawatir." Wonwoo mengelus-elus punggung Jaerin, jaerin yang mendapatkan pelukan hangat dari wonwoo membalasnya berusaha untuk kuat juga tidak menangis di hadapan wonwoo.
"Lalu kau akan memulai hidup baru?" Tanya wonwoo masih setia mendekap jaerin. "Ya, tapi aku tidak akan memulainya di sini, aku akan kembali ke korea dan memulai hidup disana. Walau kemungkinan kecil hal itu bisa terwujud." Jelas jaerin masih menyandarkan kepalanya pada dada wonwoo yang lebar.
"Aku akan membantu mu jaerin, tenang saja." Wonwoo mencoba menenangkan jaerin lagi, wonwoo tahu jaerin sangat sedih walau gadis itu sekuat tenaga untuk menyembunyikan sedihnya di hadapan banyak orang.
"Ya, aku tahu itu."
***
"Wonwoo, kau masih menyimpan baju ku bukan?" teriak jaerin yang sekarang tengah berada di kamar tamu.
Wonwoo yang berada di dapur dan sedang memasak menoleh untuk sekedar menjawab pertanyaan gadis itu.
"Ya, aku masih menyimpannya, sebentar." Wonwoo melepaskan pekerjaan memotong sayur karena niatnya dia akan membuat sup untuk jaerin.
__ADS_1
Wonwoo berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai kedua, dulu wonwoo dan jaerin sangatlah dekat karena mereka berdua adalah sahabat saat kuliah, juga bersama dengan seorang gadis bernama josline.
Jaerin dan josline sering sekali menginap di apartemen wonwoo untuk mengerjakan tugas kuliah. Dulu wonwoo tinggal bersama ibunya yaitu jeon hara, namun setelah wonwoo lulus kuliah hara memutuskan kembali ke korea untuk meneruskan bisnisnya disana.
Wonwoo memutuskan untuk menetap karena dirinya memiliki pekerjaan yang harus ia selesaikan di sini.
Wonwoo mengambil satu setelan piyama berwarna pink dengan gambar panda yang berada didalam lemarinya, tentu saja piyama itu adalah milik jaerin dulu saat menginap di rumah wonwoo.
Untuk sekedar informasi, kedua orang tua jaerin dan jeon hara sudah sangat dekat. Mungkin karena mereka berasal dari negara yang sama.
Wonwoo keluar dari kamarnya untuk memberikan pakaian ini pada jaerin. Sesampainya di kama jaerin, wonwoo mengetuk pintu kamarnya.
"Jaerin." Panggil wonwoo, jaerin yang tengah menatap wajahnya di depan cermin langsung pergi untuk membukakan pintu untuk wonwoo.
"Iya sebentar." Ucap jaerin kemudian menarik gagang pintu kamarnya.
"Ini. Aku hanya menyimpan piyama ini, mungkin baju yang lain sudah eomma simpan didalam gudang." Wonwoo memberikan piyama itu pada jaerin, jaerin menerimanya lalu tersenyum pada wonwoo.
"Tidak apa, terimakasih woo." Jawab jaerin kembali melenggang masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan wonwoo yang sudah tersenyum tidak karuan karena melihat senyuman jaerin yang sangat manis.
Jaerin kini sibuk untuk mengganti pakaiannya, malam ini jaerin memutuskan untuk tidak mandi karena cuaca yang cukup dingin, lagi pula kondisi tubuhnya sedang berada dalam keadaan yang tidak fit.
Setelah selesai mengganti pakaian rumah sakit dengan piyama pink miliknya. Jaerin sengaja mengikat rambut panjangnya asal, kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memandang langit kamar tamu yang dulu sering ia gunakan bersama dengan josline.
Jaerin merindukan gadis bule dengan poni yang selalu menjadi ciri khasnya. Jaerin dan josline sudah lama putus komunikasi karena handphone milik jaerin hilang.
Tapi tiba-tiba pikiran jaerin kembali terpusat pada oh sehun, jaerin tidak yakin sehun akan melepaskannya dengan begitu saja. Tapi jaerin sudah lelah dengan ini semua, dia ingin sehun tidak lagi menghantui hidupnya. Jaerin ingin mereka berpura-pura saling tidak mengenal, tapi itu akan sangat sulit untuk jaerin maupun sehun.
Karena mereka saling mencintai tapi juga membenci.
Tak terasa setetes air mata lagi-lagi turun dari mata jaerin, mengingat kehidupannya yang akan selalu berada dalam bayang-bayang seorang sehun.
"Jaerin..." Jaerin mengerjap dengan segera membersihkan air matanya agar tidak terlihat dirinya habis menangis.
"Masuk saja woo, aku tidak mengunci pintunya." Teriak jaerin yang masih berada di atas kasur dengan posisi duduk dengan tubuhnya bersandar pada sandaran tempat tidur.
Terlihat kepala wonwoo mengintip dari daun pintu untuk melihat keadaan jaerin. "Jaerin, aku sudah memasakan mu sup ayo makan." Pinta wonwoo, namun dengan segera jaerin menggeleng menolak ajakan wonwoo.
"Aku masih kenyang woo." Lirih jaerin suaranya terbilang teramat parau dan lemah sekali.
Wonwoo yang merasakan perubahan mood jaerin langsung mendatangi gadis itu unruk melihat keadaannya dari dekat.
"Jaerin kau menangis?" Tanya wonwoo ketika menangkap wajah jaerin yang sembab.
"Oh astaga." Wonwoo kembali memeluk jaerin ikut duduk di atas kasur bersama dengan jaerin.
"Menangislah, aku tidak meminta mu untuk kuat disaat keadaanmu benar-benar rapuh, dan harus kau ingat ada aku yang selalu bersama mu untuk menjadi sandaran mu." Ucap wonwoo lagi-lagi berusaha menengkan jaerin dalam pelukannya.
Jaerin yang mendengar ucapan wonwoo langsung menangis sejadi-jadinya dalam pelukan wonwoo. Melepaskan seluruh rasa sakit dan juga lelah yang ia rasakan, dalam tangisan jaerin juga terdengar suara kesedihan hatinya yang merasakan luka jika mengingat mendiang kedua orang tuanya.
Semuanya mencuat menjadi satu hingga membuat emosi jaerin tidak bisa di tahan lagi. "Terus menangis jaerin, itu akan membuat mu tenang."
***
a/n : nama nya jeon wonwoo dia anggota seventeen, mungkin kalian 'carat' udah tahu sama cowo dengan muka sedingin kisah masalalu ini:)
__ADS_1