Mafia With Luv

Mafia With Luv
regret


__ADS_3

Jaerin seharian itu memutuskan untuk tetap berada di dalam kamar, mengurung diri dengan selimut yang terus menggulung tubuhnya.


Jaerin tak memiliki minta ataupun ketertarikan untuk melihat indahnya mansion milik sehun, yang jaerin ketahui memiliki banyak penjaga di setiap sudut rumahnya..


Menghela nafas berat, jaerin berharap rasa laparnya bisa terbalaskan, tubuhnya sudah tak kuat untuk sekedar berdiri ataupun berjalan.


Jaerin lemah sekarang dan itu karena ulah sehun, jaerin paham sehun memang menginginkan dirinya seperti ini, mati perlahan dengan cara yang mengenaskan.


  Diliriknya kembali jam dinding yang terpajang besar di kamar ini, sambil sesekali bergerak gelisah jaerin sudah tak kuat dia lapar, sangat.


Sebenarnya sehun tak bersalah sepenuhnya disini, sudah hampir 3 kali seorang pelayan datang  mengantarkan untuk jaerin, namun lagi lagi entah karena gengsi atau memang sudah membenci sehun, jaerin kembali menolak.


  Walau dia ingin sekali mencicipi makanan itu.


Jaerin merasa tubuhnya menggigil di barengi juga dengan suhu tubuhnya yang tak menentu, kaki jaerin menggeliat merasa tak nyaman dengan keadaannya saat ini.


  Merasa ada yang tak benar, jaerin menganggap bahwa dia akan segera mati, walau di satu sisi dia keberatan namun jaerin bersyukur dia hanya merasakan siksaan yang cukup mudah.


Karena siksaan sekecil ini saja sudah membuatnya hampir mati.


Tak lama setelah itu jaerin tersenyum sambil meneteskan air mata sebelum matanya benar benar berat untuk di buka.


***


Lelaki dengan marga OH ini membuka jas yang sedari tadi pagi membalut tubuhnya, kini hanya menyisakan kemeja berwarna putih.


Memberikan jas itu pada maid yang sudah berdiri rapi menyambut kedatangannya, sehun menatap sekeliling rumahnya yang tak ada perubahan, baik desain maupun penghuni masih tetap sama dengan sebelumnya.


Sehun merasa kesepian.


Sehun teringat akan jaerin yang sudah membuat pikirannya tak tenang saat melakukan pekerjaan.


Dengan terburu sehun bertanya tentang jaerin pada bibi lihee, sebagai kepala pembantu di mansion besar milik sehun.


"Ahjumma... Apa jaerin sudah makan?" Tanya sehun mengambil segelas air minum dari maid yang selalu siap siaga memenuhi kebutuhan sehun setelah pulang bekerja.


  "Maaf tuan... Nona jaerin tak mau memakan makanan yang saya berikan, dia menolak saya dan bahkan mengusir saya dari kamarnya, saya sudah sangat berusaha tuan."


Jawab lihee sambil menunduk ketakutan, walau lihee tahu bahwa tuannya ini sangat baik, tapi ini adalah kesalahannya tak bisa membujuk jaerin untuk sekedar menyuapkan sesendok nasi.


  "Lalu apakah dia pergi keluar kamar?" Tanya sehun lagi yang semakin kebingungan dengan segala sikap jaerin.

__ADS_1


"Tidak tuan, jangankan untuk keluar kamar, pergi memanggil saya pun tak pernah." Jawab lihee berusaha agar tak membuat tuannya marah.


  "Baiklah.. Sekarang siapkan makanan untuk jaerin, harus makanan empat sehat lima sempurna, jangan lupa susu murni sebagai minumnya." Perintah sehun, lihee mengangguk paham lalu pergi meninggalkan sehun untuk menyiapkan makanan untuk jaerin.


Sehun menghela nafas kasar, mengingat sifat jaerin yang kekanak-kanakan, bahkan tak peduli dengan kesehatannya sendiri.


Dengan langkah terburu buru sehun menaiki anak tangga menuju kamar jaerin yang berada di lantai dua.


Meninggalkan jaerin seharian sudah hampir membuat sehun gila, gadis itu terus saja memenuhi pikirannya, membuatnya tak tenang untuk tak melihat langsung keadaan jaerin.


Sehun membuka pintu kamar jaerin yang tak terkunci, sambil memasukan punggung tangannya kedalam saku celana, sehun menghampiri ranjang jaerin yang hanya menampilkan sebuah selimut berceceran dengan jaerin yang berada di posisi yang berantakan.


Sehun tersenyum kecil, sambil menatap wajah sendu jaerin yang sangat tenang saat tertidur.


Sehun dengan halus dan pelan, mengusap usap pucuk rambut jaerin, memanfaatkan kesempatan yang ada agar bisa sepenuhnya menyentuh jaerin tanpa ada sebuah penolakan yang menyakitkan.


Baik ucapan kasar atau umpatan dari jaerin yang menohok menusuk hati.


"Jaerin... Bangun..." Sehun menggoyang goyangkan tubuh jaerin yang masih menutup rapat kedua matanya.


"Jaerin..." Sehun kembali berusaha membangunkan jaerin yang kembali tak merespon panggilan sehun.


"Jaerin!" Sehun sedikit kesal karena jaerin tak mendengar panggilannya.


Dan betapa terkejutnya sehun saat mendapatkan suhu tubuh jaerin yang sangat tinggi, karena terlalu panik sehun berteriak sekuat kuatnya dengan sisa tenaga yang dia miliki.


"Ahjumma!" Sehun berlari mencari dimana keberadaan ponselnya atau telefon rumah untuk memanggil dokter kepercayaannya.


Sehun dengan tubuhnya yang masih bergetar, mengambil telefon rumah sambil mengetikan nomor sang dokter pribadi.


Berdoa agar jaerin baik baik saja terus menerus di panjatkan oleh sehun, mengingat jaerin kini adalah semangat hidupnya.


Segalanya, dan sumber kebahagiaannya.


***


  Sehun berharap harap cemas, menunggu kepastian apa yang akan di katakan oleh dokter lee tentang kesehatan jaerin.


  Sambil terus mengerutuki kesalahannya yang telah membiarkan jaerin tinggal tanpa pengawasan, persetan dengan pekerjaan yang jelas sekarang dia sangat mengkhawatirkan  kondisi sinar kehidupannya itu.


  Sambil terus berjalan resah didepan pintu kamar jaerin, sehun dengan gamblang menujukan betapa besar rasa cintanya pada jaerin, terutama ketika jaerin dalam keadaan yang sangat buruk, sehunlah yang akan mengkhawatirkan jaerin.

__ADS_1


Sebenarnya jaerin tak sendirian, ada sehun, selalu akan seperti itu, dari dulu hingga sekarang, karena bagaimanapun keadaannya, apapun kondisi nya, hanya sehun lah yang akan siap siaga melindungi jaerin.


  Karena ketika jaerin terluka di situlah sehun merasakan hal yang sama, dan ketika jaerin menangis hati sehun pun ikut meringis, merasakan kepedihan yang dialami oleh jaerin waktu itu.


  Dan kini sehun kembali merasakan hal yang sama, ketika sudah hampir 4 tahun rindu dengan rasa ini, rasa yang telah membuatnya berfikir dan menganggap dirinya sebagai pahlawan untuk gadis dengan mata amber ini.


Sehun menghentikan langkahnya, ketika mendapati sosok dokter lee sudah keluar dari kamar jaerin.


  Sepenasaran mungkin sehun segera menanyakan keadaan jaerin pada dokter dengan nama lengkap lee junhyun itu.


  "Bagiamana keadaannya?" Tanya sehun penasaraan.


  "Dia baik... Hanya saja sedikit kelelahan, banyak pikiran dan yang kulihat dia belum memasukan sesendok nasi kedalam mulutnya, bukan?" Tanya junhyun sambil menyimpan stetoskop kedalam saku jas formal yang ia gunakan.


  Juhyun bisa di kategorikan sebagai dokter dengan tingkat ketampanan yang luar biasa, karena di usianya yang menyentuh kepala tiga, junhyun masih sangat tampan dan tentunya muda.


  "Iya begitulah, gadis itu sulit sekali diajak bekerja sama" Jawab sehun dengan notasi yang sangat tenang, karena mendengar berita gadis manisnya itu baik baik saja.


  "Pantas, kalau begitu biarkan dia beristirahat, jangan sampai dia telan makan dan terlalu banyak pikiran." Junhyun membereskan barang barang miliknya.


"Aku sudah memberikannya infus vitamin c agar sistem kekebalan tubuhnya tidak menurun, aku juga menyiapkan obat yang harus dia minum, aku meletakannya di atas nakas." Junhyun lalu tersenyum sambil menujukan wajah yang mencurigakan.


"Jika kau hanya menjadikan pelampiasan, kau bisa memberikanya padaku saat kau tak lagi membutuhkannya." Bisik junhyun di telinga sehun, sebelum melengos pergi meninggalkan sehun yang terpaku.


Dan jangan lupakan bahwa junhyun adalah seorang penggoda.


"Itu tak akan kubiarkan." Sarkas sehun sambil membawa langkahnya untuk masuk melihat keadaan jaerin.


  Sehun tersenyum miris, dia gagal untuk menjadi pahlawan jaerin, bahkan dirinya lah sendiri yang telah membuat jaerin seperti ini.


Sehun sangat menyesal, sangat menyesal.


Namun lagi lagi penyesalan hanya datang di akhir menjadi bukti bahwa mengambil sebuah keputusan harus dengan pemikiran yang matang.


Sehun menarik sebuah kursi dan memposisikannya di samping tempat tidur jaerin, sehun menduduki kursi itu lalu memandang jaerin lekat.


"Kau gadis nakal, sampai kapan kau tak akan mendengarkan ucapanku." sehun menggenggam salah satu tangan jaerin.


"Kau senang membuat aku khawatir? Kau senang bukan telah membuatku melupakan pekerjaan ku hanya untukmu? Dari dulu kau memang suka sekali diperhatikan, sampai perhatian dariku kau anggap kurang." Sehun menghela nafas panjang, masih dengan umpatan penyesalan untuk dirinya sendiri.


  "Aku sangat merindukan mu, dirimu yang sangat manja denganku, aku merindukan mu, yang dulu selalu menangis dalam pelukanku, kau sangat suka ku sayang bahkan kau telah membuat ku ketakutan tak ayal memikirkan bagaimana orang lain yang menggantikan posisi ku kelak... Aku sangat ketakutan sungguh."

__ADS_1


  "Membayangkan betapa bahagianya dirimu walau tak lagi dalam pelukanku, rasa itu seperti terus menghantuiku.. Tapi pada kenyataannya aku kembali harus menerima nasib, bahwa kau membenciku sebagaipembunuh keluargamu, bukan lagi sehun pahlawan penyelamat mu... Jaerin."


__ADS_2