
**Hallo apa kabar semua! Semoga tetap sehat dan berada dilindungan tuhan yang maha esa.
Mau tanya nih, kalau semisal aku buat jaerin sama sehun pisah lagi kalian setuju gak?
Wkwkwwk, mohon komen gengs.
Kalau aku sih setuju, karena aku suka sebuah perpisahan HAHAHAHAH😂😏😁
happy reading**!
***
Jaerin menatap kosong pada sekitarnya yang kini tampak ramai dengan lelaki berseragam hitam putih, dan kacamata hitam yang khas dari anak buah sehun. Seluruh mall ini sedang di susuri oleh anak buah sehun, karena pembunuhan tadi sudah sangat terencana.
Mungkin saja jika lelaki tadi tidak membunuh pembunuh itu, jaerin telah mati. Namun untungnya lelaki itu datang pada waktu yang tepat. Tapi jerin masih benar-benar ketakutan, wajahnya pucat pasi dengan tangan bergetar. Sehun sudah berusaha menenangkan jaerin, memeluk gadisnya itu, memberinya kecupan. Namun jaerin tak menunjukan reaksi apapun, dirinya masih berdiam tak mengedipkan matanya sama sekali.
"Jangan percaya pada siapapun termasuk orang terdekat mu."
Kata itu terus terngiang ditelinga jaerin, seperti peringatan akan sesuatu tapi jaerin tak tahu pada siapa hal itu ditunjukan. Mungkinkah sebuah pengkhianatan, begitu memusingkan. Lalu jaerin harus percaya pada siapa? Siapun mencangkup seluruh manusia yang berada didekatnya.
"Jaerin, semuanya baik-baik saja. Hm?" Ucap sehun kesekian kalinya berusaha menenangkan.
"Jaerin, jangan seperti ini." Tambah sehun lagi, dia juga sangat takut sesuatu hal terjadi pada jaerin, hingga membuat jaerin berdiam diri seperti ini. Sehun tahu jaerin shock tapi haruskah jaerin sampai tak mau berbicara seperti ini.
Lagi dan lagi jaerin hanya mengabaikan panggilan sehun. Tak acuh dan memilih membuang muka. Wajah jaerin teramat masam, terlihat begitu kesakitan. Tidak munafik, jaerin sejujurnya memang bingung, sangat. Dia tak tahu apa yang akan ia katakan pada sehun, kejujuran atau sebuah kebohongan. Masih ia pertanyakan, belum ada kepastian.
"Jaerin, tolonglah." Ucap sehun yang hampir saja menyerah. Dia tak tahu lagi harus melakukan apa pada jaerin.
Jaerin membuang nafasnya, kemudian mengalihkan pandangannya tepat pada kedua obsidian sehun yang berwarna hitam legam. Menatapnya dalam, dengan gurat kesedihan.
"Sehun, aku butuh istirahat."
Akhirnya sebuah jawaban terlontar dari mulut kecil jaerin. Walau tak sesuai dengan apa yang sehun harapakan, namun setidaknya jaerin masih berbicara padanya dan itu sudah cukup. "Baiklah, kau ingin pulang?" Tanya sehun, masih setia berdiri dengan tumpuan kedua lututnya, sedangkan jaerin tengah duduk diatas sebuah kursi.
"Ya."
***
Sekuat apapun jaerin berusaha, tetap saja dirinya tak bisa. Ingin ia pejamkan matanya siapa tahu bisa sedikit lebih tenang, namun nyatanya itu tak bisa diwujudkan. Jaerin terus bergerak gelisah tak nyaman, berpindah tempat mencari posisi, tapi tetap saja gagal. Tidak berhasil.
Dirinya merasa sangat gelisah, penasaran akan sesuatu namun berusaha ia tahan. Tak sanggup jika ada kenyataan menyakitkan lainnya yang perlu dia selesaikan. Atau tamparan keras tentang kehidupannya yang memang sudah terlanjur sial, terlalu direncanakan. Karena muak akhirnya jaerin memutuskan untuk bangkit dari atas tempat tidur nyamannya, padahal ia berharap akan terlelap, bukan terganggu karena keresahan seperti ini.
Setelah pulang dari mall tadi, jaerin langsung beristirahat dikamarnya. Sehun entah pergi kemana, yang jelas lelaki itu hanya menemani jaerin sebentar lalu diusir oleh jaerin karena menganggu. Berceloteh aneh tentang kondisinya, terlalu rempong, penuh kekhawatiran yang berlebihan.
Jaerin berjalan menuju meja riasnya, mengambil sebuah kotak kecil berwarna putih. Kotak itu memiliki banyak rahasia yang entah apa itu, tapi yang jelas semua orang mengincarnya. Termasuk sehun sendiri. Membukanya dengan cepat, kini mengambil sebuah sapu tangan berwarna putih yang berada didalamnya. Bertambah satu clue yang perlu jaerin pecahkan.
Sapu tangan berwarna putih itu merupakan pemberian lelaki yang membantu jaerin didalam toilet, menyelipkannya kedalam baju jaerin dengan lengan kecilnya. Mengendap seakan tak ingin orang tahu, bahwa lelaki itu menyimpan suatu barang penting pada jaerin.
Jaerin menatap sapu tangan itu, sangat indah dengan gambar bunga mawar berwarna hitam. Seperti logo lebih tepatnya, karena dibagian belakang mawar hitam itu terdapat dua buah pedang yang sengaja dibentuk silang. Dibagian bawah mawar itu tertulis sebuah kata 'BLACK ROSE'.
Jaerin merasa sangat tak asing dengan gambar bunga mawar dan pedang itu. Tapi ia tak ingat pernah melihatnya dimana, yang jelas itu semakin membuat jaerin penasaran setengah mati. Terus saja berpikir mungkinkah ini semua berhubungan, sebab jika diteliti lagi, kelopak bunga mawar itu sangat mirip dengan kalung pemberian kedua orangtuanya. Atau mungkinkah kebetulan?
Memikirkan sebuah siasat yang mungkin saja akan berhasil. Dengan segera jaerin membuka pintu kamarnya, hendak mencari seseorang. Ketika melangkahkan kakinya keluar dari kamar jaerin tersentak kaget melihat dua orang lelaki yang sepertinya anak buah sehun menahan tangannya agar tak pergi.
"Lepas, ada apa?" Tanya jaerin kebingungan.
"Nona tidak diperbolehkan keluar dari dalam kamar." Jawab salah satu diantara dua orang lelaki itu.
"Kenapa? Siapa yang memerintahkan?" Tanya jaerin lagi.
"Boss sehun."
__ADS_1
Jaerin mencebik kesal, sehun memang berlebihan. Sekiranya rumah besar ini sudah cukup aman untuk dirinya tinggal, lalu kenapa harus ada penjaga didepan kamarnya. Sungguh itu mengganggu sekali. Walau ditahan, jaerin tidak akan mudah menyerah, jika dia tak bisa mendapatkan apa yang inginkan, maka ada jalan kedua yang harus ia tempuh. Mudah sekali, selama otaknya bekerja jaerin akan selalu berusaha mewujudkan keinginannya.
"Baiklah, tapi bisakah kalian panggilkan cloe? Aku harus berbicara dengannya." Pinta jaerin.
Kedua pengawal itu saling menatap, namun akhirnya bersuara untuk menjawab permintaan jaerin. "Maaf tapi cloe tidak berada disini. Dia masih berada di tkp." Jawab salah satu pengawal.
Jawaban itu sukses membuat jaerin kecewa. Tapi sekali lagi bukan jaerin namanya jika mudah menyerah. "Kalau begitu pinjamkan aku smartphone kalian, aku akan menelfon cloe." Pinta jaerin lagi tanpa ragu, tentu saja dia tidak takut dengan kedua pengawal ini.
"Maaf tapi ras—"
"Baiklah kalau tidak mau, aku akan mengatakannya pada sehun saja." Ancam jaerin, berpura-pura berjalan menjauh menuju lorong ruang keluarga, disana ada sebuah nakas yang menyimpan telefon rumah. Seperti ancamannya, dia akan menelfon sehun.
"Berikan saja, aku tidak sanggup jika harus mendengar omelan boss."
"Tapi bagaimana pun juga—"
"Lagi pula boss tidak memberi peringatan kepada kita tentang nona jaerin yang tidak boleh memakai ponsel. Berikan saja milikmu."
Jaerin yang masih berjalan pura-pura, sengaja diperlambat tersenyum penuh kemenangan, ketika mendengar perdebatan dua pengawal itu. Sepertinya rencananya berhasil. Dan benar saja, kedua orang pengawal itu mengejar jaerin yang mulai menjauh dari depan kamarnya.
"Nona jaerin, tunggu."
Tepat setelah panggilan itu, jaerin langsung membalikan tubuhnya. Menatap kedua pengawal itu dengan tatapan pura-pura bingung, disengaja agar tak terlalu kentara jika ini hanya dramanya saja. "Hm? Ada apa?" Tanya jaerin.
"Ini, silahkan. Nona bisa memakainya."
Pengawal itu mengeluarkan sebuah smartphone miliknya dari dalam saku jas yang ia kenakan. Menyodorkannya pada jaerin. Sempat Jaerin tatap si ponsel lekat, seperti berpikir tak berminat padahal sesungguhnya itu hanya akal-akalannya saja.
Tapi setelahnya jaerin meraup ponsel itu dalam genggamannya, menjerit kegirangan dalam hati karena rencananya berhasil. "Apa yang membuat kalian mau meminjamkan ponsel padaku?" Tanya Jaerin menatap satu persatu pengawal itu.
"Karena nona adalah kekasih boss kami." Jawab mereka berdua dengan serentak.
Jaerin terkekeh senang. Bungah dengan jawaban mereka yang terlihat jujur tak tampak kebohongan. Sepertinya yang mereka tahu jaerin adalah kekasih sehun, padahal kenyataannya mereka belum kembali meresmikan hubungan untuk kedua kalinya. Tapi tak apa.
Tertawa girang dalam hatinya, karena berhasil mengelabui anak buah sehun dengan gampangnya. Entah karena mereka berdua bodoh, atau memang ketakutan dengan sehun, namun setidaknya hal itu sungguh menguntungkan untuk jaerin. Memasuki kamarnya, kemudian menutup pintu dengan pelan, tak dikunci agar tidak menimbulkan kecurigaan. Dengan segera jaerin, membuka ponsel pengawal itu, tak terkunci rupanya.
Jaerin membuka browser, mengetikan sesuatu disana. Bukan, menelefon cloe adalah alibi hanya sebuah kebohongan, untuk apa jaerin melakukannya. Tak masuk akal. Disana jaerin mengetikan keyword BLACK ROSE ORGANISATION. setelahnya muncul pada bagian bawah pencarian yang dilakukan oleh jaerin.
Black rose organisation. Organisasi Pembunuh bayaran terkenal pada masanya.
Karena penasaran dengan hasil itu, akhirnya ditekannya pencarian paling atas. Menampilkan beberapa penjelasan yang ingin jaerin ketahui.
*Black rose adalah organisasi pembunuh bayaran terkenal diseluruh dunia. Sempat jaya pada tahun 1980-1990 black rose menjadi momok menakutkan bagi para pimpinan diseluruh dunia karena pembunuhan yang mereka lakukan pada para pejabat. Black rose sangat identik dengan bunga mawar hitam yang akan mereka letakan pada mayat seseorang yang telah mereka bunuh.
Para polisi tak pernah tahu identitas para pembunuh bayaran black rose, tidak pernah ada jejak di tkp, ataupun bukti yang mereka tinggalkan kecuali bunga mawar hitam itu. Membuat para polisi kesulitan menemukan pelaku dan anggota black rose itu sendiri.
Sampai sekarang, baik ketua maupun anggota black rose tidak pernah diketahui identitasnya. Mungkin saja mereka hidup seperti masyarakat biasanya setelah karir mereka meredup dan tak pernah terdengar lagi kabarnya.
Harus tetap berhati-hati*.
Jaerin membungkam mulutnya tak percaya, jadi lambang yang berada disapu tangan itu merupakan lambang organisasi black rose. Dan apakah mungkin lelaki itu merupakan salah satu anggota itu. Tapi kenapa? Apakah itu merupakan sebuah ancaman, atau peringatan. Yang jelas setelah membaca artikel itu banyak pertanyaan yang muncul dikepala jaerin.
Tok tok tok
Jaerin tersentak dari lamunannya, dengan segera melirik ke arah pintu kamarnya yang diketuk. "Masuk saja!" Teriak jaerin, memperbolehkan seseorang itu masuk kedalam kamarnya.
Dengan terburu-buru jaerin keluar dari browser, menghapus histori agar anak buah sehun tak tahu apa yang tengah ia lakukan. Dari balik itu datang seseorang yang merupakan pengawal tadi, mendekati ke arah jaerin.
"Nona, bos sehun meminta agar handphone milik saya diambil dari nona." Ucap pengawal itu.
Jaerin membulatkan mulutnya membentuk huruf 'O'. Tak perduli juga sebab apa yang ia cari dan ia inginkan sudah didapatkan. Handphone ini tak lagi ia butuhkan. "Ini, terimakasih. Aku akan meminta sehun membelikan ponsel untukku, permainan cacing di handphone mu ternyata menyenangkan." Jawab jaerin menyerahkan benda pipih itu.
Sang pengawal menatap layar ponselnya yang menampilkan layar beranda aplikasi permainan cacing. Sempat kebingungan, karena pikirnya Jaerin akan melakukan sesuatu, tapi nyatanya gadis itu hanya ingin bermain. Untunglah, pengawal itu tidak jadi di omeli oleh bossnya.
__ADS_1
"Ah, nona bosan yah? Nanti saya akan bicara pada bos untuk memberikan nona handphone dengan segera." Jelas pengawal itu mengambil handphone miliknya yang berada diatas telapak tangan jaerin.
"Tidak perlu, aku bisa mengatakannya sendiri pada sehun. Terimakasih yah." Tolak jaerin, menurutnya tanpa handphone hidupnya akan baik-baik saja. Bermain cacing hanya alasannya saja, mencari cara agar tak di curigai yang lagi-lagi berhasil.
Pengawal itu mengangguk paham, kemudian undur pamit dengan berjalan kelur dari kamar jaerin dan kembali menutup pintu kamarnya. Dirasa pengawal itu telah pergi, jaerin dengan segera merebahkan tubuhnya diatas kasur. Mempertanyakan sesuatu yang menjadi bebannya.
Apakah ini sudah direncanakan?
***
"Bagaimana kronologi jelasnya cloe?" Tanya sehun yang kini tengah bersama dengan cloe disebuah ruangan. Masih didalam mall mewah itu, hanya saja ini adalah ruangan privat.
"Aku tidak tahu, jaerin bilang akan buang air kecil. Aku tidak mungkin mengikutinya kedalam kamar mandi, ku pikir dia butuh privasi. Jadi ku biarkan saja." Jawab cloe atau josline dengan santai.
"Jaerin tidak keluar selama 10 menit, apa kau tidak curiga?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut seorang woonhoo yang ikut mendampingi sehun didalam ruangan itu.
"Tidak, karena selama 3 tahun menjadi sahabat jaerin, aku tahu dirinya akan sangat lama keluar dari kamar mandi. Terutama setelah memakan makanan pedas." Jawab josline lagi kelewatan lancar, tapi memang apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran.
"Baiklah. Tapi sekarang kau tidak diperkenankan untuk meninggalkan tkp sampai penyelidikan ini selesai." Ucap sehun, setelahnya memilih pergi dari ruangan itu untuk melihat situasi yang masih ramai karena sedang diadakan penyelidikan.
Sehun dengan gayanya yang selalu terlihat angkuh dan dingin berjalan melewati para aparat kepolisian dan juga anak buahnya yang masih berjaga disekitar mall itu. Sengaja disebarkan, agar menemukan sesuatu yang mencurigakan. Membawa langkahnya pada ruang monitor cctv agar bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi, masih abu-abu.
Ketika sampai di ruangan cctv itu, hanya ada beberapa orang termasuk pengawal sehun yang masih berjaga.
"Apa yang kalian temukan?" Tanya sehun pada petugas yang tengah menatap layar komputer berisi rekaman cctv.
"Kami tidak menemukan apapun yang mencurigakan hanya ini." Jelas petugas itu memutar sebuah video yang ia temukan tadi.
Sehun memperhatikan video itu dengan seksama, wajahnya semakin menunjukan raut ketidaksukaan begitu sebuah adegan itu muncul dilayar komputer dengan jelas. Bagaimana lelaki yang menyelamatkan jaerin memeluk gadisnya, seperti tengah mencium pipi jaerin terutama dengan kedua tangannya yang jelas melingkar dibagian pinggang jaerin. Membuat sehun menggeram kesal, berapi-api, ingin memukul, menyesal telah melihat video itu yang akhirnya membuat cemburu.
"Sialan, akan ku bunuh orang itu! Berani-beraninya menyentuh miliku." Desis sehun membuat seisi ruangan itu menjadi hening. Mereka semua tidak ada yang berani melawan sehun terutama ketika sedang marah, siapapun pasti akan mendapatkan imbas dari kemarahan sehun.
Namun dering telefon mengacaukan segala ketegangan yang terjadi diruangan itu. Sehun teralihkan dan memilih mengangkat telefon miliknya yang berbunyi. Tak membuang banyak waktu sebab yang menelfonnya adalah anak buah yang dia perintahkan untuk menjaga jaerin.
"Apa?" Tanya sehun.
"Nona jaerin meminta untuk dipinjamkan ponsel, dia berasalan akan menelfon cloe. Lalu saya memberikan ponsel milik saya padanya. Apakah boleh?"
"AMBIL SEGERA PONSEL ITU! LIHAT APA YANG IA LAKUKAN!" Teriak sehun bergema didalam ruangan, semakin membuat semua orang ketakutan, termasuk anak buahnya yang berada di sana.
"Ba—aik bos."
Setelahnya sambungan diputuskan, sehun langsung menggeram kesal. Mengerutuki kebodohannya sebab tak sadar akan sesuatu. Lelaki itu tak melakukan pelukan biasa, tetapi lelaki itu memberikan sesuatu untuk jaerin dan yang pasti itu adalah sebuah kekacauan berikutnya.
***
**Gimana? Suka?
Maaf ara jarang update sekarang. Sibuk beut yawlah.
Jangan lupa vomment yah gengs.
See you next chapter**!
__ADS_1