
Sinar mentari di siang hari tak membuat semangat Jaerin luntur, ia terus mengusapkan kuasnya pada helai kanvas yang sudah dia gambar sedemikian rupa. Terkadang jaerin terdiam, berpikir sejenak dengan apa yang akan ia lukis.
Kadang jaerin juga tersenyum, merasa bangga dengan apa yang baru saja ia torekan pada kanvas. Lukisan yang sangat indah dan penuh dengan makna.
"Gambar yang sangat indah." Puji marie yang baru saja datang sambil membawa nampan berisi pancake dengan susu cokelat.
"Terimakasih bibi." Jawab jaerin lalu memberikan sebuah senyuman pada marie yang tengah meletakan makanan itu di meja yang berada disamping jaerin.
"Ternyata anda sangat berbakat dalam melukis." puji marie lagi, membuat jaerin lagi-lagi tersipu malu.
"Bibi bisa saja." Jawab jaerin lalu kembali terkekeh, walau tangannya masih sibuk dengan kuas dan cat air.
"Ayo, jaerin makan terlebih dahulu." Marie ikut duduk di samping jaerin, kembali memperhatikan lukisan yang tengah di buat oleh jaerin.
"Jadi merepotkan." Ucap jaerin meletakan kuasnya lalu membersihkan tangannya menggunakan kain yang sengaja di sediakan.
Kemudian jaerin memakan pancake itu, memotongnya dengan pisau yang sudah di siapkan. "Bibi mau?" Tawar jaerin pada marie yang terus memperhatikan gerak-geriknya.
"Tidak, saya sudah makan siang tadi." Tolak marie halus, walau ia tahu jaerin adalah gadis baik tapi marie masih memiliki etika dan sopan santun pada atasannya terutama pada jaerin yang notabenenya sudah dianggap seperti nyonya di rumah ini.
"Padahal ini sangat enak sekali. Ah iya, apakah bibi yang memasak pancake ini?" Tanya jaerin, kembali menyuapkan sepotong pancake pada mulutnya kemudian di susul dengan susu cokelat yang telah membasahi tenggorokannya.
"Bukan saya, tugas dapur sudah di penggang oleh koki, saya hanya bertugas untuk mengawasi pekerjaan mereka." Jelas marie, jaerin mengangguk samar terus mengunyah pancake dalam mulutnya.
***
Jaerin mendengus sebal sedari tadi dirinya di acuhkan oleh sosok lelaki tampan dengan surai hitam legam yang duduk di sampingnya, pandangan lelaki itu sibuk dengan teknologi digital yang berada dalam pangkuannya. Ingin rasanya jaerin menarik rahang simetris itu, agar pandangnya tetap berfokus pada dirinya. Namun lagi-lagi, jaerin hanya bisa memendam kekesalannya sendiri dengan cara bergerak-gerak tak jelas, merancau dan menggumam.
Karena terlalu kesal, jaerin dengan kasar menghentakkan kakinya di lantai marmer itu lalu pergi menuju ruangan melukis yang berada di lantai dua. Setidaknya ruangan itu dapat sedikit memendam rasa kesal jaerin.
Terlalu berlebihan memang, cemburu dengan benda mati seperti itu. Tapi itulah sisi jaerin, sisinya yang tak akan pernah suka kasih sayangnya di bagi maupun di kurangi. Dia selalu haus kasih sayang, dan karena aura dalam tubuhnya jugalah yang membuat banyak orang sangat suka memberikan perhatian padanya, selama itu dalam konteks 'baik' jaerin akan selalu menerimanya, karena dirinya memang membutuhkan itu.
Saat sampai diruangan kaca yang sangat indah itu, jaerin kembali melebarkan senyumnya tak kala pandangnya bertemu dengan lukisannya dahulu. Ah—jika melihat lukisan itu akan selalu membuat jaerin tertawa sendiri, lukisan sederhana yang penuh dengan kenangan.
Jaerin mendekati lukisan yang terpajang rapih di ruang kaca, kembali mengusapnya, merasakan tekstur lukisan itu, beberapa cat sudah mulai terkelupas, apalagi lukisan itu di buat dengan cat air murah.
Jaerin tersentak kaget, ketika merasakan sebuah lengan kekar memeluknya pinggangnya dari belakang membuatnya menoleh untuk melihat siapa pelakunya. Walau sudah jaerin tahu dengan sangat jelas, bahwa pemilik lengan kekar itu adalah sehun.
"Kau marah padaku?" Tanya sehun, lalu meletakan dagunya pada bahu jaerin karena jaerin kini menggunakan drees tanpa lengan.
"Menurutnmu?" Tanya jaerin dengan nada yang sengaja ia buat ketus.
"Maafkan aku, pekerjaan kantor sangatlah banyak." Jawab sehun, masih dengan posisi memeluk jaerin erat.
Jaerin merinding ketika merasakan helaan nafas sehun menyapa permukaan kulitnya. "Sehun, aku ta—"
"Biarkan seperti ini beberapa menit jaerin." Potong sehun yang malah semakin mengeratkan pelukkannya pada jaerin.
Yang bisa jaerin lakukan hanya pasrah, membiarkan lelaki itu melakukan apapun yang dia inginkan, asalakan tak melawati batas kemanusiaannya.
"Kau mengingat lukisan ini? Lukisan yang sangat buruk." Komentar sehun menatap lukisan dengan pemandangan pantai yang sangat aneh, karena warna laut yang berwarna hijau toska, di campur dengan warna baby blue. Pasir yang berwarna cokelat tua, yang malah terlihat seperti batang kayu yang basah karena tersiram air.
"Ya, lukisan ini sangat buruk karena kau yang mendeskripsikan keadaan pantai, bodohnya hari itu aku percaya dengan ucapan mu." Bela jaerin merasa tidak terima jika lukisannya di sebut buruk, sebenarnya bentuknya tidak terlalu jelek hanya saja beberapa bagian tidak simtres, tidak menampilkan sisi gelap-terang yang pas untuk di pandang mata.
Sehun hanya terkekeh pelan, dia memang menyadari hal itu karena Jaerin memang handal soal lukis-melukis. Bau vanila dan strawberry kembali menyapa indra penciuman sehun, wangi khas dari diri jaerin.
Sehun pernah bertanya tentang wangi vanila dan strawberry yang selalu menyelimuti tubuh jaerin, tentang apa yang jaerin gunakan hingga wangi vanila juga strawberry selalu melekat kemanapun dan dimana pun jaerin pergi. Jawaban jaerin hanya gelengan kepala, dia tidak pernah menggunakan minyak wangi ataupun body locution berwangi strawberry, dia hanya menggunakan sabun wangi dengan rasa vanila, dan aroma strawberry itu entah berasal dari mana.
"Dulu kau adalah idola sekolah, semua lelaki di sekolah menyukaimu apalagi saat dirimu mengikuti eksul olahraga. Semua lelaki melirik mu dan memujamu jaerin." Cerita sehun lagi, jaerin hanya tersenyum kecil mengingat dirinya dulu adalah bunga sekolah.
"Kau tahu? Aku cemburu saat melihat beberapa lelaki menyatakan perasaan nya padamu, ku pikir aku akan kalah dari mereka, tapi nyatanya kau malah menunggu ku hingga kini."
"Maaf telah membuatmu menunggu jaerin, maaf juga karena telah membuat kita bertemu dalam keadaan yang tidak baik-baik saja." Sehun membalikan tubuh jaerin, hingga tubuh gadis itu berbalik padanya.
Jaerin menatap lekat mata sehun, tangan jaerin juga terulur merengkuh pinggang sang lelaki yang dengan sangat erat. Terlihat tatapan sehun pada jaerin yang sangat dalam, menggambarkan betapa cintanya sehun pada jaerin.
Karena tatapan dari keduanya yang penuh dengan rasa cinta berlebih, sehun menyalurkannya melalui sebuah pangutan lembut pada bibir mereka, membiarkan satu sama lain mendeklarasikan perasaan mereka dalam ciuman yang panas.
***
"Boleh yah, boleh yah." Jaerin kembali memohon di hadapan sehun, yang tengah sibuk memotongi sayuran, tanpa memperdulikan jaerin yang terus mengganggunya.
"Ayolah, boleh yah." Pinta gadis itu lagi sambil bergelayutan pada lengan kiri sehun yang masih memegang lobak.
"Tidak jaerin, kau belum sembuh sepenuhnya." Tolak sehun dengan tatapan lembut yang ia berikan pada jaerin, membentak gadis itu bukanlah sesuatu yang baik.
"Aku sudah sehat, lihat, lihat. Aku baik-baik saja." jaerin berjingkrak-jingrak tak jelas, melompat ke atas dengan sangat energik membuktikan bahwa dirinya sudah dalam keadaan baik.
"Jaerin jangan melakukan hal itu!" Bentak sehun, lalu melepaskan pisau yang sedari ia genggam di tangannya dengan kasar ke atas meja.
__ADS_1
Jaerin langsung menekuk wajahnya tak kala mendapatkan bentakan dari sehun, raut wajah jaerin langsung berubah masam. Sehun mengusap wajahnya kasar, padahal dia tahu membentak jaerin adalah hal buruk, tapi dia tidak bisa menahan rasa kesalnya saat melihat jaerin melompat dengan girang, padahalnya kondisinya belum pulih sempurna.
"Baiklah, kita pergi." Final sehun dengan sebuah senyuman yang berusaha ia tampilkan.
Jaerin yang sebelumnya menundukan kepalanya, kini mendongak menatap sumringah pada sehun. Hilang sudah wajah murung yang sebelumnya di tampilkan oleh jaerin.
"Apa kau tidak marah?" Tanya jaerin dengan suara pelan.
"Tentu saja tidak, aku tidak bisa marah pada gadis lucu seperti mu." Sehun mengusap pucuk rambut jaerin dengan tangannya.
"Cepat, ganti baju." Titah sehun, jaerin mengangguk pelan, lalu tersenyum pada sehun dengan deretan giginya yang ia tampilkan.
Jaerin berlari pelan menuju kamarnya, dengan wajah bahagia. Sehun yang melihat itu hanya menampilkan senyum lembut, merasa senang karena berhasil membuat jaerin bahagia.
Padahal sebelumnya sehun akan membuatkan makan malam khusus untuk jaerin, namun gadis itu meminta untuk makan di luar, di restoran korea. Dan walau sehun menolak permintaan jaerin, dia tak akan tega membuat jaerin bersedih. Sungguh cinta memang membutakan mata.
"Sehun, ayo!!" Teriak jaerin girang, dengan wajah bahagianya, terlihat jaerin sangat cantik dengan menggunakan sweater berwarna cokelat dengan rok di atas lutut berwarna hitam, rambutnya yang ia cepol asal, menambah kesan simple dalam diri jaerin.
"Kenapa terdiam? Cepat lepaskan apron mu." perintah jaerin, membuat sehun terkejut tersadar dari rasa kekagumannya pada sosok jaerin.
Dengan cepat sehun melepaskan apron yang ia gunakan, mencuci tangannya di westafel. Lalu berjalan mendekati jaerin.
"Kenapa tuhan harus menciptakan makhluk yang sangat sempurna seperti dirimu?" Tanya sehun ketika dirinya sudah berdiri di hadapan jaerin.
Jaerin tersipu malu, wajahnya memerah bak tomat yang masak. Hingga Jaerin sengaja memalingkan wajahnya, tak kala sehun terus memandangnya terlalu dalam.
"Sudahlah." Dengan cepat jaerin berusaha mengalihkan suasana, tidak ingin terus terjebak dalam rasa bangga dan malu yang luar biasa.
Sehun tersenyum simpul, kemudian mengambil tangan lembut jaerin, menggenggamnya dengan sangat erat, mengucapkan dalam hati bahwa sehun tak ingin lagi kehilangan jaerin untuk kedua kalinya.
***
Sehun terus menggenggam tangan gadisnya itu, tak membiarkannya sedikit pun lepas dari cengkraman tangannya. Walau beberapa pandangan mata tersorot pada mereka berdua, sehun seakan buta, dan memang ini yang dia inginkan, menunjukan bahwa jaerin hanya miliknya seorang.
Tapi jaerin tak menanggapi apa yang sehun lakukan padanya, bagi jaerin hal itu sudah biasa sehun lakukan padanya. Jaerin juga mengetahui bahwa sehun adalah lelaki 'over protective' yang sangat takut kehilangan jaerin.
Langkah mereka berdua sampai pada sebuah pintu kaca besar, ini memang tujuan mereka sebelumnya. Yaitu restoran makanan korea yang berada di london, tidak jauh dari mansion sehun, tapi tempat ini adalah yang terbaik.
Pintu kaca itu terbuka sendiri ketika sehun dan jaerin melangkah bersama, restoran yang sangat besar di tambah beberapa dekorasi yang sengaja di buat seperti tempat di korea.
Sehun dan jaerin mengambil meja tak jauh dari pintu kaca, agar bisa melihat pemandangan kota london dimalam hari.
"Aku ingin makan jjangmyeon, kimbap, bibimbap, teokbokki." Jawab jaerin dengan sebuah senyuman kecil dari bibirnya.
Sehun menggeleng pelan, jaerin memang sangat suka makan. Dan kadang kadar makan jaerin melebihi porsi manusia pada biasanya.
Lalu terdengar suara sehun yang memanggil waiter's. Tak lama pelayan itu berjalan menghampiri meja sehun dan jaerin sambil memberikan menu yang mereka sediakan, yang tentunya adalah makanan korea.
Waiter's itu juga menggunakan hanbok, menambah kesan korea pada restoran ini. Setelah memesan makanan, waiters itu pergi meninggalkan meja sehun dan jaerin.
"Benar-benar seperti di korea." Ucap jaerin lalu membuang nafas panjang, pandangannya ia alihkan pada sekitar restoran yang sangat ramai.
"Kau merindukan korea?" Tanya sehun, memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh jaerin.
"Tentu saja aku rindu, sudah hampir 6 tahun aku tak kembali ke korea. Lagi pula untuk apa aku kembali kesana, aku sudah tak punya siapa-siapa lagi." Sebuah senyum yang di paksakan terlihat dari bibir mungil jaerin.
Dia tahu, seharusnya tak membahas hal itu di kala mereka berdua tengah berusaha melupakan luka di masalalu. Hanya saja, semua itu terjadi secara tidak sengaja.
"Baiklah, nanti aku akan membawa mu ke korea. Kita pergi ke sungai han, bersama anak kita. Nanti." Jawab sehun, dengan wajah nakalnya.
Jaerin memutarkan bola matanya malas, sehun memang pandai menggoda. Walau sejujurnya sehun tengah mengalihkan apa yang jaerin pikirkan, sehun hanya tak ingin jaerin mengingat keluarganya lagi dan menghancurkan suasana makan malam ini.
Tak lama makanan yang di pesan oleh jaerin dan sehun tiba, jaerin langsung berteriak girang senang dengan apa yang baru saja ia lihat. Makanan khas korea yang sudah lama ia rindukan, makanan yang selalu ibu jaerin buatkan.
Beberapa Waiter's itu meletakan pesanan jaerin dan sehun di atas meja, setelah selesai menyusun makanan di atas meja mereka pergi bersama dengan jaerin yang sekarang tersenyum senang.
"Sepertinya nikmat."
"Ayo, makan." Perintah sehun, lelaki tampan itu mengambil sumpit yang mereka sediakan, lalu sehun memakan ramyeon yang ia pesan.
Pula dengan jaerin yang kini tengah menikmati kimbap dengan lahap, dia sempat terkejut karena rasa makanan ini tak pernah mengecewakan.
Mereka berdua makan dalam diam, saling menikmati rasa masakan yang sama-sama mereka rindukan.
Dorr
sehun melepaskan sumpit yang ia pegang, dengan cepat lelaki itu melebarkan padanganya keseluruh ruangan mencari asal suara itu, tanpa sadar sehun langsung menendang kaki meja yang kebetulan terbuat dari kayu hingga meja itu terjatuh.
__ADS_1
Sehun menarik tangan jaerin dengan kasar, membawa gadis itu untuk bersembunyi di balik meja yang sudah terjungkal itu. Jaerin ketakutan, suasana restoran semakin mencengkam tak kala beberapa pengunjung dan pelayan berlarian keluar dari restoran, ada beberapa teriakan histeris karena mayat yang jatuh terkena tembakan.
Dorr
Suara tembakan itu kembali terdengar membuat tubuh jaerin semakin ketakutan, dirinya menarik lengan baju sehun dengan sangat erat, tubuhnya bergetar merasa trauma dengan suara tembakan.
"Se—sehun."
"Jaerin tenang, ada aku, tenang." sehun menenangkan jaerin, berusaha melepaskan cengkraman tangan sehun dari lengannya, cengkraman jaerin menghalanginya untuk mengambil pistol yang berada didalam saku jasnya.
"Jaerin lepaskan, lepaskan terlebih dahulu, kau aman denganku." ucap segun lagi, kali ini dia menatap kedua mata jaerin yang berair wajahnya memucat karena rasa takut yang ia alami.
Jaerin dengan tangan bergetar melepaskan cengkramannya pada lengan sehun, dengan cepat sehun mengambil pistol yang selalu ia bawa kemana-mana.
Sehun mengintip dari balik meja kayu yang cukup besar ini, ia ingin melihat siapa yang tengah memberikan tembakan di tengah keramaian seperti ini.
Sehun melihat seorang lelaki dengan wajah di tutupi topeng, membawa sebuah pistol di tangannya, berdiri di depan pintu restoran tak jauh dari meja sehun, lelaki itu tengah mengarahkan tembakannya pada meja kayu yang di jadikan pelindung oleh sehun.
Dorr dorr
Tembakan kembali lelaki itu lepaskan pada arah sehun, karena sudah terlalu geram sehun dengan cepat menembak lelaki itu. Di arahkannya pistol miliknya pada kaki lelaki itu dan tepat sasaran lelaki itu terjatuh karena tembakan sehun pada kakinya.
Lelaki memakai topeng itu jatuh tersungkur, namun dengan sisa tenaganya dia menembakkan pistol pada arah sehun hingga mengenai bahu kiri sehun. Lelaki itu berlari dengan terpincang-pincang, meninggalkan restoran.
"Akhh." Sehun meringis tak kala merasakan sakit yang amat luar biasa di bagian bahunya, walau meleset peluru itu berhasil mengenai bahu sehun menyebabkan darah segar mengalir membasahi jas dan kaos v neck yang ia gunakan.
"sehun...." Jaerin mendekat pada sehun yang masih menahan bahunya dengan tangan kanannya, agar darah tidak mengalir.
Jaerin terisak, tak tahan melihat kondisi sehun yang sangat menakutkan. Dengan tubuh bergetar, air mata berlinang, jaerin merobek rok bagian bawahnya. Dengan cekatan jaerin membalut luka sehun agar darah tak terus mengalir.
"Jaerin, kau tak seharusnya melakukan itu." Ucap sehun, yang masih menahan rasa sakit pada bahunya dan membiarkan jaerin membalut lukanya dengan kain rok yang jaerin sobek.
"Diam! Kau pikir apa yang aku lakukan salah?" Tanya jaerin masih terisak, matanya tak fokus karena penuh dengan air mata.
Sehun malah terkekeh mendengar jawaban jaerin yang sangat menggemaskan, bagi sehun ini tidak apa-apa nya dia pernah berada di antara ambang hidup dan mati sebelumnya.
"Kau sempat tertawa disaat seperti ini." Marah jaerin lalu memukul bahu kiri sehun, membuat lelaki itu meringis kesakitan.
"Maa—af aku tidak sengaja." Jawab jaerin, setelah membalut luka tembak pada bahu kiri sehun, jaerin ikut terdiam dia masih syok dengan kejadian tak terduga seperti ini.
Semua orang di restoran sudah pergi entah kemana meninggalkan keadaan restoran yang berantakan bersama beberapa mayat yang tergeletak.
Jaerin kembali menangis, memori tentang mayat keluarganya yang tergeletak di lantai kembali membayangi jaerin. Hatinya hancur, tak sanggup menahan teriakan histeris yang sedari ingin ia keluarkan.
"Jaerin, ada aku, ada aku hey." Sehun menggoyangkan kedua bahu jaerin agar gadis itu berhenti berteriak.
Sehun langsung mendekap tubuh jaerin menenangkan jaerin agar berhenti menangis, sehun khawatir apalagi melihat jaerin ketakutan seperti orang gila.
"Eomma!! Appa!! Hwann!!" teriak jaerin dari dalam pelukan sehun, sehun hanya meringis tak tega melihat kondisi jaerin tak peduli dengan keadaannya sendiri.
Sehun tahu jaerin trauma, dia teringat akan malam dimana sehun membunuh ketiga keluarganya dengan sangat bejat, bahkan sempat merusak wajah kedua orang tuanya.
"Sehun, ayo segera keluar." Sehun melirik asal suara dan benar saja, dia adalah wonhoo yang sangat tampan dengan kemejanya.
"Biar aku yang membawa jaerin." Wonhoo menarik jaerin dari dalam pelukan sehun, membawa gadis yang masih terisak itu dengan cara menggendongnya dengan gaya bridal style.
Sementara sehun di bantu oleh anak buah yang di bawa oleh wonhoo, polisi juga sudah datang. Restoran itu sudah di beri garis polisi, sehun mengekori wonhoo yang membawa jaerin dari belakang.
Sehun merasakan sebuah perasaan yang sangat aneh dari dirinya, dia merasa terluka saat melihat jaerin menjerit histeris seperti tadi, ia merasa seperti pelaku utama kenapa jaerin bisa merasakan hal itu.
***
**Maaf telat update guys, nugas online ara numpuk banget jadi gak sempet buat buka noveltoon
Ini cerita pertama aku yang ada actionnya, maaf yah kalau gak berasa feel nya, ara juga masih belajar kok.
Jadi maklumi yahh
Happy reading guys**
__ADS_1