Mafia With Luv

Mafia With Luv
night killing


__ADS_3

Mengandung bahasa kasar dan psikopat juga ada beberapa kata 17+, mohon bagi yang masih di bawah umur untuk tidak membaca bagian 17+ atau jangan di tiru.


***


.


"Tolong jangan bunuh aku... " Seorang gadis menangis ketakutan saat melihat ayah ibu dan adiknya mati dengan cara yang mengenaskan, wajah seluruh keluarganya hancur, mereka semua di mutilasi dengan sadis oleh seorang berjubah hitam juga dengan wajah yang di baluti masker hitam menambah aura seram yang mengelilingi orang itu.


Jaerin menutup matanya saat melihat orang berjubah hitam itu mendekat kearahnya, suara derapan langkah kaki semakin terdengar, di tengah badai hujan yang berkecamuk ikut mengikuti alur kesedihan yang di rasakan Jaerin.


Jantung jaerin berdetak lebih kencang saat merasakan hawa berbeda berada di hadapannya, matanya tak berani melihat apa pun yang sekarang tengah berdiri menatapnya. Air matanya tak berhenti mengalir deras, ketakutan akan di bunuh sudah tersebar di seluruh pikirannya, pasrah menjadi salah satu cara mengikhlaskan hidupnya.


"Jaerin... "


Suara dingin tapi lembut itu membuat darah Jaerin mendesir, suara yang tak asing baginya itu langsung membuat jaerin menahan nafas sebentar.


Sebuah sentuhan halus menyapu wajah indah jaerin, tangisan jaerin berhenti saat merasakan sentuhan hangat itu, sentuhan yang tak asing bagi jaerin.


"Siapa dia?" Tanya jaerin di dalam hatinya.


Hati jaerin menlecos penasaran, jaerin membuka matanya secara perlahan, jaerin terkesiap kaget saat melihat gurat wajah indah seorang lelaki tengah menatapnya sendu tangisan jaerin semakin menjadi ketika orang yang di hadapan nya itu, merengkuh tubuh mungil nya yang sudah bergetar hebat.


Jaerin menggumam pelan menyebut nama orang yang dia rindukan, jaerin memukul mukul dada lelaki itu pelan.


Sejahat inikah waktu?


"Jaerin kau masih mengingat ku?" Tanya laki laki itu sambil menatap wajah jaerin yang kusut.


"Lepaskan! Lepaskan kau pembunuh!" Bentak jaerin sambil mentepis tangan laki laki itu dari tubuhnya.


"Kau pembunuh sehun! Pembunuh!"


Teriak histeris jaerin tepat di wajah laki laki yang di ketahui bernama sehun itu, sehun diam sambil menatap jaerin dingin, rahangnya mengeras saat mendengar penuturan jaerin yang menjelaskan bahwa dia adalah pembunuh.

__ADS_1


Sehun ingin menyangkal itu semua, namun perkataan itu benar adanya, bahwa dia adalah pembunuh, mulai dari sekarang?


"Aku bukan pembunuh jaerin!" sehun mencengkram kedua bahu jaerin dengan erat.


"Tapi kau baru saja membunuh keluarga ku...Sehun." Sehun kembali diam mencerna seluruh perkataan jaerin sehun ingin menjelaskan bahwa dia punya alasan atas pembunuhan ini.


"Aku tidak peduli kau ingin mengatakan apa yang jelas aku bukan pembunuh, aku punya sebuah alasan yang tak akan pernah kau mengerti!" Tukas sehun yang masih memandangi jaerin yang duduk di sudut ruangan sambil memeluk lututnya.


"Kalau aku tidak mengerti dan kau juga tidak mau menjelaskan, lebih baik sekarang kau pergi! Aku tidak mau melihat pembunuh sepertimu!"


Jaerin menunjuk wajah sehun yang sudah merah padam menahan kobaran kemarahan.


"Kau harus ikut denganku!" Sehun dengan kasar menarik tangan jaerin, jaerin memberontak dengan sisa tenaga yang dia miliki.


"Lepaskan aku sehun! Sakit..." Jaerin menarik tangannya dari cengkeraman sehun, namun apalah daya tenaga sehun lebih besar darinya. Jaerin pasrah ketika sehun mengubah posisi tubuhnya yaitu jaerin tengah di gendong oleh sehun dengan gaya bridal Style.


Jaerin terus berusaha melepaskan diri dari sehun namun itu tidak akan pernah terwujud, karena sehun sekarang sudah terbakar api kemarahan.


Jaerin menangis dia sungguh sangat sial, sudah keluarganya mati karena di bunuh dan sekarang? Dia di siksa oleh seseorang yang dia benci.


Sehun duduk di kursi pengemudi dan langsung melajukan mobil Roll's Royce ghost miliknya tanpa peduli hujan petir tengah bergemuruh juga tak memperdulikan jaerin yang sudah menangis tak berhenti.


Jaerin tak tahu apa yang harus dia lakukan, dia hanya seorang gadis berumur 19 tahun yang tak tahu menahu soal kehidupan kelam dunia luar, yang dia mengerti hanya betapa orangtuanya menjaga jaerin dari pergaulan bebas yang menyesatkan.


Tapi ini bukan berarti jaerin tak bisa melawan, dengan sisa keyakinan nya jaerin memantapkan hatinya untuk menantang sehun.


Dengan cepat dan tanpa perlu pikir panjang, jaerin langsung menarik tangan sehun dari kendali stir, sambil terus menghujaninya dengan umpatan umpatan kasar yang menyayati hati.


Tapi sehun tak gentar, dengan segala caranya sehun berhasil mendorong jaerin hingga terjatuh ke kursi, jatuh dengan posisi terlentang membuat sehun memikiran sesuatu hal yang kotor.


Cciittt


Suara decitan mobil yang di rem secara mendadak kembali membuat jaerin terjatuh, matanya sudah sembap di karena kan menangis tiada henti.

__ADS_1


Namun sehun takjub dengan usaha jaerin, karena dengan posisi yang seperti ini jaerin masih bisa menatapnya sinis, bukan hal itu yang sehun mau, bukan itu yang sehun inginkan, sehun ingin mendapatkan tatapan hangat yang membuat hatinya tenang dari jaerin, bukannya tatapan jijik sekaligus benci yang membuat kepala sehun terasa berat dan hampir saja pecah.


Sehun dengan masih berada dalam pikiran kotor nya, berpindah posisi mendekati jaerin yang sudah di kunci dengan tangan bagian kanannya yang dia cengkram sekuat tenaga.


Jaerin kembali mengelak, berteriak, mengumpat, menendang, memukul bahkan terus menghina sehun itulah sedari tadi hal yang jaerin lakukan untuk menolak keberadaan sehun di dekatnya.


"Pergi kau pembunuh!" Jaerin dengan sekuat tenaga melepaskan cengkraman tangan sehun darinya.


"Kau pembunuh! Brengsek! Tak tahu malu! " Jaerin menendang bagian perut sehun dengan kakinya, sedangkan sehun masih tetap dalam posisi yaitu berada di atas tubuh jaerin.


Sehun hanya menunjuk an smirk nya, membuat jaerin berdecih jijik.


"Pembun-mphhhh" ucapan jaerin terpotong ketika sehun sudah membungkam mulutnya dan benda kenyal yang membuat mata jaerin membulat sempurna, pasalnya sehun tanpa permisi mencium bibir jaerin dengan kasar sekaligus memaksa.


Tak ada kata pelan atau halus yang bisa menghentikan ciuman sehun, bahkan ciuman itu sangat menuntut dan meminta balasan, seolah tak puas dengan pelayanan yang di berikan jaerin padanya sehun dengan keras mengigit bibir bagian bawah jaerin membuatnya melenguh kesakitan.


Tak melewatkan kesempatan itu, sehun langsung mengabsen apapun yang berada di dalam mulut jaerin, tanpa sadar jaerin yang terus memberontak meneteskan air mata.


Bukan karena ciuman sehun, ini bukan pertama kalinya sehun mencium jaerin hanya saja jaerin merasakan perbedaan yang sangat jauh dengan ciuman sehun yang dulu, dimana lebih halus dan lebih pelan, tapi sekarang sehun tengah menciumnya dengan penuh gairah kemarahan yang menakutkan, membuat sebuah rasa bersalah merelung di hati jaerin yang terdalam.


Jaerin kehabisan nafas, dengan sisa kesadaran nya jaerin memukul wajah sehun pelan sebelum pada akhirnya jaerin menutup matanya karena ciuman sehun yang bergairah menguras habis segala tenaganya.


"Aku tak tahu bahwa pada akhirnya aku dan kau harus bersama dalam rasa kebencian yang melanda."


Sehun merangkul tubuh jaerin, sambil mencium keningnya pelan membawanya dalam sebuah rengkuhan hangat yang menenangkan.


***


**Maaf kurang bisa membuat scen berciuman, karena author sendiri belum pernah merasakan☺.


Boleh kalian cerita apa yang membuat kalian suka atau benci sama novel ku ini, aku akan selalu menerima kritik, tapi kritik yang membangun yah, bukan menjatuhkan ❤


Vomment😙**

__ADS_1


__ADS_2