Mafia With Luv

Mafia With Luv
threat


__ADS_3

    "Dia bakal baik-baik saja kan?" Tanya jaerin dengan wajah yang sangat khawatir, sesekali Jaerin mengigit bibir bawahnya, menahan rasa gelisah yang berlebihan.


   "Dia pasti baik-baik saja, hal seperti itu sudah biasa dialami sehun." Jawab woonhoo yang ikut duduk disamping jaerin.


  


   "Yang seharusnya di khawatirkan adalah kondisi mu, sekarang kita pergi menemui dokter." Ucap woonhoo yang sudah bersiap pergi menemui dokter, seperti apa yang ia katakan.


   "Aku tidak mau, aku ingin melihat keadaan sehun." Final jaerin dengan wajah seriusnya.


  Woonhoo hanya menghela nafas pasrah dengan keputusan jaerin, harusnya dia membuat ancaman lain agar jaerin mau mengikuti perintahnya.


  "Terserahlah aku tidak akan memaksa." Woonhoo juga memilih tidak melanjutkan perdebatan dengan jaerin, menurutnya juga tidak ada gunanya.


  Tak lama, pintu ruangan sehun di rawat terbuka, menampilkan seorang dokter lelaki yang masih muda, keluar dari ruangan itu.


   "Bagaimana keadaan sehun dok?" Tanya jaerin yang langsung berdiri di hadapan sang dokter dengan wajah paniknya.


  Dokter itu terkekeh sambil memasukan sneli kedalam jas kerjanya. "Dia baik-baik saja, dia lelaki yang kuat, bahkan saat saya sedang menjahit bahunya dia meminta untuk tidak di bius. Kekasihmu luar biasa." Jelas dokter itu.


  Sebuah hembusan nafas Jaerin lakukan, setidaknya rasa khawatirnya tak sebesar tadi. "Syukurlah, lalu apa dia bisa di kunjungi?" Tanyanya.


  "Tentu saja bisa, silahkan. Kalau begitu saya pergi dulu." Jawab sang dokter, jaerin megangguk paham lalu memasuki ruangan rawat sehun.


   Jaerin mendekat pada bangkar sehun, ikut duduk pada kursi yang di sediakan disampingnya. Dengan tatapan lembut, jaerin menggapai tangan sehun, mengusapnya pelan.


  "Aku sangat khawatir." Ucapnya dengan nada parau.


  Sehun yang melihat itu hanya bisa tersenyum tipis, lalu mengusap lembut pucuk rambut jaerin.


  "Aku baik-baik saja, jangan khawatir." Jawbanya tak kalah lembut dengan suara jaerin.


  "Tapi—tapi, gara-gara aku—kau—"


  "Sssttt, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini semua sudah takdir." Sehun menutup mulut jaerin dengan telunjuknya.


  "Tapi—"


  "Yang terpenting sekarang aku baik-baik saja. Lihat keadaan dirimu, sebaiknya kau pergi ke dokter." Titah sehun, jaerin langsung menggeleng, dia tidak ingin pergi ke dokter, lagi pula dirinya tidak terluka untuk apa pergi ke dokter.


   "Kau harus pergi ke dokter, dengarkan aku." Sehun menangkup kedua pipi jaerin yang sedikit chabi dengan kedua tangannya.


   "Dirimu tidak baik-baik saja jaerin, kau harus sehat agar aku tidak khawatir lagi." Tambah sehun, menatap jaerin dengan tatapan hangat.


  "Baiklah."


  Pasrah, jaerin akhirnya mengalah untuk sehun. Apa yang dikatakan sehun tidak ada salahnya juga, dia harus mendapatkan pemeriksaan dari dokter.


  "Kau akan di antar oleh, cloe. Dia adalah salah satu asisten kepercayaan ku, temui dia di luar, dia sudah menunggu mu." Ucap sehun.


  Jaerin mengangguk paham, lalu berjalan pelan untuk menemui orang yang di maksud oleh sehun. Saat membuka pintu ruang rawat sehun, pandangan jaerin menemukan woonhoo dengan seroang wanita yang berdandan sangat modis membelakangi jaerin.


   "Woonhoo-sshi."


  "Oh jaerin, kau di suruh oleh sehun menemui dokter bukan?" Tanya woonhoo yang kini menatap jaerin.


  "Ya."


  "Baiklah, perkenalkan ini adalah cloe orang yang akan membawa mu menemui dokter." Woonhoo memperkenalkan wanita itu pada jaerin.


  Jaerin menatap wanita yang di maksud dengan cloe itu, sedikit tercengang karena wanita yang ada di hadapannya ini adalah sahabatnya sewaktu kuliah josline.


   "Josline?" Tanya jaerin.


  Wanita yang disebutkan namanya sebagai cloe itu tersenyum tipis, lalu menggelengkan kepalanya pelan.


  "Kau mengenali josline jaerin?" Tanya woonhoo pada jaerin.


  Jaerin hanya mengangguk masih tak mengalihkan pandangannya pada josline, sahabat baiknya itu. Sementara josline tak menunjukan raut keterkejutan, dia hanya menatap santai pada jaerin.


  "Tapi sekarang dia bukan josline, namanya ada cloe." Ucap woonhoo membuat jaerin kebingungan.


  "Tidak usah di perjelas, biar aku sendiri yang akan menceritakannya." Ucap josline.


  "Mari ikuti saya." Titah josline.


  Jaerin yang masih kebingungan hanya mengikuti langkah josline dalam diam, tidak menyangka. Itu lah sepenggal kata yang dapat mendeskripsikan jaerin saat ini, melihat josline yang sekarang, seperti melihat orang lain.


  "Josline apa yang terjadi?" Tanya jaerin pada akhirnya, dia terlalu penasaran dengan semua ini.

__ADS_1


   Josline yang sebelumnya berjalan mendahului jaerin menghentikan langkahnya, berbalik menatap jaerin yang lebih pendek darinya. "Jaerin, maaf."


  Dua kata yang terucap dari mulut josline membuat jaerin semakin kebingungan, permintaan maaf ini didasarkan atas apa, sedangkan josline tak memiliki salah apapun pada jaerin.


  "Katakan apa yang terjadi?!" Geram, jaerin mendekat pada josline, menatapnya dengan sangat tajam.


  "Aku—bekerja untuk sehun, bekerja untuk menjadi asistennya dalam menghadapi dunia bawah yang gelap." Jawab josline dengan wajah sendu, tatapan matanya mengisyaratkan kesedihan yang amat dalam.


   "Ba—bagaimana bisa? Kau adalah seorang dokter? Kau bisa bekerja sebagai dokter josline." Ucap jaerin dengan tatapan sedih, apalagi yang tuhan rencanakan.


  "Aku tidak bisa menjelaskannya disini, sekarang yang terpenting kau percaya padaku." Jawab josline, sambil memandang sekililing dimana ada beberapa orang yang tengah berlalu lalang, termasuk suster dan dokter.


  "Kau seharusnya pergi dari sehun jaerin." ucap josline lalu memeluk jaerin dengan sangat erat, entah pelukan rindu atau pelukan rasa sayang. Yang jelas ada rasa takut pada diri josline, mengetahui jaerin ikut masuk kedalam kehidupan sehun.


  Tak ada perumpamaan yang dapat menjelaskan perasaan josline saat ini, dia takut, khawatir, sedih sekaligus bahagia. Tapi satu hal lagi yang josline ketahui, sebuah bencana besar akan segera tiba.


    ***


    "Bagaimana keadaan mu?" Tanya woonhoo yang baru saja memasuki ruangan rawat.


  "Ini tak lebih buruk, ketibang saat aku di tusuk oleh anggota Yakuza." Jawab sehun dengan santainya, lekaki dengan tubuh kekar itu bahkan sedang mengupas buah apel dengan tangannya.


  "Bagaimana dengan Jaerin? Dia sudah menemui dokter?" Tanya sehun, dengan tangannya yang terus mengupas kulit buah apel berwarna hijau.


  "Ya, dia sedang bersama dengan cloe. Tapi, yang mengejutkan, ternyata jaerin mengenali cloe sebagai josline." Jelas woonhoo.


  "Mungkin mereka berteman, itu bagus setidaknya cloe bisa menemani jaerin agar dia tidak kesepian." Ucap sehun.


  "Oh ya, peluru ini, kau bisa melacaknya untuk melihat siapa yang menggunakannya." Sehun mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.


  Sebuah peluru, sepertinya merupakan peluru yang di gunakan oleh orang yang menembaki sehun dan jaerin saat di restoran.


  "Menurutmu, apakah ini sudah di rencanakan?" Tanya woonhoo menerima peluru yang diberikan oleh sehun.


  "Sepertinya, iya. Yang jelas aku ingin mengetahui dalang dari semua ini." Ucap sehun santai sambil menyuapkan potongan buah pada mulutnya.


 


   ***


    "Bagaimana kabar wonwoo? Aku sudah lama tidak berkomunikasi dengannya." Tanya josline.


  Jaerin dan josline tengah berjalan menuju ruang rawat sehun, setelah jaerin melakukan pemeriksaan bersama dengan psikiater. Sehun menyuruhnya melakukan hal itu, sehun yakin jaerin mengalami trauma atas kejadian pembunuhan orang tuanya.


   "Terakhir kali aku bertemu dengannya, dia baik-baik saja." Jawab jaerin dengan nada pelan.


  Josline menghela nafas panjang, dia sejujurnya tak ingin membahas hal ini. Apalagi dirinya yang sedari sudah mengetahui rencana pembunuhan keluarga jaerin. Dia tak punya pilihan, selain menurut dengan apa yang dikatakan oleh sehun, dirinya juga butuh perlindungan yang ditawarkan oleh sehun. Hubungan antara sehun dan josline adalah simbiosis Mutualisme, baik sehun maupun josline akan saling menguntungkan. Walau josline tahu, kehidupan dunia bawah tidak seindah yang dia bayangkan, hidupnya hanya penuh oleh bayang-bayang kematian, dan kewaspadaan, setiap saat, dimanapun.


   "Aku merindukan masa-masa saat kita bersama, menyenangkan sekali."


   "Ah, kita sudah sampai. Pak sehun pasti menunggu mu." Josline mengalihkan pembicaraan ketika menyadari mereka sudah sampai didepan ruang rawat sehun.


   "Kau tidak ikut masuk?" Tanya jaerin, yang melihat josline hanya berdiri di ambang pintu.


   "Aku tidak memiliki hak untuk masuk kedalam, apalagi tanpa izin." Jawab josline.


  Jaerin mendecih tak suka, apa yang di katakan oleh josline membuat ada sedikit amarah dalam hatinya. Lagipula untuk apa josline bekerja untuk sehun? Menurut jaerin tidak ada gunanya.


   "Kalau begitu aku masuk, kau tunggu disana, jangan pergi." Ucap jaerin lalu mendorong pintu ruang rawat sehun.


  Disana yang jaerin adalah sehun yang tengah berbaring, dengan woonhoo yang menelfon seseorang dengan posisi menghadap jendela kamar yang sangat besar. Ruang rawat inap ini memang VVIP ruangan besar yang terlihat mirip seperti kamar jaerin dimansion sehun.


    Jaerin mendekat pada sehun, lalu ikut duduk di samping sehun. "Bagaimana keadaan mu?" Tanya jaerin.


  "Aku baik, apa yang dokter katakan? Kau tidak terluka bukan?" Tanya sehun balik, jaerin menggeleng pelan.


 


   "Hanya josline yang tahu jawabannya, tapi dia bilang tidak bisa masuk kedalam kamar ini tanpa izin darimu." Jawab jaerin.


  Sehun mengangguk paham, lalu menatap woonhoo yang baru selesai menelfon utnuk mengajak josline masuk kedalam. Memang sehun yang membuat peraturan itu, dia hanya tidak ingin privasinya terganggu jika ada sembarang orang yang memasuki ruangannya secara tiba-tiba.


    Tak lama, josline masuk bersama dengan woonhoo kedalam kamar sehun, josline membungkung hormat pada sehun, karena sehun memang atasannya.


  "Bagiamana keadaan jaerin?" Tanya sehun.


  "Keadaan jae—"


  "Panggil dia nona." Potong sehun dengan cepat.

__ADS_1


  Jaerin melotot bagaimana mungkin dirinya bisa di panggil nona oleh sahabatnya sendiri. "Sehun, aku tidak ingin di panggil nona apalagi oleh josline." Protes jaerin dengan wajah garangnya pada sehun.


  "Sudah ku katakan ini se—"


  "Aku tidak mau, ya tidak mau, mengertikan?" potong jaerin dengan nada ketusnya.


  Sehun menghela nafas pasrah, dia akan selalu kalah di berhubungan dengan jaerin. Dia tidak bisa menolak permintaan gadis itu.


   "Baiklah." jawab sehun pasrah pada akhirnya.


   "Kata dokter jaerin, hanya mengalami trauma ringan, dan akan sembuh bila rajin di terapi. Penjelasan lebih jelasnya, dokter bilang anda harus bertemu dengannya." Jelas josline dengan tatapan wajah datar.


  Dia terbiasa menjadi orang lain ketika bekerja, tak ada seyuman hangat yang biasa ia tunjukan pada semua orang. Hanya sebuh seringaian dan juga ke angkuhan yang sering josline tampilkan dari wajah cantiknya. Merayu, menggoda dan bahkan memanfaatkan adalah beberapa opsi yang sering di lakukan oleh josline ketika bekerja bersama dengan sehun.


  Semua itu dia lakukan semata-mata hanya untuk membuat sehun percaya dengan cara kerjanya, dan agar sehun tahu josline tak main-main dengan apa yang di katakan.


  "Baiklah, nanti aku akan menemui dokter." ucap sehun santai.


  "Cloe, ikut saya. Kita masih perlu melakukan sesuatu." Perintah woonhoo pada josline, diikuti dengan langkahnya keluar dari ruang rawat sehun.


  "Baik pak." Josline membungkuk hormat, lalu meninggalkan sehun dan jaerin tanpa memberikan sebuah senyuman.


  Wajahnya ia palingkan, seakan tak ingin bertatapan dengan jaerin maupun sehun. Dia mengerti, ini bukan tentang persahabatannya tetapi semua ini tentang kehidupannya, dia harus mengesampingkan rasa iba pada jaerin, karena sesungguhnya posisi dirinya dan jaerin tidaklah jauh berbeda.


   Jaerin tersenyum masam, menatap kepergian josline dengan perasaan sesak didadanya. Dia tahu apa yang di lakukan oleh josline semata-mata ingin membuat semuanya terlihat baik-baik saja. Tapi hatinya tak bisa memungkiri bahwa dirinya terluka melihat perubahan josline, dia merasa gagal sebagai sahabat, karena tak bisa selalu ada bersama gadis itu dikala terpuruk.


  "Kau mengenal cloe?" Tanya sehun membuyarkan seluruh pemikiran Jaerin tentang josline.


   "Ya, dia sahabat ku saat kuliah." Jawab jaerin singkat, tak berminat menjelaskan lebih dari itu.


   "Kau harus istirahat sehun." Jaerin berusaha mengalihkan pertanyaan sehun selanjutnya, mungkin saja lelaki itu akan bertanya tentang hubungannya dengan josline, dia sedang tak ingin membahasnya.


  "Kemari, kau harus tidur disampingku." Titah sehun sambil menepuk sisi kosong pada ranjang yang sedang ia tempati.


  Malas berdebat, jaerin mengkuti permintaan sehun dengan menaiki ranjang berukuran king size itu. Bukan ranjang kecil atau bangkar untuk perorangan seperti biasanya, ranjang ini cukup besar karena memang sengaja di siapkan untuk Orang-orang khusus, sama seperti sehun, tak heran ranjang ini bisa muat hingga 2 orang.


  Jaerin membaringkan tubuhnya disamping sehun, dia tak ingin banyak bicara, hari ini sudah cukup melelahkan untuk jaerin, dia butuh istirahat.


    Sehun, lelaki itu langsung mengulurkan tangannya di pinggang Jaerin, menarik tubuh kecil sang gadis agar bisa mendekat pada dirinya, memberikan kehangatan satu sama lain, sehun tak bosan untuk menciumi rambut jaerin yang wangi bunga, gadis dengan rambut hitam itu akan selalu menjadi candu bagi sehun, kapanpun dan dimanapun.


  Jaerin tak menolak pelukan sehun pada tubuhnya, dia hanya mencoba bersikap biasa saja. Tak ingin membuat sehun khawatir, mungkin malam ini jaerin tidak akan nyenyak tidur, walau dirinya berada dalam pelukan sehun.


  


   ***


  Jaerin menggosok-gosok kan tangannya pada telapak tangan yang lainnya, meminta kehangatan agar bisa menepis hawa dingin kota new york dipagi hari. Mengeratkan jas yang dia pakai, jaerin menempelkan kedua telapak tangannya pada kedua pipinya, agar rasa hangat bisa ia rasakan.


  Jaerin dengan cepat mengambil beberapa bungkus plastik yang sebelumnya ia letakan diatas sebuah bangku halte bus, kembali berjalan, mencoba melawan rasa dingin pada tubuhnya.


  Pagi ini, jaerin bangun sangat awal, dari semalam dia memang tak bisa tertidur dengan nyenyak, hingga akhirnya jaerin memutuskan untuk membeli sarapan untuk sehun. Setidaknya saat sehun bangun, lelaki itu bisa langsung makan.


  Setelah membeli beberapa makanan disalah satu restoran terdekat dari rumah sakit, jaerin dengan segera kembali, dia yakin sehun akan mencarinya, karena memang jaerin tidak memberi tahu sehun atau siapapun jika dia pergi.


  Jaerin mempercepat langkahnya, saat menyadari dirinya lupa membawa ponsel miliknya, merasa ini tidak akan bagus, karena sehun bisa sangat marah padanya. Jaerin sedikit berlari di trotoar, saking paniknya, jaerin bahkan tak melihat ada seseorang yang tengah berjalan berlawanan arah dengannya, hingga tanpa jaerin sadari, tubuhnya menabrak pejalan kaki lain, hingga membuat tubuhnya jatuh dengan beberapa plastik dalam genggamannya ikut terjatuh.


   "Aww" Jaerin meringis kesakitan, dia melihat kedua telapak tangannya yang menapak pada jalan trotoar dan melihat ada beberapa guratan lecet pada telapak tangannya.


  Jaerin bangkit, untuk melihat siapa pejalan kaki yang ia tabrak. Namun saat ia menoleh, pejalan kaki itu terus berjalan santai, seakan tak terjadi apapun. Jaerin sedikit terkejut, berpikir apakah pejalan kaki tadi tidak melihat jika dirinya terjatuh? Atau memang sengaja pura-pura tidak melihat.


  Mencoba tak peduli, jaerin memungut plastik-plastik miliknya, berharap semoga saja makanan yang ada didalam tidak rusak maupun tumpah. Setelah membersikan dirinya dari debu-debu jalan, walau tangannya terluka. Jaerin kembali menatap pada arah sang pejalan kaki pergi, arah mata jaerin menemukan sebuah amplop yang tergeletak, dengan cepat jaerin mengambil amplop itu, amplop itu mungkin saja milik pejalan kaki tadi dan dirasa oleh jaerin bahwa amplop ini sangat penting.


   Jaerin penasaran dengan isi amplop itu dia juga berharap bahwa didalamnya terdapat data diri atau alamat seseorang, agar ia bisa mengetahui siapa pemilik amplop ini.


Membuka segel amplop itu dengan sangat pelan, lalu mengintip dengan mata bulatnya apa yang terdapat didalam amplop tersebut.


  Jaerin menatap bingung, ketika ia melihat sebuah kertas didalam amplop itu. Dengan cepat jaerin membukanya, namun setelah melihat isi kertas tersebut, Jaerin reflek membulatkan mata, lalu membuang kertas itu ke sembarang arah. Dengan degup jantung yang tak lagi normal, jaerin mengambil seluruh barang-barangnya, termasuk kertas yang dia buang tadi, berlari dengan kekuatan penuh, berharap tak ada lagi bahaya yang ia dapatkan, atas sepucuk surat itu.


   [Jaerin, permainan baru saja dimulai, siapkan dirimu. Akan ada darah yang jatuh atas permainan ini, dan aku menyukainya]


  ***


Gimana? Kira-kira siapa yang ngirim surat itu? Udah nebak gimana alur ceritanya?


Sekian, jangan lupa vote and comment.


Kalau penasaran stay aja disini, oke.


See you next chapter guys!

__ADS_1


 


 


__ADS_2