
"Jaerin, what happened?"
Itu adalah mark lee, lelaki tampan yang masih menggunakan apron itu kebingungan begitu melihat tingkah jaerin. Wajahnya tampak pucat pasi, bibir bagian bawahnya bergetar, seperti menahan ketakutan. Mata tajam mark menatap selembar foto yang terhempas diatas lantai, membuat mark mengerti kenapa Jaerin menjadi seperti ini.
Mark dengan segera mendekati jaerin, berusaha membuat gadis itu tenang. Tentu saja hal yang baru saja jaerin lihat merupakan sebuah keterkejutan sendiri untuk jaerin. "Tenang yah, jangan terlalu di pikiran." Jelas mark, mengusap bahu jaerin pelan.
"Ta—pi mark. Itu—ba--bagaimana bisa?" Tanya jaerin tergagap, dirinya tidak menangis, hanya terkejut saja.
"Astaga apa yang terjadi disini?" Pekik kyle yang datang dari arah gudang sambil membawa sebuah kardus.
"Jaerin menemukan foto mom dulu, bersama dengan dad juga kedua orang tua jaerin." Jelas mark, sedangkan tangannya yang satu lagi masih sibuk mengusap-usap bahu jaerin.
Helaan nafas panjang yang hanya bisa kyle lakukan, dia merasa bodoh, lupa jika tumpukan buku itu berisi album kenangannya bersama dengan kedua orang tua jaerin dulu dan lebih parahnya ada banyak rahasia yang kyle sembunyikan didalam album itu.
"Mark, bisa bangun? Mom harus menjelaskan ini pada jaerin." Ucap kyle meminta.
Mark mengangguk paham, berdiri agar kyle bisa berbicara dan menjelaskan semua ini pada jaerin. Mark juga tidak ingin ada kesalahpahaman disini, jangan adalagi hal yang disembunyikan.
Kyle mengambil tempat kosong yang sebelumnya mark isi, mendudukan tubuhnya disana, tepat disamping jaerin yang masih gelisah ketakutan. "Jaerin." Kyle menepuk bahu jaerin pelan.
Jaerin menoleh, menatap sang bibi dengan mata berkaca-kaca, jaerin takut, begitu lemah dengan keadaan. Kyle mengambil selembar foto yang tergeletak diatas lantai, menatapnya dengan penuh kesedihan.
"Ini adalah foto yang diambil ketika aku, jiwoo, jihyeok dan seoyoung akan melaksanakan tugas yang cukup berat. Kami semua sudah terbiasa, berdampingan dengan kematian, hanya saja tidak ada jaminan untuk selamat disana, jadilah kami memutuskan untuk mengambil gambar sebelum pergi, setidaknya ada kenangan yang kami tinggalkan." Jelas kyle menggengam erat foto hitam putih itu.
Tak lama, jihyeok yang sudah menyelesaikan hukumannya yaitu memasak ikut bergabung, duduk di sofa panjang yang berhadapan langsung dengan jaerin. Menyimak dan memperhatikan, jelas jihyeok tahu, rahasia ini lama kelamaan akan terbongkar, tapi ia harap ini bisa selesai.
"Kedua orang tua mu, dan kami berdua sama jaerin. Kami bersatu karena keadaan, saling membutuhkan, memiliki banyak kesulitan dan kebencian. Kami adalah anggota pembunuh bayaran black rose."
Setelah ucapan itu, bahu jaerin seketika terasa merosot, sebuah kejutan lain yang membuat hatinya teriris. Selain kedua orang tuanya yang merupakan seorang assasin, ternyata bibi dan pamannya pun sama. Mereka terjebak dan jatuh bersama-sama, baik jiwoo, seoyoung, kyle dan jihyeok.
"Kami berpisah ketika tahu, pemimpin kami terbunuh. Dan kami memilih membubarkan diri, aku dan kyle memilih pergi ke canada, sedangkan jiwoo dan seoyoung memilih tinggal di new york dan memiliki kehidupan baru. Kami semua menghilang, layaknya tidak pernah mengenal organisasi black rose, berbaur, selayaknya masyarakat pada umumnya. Semua rahasia dan data black dipegang oleh jiwoo, selaku wakil dan orang kepercayaan bos." Jelas kyle lagi, berusaha ia buat sederhana agar jaerin bisa mengerti.
"Data itu jiwoo simpan baik-baik. Tapi aku tidak menyangka, para mafia mengetahui bahwa data itu berada ditangan jiwoo. Flashdisk itu berisi data-data pemesan jasa black rose, serta keuangan, dan berbagai data penting lainnya. Dan mereka semua ingin memanfaatkan data itu untuk kepentingan pribadi mereka. Karena jujur data itu memang menguntungkan."
Kini yang menjelaskan adalah jihyeok, menatap sendu pada jaerin yang sedari tadi menyimak. Terkadang menghela nafas, begitu sulit rasanya bagi jaerin menerima ini semua.
"Dan ternyata, aku dan kyle tidak tahu bahwa sehun sudah mengetahui bahwa ayah dan ibumu adalah pembunuh kedua orang tuanya. Dan menargetkan seoyoung dan jiwoo untuk sehun bunuh. Maaf jaerin, seandainya aku tidak meminta pada mereka untuk memutuskan hubungan persahabatan kami agar semuanya berjalan dengan aman. Pasti aku dapat melindungi ayah, ibu dan adikmu jaerin." Jelas jihyeok tampak begitu menyesal.
Sejujurnya sudah sangat lama jaerin dan keluarga lee tidak berkomunikasi, jiwoo dan seoyoung tidak pernah lagi mengajak jaerin maupun hwan untuk bertemu dengan kyle dan jihyeok. Mereka seakan hilang begitu saja, setelah terakhir bertemu ketika jaerin berumur 10 tahu.
Mark yang lebih tahu soal cerita ini memilih menenangkan sang ayah, yang memang tertekan dan merasa semua ini adalah salahnya. Sebab tidak datang dan memutuskan pergi begitu saja, tapi semuanya sudah terlanjur terjadi. Ketiga keluarga jaerin sudah pergi, tidak dapat lagi kembali.
Sedangkan jaerin, hanya bisa diam, sesekali mengusap air matanya yang menetes, tidak bersuara sama sekali. "Setelah aku tahu tentang kematian keluarga mu, dan dirimu yang menghilang. Aku dan kyle memutuskan untuk mencari keberadaan mu, dan menemukan kau bersama dengan sehun. Menjadi tahanannya. Jadi aku mengutus mark untuk diam-diam menjagamu, memperhatikan dirimu dari kejauhan karena aku tidak cukup kuat untuk melawan sehun." Jelas jihyeok lagi.
Jaerin paham, beberapa kali sehun mengatakan bahwa dirinya dalam bahaya, tentang bagaimana dirinya hampir terbunuh, namun di selamatkan oleh mark, juga mobil yang waktu itu pernah mendatangi mansion sehun, itu adalah perintah dari jihyeok untuk melindungi jaerin. Ketika sehun tidak ada disisinya.
"Tapi rencana itu tidak berjalan dengan lancar, begitu suho, ingin mendapatkan data yang sama sekaligus membalas dendam pada sehun. Semuanya terjadi begitu cepat, aku dan mark berusaha mengerahkan apa yang kami bisa, agar bisa melindungimu dan mendapatkan data itu. Namun semuanya diluar kendali, aku tidak menyangka suho akan senekat itu hingga mengorbankan nyawanya sendiri untuk membalas dendam."
"Kenapa suho ingin membalas dendam pada sehun? Padahal sehun adalah anak buahnya." Tanya jaerin yang sedari tadi terdiam, mendongakan kepala memberikan pertanyaan pada ketiga orang yang tersisa disana.
"Karena pimpinan kami, pendiri black rose adalah kakek sehun. Oh younghan, dan dia memiliki anak lain dari hasil hubungan gelapnya, yaitu ibu suho, dan yang menyuruh kedua orang tua mu untuk membunuh keluarga sehun adalah ayah suho."
Lagi, kenyataan lain jaerin dapatkan. Acara balas dendam ini memang berkepanjangan. Jaerin memijat pelipisnya sendiri, merasa sangat bingung dengan semua ini. Kenapa harus dirinya yang terlibat dalam hal ini. Seburuk itukah hal yang pernah jaerin lakukan dimasalalu? Hingga dirinya yang sekarang berakhir buruk seperti ini.
"Untungnya data itu sekarang berada ditanganku."
***
"Sehun... Jangan pergi, jangan... Hiks..."
"Jangan tinggalkan aku."
Kyle dan jihyeok hanya bisa terdiam diambang pintu, begitu suara lirih penuh kesedihan terdengar. Mereka berdua tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali meratapi kebodohan mereka masing-masing yang tidak dapat melindungi harta terakhir yang dimiliki oleh seoyoung dan jiwoo.
Kyle menyembunyikan kepalanya pada dada bidang jihyeok, menahan rasa sakit yang teramat, dia sendiri bingung harus melakukan apa agar jaerin bisa melupakan sehun, lelaki itu tampaknya selalu melekat di hati jaerin.
Malam ini, jaerin kembali merancau dalam tidurnya, menangisi kepergian sehun dari dunia, walau tidak rela, Jaerin tidak dapat memutar waktu, seseorang yang paling ia cinta telah tiada, bersama dua orang pahlawan lain yang telah menyelamatkan hidupnya.
Yang jaerin yakini, dia tidak akan bisa hidup tenang, dengan segala penyesalan serta perbuatan yang telah ia lakukan dimasa lampau.
***
2 years later
Gadis berambut hitam sepinggang itu, membuka kacamata hitam yang menutupi kedua mata indahnya, dengan obsidian hitam legam. Berjalan dengan pelan mengikuti arahan pengawal yang menyambut kedatangannya.
Kini kakinya berpijak disebuah rumah besar, dengan nuansa eropa klasik yang mendominasi. Sudah lama ia melarikan diri dari sini, dan saatnya kini ia kembali, mencoba melupakan memang sulit. Ah ralat, gadis ini tidak pernah lupa akan apa yang terjadi dimasa mudanya, semuanya masih terekam dengan jelas, tergampar bagai musik yang selalu diringi melodi. Dirinya juga tidak akan bisa hidup tanpa memori itu.
Begitu pintu besar dibuka, pemandangan pertama yang ia lihat adalah seorang lelaki paruh baya, dengan kacamata bacanya memberikan sebuah senyuman hangat pada gadis itu. Berjalan mendekat untuk memberikan pelukan sapaan, dan ucapan selamat datang.
__ADS_1
"Selamat datang jaerin." Sapa lelaki itu, memeluk tubuh gadis yang lebih tinggi ketibang dirinya.
Gadis yang disebut sebagai jaerin itu membalas pelukan hangat lelaki yang sudah ia anggap sebagai paman. "Terimakasih paman." Jawab jaerin, melepaskan pelukan.
"Semua yang kau butuhkan telah disiapkan. Untuk perusahaan, ayahmu sudah lama mengalihkannya atas namamu." Jelas lelaki bernama lengkap han hyo bin yang merupakan orang kepercayaan jiwoo ketika sedang mengurusi pekerjaan.
"Terimakasih paman, ayo kita duduk dulu." Ujar jaerin berbasa-basi karena tidak enak juga membicarakan hal seperti itu sembari berdiri.
"Tidak usah, paman sedang terburu-buru. Paman harus pergi ke paris untuk melihat wisuda anak paman." Jelas hyobin.
"Benarkah? Wah, selamat paman. Sampaikan salamku pada kak yorin paman." Ucap jaerin dengan senyuman ramah khas dirinya.
Hyobin mengangguk, kemudian berpamitan, berlalu pergi meninggalkan kediaman keluarga jung yang masih terawat hingga sekarang. Hyobin benar-benar mengurus rumah besar ini dengan baik. Jaerin meletakan asal tas jinjing yang ia bawa, kembali bernostalgia dengan rumah besar ini.
Penuh akan cerita dan luka, benci dan cinta serta bahagia dan duka.
Setelah hampir 2 tahun bersembunyi, berusaha menghilangkan ketakutannya karena terbayang sosok sehun, juga menguatkan dirinya agar berani untuk melihat dunia luar. Dan disinilah kini jaerin berada, kembali setelah perjuangannya yang tidak sia-sia.
"Hai? Tidak beristirahat?"
Jaerin menoleh, menatap seseorang yang baru saja datang sambil membawa plastik belanjaan yang ia yakini berisi bahan makanan. "Ya, sebentar aku sedang merindu." Jawab jaerin dengan kekehan kecil.
Lelaki itu mengangguk paham, tidak berniat menganggu kegiatan jaerin dan lebih memilih untuk menyimpan seluruh barang bawaan yang ia beli diatas meja ruang tamu.
"Mark, terimakasih yah."
***
Bosan, lagi dan lagi jaerin tidak dapat menahan rasa suntuknya, benar-benar tidak bisa diam. Rumah megah itu terasa begitu sepi, karena temannya, mark lee harus mengurus beberapa hal, tentang kepindahan jaerin ke new york lagi, semuanya belum terselesaikan.
Berdecak kesal, sambil melempar remot tv asal. Jaerin memilih bangkit, mengambil coat miliknya yang sengaja digantung disamping pintu utama. Baru saja ditambahkan, karena mark bilang lebih mudah, jika menaruh coat didekat pintu, terutama sekarang tengah masuk musim dingin.
Jaerin mengambil coat berwarna cokelat miliknya itu, lalu berjalan keluar dari rumah. Beberapa pengawal yang tengah berjaga didepan pintu kebingungan, karena nyonya mereka akan pergi dari rumah.
"Nona, anda ingin pergi kemana?" Tanya salah satu pengawal.
"Aku akan berjalan-jalan sebentar, jangan ikuti aku. Disini aku baik-baik saja." Jawab jaerin, tanpa menoleh dan langsung menuruni tangga yang menghubungkan antara pintu utama, serta halaman depan yang begitu luas.
Seperti apa yang jaerin katakan, gadis dengan rambut terurai itu berjalan-jalan disekitar rumah yang lumayan jauh dari pemukiman, tempat para pengusaha besar, memang terkadang jauh dari perkotaan. Tapi jaerin suka, terutama sepanjang perjalanan matanya disuguhkan pemandangan pohon-pohon rindang, walau tertutup salju tebal. Serta sebuah sungai panjang, yang melintang disamping jalan, terlihat membeku sebab dinginnya udara di new york.
"Aku rindu tempat ini." Ucap jaerin, bermonolog sendiri.
Dia tengah berdiri dipinggir trotoar, menunggu bus lewat agar bisa membawanya menuju tempat tujuannnya. Lumayan jauh, tapi cukup menjadi wisata favorit terutama ketika musim dingin seperti ini. Dia sempat memandang kesebrang jalan, menemukan sebuah titik fokus, pada seorang lelaki dengan coat bewarna hitam, berjalan santai diatas trotoar.
Jaerin menyipitkan matanya, merasa tak asing dengan sosok itu. Berambut hitam, dengan rahang tegas, hidung mancung serta bibir tipis, sangat persis dengan seseorang yang jaerin kenal. Namun dengan cepat jaerin menepis, mengusap kedua matanya, berpikir bahwa lelaki tadi hanya delusi semata. Tapi tidak, setelah beberapa kali mengucek mata, lelaki itu tetap sama, tak berubah. Mulai menjauh.
Dengan segera jaerin berlari, menerobos jalanan yang untungnya saja berubah menjadi lampu merah. Berusaha mengejar lelaki itu dengan kecepatan penuh, sempat menabrak orang dan meminta maaf sekenanya, sebab dia benar tergesa-gesa.
Pandangan jaerin terus berfokus pada lelaki itu, ingin menggapai tangannya tapi tidak bisa, jaraknya masih terlalu jauh. "OH SEHUN! TUNGGU!"
Lelaki itu tak kunjung berbalik walau jaerin menereaki namanya dengan sangat keras.
"SEHUN!"
Tetap saja, lelaki itu acuh, entah benar tidak mendengar atau sengaja tapi yang pasti jaerin kelelahan, walau berjalan langkah lelaki itu sangatlah lebar. Jaerin tidak dapat mengimbanginya.
Lelaki itu melewati sebuah jalanan, membuat jaerin yang melihatnya menghela nafas berat. Dirinya terpaksa menunggu, sebab lampu jalanan yang berubah hijau, membuat para kendaran yang sebelumnya terhenti, kini kembali berjalan.
Dan tepat setelah lampu jalan kembali berwarna merah, jaerin dengan segera menyebrang, kembali berlari, sempat melihat lelaki itu memasuki sebuah taman.
Begitu sampai ditaman itu, jaerin tidak dapat menemukan sosok lelaki tadi. Hanya pengunjung lain yang tengah bermain ice skating bersama diatas sungai membeku. Jaerin mengelilingi taman itu, terus mengedarkan pandangannya berharap bertemu dengan orang yang selama ini ia cari. Dia masih berharap.
Hatinya berteriak kegirangan begitu melihat sesosok lelaki dengan coat berwarna hitam persis seperi milik sehun, berdiri membelakanginya. Dengan segera jaerin berlari mendekati lelaki itu, tidak peduli dengan penampilannya yang berantakan, rambut yang acak.
Jaerin menepuk pundak lelaki itu, berharap kali ini ia tidak lagi salah. Namun begitu lelaki itu menoleh hanya kekecewaan yang jaerin dapatkan. Lelaki itu bukan sehun, wajahnya benar-benar tidak ia kenali, jadi jaerin memutuskan untuk mengatakan maaf serta bilang, bahwa ia salah orang.
Menjauh dari kerumunan orang, jaerin memilih menepi, terduduk disebuah kursi kayu, menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, memejamkan matanya. Merapal nama yang selama ini ia rindukan, padahal sudah banyak bukti yang mengatakan bahwa sehun telah tiada, tidak terselamatkan.
Terkadang jaerin merasa bodoh, ini sudah dua tahun berlalu. Tetapi dirinya tidak pernah bisa melepaskan oh sehun dari pikirannya, seakan tidak ada lagi yang jaerin perlukan selain sehun seorang. Jaerin tertawa sarkastik, menertawakan hidupnya yang begitu penuh dengan kesialan, setelah lepas dari jeratan para mafia, kini jaerin dirundung rasa penyesalan.
Tidak ada habisnya.
Jaerin membuka matanya, ketika merasa sebuah dingin menyentuh permukaan wajahnya. Yang jaerin dapatkan adalah salju yang turun, mulai berjatuhan, sehingga beberapa orang yang tengah bermain memilih pergi dan mencari tempat aman.
Walau tahu salju tengah turun, jaerin memilih berdiam diri dikursi tadi, tentu saja meratapi kesedihannya yang tak kunjung berakhir, sepertinya akan bertahan selamanya.
"Apa kau sangat suka membuat seseorang khawatir?"
Salju yang sebelumnya menimpa tubuh jaerin, kini terhalangi, begitu sebuah payung serta suara berat khas mengintrupsi. Jaerin langsung menoleh, menatap sekilas pada sosok lelaki dengan coat berwarna hitam yang tengah memayunginya agar tidak terkena salju.
"Hai sehun. Aku berhalusinasi lagi." Ucap jaerin dengan kekehan meremehkan, setelahnya memilih tidak peduli dan kembali menyandarkan kepala pada sandaran kursi.
__ADS_1
"Kau benar-benar ingin membuatku khawatir, lalu meluangkan banyak waktu bersama denganmu?" Ucap lelaki itu lagi.
Jaerin menyerngitkan alisnya. Tunggu, bagaimana dia tahu jika jaerin sangat suka bermanja pada sehun. Langsung jaerin menegakan tubuhnya, berdiri dari duduknya, bertatapan lemat dengan seseorang lelaki yang berdiri dihadapannya.
"Se--hun? Apa ini benar kau?" Tanya jaerin, tangannya meraba wajah tampan itu, merasanya pelan, mengelus hingga rasa hangat menjalar.
"Apa aku tidak sedang berhalusinasi? Apakah aku gila?" Tanya jaerin lagi.
Lelaki itu menghela nafas panjang, masih dengan sebelah tangannya mengenggam sebuah payung untuk melindungi mereka berdua. Tanpa banyak berbicara, lelaki tadi menarik Jaerin kedalam pelukannya, semakin memberikan kehangatan yang dapat ia berikan.
Menghirup sebanyak-banyaknya, wangi strawberry dan vannila yang sangat khas. Begitu candu dan memabukan.
"Jika ini hanya mimpi atau halusinasi, aku harap ini tidak akan pernah usai." Ucap jaerin lagi, mengeratkan pelukannya pada lelaki itu.
"Kau tidak berhalusinasi jaerin. Ini aku, oh sehun."
Tepat setelah mendengar suara berat itu kembali terlontar, jaerin terisak, menangis pelan dalam pelukan lelaki yang menyebutkan dirinya bernama oh sehun itu. Jaerin semakin menenggelamkan kepalanya pada dada bidang sehun yang sangat hangat, bahkan ketika salju turun disekitar mereka.
"Hiks, Sehun...aku mencintaimu."
"Aku juga, mencintaimu."
Setelahnya walau hujan salju tengah turun, rasa hangat itu mereka rasa. Saling menyalurkan kerinduan yang menjadi satu begitu pelukan erat mereka satukan. Terpisahkan jarak, serta bayang-bayang kematian selama dua tahun bukanlah hal yang mudah.
Tapi untungnya semua berakhir indah, dengan awal pertemuan mereka diakhir tahun. Semoga dengan ini, tidak ada lagi rintangan yang mereka hadapi.
***
**Masih kesel gak sama ara? Ara baik kan? Hm?🌚
Mau bonus chapter lagi? Komen aja, nanti ara tulis bonchapnya.😏
Gak ada cuap-cuap deh, cuma mau bilang makasih buat yang udah dukung cerita ini sama tamat. Makasih buat yang udah komen dan vote. Buat siders, ara sih gak masalah. Ada saatnya nanti kalian sadar betapa sulitnya membuat sebuah cerita kaya gini.♥️😊🌚
Love dari araaaa♡
See you next chapter, kalau kalian minta:v**
__ADS_1